Asfiksia Dan Drowning

download Asfiksia Dan Drowning

of 13

Embed Size (px)

Transcript of Asfiksia Dan Drowning

DROWNING DAN ASFIKSIA

ASFIKSIA DAN DROWNINGOLEH: Kurnia YuniatiJ500110097ASFIKSIAAsfiksia merupakan keadaan dimana terjadinya gangguan sirkulasi udara pernapasan yang menyebabkan hipoksia dan peningkatan karbondioksida. Hal ini akan menyebabkan organ kekurangan oksigen ( hipoksia hipoksik ) dan terjadi kematian.4 Fase korban asfiksia kematian :Fase dispnea : terjadi karena penurunan kadar CO2yang akan menyebabkan peningkatan amplitudo dan frekuensi napas, peningkatan tekanan darah, muncul sianosis pada muka dan tangan.Fase konvulsi:peningkatan kadarCO2akan menyebabkan kejang yang diawali dengan kejang klonik, tonik kemudian spasme otistotonik. Dilatasi pupil, penurunan denyut jantung, dan penurunan tekanan darah dapat terjadiFase apnea : adanya depresi pada pusat pernapasan akan menybabkan pernapasan menjadi lemah dan terhentiFase akhir : paralisis pada pusat pernapasan lengkap akan menyebabkan pernapasan berhenti total, namun jantung masih berdenyut beberapa saat setelah pernapasan terhenti.

Secara umum, kematian akibat asfiksia akan mulai timbul stelah 4-5 menit, dimana fase 1 dan 2 terjadi kurang lebi 3-4 menit tergantung dari keparahan halangan oksigen yang adaPemeriksaan jenazahWarna darah lebih gelap dan encerMuncul busa halus di saluran pernapasanPerbendungan sirkulasi pada seluruh organ tubuhPetekieEdema paruKelainan yang berhubungan dengan kekerasan ( fraktur laring ).

Drowning (tenggelam) Tenggelam adalah mati lemas ( asfikia ) yang disebabkan oleh masuknya cairan ke dalam rongga pernapasan. Pada korban tenggelam sangat sulit diidentifikasi apakah benar-benar tenggelam atau sudah berada dalam keadaan mati pada saat tergenang di air. Terdapat beberapa istilah tenggelam,

Macam drowningWet drowning( cairan masuk ke dalam saluran pernapasan setelah korrban tenggelam )Dry drowning( cairan masuk ke dalam saluran pernapasan karena spasme laring )Secondary drowning( terjadi beberapa hari setelah korban tenggelam, dan meningal akibat komplikasi )Immersion syndrome( korban meninggal tiba-tiba setelah tenggelam pada air dingin akibat refleks vagal)

Pemeriksaan pada jenazah tenggelamKeadaan jenazah : basah, berlumpur, pasir, benda-benda penyertaBusa halus pada hidung dan mulut, atau darahKeadaan mata : setengah terbuka/tertutup, jarang terdapat perdarahan/ bendunganKutis anserina pada permukaan anterior tubuh terutama ekstremitas akibat adanya kontraksi otot erektor pili sebaga respon dari air dingin.

Washer womans hand: telapak tagan berwarna keputihan dan keriput karena adanya imbisi cairan ke dalam kutisCadaveric spasme: biasanya menunjukkan kadaan pada saat korban berusaha menyelamatkan diri.Luka lecet pada siku, jari tangan, lutut, kaki akibat gesekan benda-benda saat tenggelam.

Pada pemeriksaan bedah jenazah ada 6 hal yang harus diperhatikan, yaitu :Busa halus dan benda asing ( pasir dan tumbuhan air )Paru paru membesar seperti balonPetekieParu-paru normal (kasus tenggelam pada air tawar )Otak, ginjal, hati, limpa mengalami bendunganLambung membesar, terisi air, lumpur dan dapat juga ada pada usus halus.

Pada kasus tenggelam, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium guna kepastian penyebab kematian :

Pemeriksaan diatom. Pada korban tenggelam diatom biasanya akan masuk ke dalam saluran pernapasan ataupun saluran pencernaan, yang nantinya akan masuk ke dalam peredaran darah melalui dinding kapiler yang rusak. Pemeriksaan diatom dapat menggunakan tekhnik destruksi menggunakan sediaan yang diambil dari getah paru. Pada pemeriksaan diperhatikan banyaknya diatom. Jika terdapat 4-5 ? LPB maka pemeriksaan diatom dikatan positif.Pemeriksaan darah jantung.Asfiksia merupakan keadaan dimana terjadinya gangguan sirkulasi udara pernapasan yang menyababkan hipoksia dan peningkatan karbondioksida. Hal ini akan menyebabkan organ kekurangan oksigen ( hipoksia hipoksik ) dan terjadi kematian.Daftar Pustaka

Budiyanto A, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997.p.3-11, 15-16, 26-33, 55-57, 64-70.Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994. p.11-12,14