Artikel Jurnal Alfando r. Rorong

of 18/18
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT MENGANALISA RANGKAIAN LISTRIK DENGAN MENGONTROL KEMAMPUAN AWAL SISWA (Eksperimen Di SMK Kr. 1 Tomohon) Oleh: Alfando R. Rorong (08 311 110) [email protected] http://alfandoriskirorong.wordpress.com Di Bimbing Oleh: Drs. Ir. R. V. Palilingan, ST. M.Eng Drs. H. E. Polii, ST. M.Si Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik, Universitas Negeri Manado 2012 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat menanalisa rangkaian listrik dengan mengontrol kemampuan awal siswa di SMK Kr. 1 Tomohon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan disain true experiment design menggunakan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument penelitian berupa tes hasil belajar menganalisa rangkaian listrik dan instrument tes kemampuan awal siswa. Data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan analisis kovarian (ANAKOVA) satu arah. Dari Hasil perhitungan, menunjukan F Hitung > F Tabel , yaitu 27.524 > 6.99 dengan α 0.01. Berdasarkan hasil perhitungan, dapat disimpulkan bahwa kelompok siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi dari pada kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional, atau dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif tipe
  • date post

    25-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    35
  • download

    12

Embed Size (px)

description

skripsi

Transcript of Artikel Jurnal Alfando r. Rorong

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT MENGANALISA RANGKAIAN LISTRIK DENGAN MENGONTROL KEMAMPUAN AWAL SISWA(Eksperimen Di SMK Kr. 1 Tomohon)

Oleh:Alfando R. Rorong (08 311 110)[email protected]://alfandoriskirorong.wordpress.com

Di Bimbing Oleh:Drs. Ir. R. V. Palilingan, ST. M.EngDrs. H. E. Polii, ST. M.Si

Jurusan Pendidikan Teknik ElektroFakultas Teknik, Universitas Negeri Manado2012

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat menanalisa rangkaian listrik dengan mengontrol kemampuan awal siswa di SMK Kr. 1 Tomohon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan disain true experiment design menggunakan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument penelitian berupa tes hasil belajar menganalisa rangkaian listrik dan instrument tes kemampuan awal siswa. Data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan analisis kovarian (ANAKOVA) satu arah. Dari Hasil perhitungan, menunjukan FHitung > FTabel, yaitu 27.524 > 6.99 dengan 0.01. Berdasarkan hasil perhitungan, dapat disimpulkan bahwa kelompok siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi dari pada kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional, atau dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat menganalisa rangkaian listrik setelah mengontrol kemampuan awal siswa. Melalui penelitian ini, dianjurkan pada guru untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi yang sesuai dengan juga mempertimbangkan kemampuan awal siswa tentang materi yang relevan.

Kata kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Kemampuan Awal Siswa, Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listik.

Jurnal Penelitian. Alfando Riki Rorong (08 311 110) 10

A. PENDAHULUANMasalah pendidikan pada masa sekarang ini sudah menjadi permasalah global karena manusia sadar, tanpa pendidikan maka tidak ada kemajuan yang berarti dalam menapaki hidup dan kehidupan. Pendidikan yang baik pastilah memberikan konstribusi yang besar untuk kemajuan suatu bangsa dan Negara. Khususnya untuk Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia sekarang ini. Sudah banyak upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Seperti kita tahu, pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan kompetensi guru, pemerataan pendidikan dan penunjang untuk sarana dan prasarana, namun masih bersifat umum dan belum banyak menyentuh hal-hal yang berhubungan langsung didalam kelas.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional dikatakan SMK memiliki kedudukan yang sangat strategis untuk menunjang pembangunan. Sekolah menengah kejuruan (SMK) adalah suatu lembaga pendidikan formal yang bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia dan keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.[footnoteRef:1] [1: Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005]

Maka untuk mencapai itu, diperlukan sinergritas antara pemerintah, masyarakat, tenaga kependidikan dan peserta didik itu sendiri untuk mencapai tujuan yang dimaksud diatas. Namun, dalam mencapainya, masih terdapat kesenjangan-kesenjangan yang nyata, sehingga tujuan yang dimaksud tertunda. Salah satu kesejangan itu adalah dalam pembelajaran pendidikan formal dewasa ini masih banyak siswa yang mendapat nilai hasil belajar yang rendah dan tidak tuntas pada mata diklat tertentu karena tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan. Khususnya dalam mata diklat menganalisa rangkaian listrik yang merupakan mata diklat yang penting karena merupakan dasar bagi kelanjutan mata-mata diklat lainnya yang merupakan spesifikasi program keahlian teknik instalasi tenaga listrik (TITL) sehingga diharapkan hasil belajar siswa pada mata diklat ini dapat mencapai KKM untuk dasar keilmuan ke tahapan yang lebih tinggi nantinya. Menurut Slameto, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:[footnoteRef:2] [2: Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), p. 10.]

1. Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, faktor intern terdiri dari; (1) faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), dan (2) faktor psikologis (inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan)2. Faktor eksternal, yaitu faktor dari luar individu, yang terdiri dari; (1) faktor keluarga, (2) faktor sekolah, dan (3) faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).Selain faktor-faktor diatas, dari hasil observasi dilapangan sewaktu penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL), penulis memperhatikan proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru. Penulis melihat sebab dari rendahnya hasil belajar siswa, diantaranya adalah; (1) proses pembelajaran masih didominasi oleh guru (teacher centered) dengan tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi siswa itu sendiri secara mandiri ataupun kelompok, (2) relasi siswa dengan siswa yang bersifat kompetitif, (3) model pembelajaran konvensional selalu mendominasi, dan (4) motivasi siswa yang rendah.Walaupun pada saat ini pelaksanaan pembelajaran telah menggunakan KTSP, tetapi dalam prakteknya guru masih saja menggunakan strategi pembelajaran yang bersifat konvensional. Pembelajaran masih didominasi metode ceramah dan pemberian tugas. Siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran, tidak dilatih untuk menggali dan mengolah informasi, mengambil keputusan secara tepat dan memecahkan masalah. Siswa juga kurang dilatih untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Sehingga siswa hanya sebagai penerima informasi dan membuat kecakapan berpikir siswa rendah atau dengan kata lain pembelajaran kurang bermakna.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, bahwa proses pembelajaran yang diharapkan pemerintah dan pemerhati di bidang pendidikan adalah; (a) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secaa efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, serta dapat menciptakan suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mengun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan saya dan kekuatan, di tengah membangun semangat sdan prakasra, di depan memberikan contoh dan teladan).[footnoteRef:3] [3: Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan.]

Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, maka diperlukan alternatif yang dapat memecahkan masalah rendahnya hasil belajar siswa, misalnya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dimana siswa dibentuk kedalam beberapa kelompok kecil dan bekerja bersama-sama dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan semua potensi yang ada pada masing-masing individu dalam kelompok.

Menurut Ibrahim, memberdayakan kemampuan akademik berbeda dapat dilakukan melalui pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas dapat menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi dalam hal ini mendapat bantuan khusus dari teman sebaya, sehingga hasil belajar akan meningkat bagi semua siswa dalam kelas.[footnoteRef:4] Trianto, pembelajaran kooperatif (cooperative learning), muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks.[footnoteRef:5] [4: Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif (Surabaya: UNESA Universitas Press, 2000), p. 14.] [5: Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktifistik. (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), p. 41.]

Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Dengan mengerjakan secara bersama-sama, siswa dapat berbagi pengetahuan dan siswa yang dulunya belum tahu akan menjadi tahu ketika pembelajaran kooperatif ini diterapkan.Beberapa buku yang berisi tentang model-model pembelajaran dan pengajaran yang berorientasi pada pendekatan kontruktivis yang dianggap efektif dan inovatif diantaranya adalah; (1) model pembelajaran langsung (Direct Instruction), (2) Model pembelajaran kooperatif (Cooperative learning), dan (3) model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Solving). Adapun model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) terdiri dari beberapa tipe antara lain; (a) tipe Student Team Achievement Division (STAD), (b) tipe Team Games Tornament (TGT), (c) tipe Team Assisted Individualization (TAI), (d) tipe Number Heads Together (NHT), (e) tipe Skrip, (f) tipe Group Investigation (GI).

Menurut Trianto, Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah model pembelajaran dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.[footnoteRef:6] [6: Ibid. 52.]

Meningkatnya hasil belajar, diperlukan berbagai strategi yang dapat dipadukan antara lain dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan melalui pengetahuan akan kemampuan awal siswa, sehinga dapat menambah wawasan pendidik untuk menyesuaikan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran yang sesuai.Kemampuan tiap orang adalah berbeda-beda, demikian juga dalam proses pembelajaran yang melibatkan siswa, karena setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda pula, baik secara intelegensi, kreatifitas, penalaran dan lain-lain. Sebagai seorang pendidik, guru seharusnya tahu akan keadaan awal para peserta didik atau siswa sebelum melakukan proses belajar mengajar, untuk memperlancar dan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Karena dengan mengetahui kemampuan awal siswa, guru bisa menelaah kembali apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yang telah ditetapkan untuk menjadi patokan dilangsungkannya pembelajaran yang baik yang dikolaborasikan dengan model pembelajaran yang dapat memberdayakan kemampuan akademik berbeda dari siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat maksimal.

Suprijono, (2009:43) salah satu faktor yang sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa adalah apa yang telah diketahui oleh peserta didik, karena konstruksi pengetahuan tidak berangkat dari pikiran kosong (blank mind) pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan awal/dasar (prior knowledge).[footnoteRef:7] [7: Suprijono, Cooperative Learning Teori Dan Aplikasi PAIKEM. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar). p. 43]

Maka dari itu, diperlukan alternatif yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar, diantaranya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan juga melalui pengetahuan akan kemampuan awal siswa itu sendiri, untuk memperlancar dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

B. METODE PENELITIANMetode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan design true experiment design menggunakan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design[footnoteRef:8], dimana dalam rancangan ini, terdapat dua kelompok yang dipilih secara random yaitu kelompok eksperimen (kelas XTITL 1 dengan jumlah siswa 38 orang) yang mendapat perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelompok kontrol (kelas XTITL 2 dengan jumlah siswa 38 orang) yang mendapat perlakuan model pembelajaran konvensional. Dengan rancangan seperti yang digambarkan dibawah ini. [8: Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2011). p. 112]

Rancangan Pretest-Posttest Control Group Design

C. HASIL PENELITIAN1. Deskripsi DataAnalisis statistik deskriptif dilakukan untuk memaparkan hasil belajar menganalisa rangkaian listrik siswa yang diperoleh dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran konvensional, serta skor kemampuan awal siswa yang diperoleh. Pada Tabel dibawah ini, akan menyajikan rekapitulasi skor kemampuan awal siswa dan hasil belajar menganalisa rangkaian listrik siswa.

Selanjutnya, data yang diperoleh dideskripsikan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan histogram sebagai berikut:

a. Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listrik Kelompok Eksperimen

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listrik Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

Histogram Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listrik Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

b. Kemampuan Awal Siswa Kelompok Eksperimen.

Distribusi Frekuensi kemampuan awal Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Kooperatif STAD

Histogram Kemampuan Awal Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

c. Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listrik Kelompok Kontrol

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listrik Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Konvensional

Histogram Skor Hasil Belajar Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Konvensional

d. Kemampuan Awal Siswa Kelompok Kontrol

Distribusi Frekuensi skor kemampuan awal kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional

Histogram Skor Kemampuan Awal Kelompok Siswa Yang Diberi Model Pembelajaran Konvensional

2. UJI PERSYARATAN ANALISISUji persyaratan analisis dalam penelitian ini adalah; (1) Uji Normalitas, (2) Uji Homogenitas, (3) Uji Linearitas Regresi, dan (4) uji kesejajaran dua model regresi.

1. Uji NormalitasBerdasarkan hasil perhitungan uji normalitas untuk semua kelompok diperoleh nilai L0 < Ltabel pada taraf signifikan = 0,05, sehingga menerima H0. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelompok data dalam penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Hasil perhitungan uji Liliefors dapat dilihat pada tabel berikut.

Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Normalitas Data Penelitian

2. Uji Homogenitas

Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Homogenitas

3. Uji Linearitas RegresiUji linearitas regresi dilakukan untuk menguji kelinearan kemampuan awal siswa (X) dan Hasil belajar menganalisa rangkaian listrik (Y) yang merupakan salah satu syarat dalam pengujian signifikansi dalam uji regresi. Uji linearitas dalam penelitian ini adalah menguji linearitas regresi antara kemampuan awal (X1) dan hasil belajar menganalisa rangkaian listrik (Y1) kelompok eksperimen yaitu kelompok siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan uji linearitas regresi antara kemampuan awal (X2) dan hasil belajar menganalisa rangkaian listrik (Y2) kelompok kontrol yaitu kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional. Hasil perhitungan yang didapat bisa dilihat pada tabel sebagai berikut.

Ringkasan Uji Linearitas Regresi

* Signifikan dengan 0.01** Signifikan dengan 0.05

4. Uji Kesejajaran 2 Model RegresiUji Kesejajaran dua model regresi pada penelitian ini bertujuan untuk menguji kesejajaran model regresi untuk kelompok eksperimen dan model regresi kelompok kontrol. Hasil perhitungan yang diperoleh FHitung = 0.857 sedangkan FTabel = 3.97. maka kesimpulannya kedua model regresi adalah sejajar.

3. Hasil Pengujian HipotesisPengujian hipotesis penelitian ini dilakukan dengan teknik analisis kovarian (Anakova). Teknik analisis kovarian dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat menganalisa rangkaian listrik, setelah mengontrol kemampuan awal siswa. Dengan Hipotesis:

Hipotesis Statistik:H0:

H1:

Ringkasan Anakova

KeteranganJK:Jumlah Kuadratdb:Derajat BebasKT:Kuadrat TengahFo:F Observasi / F HitungFT:F Tabel

Output SPSS Untuk Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa hipotesis nol (Null Hypothesis) yaitu H0 ditolak dan menerima H1 (Alternative Hypothesis) dengan perhitungan secara manual diperoleh FHitung sebesar 27.524 dengan db (1,73) 0.01 diperoleh FTabel 0.01 = 6.99 dan 0.05 = 3.97. hasil yang sama juga diperoleh dengan menggunakan program komputer SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) seperti pata tabel 4.10, Kolom F Baris GROUP, diperoleh data 27.542 dengan Sig = 0.00 yang berarti sangat signifikan. Ternyata FHitung lebih besar dari FTabel maka kesimpulannya adalah hasil belajar kelompok siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi dari pada hasil belajar kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional setelah mengontrol kemampuan awal siswa atau dengan kata lain, terdapat pengaruh positif model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar pada mata diklat menganalisa rangkaian listrik setelah mengontrol kemampuan awal siswa.

D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIANDengan diterimanya H1, berarti penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam mata diklat menganalisa rangkaian listrik berpengaruh positif terhadap hasil belajar menganalisa rangkaian listrik itu sendiri setelah mengontrol kemampuan awal siswa. Dibuktikan dengan perhitungan FHitung 27.524 dan signifikan pada 0.01 yaitu 6.99. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah perbedaan pengalaman belajar antara kelompok eksperimen yang diberikan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, dan model pembelajaran konvensional kepada kelompok kontrol. Dalam kelompok kooperatif tipe STAD, siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil secara heterogen baik suku, agama, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Model pembelajaran ini berangkat dari asumsi bahwa siswa bisa bekerja bersama-sama, mengerjakan tugas yang diberikan sampai semua anggota kelompok berhasil memahami materi tersebut dan menyelesaikan tugasnya.[footnoteRef:9] Trianto, mengemukakan pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka berdiskusi dengan temannya.[footnoteRef:10] Melihat apa yang dikemukakan Jhonson Dkk., dan Trianto, dan melihat keadaan pada saat penulis mengajar, ada siswa yang cenderung malu dan takut bertanya tentang materi yang belum dimengertinya kepada penulis atau pun guru yang mengajar. Tapi setelah model pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan, dan kelima unsur dalam pembelajaran kooperatif bisa berjalan dengan baik, yaitu; (1) Saling ketergantungan positif (Positive interdependence), (2) Tanggungjawab perorangan (personal responsibility), (3) interaksi promotif (face to face promotive interaction), (4) komunikasi antar anggota (interpersonal skill), (5) pemrosesan kelompok (group processing). Siswa bisa meningkatkan hubungan sosialnya, siswa menjadi lebih aktif dan bersemangat karena mereka tidak malu untuk bertanya kepada teman sejawatnya dalam kelompok. [9: David W. Jhonson, Roger T. Jhonson, Edythe J. Holubec, Cooperative Learning Strategi Pembelajaran Untuk Sukses Bersama, Terjemahan Nurulita Yusron (Bandung: Nusa Media, 2010), p. 4.] [10: Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), p. 41.]

Dalam pembagian kelompok kecil pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD secara heterogen, perlu diperhatikan akan kemampuan awal siswa karena kemampuan awal siswa juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. kemampuan awal siswa yang diketahui sebelum memulai pembelajaran, bisa membantu penulis untuk membagi kelompok. Tujuannya untuk menghindari kejenuhan dari siswa yang sebelumnya tahu tentang materi yang akan diajarkan dan membantu siswa yang belum tahu atau sedikit tahu tentang materi yang diajarkan melalui pengelompokkan yang dibentuk. Dengan kata lain, kelompok dibentuk agar seimbang campuran antara siswa yang tahu banyak dan tahu sedikit. Dari kedua analisis yang dikemukakan sebelumnya, maka dapat disimpulkan hasil belajar kelompok siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi dari pada hasil belajar kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional setelah mengontrol kemampuan awal siswa atau dengan kata lain, terdapat pengaruh yang positif model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar pada mata diklat menganalisa rangkaian listrik setelah mengontrol kemampuan awal siswa.

E. KESIMPULAN DAN SARANBerdasarkan hasil pengujian hipotesis,, maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang positif model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat menganalisa rangkaian listrik setelah mengontrol kemampuan awal siswa. Dari analisis data deskriptif diperoleh rata-rata hasil belajar menganalisa rangkaian listrik untuk kelompok eksperimen, yaitu kelompok siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah 72.79 dengan presentase 28.95% siswa memperoleh nilai rata-rata, 36.84% siswa memperoleh nilai di atas rata-rata dan 34.21% siswa dibawah rata-rata.. Sedangkan untuk kelompok kontrol, yaitu kelompok siswa yang diberi model pembelajaran konvensional memperoleh rata-rata hasil belajar menganalisa rangkaian listrik 65.92 dengan presentase 18,42% siswa memperoleh nilai rata-rata, 42.11% siswa memperoleh nilai di atas rata-rata, dan 39.47% siswa memperoleh nilai di bawah rata-rata.Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh yang positif terhadap hasil belajar mata diklat menganalisa rangkaian listrik setelah mengontrol kemampuan awal siswa. Dimana kelompok eksperimen memperoleh nilai rata-rata yang lebih tinggi dari pada model pembelajaran konvensional.Dengan memperhatikan kesimpulan hasil penelitian, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:1. Pertama, diharapkan agar sebelum dilaksanakan proses pembelajaran, guru hendaknya memberikan tes akan kemampuan awal siswa, untuk mengetahui sampai dimana materi yang akan dipelajari telah diketahui oleh siswa. 2. Kedua, diharapkan guru mata diklat menganalisa rangkaian listrik dapat merasakan dan memiliki kepekaan terhadap peningkatan pembelajaran dengan menggunakan inovasi-inovasi model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan hasil belajar dalam mata diklat menganalisa rangkaian listrik, serta dapat memahami betul kemampuan awal siswa yang juga turut mempengaruhi hasil belajar siswa.3. Ketiga, kepada siswa diharapkan agar lebih meningkatkan kemampuan dalam menyerap materi pembelajaran mata diklat menganalisa rangkaian listrik.4. Keempat, kepada pihak sekolah dapat menyiapkan dan menyediakan sarana dan prasarana dalam menunjang proses pembelajaran.5. Kelima, kepada pihak Dinas Pendidikan agar dapat memfasilitasi para guru untuk mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi lewat memberikan kesempatan guru untuk melanjutkan studi, mengikuti seminar-seminar, atau workshop dalam upaya untuk menyelaraskan dengan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keinginan stakeholders.6. Keenam, penelitian ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu sangat diharapkan peneliti lain mengadakan penelitian lanjutan dengan jangkauan yang lebih luas untuk mengkaitan dengan model pembelajaran yang lain yang lebih baik dalam meningkatkan hasil belajar menganalisa rangkaian listrik atau mata diklat yang lain, walaupun disadari bahwa tidak ada satu model pembelajaran yang cocok untuk semua mata pelajaran, dan cocok untuk semua materi pelajaran, serta masih banyak faktor kovariat yang lain, yang dapat mempengaruhi hasil belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah A. M. I., Hasil dan Prestasi Belajar http://www.spesialis-torch,com/conten/view/12 (Diakses 11 Juni 2012).Al-kadiri, Nizar. Kemampuan Awal Siswa. http://edukasi.kompasiana. com/2009/12/22%20/kemampuan-awal-siswa/ (Diakses 21 Juni 2012).Bloom. Benyamin, Human Characteristik and School Learning. New York: McGraw-Hill Book Company, 1976.Carapedia, Pengertian & Definisi Analisis. http://carapedia.com/peng ertian/definisianalisis_info2056.html. (Diakses 5 September 2012).Davis. Robert H, Lawrens T. Alexander, dan Stephen L. Yelon, Learning System Design an Aproach to the Improvement of Instruction. New York: McGraw Hill-Book Co, 1974.Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003Djaali dan Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo, 2008.Gradler. Margaret E. B, Learning and Introduction Theory into Practice. New York: Maxwell Macmillan International, 1992.Hendy R. Kemampuan Awal (Prior Knowlwdge) http://resolusirijal. blogspot.com/2011/04/kemampuan-awal-prior-knowledge.html (Diakses 21 Juni 2012).Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA Universitas Press, 2000.Isjoni, Cooperative Learning, Mengembangakan Kemampuan Belajar Berkelompok. Bandung: Alfabeta, 2010.Jhonson, David W., Roger T. Jhonson., Edythe J. Holubec, Cooperative Learning Strategi Pembelajaran Untuk Sukses Bersama. Terjemahan Nurulita Yusron. Bandung: Nusa Media, 2010.Kholik. Muhammad, Metode Pembelajaran Konvensional http://muhammadkholik.wordpress.com/2011/11/08/metode-pembelajaran-konvensional/ (Diakses 21 Juni 2012)Komalasari, Pembelajaran Kontekstual: Konsep & Aplikasi. Bandung: Refika Aditama, 2010.Matondang. Z, Pengujian Kenormalan Data. http://fahost1992.google code.com/files/8.%20Normalitas%20Data_liliefors.pdf (Diakses 25 Juni 2011).Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005Ramdhani, Modul Rangkaian Listrik: Edisi Revisi. Bandung. Jurusan Teknik Elektro STT Telkom. 2005.Riduwan, Metode Dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta, 2010._______, Rumus Dan Data Dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfabeta, 2009.Sanjaya. Ade. Pengertian, Definisi Hasil Belajar Siswa. http://www.sarjanaku.com/ 2011/03/pengertian-definisi-hasil-belajar.html (Diakses 11 Juni 2012).Santoso, Aplikasi SPSS Pada Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2012.Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.Slavin, Cooperatif Learning Teori, Riset Dan Praktik. Terjemahan Narulita Yusron. Bandung: Nusa Media, 2005..Sudjana, Metoda Statistika. Bandung: Tarsito, 1996._______, Proses Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001._______, Desain Dan Analisis Data Eksperimen.Bandung Tarsito, 2002.Sudrajat. Ahmad, Penilaian Hasil Belajar Siswa Ahmad Sudrajat, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2008/05/01/penilaian-hasil-belajar/ (Diakses 11 Juni 2012).Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2011.Sumadi, Suryabrata, Pengembangan Alat ukur Psikologi. Yogyakarta: Andi Oficcer, 2005.Suprijono, Cooperative Learning Teori Dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.Suwanda, Desain Eksperimen Untuk Penelitian Ilmiah. Bandung: Alfabeta, 2011.Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007.Waworuntu. Freetje, Drs. M.Pd. Wawancara, 25 September 2012.Wikipedia, Sirkuit Listrik. http://id. wikipedia.org/theory/sirkut. listrik.htm (Diakses 05 September 2012).Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran; Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam Implementasi Yang Efektif Dan Berkualitas. Jakarta: Prenada Media, 2009.