Arsitektur Bangunan Kota Palembang

download Arsitektur Bangunan Kota Palembang

of 24

  • date post

    13-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    195
  • download

    18

Embed Size (px)

Transcript of Arsitektur Bangunan Kota Palembang

  • 1

    PENGARUH KEBUDAYAAN ASING TERHADAP ARSITEKTUR BANGUNAN

    KOTA PALEMBANG

    Oleh, M.Baried Izhom 0806328562

    Departemen Geografi

    Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam

    Universitas Indonesia

    2011

    ABSTRAK

    Proses akulturasi adalah suatu proses interaktif dan berkesinambungan yang

    berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran atau pendatang dengan

    lingkungan sosio-budaya yang baru. Salah satu bentuk adanya komunikasi dalam

    sebuah akulturasi budaya dapat dilihat pada hasil peninggalan berupa artefak-artefak,

    baik berupa karya seni rupa maupun arsitektur bangunan yang ada di suatu daerah.

    Palembang merupakan salah satu wilayah yang memiliki berbagai bangunan dengan

    akulturasi dari beberapa kebudayaan. Dengan menggunakan data hasil observasi

    lapangan dan studi literatur, penelitian ini bertujuan dalam mengungkap pengaruh

    kebudayaan asing yang dilihat dari hasil-hasil akulturasi kebudayaan lokal dengan

    kebudayaan asing. Palembang merupakan sebuah kota dengan kondisi geografis yang

    memberikan peluang bagi masuknya kebudayaan asing seperti Arab, Cina, dan Eropa

    melalui kegiatan perniagaan dan kolonialisasi, yakni dengan keberadaan Sungai Musi di

    kota ini. Berdasarkan hasil yang didapatkan dari penelitian ini, kebudayaan asing yang

    datang tersebut memberikan akulturasi, baik dari aspek interior maupun eksterior

    bagunan yang saling mengisi satu sama lainnya yang menawarkan keindahan yang

    datang hingga saat ini.

    Kata Kunci: akulturasi, arsitektur, budaya asing, interior, eksterior, sejarah.

    PENDAHULUAN

    Pada hakekatnya Geografi tidak hanya membahas mengenai aspek fisik berupa

    proses dan fenomena yang terjadi di muka bumi, tetapi Geografi juga membahas akan

    aspek sosial seperti manusia maupun kota. Manusia merupakan makhluk sosial, yang

    tidak dapat hidup tanpa orang lain. Manusia saling mengisi satu sama lain membentuk

    permukiman-permukiman kecil yang lambat laun berubah menjadi sebuah kota.

    Kebutuhan manusia pun semakin bertambah, hal ini mendorong manusia untuk selalu

    berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibat setiap daerah memiliki

    karakteristik yang berbeda seperti dalam hal sumberdaya, manusia berusaha memenuhi

  • 2

    kebutuhan hidupnya mencari lokasi-lokasi yang menyediakan kebutuhan tersebut.

    Seiring perjalananya, kebudayaan yang merupakan hasil dari daya fikir manusia mulai

    muncul dan berkembang di setiap kelompok-kelompok masyarakat dimana kebudayaan

    tersebut berkembang dari generasi ke generasi. Kebudayaan tersebut juga terbawa

    ketika manusia mencari lokasi-lokasi baru yang dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini

    dapat terlihat dari hasil-hasil kebudayaan mereka yang tercampur dengan kebudayaan

    lokal. Kota Palembang yang merupakan salah satu destinasi perdagangan dari warga

    asing dimasa lampau. Dengan adanya interaksi warga asing, kebudayaan asing tersebut

    mau tidak mau akan terbawa ke Palembang dan berpengaruh terhadap kebudayaan asli,

    seperti yang terlihat arsitektur bangunan. Atas dasar itu, penulis berusaha mengungkap

    interaksi kebudayaan asing serta hasil interaksi tersebut yang berimplikasi terhadap

    arsitktur bangunan.

    Untuk mengidentifikasi proses interaksi kebudayaan asing dan pengaruh

    kebudayaan tersebut terhadap arsitektur bangunan yang ada di Kota Palembang, maka

    dibutuhkan apa yang disebut dengan pendekatan Geografi. Pendekatan Geografi dapat

    diartikan sebagai suatu metode atau cara analisis untuk memahami berbagai gejala dan

    fenomena di ruang muka bumi, khususnya interaksi antara manusia terhadap

    lingkungannya (Hagget, 2001). Dimana pendekatan tersebut terbagi atas pendekatan

    keruangan, pendekatan ekologi, serta pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan yang

    dipakai untuk mengetahui interaksi kebudayaan asing terhadap kebudayaan Palembang

    terkait dengan arsitektur bangunan adalah pendekatan keruangan. Pendekatan ini

    menilai lokasi atau ruang dari sudut pandang penyebaran penggunaannya dan

    penyediaannya untuk berbagai keperluan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi

    dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses

    (spatial processess) (Yunus, 1997).

    Untuk mengungkap interaksi kebudayaan asing di Kota Palembang, maka data

    atau informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari daerah-daerah dikota Palembang

    yang memiliki bangunan-bangunan yang khas dengan akulturasi dari berbagai

    kebudayaan serta studi literatur mengenai akulturasi yang ada pada bangunan tersebut.

    Metode yang digunakan dalam pengumpulan data terfokus pada teknik observasi dan

    wawancara, baik dengan warga maupun instansi terkait, serta rekonstruksi sejarah

  • 3

    secara temporal melalui teknik time line. Selain itu dilakukan pula diskusi seperti

    dengan pihak Badan Perencanaan Daerah Kota Palembang, Dinas Perhubungan Kota

    Palembang, PDAM Kota Palembang serta Universitas Sriwijaya.

    KONSEP SEBUAH KOTA

    Kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang

    ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial-

    ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis (Bintoro, 1989). Salah satu

    kajian tentang wilayah perkotaan adalah mengenai struktur kota. Struktur kota

    merupakan gambaran dari distribusi tata guna tanah dan sistem jaringan dari suatu kota

    (Jayadinata, 1999). Selain pola jaringan transportasi, terdapat elemen dari struktur kota

    lainnya, yaitu wilayah penggunaan tanah yang berperan sebagai pusat-pusat kegiatan

    aktivitas serta hunian bagi masyarakat.

    Layaknya makhluk hidup, sebuah kota juga mengalami tumbuh dan

    berkembang, dimana memiliki tahapan pembangunan dari mulai awal terbentuknya

    hingga saat ini. Terdapat beberapa unsur yang mempengaruhi tumbuh dan

    berkembangnya kota, antara lain keadaan geografis, tapak (site), fungsi yang diembang

    kota, sejarah, dan kebudayaan. Dimana unsur-unsur tersebut saling mempengaruhi satu

    sama lain (Branch, 1995). Hal lain yang perlu ditekankan dalam suatu perkembangan

    adalah kota tidak pula terlepas dari pengaruh fisik dan wilayah dari kota tersebut.

    Pengaruh fisik dan wilayah tersebut mempengaruhi awal dari terbentuknya suatu kota.

    Kondisi fisik tersebut antara lain daerah pesisir, dataran rendah, maupun dataran tinggi.

    Oleh karena itu sejarah yang ada dari suatu kota tidak terlepas dari kerangka topografis

    berupa pengaruh fisik dan wilayah kota tersebut.

    PROSES TERJADINYA AKULTURASI

    Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa suatu kota pasti memiliki kawasan bersejarah,

    dimana kawasan bersejarah merupakan suatu kawasan yang didalamnya terdapat

    berbagai peninggalan masa lampau dari terbentuknya suatu kota, baik berupa wujud

    fisik historis maupun berupa nilai dan pola hidup masyarakatnya, serta kepercayaannya

    (Wijarnaka, 2005). Wujud fisik dari peninggalan sejarah dari perkembangan sebuah

    kota, salah satunya dapat dilihat dari arsitektur bangunan yang ada, baik bangunan tua

  • 4

    maupun bangunan baru yang mengalami akulturasi dengan berbagai kebudayaan yang

    ada dimasa lampau yang bertahan hingga sekarang.

    Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah istilah dalam antropologi yang

    memiliki beberapa makna, yang kesemuanya itu mencakup konsep mengenai proses

    sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu

    dihadapkan kepada unsur-unsur kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing tersebut

    lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan

    hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Proses komunikasi merupakan proses yang dasar

    dalam akulturasi. Kemampuan warga asing dalam berkomunikasi akan berfungsi

    sebagai perangkat alat penyesuaian diri, dalam membantu warga asing tersebut didalam

    memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan kelangsungan

    hidupnya dan kebutuhan akan rasa memiliki dan harga diri.

    ARSITEKTUR

    Pada dasarnya kondisi geografis, lingkungan dan budaya memberikan pengaruh

    terhadap arsitektur suatu bangunan. Arsitektur merupakan seni dan ilmu merancang

    serta membuat bangunan (KBBI, 2008). Karena merupakan sebuah seni, arsitektur

    menonjolkan suatu keindahan. Oleh karena itu jika dikaitkan dengan arsitektur

    bangunan maka dalam membuat suatu bangunan aspek seni harus ditonjolkan, dimana

    keindahan tersebut muncul tergantung dari kebudayaan yang berkembang pada saat itu,

    kepentingan atau tujuan bangunan tersebut dibuat serta siapa yang membuat bangunan

    tersebut. Sebagai Kota tua, Palembang memiliki beberapa peninggalan arsitektur

    bangunan penting yang terdapat diseluruh wilayah kota berupa bangunan yang

    mengalami akulturasi dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada seperti yang terlihat

    pada masjid, museum, rumah atau kompleks perumahan, serta bangunan lainnya.

    Kebudayaan-kebudayaan tersebut muncul seiring dengan aktivitas manusia pada saat

    itu, seperti perdagangan dan penjajahan. Setiap kebudayaan pada dasarnya memiliki

    arsitektur bangunan yang berbeda, dimana setaip kebudayaan tersebut membawa nilai-

    nilai yang beragam sehingga filosofi yang terkandung didalam arsitektur bangunan

    berbeda pula. Berikut ini tabel 1. yang menunjukan ciri khas arsitektur bangunan yang

    terdapat pada kebudayaan Palembang, Cina, Arab, dan Belanda (Eropa).