ARDS pada bayi prematur

download ARDS pada bayi prematur

of 30

  • date post

    02-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    189
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of ARDS pada bayi prematur

BAB I PENDAHULUANPrematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang, yang ditemukan pada bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Menurut WHO, persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Penentuan usia kehamilan dapat ditentukan dengan menggunakan skil Ballard dan kurva Battaglia dan Lubchenko. Dengan demikian, persalinan dapat terdiri dari: persalian prematur dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan janin sesuai dengan masa kehamilan (SMK), dam kehamilan prematur dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan kurang/kecil untuk masa kehamilan (KMK).1 Penyebab terjadinya kelahiran prematur sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko kelahiran prematur: faktor dari ibu antara lain infeksi akut, jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan kehamilan sebelumnya, status gizi ibu kurang, penyalahgunaan obat, dll. Faktor janin yaitu hydroamnion, kehamilan ganda/multiple, gawat janin, plasenta previa, hydroamnion, infeksi, dll.1,2,3 Hyaline Membrane Desease (HMD) adalah suatu gangguan pernapasan yang terjadi paling sering pada bayi lahir prematur, dikarenakan defisiensi dari surfaktan paru. HMD biasanya ditandai dengan stress pernapasan, tachypnea, adanya retraksi terutama subcosta dan intercosta, dyspnea, grunting respiration, dan sianosis.1,4,5 Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada HMD yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria. Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membran Disease (HMD) didapatkan pada 10% bayi prematur, yang disebabkan

defisiensi surfaktan pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang. Surfaktan biasanya1

didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak napas. Gejala tersebut biasanya tampak segera setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.4,5 Sepsis pada bayi baru lahir (BBL/sepsis neonatal ) masih merupakan masalah yang belum dapat terpecahkan dalam pelayanan dan perawatan BBL. Dalam laporan WHO yang dikutip Child Health Research Project Special Report : Reducing perinatal and neonatal mortality (1999) dikemukakan bahwa 42% kematian BBL terjadi karena berbagai bentuk infeksi seperti infeksi saluran pernapasan, tetanus neonatorum, sepsis dan infeksi gastrointestinal. Dari tahun ke tahun insiden sepsis tidak banyak mengalami perbaikan. Di Inggris, angka kematian sepsis neonatal pada tahun 1985 1987 ( 25-30 % ) menunjukan penurunan yang bermakna dibandingkan dengan tahun 1996-1997 (menjadi 10%), hal ini terjadi karena berbagai penemuan dan antibiotik baru. Sepsis pada BBL adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasive dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih.6,7 Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sclera akibat akumulasi bilirubin yang tak terkonjugasi yang berlebih.6 Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dL. Hiperbilirubinemia menyebabkan bayi terlihat berwarna kuning, keadaan ini timbul akibat akumulasi pigmen bilirubin yang berwarna pada sclera dan kulit. Pada masa transisi setelah lahir, hepar belum berfungsi secara optimal, sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal. Keadaan ini yang menyebabkan dominaso bilirubin tak terkonjugasi dalam darah. Pada kebanyakan bayi baru lahir, hiperbilirubinemia tak terkonjugasi merupakan fenomena transisional yang normal, tetapi pada beberapa bayi, terjadi peningkatan bilirubin

2

secara berlebihan sehingga bilirubin berpotensi menjadi toksik dan dapat menyebabkan kematian dan bila bayi tersebut dapat bertahan hidup pada jangka panjang akan menimbulkan sequel nerologis. Dengan demikian, setiap bayi yang mengalami kuning, harus dibedakan apakah ikterus yang terjadi merupakan keadaan yang fisiologis atau patologis serta dimonitor apakah mempunyai kecenderungan untuk berkembang menjadi hiperbilirubinemia yang berat.7,8 Ikterus fisiologis umumnya terjadi pada bayi baru lahir, kadar bilirubin tak terkonjugasi pada minggu pertama > 2 mg/dL. Ikterus fisiologis merupakan masalah yang sering terjadi pada bayi kurang maupun cukup bulan dan tidak disebabkan oleh faktor tunggal tapi kombinasi dari berbagai faktor yang berhubungan dengan maturitas fisiologis bayi baru lahir. Ikterus non fisiologis atau yang dulu disebut dengan ikterus patologis yaitu ikterus yang terjadi sebelum umur 24 jam, setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi, peningkatan kadar bilirubin total serum > 0,5 mg/dL/jam, adanya tanda tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi ( muntah, letargis, malas menetek, penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea atau suhu yang tidak stabil ) dan ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan.7,8

3

BAB II LAPORAN KASUSIDENTITAS PASIEN Nama lengkap : By. Mamelas - Palit Tanggal lahir : 25 Juni 2012 Jenis kelamin : Perempuan Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan ANAMNESIS Seorang bayi perempuan, MRS NICU tanggal 25 Juni 2012 jam 19.57 WITA dengan keluhan utama sesak. Penderita merupakan rujukan dari Puskesmas Tateli. Bayi lahir di Puskesmas Tateli di tolong oleh bidan pada tanggal 25 April 2012 jam 12.30 WITA secara spontan letak belakang kepala dengan BBL 1700 gram, PBL 40 cm, apgar score tidak diketahui. Lahir dari ibu G3P3A0, 34 tahun dengan hipertensi dalam kehaminaln. Riwayat kehamilan PAN 3x di bidan. : Desa Teteli Jaga IV : Kristen Protestan ::-

Anamnesis ( diberikan oleh ibu penderita ) Kehamilan ini merupakan kehamilan ketiga. Keputihan gatal dan berbau dan ada riwayat demam intrapartum. Selama kehamilan ibu minum obat anti hipertensi, nifedipin, untuk mengontrol tekanan darah.

4

Anamnesis antenatal dan kelahiran Ibu penderita melakukan pemeriksaan antenatal sebanyak 3x di Puskesman Tateli sebanyak 3 kali dan mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN : Perawatan antenatal Penyakit-penyakit selama kehamilan Komplikasi kehamilan : 3x di bidan :: Ibu sempat mengalami demam 3 hari sebelum melahirkan, saat melahirkan ibu tidak demam. KELAHIRAN : Tempat kelahiran : Puskesmas Tateli

Penolong persalinan : Bidan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi : Berat badan lahir Panjang badan lahir : 1700 gram : 40 cm : Pervaginam : 34-35 minggu

Langsung/tidak langsung menangis : tidak langsung menangis Nilai APGAR Kelainan bawaan : tidak diketahui : disangkal

5

Kriteria neurologis menurut Ballard: sikap jendela sendi pergelangan tangan rekoil lengan sudut poplitea gerakan tumit kekuping tanda skarf :3 :3 :3 :1 :1 :2+ 13 Karakteristik eksternal menurut Ballard : kulit lanugo permukaan plantar payudara mata/telinga genitalia :2 :3 :3 :2 :2 :2+ 14 Total skor Umur Kehamilan : 13 + 14 = 27 : 34-36 minggu

RIWAYAT PERKEMBANGAN membalik tengkurap duduk merangkak berdiri berjalan tertawa berceloteh memanggil mama/papa :::::::::6

RIWAYAT IMUNISASI VAKSIN BCG DPT/DT POLIO CAMPAK HEPATITIS B (DASAR) UMUR ULANGAN

RIWAYAT MAKANAN Umur (bln) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 ASI/PASI Bubur susu Bubur saring Bubur biasa -

7

RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA Penyakit Diare Otitis Radang paru Tuberkulosis Kejang Ginjal Jantung Darah Difteri Morbili Parotitis Demam berdarah Demam tifoid Cacingan Alergi Kecelakaan Operasi Umur -

8

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Skor APGAR Berat badan Panjang badan Tanda vital Kepala dan leher Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Dada Jantung : : : : : : : Ubun ubun besar datar Konjungtiva tidak anemis, sclera ikterik (-) Bentuk normal, secret tidak ada, PCH (+) Bentuk normal, secret tidak ada Sianosis tidak ada Simetris, kiri = kanan. Retraksi (+) IC, SC, Xyphoid Detak jantung 142x/m Iktus cordis tidak tampak Batas kiri linea midclavicularis sinistra Batas kanan Linea parasternalis dextra Batas atas ICS II-III Bunyi jantung apex M1 P2 Bising (-) Paru paru : Inspeksi : Simetris : : : : : Aktifitas (+) Reflex (+) tidak diketahui 1700 gram 40 cm HR : 142x/m, RR : 64x/m, SB : 36,5 oC

9

Palpasi : Sonor kiri = kanan Perkusi : Stem fremitus kiri = kanan Auskultasi : Suara pernapasan bronkovesikuler Rhonki tidak ada, wheezing tidak ada Abdomen : Datar, lemas, BU (+) N Hepar : tidak membesar, tali pusat terawat Lien : tidak teraba Ekstremitas Genitalia Anus Kulit : : : : Akral hangat, CRT < 3 Perempuan, normal. Labia mayora menutupi labia minora Lubang (+) Warna kemerahan Efloresensi (-) Pigmentasi (-) Jaringan parut (-) Lapisan lemak cukup Turgor kembali cepat Tonus (-) Oedema (-) DIAGOSIS Prematur SMK + HMD gr. II-III + suspek sepsis PENATALAKSANAAN O2 headbox 5-7 l/m Pasang NGT

10

Pro

IVFD Dextrose 10% 5-6 gtt/m Inj. Amoxicillin 2x85 mg IV Inj. Gentamisin 8,5 mg/36 jam IV Inj. Aminofillin 2x4,5 mg IV Rawat tali pusat : DL, DDR, Diff. count, CRP

LABORATORIUM Leukosit Eritrosit Hematokrit Hb Trombosit Malaria Radiologis : : : : : : : 8.500/mm3 3,93x106/mm3 42,6% 14,3 g/dL 187.000/mm3 negatif (-)

X-foto thoraks : Gambaran paru reticulogranuler disertai air bronkogram dan batas kontur jantung yang sudah mulai menghilang ( HMD grade II-III).

11

Follow Up : 26/6/2012 PH : 2 S O : : U : 2 hari BBL : 1700 gr BBS : 1400 gr

Napas cepat, sesak, bab/bak (+), intake (-), demam (-), Ku : aktif (+) HR : 142x/m Refleks (+) RR : 60x/m SB : 36,5 0C

Kep : Tho :

Konj An (-) Scl ict (-) PCH (+) Simetris,