APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

29
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak dicanangnya Repelita (Rancana Penbangunan Lima Tahun) yang dimulai tahun 1974-1999 pandidikan menjadi prioritas disamping ekonomi. Target utama pembangunan pendidikan dimassa ini adalah pendidikan dasar Sembilan tahun, dalam waktu 15 tahun terjadai perbaikan kualitas, akses dan relepansi pendidikan yang mengarah penningkatan SDM Indonesia Pada awal orde baru hingga awal pelita keVI sector pendidikan mengalami perkembangan yang cukup baik secara kuantitatif strategi pendidikan nasional yang dicanagkan pada akhir pelita ke II terdiri dari 4 butir yaitu:1. Peningkatan kualitas pendidikan, 2. Pemertataan Kesempatan memperoleh Pendidiakan 3. Relevansi pendidikan dan 4. Efesiensi pendidikan (Ali. M, 2009) Dalam pemahaman teori Human Capital yang dipelopori oleh Theodore W. Schultz (dalam Suharsaputra, 2007), manusia merupakan suatu bentuk kapital sebagaimana bentuk kapital-kapital lainnya yang sangat menentukan bagi pertumbuhan 1

Transcript of APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

Page 1: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak dicanangnya Repelita (Rancana Penbangunan Lima Tahun) yang

dimulai tahun 1974-1999 pandidikan menjadi prioritas disamping ekonomi.

Target utama pembangunan pendidikan dimassa ini adalah pendidikan dasar

Sembilan tahun, dalam waktu 15 tahun terjadai perbaikan kualitas, akses dan

relepansi pendidikan yang mengarah penningkatan SDM Indonesia

Pada awal orde baru hingga awal pelita keVI sector pendidikan

mengalami perkembangan yang cukup baik secara kuantitatif strategi

pendidikan nasional yang dicanagkan pada akhir pelita ke II terdiri dari 4

butir yaitu:1. Peningkatan kualitas pendidikan, 2. Pemertataan Kesempatan

memperoleh Pendidiakan 3. Relevansi pendidikan dan 4. Efesiensi

pendidikan (Ali. M, 2009)

Dalam pemahaman teori Human Capital yang dipelopori oleh

Theodore W. Schultz (dalam Suharsaputra, 2007), manusia merupakan suatu

bentuk kapital sebagaimana bentuk kapital-kapital lainnya yang sangat

menentukan bagi pertumbuhan produktivitas suatu bangsa. Pendidikan

merupakan salah satu bentuk investasi Sumber Daya Manusia, dengan

pendidikan seseorang dapat memperluas pilihan-pilihan bagi kehidupannya

baik dalam profesi, pekerjaan, maupun dalam kegiatan-kegiatan lainnya guna

meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Selain pendekatan teori human capital ada dua pendekatan lain yaitu

teori fungsionalisme dan teori empirisme. Teori fungsionalisme yang

dipelopori oleh Burton Clark (dalam Suharsaputra, 2007), menekankan pada

preservation of human resources atau pemeliharaan sumber daya manusia,

dimana dalam upaya tersebut perhatian pada perubahan teknologi sangat

1

Page 2: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

menonjol sehingga diperlukan pengembangan sistem pendidikan dan

pemilihan program-program pendidikan disamping perlunya upaya perluasan

pendidikan yang lebih merata dalam konteks interaksi antara lembaga

pendidikan dengan lembaga-lembaga lainnya dalam masyarakat termasuk

perkembangan teknologi yang terjadi dengan cepat.

Sementara itu pendekatan teori empirisme (Suharsaputra, 2007)

menekankan pada perlunya diagnosis terhadap masalah pemerataan

pendidikan dengan mengkombinasikan antara metodologi dan substansi

(Methodological empiricism). Menurut pemahaman teori ini terjadinya

ketidakmerataan kesempatan pendidikan merupakan hasil dari perselisihan

antara kelas-kelas sosial yang berbeda kepentingan, kelas-kelas sosial yang

dianggap elit lebih suka mempertahankan status quo, sementara kelas-kelas

populis terus berjuang guna mendapatkan kesempatan memperoleh

pendidikan.

Dari ketiga pendekatan tersebut, terlihat adanya perbedaan orientasi

dalam melihat masalah pendidikan, namun satu hal yang cukup menonjol

adalah berkaitan dengan pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia

yang berimplikasi pada perlunya upaya pemerataan pendidikan baik itu

sebagai modal/investasi manusia, sebagai pemeliharaan terhadap sumber

daya manusia, maupun sebagai aktivitas yang dialami sehari-hari yang terus

menerus beninteraksi dengan lingkungan baik sosiologis, ekonomis, maupun

lingkungan teknologis. Semua implikasi ini memerlukan perhatian yang

sungguh-sungguh dari pembuat kebijakan guna menciptakan situasi yang

kondusif bagi warga masyarakat berpartisipasi lebih aktif dan

bertanggungjawab dalam dimensi pendidikan yang lebih luas.

Pemerataan pendidikan dalam arti pemerataan kesempatan untuk

memperoleh pendidikan telah lama menjadi masalah yang mendapat

perhatian, terutama di negara-negara sedang berkembang. Hal ini tidak

terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan mempunyai

peran penting dalam pembangunan bangsa, seiring juga dengan 2

Page 3: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

berkembangnya demokratisasi pendidikan dengan semboyan education for

all.

Sejak tahun 1984, pemerintah Indonesia secara formal telah

mengupayakan pemerataan pendidikan Sekolah Dasar, dilanjutkan dengan

wajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. Upaya-upaya ini

nampaknya lebih mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh

pendidikan.

Pendidikakan kesetaraan juga mendapat perhatian dari pemerintah

yang disediakan bagi yang tidak berkesempatan mengikuti pendidikan

disekolah. Tercatat 3.663.114 orang mengikuti pendidikan keaksaraan hingga

tahun 2007. Sementara pendidikan anak usia dini (PAUD) juga meningkat

sehingga APK pada jenjang ini mencqapai 48 persen yakni 13.736.074 orang

siswa mengikuti pendidikan PAUD yang merupakan 48 persen jumlah anak

usia 2-6 tahun hingga akhir 2007 (Ali,2009:20)

Agaknya pelaksanaan wajib belajar negeri ini adalah slogan yang selalu

didengung-dengungkan. Padahal, dalam kenyataannya, pelaksanaan wajib

belajar dihalang-halangi, karena untuk masuk sekolah dasar pun kini harus

membayar mahal sehingga masyarakat miskin tidak mungkin dapat

membayarnya. Maka terjadilah hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi

apabila semua pihak, terutama guru dan kepala-kepala sekolah, menghayati

tujuan wajib belajar itu. Bagi masyarakat dan orangtua yang kaya, anaknya

akan dapat bersekolah di sekolah negeri, sedangkan yang miskin akan gagal

dan tidak bersekolah.

Untuk masuk ke sekolah swasta, masyarakat miskin tidak mungkin

mampu membayarnya. Akibatnya, banyak anak bangsa yang tidak akan

memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan. Sungguh satu hal yang

ironis. Sebab, pada negara yang lebih 60 tahun usianya ini, banyak anak

bangsanya akan menjadi buta huruf karena dililit kemiskinan dan negeri ini

3

Page 4: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

akan terpuruk karena kualitas sumber daya manusianya tidak mampu

bersaing dengan Negara–negara yang lain. (Ali,2009)

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka akan dilakukan

pembahasan tentang PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH untuk meningkatkan

pemahaman konsep.

B. Perumusan Masalah

Pada makalah ini yang berjudul Aplikasi Teknologi Pendidikan Dalam

Pemerataan Pendidikan, terdapat sebuah permasalahan yaitu :

1. Bagaimana aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerata Pendidikan?

2. Bagaimana Peran dari PLS dalam membantu pemerataan Pendidikan

 C. Tujuan Penelitian

Tujuan pada makalah ini adalah untuk mengetahui secara lebih

mendalam mengenai:

1. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemeratan Pendidikan.

2. Peran dari PLS dalam membantu pemerataan Pendidikan

D. Metode Penelitian

Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan

metode deskriptif. Disini penulis membahas tentang fenomena yang terjadi

dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia pada umumnya khususnya

masalah pendidikan.

E. Sistematika Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis melakukan beberapa langkah dalam

pengumpulan bukti atau data real untuk memecahkan masalah yang ada.

Adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Melakukan observasi

4

Page 5: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

2. Mengamati masalah yang ada

3. Mengambil kesimpulan atas masalah yang akan dipecahkan

4. Mempersiapkan instrumen penelitian

5. Mengumpulkan data seakurat mungkin

6. Menganalisis data yang ada

7. Penyusunan atau penulisan hasil penelitian

F. Objek Penelitian

Penulis telah menjelaskan sebelumnya walaupun secara tersirat bahwa

yang akan menjadi objek penelitian ini adalah kondisi pendidikan yang ada di

bumi Indonesia khususnya dalam hal peran teknologi pendidikan dalam

pemerataan. Disamping itu juga diteliti tentang peran PLS dalam membantu

pemerataan pendidikan di Indonesia.

 

 

5

Page 6: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

BAB  II

PEMBAHASAN

A. Pemerataan Kesempatan Belajar

Bagi bangsa yang ingin maju, pendidikan merupakan sebuah

kebutuhan. Sama dengan kebutuhan perumahan, sandang, dan pangan.

Bahkan, ada bangsa atau yang terkecil adalah keluarga, pendidikan

merupakan kebutuhan utama. Artinya, mereka mau mengurangi kualitas

perumahan, pakaian, bahkan makanan, demi melaksanakan pendidikan anak-

anaknya. Seharusnya negara juga demikian. Apabila suatu negara ingin cepat

maju dan berhasil dalam pembangunan, prioritas pembangunan negara itu

adalah pendidikan. Jika perlu, sektor-sektor yang tidak penting ditunda dulu

dan dana dipusatkan pada pembangunan pendidikan. Negara kita telah lebih

dari 20 tahun melaksanakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun dan

telah 10 tahun melaksanakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

Maksud dan tujuan pelaksanaan wajib belajar adalah memberikan

pelayanan kepada anak bangsa untuk memasuki sekolah dengan biaya murah

dan terjangkau oleh kemampuan masyarakat banyak. Apabila perlu,

pendidikan dasar enam tahun seharusnya dapat diberikan pelayanan secara

gratis karena dalam pendidikan dasar enam tahun atau sekolah dasar

kebutuhan mendasar bagi warga negara mulai diberikan. Di sekolah dasar

inilah anak bangsa diberikan tiga kemampuan dasar, yaitu baca, tulis, dan

hitung, serta dasar berbagai pengetahuan lain. Setiap wajib belajar pasti akan

dimulai dari jenjang yang terendah, yaitu sekolah dasar.

Seperti diketahui, sebagian besar keadaan sosial ekonomi masyarakat kita

tergolong tidak mampu. Dengan kata lain, mereka masih dililit predikat

miskin.

Mulai Inpres Nomor 10 Tahun 1971 tentang Pembangunan Sekolah

Dasar dan inpres- inpres selanjutnya, negeri ini telah berusaha memberikan

6

Page 7: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

pendidikan murah untuk anak bangsanya. Puluhan ribu gedung sekolah dasar

telah dibangun dan puluhan ribu guru sekolah dasar diangkat agar pemerataan

kesempatan belajar untuk jenjang sekolah dasar dapat dilaksanakan dengan

murah, dari kota sampai ke desa-desa. Semua warga negara, kaya atau

miskin, diberi kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan dasar

enam tahun yang biayanya dapat dijangkau golongan miskin. Kejadian itu

dapat dinikmati dalam jangka waktu cukup lama, yaitu sejak dicetuskannya

Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun tahun 1984.

Agaknya pelaksanaan wajib belajar negeri ini adalah slogan yang

selalu didengung-dengungkan. Padahal, dalam kenyataannya, pelaksanaan

wajib belajar dihalang-halangi, karena untuk masuk sekolah dasar pun kini

harus membayar mahal sehingga masyarakat miskin tidak mungkin dapat

membayarnya. Bagi masyarakat dan orangtua yang kaya, anaknya akan dapat

bersekolah di sekolah negeri, sedangkan yang miskin akan gagal dan tidak

bersekolah. Untuk masuk ke sekolah swasta, masyarakat miskin tidak

mungkin mampu membayarnya. Akibatnya, banyak anak bangsa yang tidak

akan memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan.

B. Pendidikan Luar Sekolah

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional pasal 13, menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas

pendidikan formal, informal dan nonformal. Namun demikian secara

konseptual jalur informal sesungguhnya bagian dari pendidikan nonformal,

akan tetapi bisa saja terjadi dijalur pendidikan formal.

Di Indonesia Pendidikan Luar Sekolah (PLS) memiliki sejarah yang

panjang dan sejalan dengan sejarah tersebut nama PLS berubah-ubah terus.

Sejak PLS dinamai Pendidikan masyarakat, kemudian berubah menjadi PLS

dan sekarang sesuai UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003,

pasal 13 dinamai Pendidikan Nonformal. Sesuai dengan fungsi PLS yaitu

sebagai substitusi, suplemen dan komplemen pendidikan sekolah, PLS

7

Page 8: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

mempunyai cakupan garapan yang sangat luas. Di negara maju yang kualitas

jalur sekolahnya sudah baguspun peranan PLS masih tetap besar, Namun

dalam kenyataannya PLS belum dimanfaatkan sesuai dengan potensi dan

kemampuannya yang cukup besar sehingga kontribusinya juga belum

optimal. Jalur PLS merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar

sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan

bersinambungan. PLS yang dilaksanakan yaitu:

1. Kursus

2. Paket A Setara SD, B Setara SMP, C Setara SLTA

3. Keaksaraan Fungsional (KF) Buta Huruf

4. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Satuan PLS meliputi kursus/lembaga pendidikan keterampilan dan

satuan pendidikan yang sejenis. Secara umum, manfaat PLS (Prawiradilaga,

2007:225) antara lain :

1. Mempercapat program wajib belajar pendidikan dasar

2. Memperluas dan menciptakan lapangan kerja

3. Terhadap jalur sekolah dapat menjadi suplemen, komplemen dan

substitusi (memberikan pendidikan yang tidak dapat dilakukan jalur

sekolah.

4. Menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan siap kerja

5. Membentuk manusia yang mandiri dan percaya diri

6. Mencegah urbanisasi

7. Memberantas buta huruf

Dari beberapa manfaat PLS tersebut dapat dikatakan tujuan dari PLS

adalah sebagai berikut :

8

Page 9: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

1. Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini

mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan

mutu kehidupannya.

2. Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan ketrampilan dan

sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja

mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat dan atau jenjang pendidikan

yang lebih tinggi.

3. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi

dalam jalur pendidikan sekolah.

Jenis PLS terdiri atas:

1. pendidikan umum;

2. pendidikan keagamaan;

3. pendidikan jabatan kerja;

4. pendidikan kedinasan; dan

5. pendidikan kejuruan.

PLS dapat diselenggarakan oleh Pemerintah, perorangan atau

sekelompok Warga Negara Indonesia atau badan hukum swasta yang

berkedudukan di Indonesia dan tunduk kepada hukum Indonesia. Lembaga

internasional atau badan/lembaga swasta asing di wilayah Republik Indonesia

dapat menyelenggarakan PLS dengan ketentuan tidak bertentangan dengan

kepentingan nasional dan wajib mematuhi peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

Kursus PLS yang diselenggarakan masyarakat (Diklusemas)

didaftarkan pada Dinas Pendidikan Kecamatan dan mendapat izin

penyelenggaraan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

9

Page 10: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

Seluruh program kursus Diklusemas dikelompokkan ke dalam sepuluh

rumpun pendidikan yaitu: kerumahtanggaan, kesehatan, keolahragaan,

pertanian, kesenian, kerajinan dan industri, teknik dan perambahan, jasa,

bahasa dan khusus.

Di tengah krisis ekonomi seperti sekarang, kursus/lembaga

pendidikan keterampilan ini barangkali harus lebih dikedepankan. Kegiatan

kursus bukan hanya memberi harapan pada anak putus sekolah yang sulit

mencari kerja tetapi juga memberikan jalan bagi banyaknya jumlah lulusan

SLTA yang tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga

lembaga kursus selalu mendapat tempat. Di tangan para pengelolanya,

lembaga pendidikan ini bisa bergerak cepat mengikuti irama perkembangan

dan tuntutan yang terjadi di masyarakat.

Begitu cepatnya antisipasi yang dilakukan para penyelenggara kursus

atas tuntutan masyarakat, sangat boleh jadi, lembaga pendidikan nonformal

ini tidak begitu berat terkena pukulan akibat krisis ekonomi. Menurut mereka,

lulusan SMTA yang akan memasuki perguruan tinggi perlu berpikir ulang,

baik mengenai biaya maupun lama waktu belajar yang harus ditempuh.

Apalagi, setelah selesai kuliah, para lulusan perguruan tinggi pun belum tentu

mudah mendapatkan pekerjaan.

Meski kursus masih dipandang sebelah mata, anak tiri dalam sistem

pendidikan di Indonesia itu kini telah tumbuh menjadi sebuah bidang usaha

yang nyaris tanpa batas. Tidak sedikit perguruan tinggi swasta bercikal bakal

dari kursus. Lembaga-lembaga kursus di Indonesia dalam sepuluh tahun

terakhir tumbuh sangat pesat dan berkembang menjadi industri mimpi yang

menggiurkan. Banyak warga masyarakat yang rela membayarkan uangnya

beratus ribu atau jutaan rupiah sekadar untuk mewujudkan impian. Bahwa

kemudian mimpi indah itu tidak terwujud, adalah kenyataan lain yang tidak

pernah disesali.

10

Page 11: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

Berdasarkan fungsinya, jenis-jenis lembaga kursus itu dapat

dikategorikan menjadi tiga yaitu:

1. Sejenis Bimbingan Tes/Belajar yang bertujuan meningkatkan kemampuan

belajar melalui pelajaran tambahan untuk bidang-bidang tertentu seperti

IPA, matematika, bahasa Inggris, dan lain-lain dengan sasaran untuk

semua pelajar SD-SMTA. Tapi ada yang khusus untuk pelajar pada tingkat

tertentu saja, misalnya kelas III SMTA yang akan mengikuti tes UMPTN.

2. Kursus-kursus Keterampilan yang bertujuan memberikan atau

meningkatkan keterampilan mengetik, kecantikan, bahasa asing, akuntansi,

montir, menjahit, sablon, babysitter, dan lain-lain. Sasaran lembaga ini

mayoritas adalah para lulusan SMP dan SMTA yang memerlukan

sertifikat keterampilan untuk mencari kerja.

3. Pengembangan Profesi, seperti kursus sekretaris atau humas perusahaan,

akuntan publik, kepribadian, dan lain-lainnya. Sasarannya tamatan SMTA

sampai perguruan tinggi, dari yang belum bekerja sampai yang sudah

bekerja, namun ingin meningkatkan profesionalismenya. Jenis ketiga ini

lebih ke arah pembentukan image dalam masyarakat, bukan hanya sekadar

memberikan keterampilan teknis saja. Karena itu dari segi waktu

pelaksanaan kursus lebih panjang (antara enam bulan sampai dua tahun).

C. Kontribusi Pendidikan Luar Sekolah dalam Pembangunan Pendidikan

Nasional/SDM

Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita

masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut.

Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan

nonformal atau lebih dikenal dengan PLS.

Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari

rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah.

Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya

11

Page 12: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang

yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan

keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang

sama disebabkan oleh factor ekonomi.

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat

otonomi daerah adalah mengerakan program PLS tersebut, karena UU Nomor

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas

menyebutkan bahwa PLS akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka

mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut

bertanggungjawab kelangsungan PLS sebagai upaya untuk menuntaskan

wajib belajar 9 tahun.

Rencana Strategis untuk mendukung penyelenggaraan PLS menurut

Isjoni (2004) baik untuk tingkat propinsi maupun kabupaten kota adalah :

1. Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini;

2. Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket

Asetara SD dan B setara SLTP;

3. Penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional;

4. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan perempuan

(PKUP), Program Pendidikan Orang tua (Parenting);

5. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan

melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang,

beasiswa/kursus; dan

6. Memperkuat dan memandirikan Pendidikan Keterampilan Berbasis

Masyarakat (PKBM) yang telah melembaga saat ini di berbagai daerah.

12

Page 13: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

Selain itu menurut Isjoni (2004), dalam kaitan dengan upaya

peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program PLS lebih

berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis.

Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan,

keterampilan, profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut

peluang pasar dan peluang usaha, maka yang perlu disusun Rencana strategis

adalah:

1. Meningkatkan mutu tenaga kependidikan PLS;

2. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana dapat memperluas pelayanan

PLS, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil.

3. Meningkatkan pelaksanaan program kendali mutu melalui penetapan

standard kompetensi, standard kurikulum untuk kursus;

4. Meningkatkan kemitraan dengan pihak berkepentingan (stakholder)

seperti Dudi, asosiasi profesi, lembaga diklat; serta

5. Melaksanakan penelitian kesesuain program PLS dengan kebutuhan

masyarakat dan pasar. Demikian pula kaitan dengan peningkatan kualitas

manajemen pendidikan.

Strategi PLS dalam rangka era otonomi daerah, maka rencana strategi

yang dilakukan adalah :

1. Meningkatkan peran serta masyarakat dan pemerintah daerah;

2. Pembinaan kelembagaan PLS;

3. Pemanfaatan/pemberdayaan sumber-sumber potensi masyarakat;

4. Mengembangkan sistem komunikasi dan informasi di bidang PLS;

5. Meningkatkan fasilitas di bidang PLS

Sasaran PLS lebih memusatkan pada pendidikan anak usia dini,

pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan, dan perempuan. Selanjutnya PLS

13

Page 14: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

harus mampu membentuk SDM berdaya saing tinggi, dan sangat ditentukan

oleh SDM muda (dini), dan tepatlah PLS sebagai alternative di dalam

peningkatan SDM ke depan. PLS menjadi tanggung jawab masyarakat dan

pemerintah sejalan dengan Pendidikan Berbasis Masyarakat, penyelenggaraan

PLS lebih memberdayakan masyarakat sebagai perencana, pelaksanaan serta

pengendali, Pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota secara terus

menerus memberi perhatian terhadap PLS sebagai upaya peningkatan SDM,

dan PLS sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan masyarakat,

terutama anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, dan

anak usia putus sekolah..

D. Model Pendidikan Luar Sekolah

Dalam beberapa tahun terakhir, homeschooling (HS) merebak di

beberapa kota di Indonesia. Tak hanya untuk kalangan berada, sekolah rumah

itu juga bakal bisa diterapkan terhadap keluarga tak mampu. Belum ada data

pasti berapa jumlah anak yang belajar atau bersekolah di rumah alias ber-

homeschooling di Indonesia. Namun, saat ini kian banyak orang tua yang

berminat memberikan pembelajaran di rumah. Apalagi HS sebagai salah satu

pendidikan alternative sudah terakomodasi dalam Sistem Pendidikan

Nasional. Undang-Undang Sisdiknas pasal 27 ayat 1 Di sana disebutkan,

“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan

berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”. Ayat 2 menyebutkan, “Hasil

pendidikan sebagaimana dimaksud ayat 1 diakui sama dengan pendidikan

formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar

nasional pendidikan”. Melalui payung hukum itu, mereka yang belajar di

rumah sudah tak perlu was-was tentang legalitas sistem pembelajaran

mereka.

Namun demikian, citra homeschooling di masyarakat masih beragam.

Sebagian menganggap homeschooling mahal. Pasalnya, berbagai macam

fasilitas harus dipenuhi sendiri. Misalnya alat-alat laboratorium yang

jamaknya disediakan sekolah. Menanggapi hal itu, Daniel M. Rosyid, ketua 14

Page 15: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

Dewan Pendidikan Jawa Timur dalam artikel Pontianak Post Online

(Andriayani, 2007), menegaskan bahwa siapa pun dapat ber-homeschooling.

Menurutnya, model pendidikan rumah itu justru hadir bagi mereka yang tak

mampu dalam hal finansial. Misalnya, keluarga miskin (gakin). Sebab, anak-

anak miskin tidak perlu mengeluarkan ongkos seragam sekolah, SPP, maupun

uang gedung. Dengan demikian, jatuhnya biaya lebih murah dibandingkan

pendidikan formal.

E. Peranan Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Luar Sekolah

1. Perlunya Perubahan Paradigma Pendidikan Luar Sekolah

Bagi negara maju dan negara berkembang, perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta sistem informasi yang begitu cepat

mendorong berbagai aspek, khususnya sistem pendidikan untuk mengubah

visi, misi dan strateginya secara revolusioner. Revolusi pendidikan berarti

secara totalitas menjabarkan konsep Teknologi Pendidikan (TP) dalam

berbagai bentuk dan tingkatan implementasinya, sehingga efisiensi dan

efektivitas penggunaan sumber daya yang ketersediannya sangat terbatas

dapat tercapai, dan pendidikan yang sesuai dengan kebituhan masyarakat

dapat disediakan.

2. Indikator yang Menunjukan bahwa PLS Merupakan Sumber

Ekonomi Pendidikan, :

1. Tingkat efisiensi dan efektifitas PLS sangat tinggi, karena hampir

semua PLS dirancang dan dilakukan berdasarkan kebutuhan

masyarakat.

2. Secara fungsional, kaitan PLS dengan pendidikan jalur sekolah adalah

sebagai substitusi, suplemen dan komplemen pendidikan sekolah.

15

Page 16: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

3. Lulusan PLS baik yang berasal dari pengangguran, pegawai yang

ingin meningkatkan profesi dan keterampilannya menjadikan mereka

dapat bekerja di dalam negeri dan luar negeri.

4. Siswa dari jalur sekolah yang kemampuan akademik dan keterampilan

kejuruannya belum memadai, setelah mengikuti kursus teretntu

menjadi siswa yang berprestasi.

5. Para penyelenggara PLS dapat memperoleh keuntungan dan dapat

memperkerjakan cukup banyak pegawai untuk mengelola lembaga

PLS , dan mereka merupakan swadaya murni masyarakat tanpa

bantuan pemerintah.

3. Masalah Penerapan Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Luar

Sekolah

Media massa khususnya TV dan media cetak mestinya lebih banyak

atau dapat dimanfaatkan untuk program-program pendidikan, yang secara

tidak langsung merupakan penerapan TP dalam PLS.

Selain media massa, tutorial merupakan salah satu metode

pembelajaran yang sudah dilakukan sejak zaman dulu kala. Belajar pada

jalur PLS lebih menekankan pada peran belajar tutorial, kelompok dan

mandiri sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan secara

konseptual sangat positif. Namun karena tutor bukan seseorang yang

secara khusus dididik sebagai tutor, tetapi guru yang merangkap tutor,

sehingga meraka memiliki keterbatasan dalam pemahaman dirinya sebagai

tutor.

Program Paket A setara SD dan Paket B setara SLTP dan paket A

setara SLTA juga semakin kehilangan pamornya, karena semakin sedikit

warga masyarakat yang tidak bersekolah di SD dan SLTP yang tertarik

menjadi peserta belajar di kedua program tersebut. Satu-satunya program

16

Page 17: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

PLS yang sangat dinamis dalam perkembangan kebutuhan masyarakat,

ilmu pengetahuan den teknologi ialah kursus-kursus yang diselenggarakan

masyarakat. Bahkan sekarang banyak lembaga kursus yang berkerjasama

dengan negara lain dan telah menyusun standar kompetansi internasional,

sehingga tamatannya diakui oleh negara tersebut dan dapat bekerja di

negara asing lainya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemerataan pendidikan dalam arti pemerataan kesempatan untuk

memperoleh pendidikan telah lama menjadi masalah yang mendapat

perhatian, terutama di negara-negara sedang berkembang. Hal ini tidak

terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan mempunyai

peran penting dalam pembangunan bangsa, seiring juga dengan

berkembangnya demokratisasi pendidikan dengan semboyan education for

all.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yaitu sebagai substitusi, suplemen

dan komplemen pendidikan sekolah, PLS mempunyai cakupan garapan yang

sangat luas. Namun dalam kenyataannya PLS belum dimanfaatkan sesuai

dengan potensi dan kemampuannya yang cukup besar sehingga kontribusinya

juga belum optimal. Teknologi Pendidikan (TP) dalam berbagai bentuk dan

tingkatan implementasinya, sehingga efisiensi dan efektivitas penggunaan

sumber daya yang ketersediannya sangat terbatas dapat tercapai, dan

pendidikan yang sesuai dengan kebituhan masyarakat dapat disediakan.

B. Saran

17

Page 18: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

Pendidikan adalah salah satu sarana terpenting dalam melanjutkan

program pemerataan pembangunan pemerintah. Olehnya itu, sudah

semestinya pihak pemerintah tidak lagi bersifat acuh bahkan harus bertindak

lebih tanggap lagi dalam mengatasi problem pendidikan yang ada dalam

masyarakat Indonesia. Disamping dengan adanya program pendidikan yang

formal dilain pihak juga ada bidang pendidikan yang tak kalah pentingnya

dalam mengambil peran pemerataan pendidikan di negara kita ini yaitu PLS

(Pendidikan Luar Sekolah). Oleh karenanya dianggap perlulah adanya

peningkatan taraf mutu pendidikan non-formal ini. Selain pemerintah terkait,

kita sebagai warga Negara yang baik juga dapat berpartisipasi dalam

mengembangkan pendidikan yang ada di sekitar kita.

18

Page 19: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

DAFTAR PUSTAKA

Ali M, 2009. Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional. Jakarta, Grasindo

Andriyani, Titik dan Anita Rachman. 2007. Model Pendidikan Luar Sekolah hasil

Pemikiran Asah Pena. Pontianak Post Online. (http://www.pontianakpost.com/

berita/index.asp?Berita=Edukasi&id=137047,).

Isjoni. 2004. Pendidikan Luar Sekolah. www.pendidikan.net. (http://re-

searchengines. com/isjoni13.html).

Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana

Prenada Media Group.

PTS Online. 2007. Kursus: Pendidikan Luar Sekolah. (http://www.pts.co.id/

kursus.asp).

Seels, Barbara B dan Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran Definis dan

Kawasannya. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.

Suharsaputra, Uhar. 2007. Pemerataan Pendidikan. (http://tappkipmkng.wordpress.

com/2007/05/03/pemerataan-pendidikan). Surabaya, Usaha Nasional

Faisal Sanafiah,( ) Pendidikan Luar Sekolah

19

Page 20: APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMERATAAN (ISI LAPORAN) pdd tampil OK

20