Andal Siap Print

download Andal Siap Print

of 80

  • date post

    15-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.079
  • download

    17

Embed Size (px)

Transcript of Andal Siap Print

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kota Cilegon merupakan salah satu kota tersibuk di Propinsi Banten sejak memisahkan diri dari Propinsi Jawa Barat. Tempat pembuangan Akhir (TPA) Bagendung yang terdapat di Kota Cilegon telah beroperasi 15 tahun sejak masih masuk dalam wilayah administrasi Propinsi Jawa Barat. Volume sampah pada saat ini sudah mencapai tiga kali lipat dibandingkan dengan volume sampah 10-15 tahun yang lalu. Hal ini diakibatkan oleh pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pembangunan yang begitu pesat. Pegelolaan sampah di TPA Bagendung hingga saat ini masih menggunakan sistem open dumping konvensional. Dikatakan konvensional karena sampah langsung diurugkan begitu saja tanpa diberi saluran lindi, sehingga air lindi mengalir secara liar. Untuk mencegah pencemaran lingkungan yang lebih parah lagi, PT Kaibo Rasirekayasa sebagai konsultan management and engineering bermaksud melakukan pengembangan terhadap TPA Bagendung yang terletak di Jl. Raya Bagendung Desa Bagendung, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon. Lokasi TPA Bagendung dengan luas lahan 10 Ha inisudah sesuai dengan RTRW (Perda no.15 tahun 2000 tentang RTRW) Kota Cilegon. Lokasi TPA juga dekat dengan Sungai Bagendung, atau sebagian penduduk menyebutnya sebagai Sungai Lengkong, untuk membuang limbah cair dari IPAL TPA. Selain itu, lokasi TPA Bagendung juga sudah dialiri listrik dari PLN. Namun ntuk mendukung aktivitas pekerjaan dan sebagai back up power selain listrik dari PLN juga harus disediakan genset. Berdasarkan peraturan yang ada (Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL), proyek pengembangan TPA Bagendung pun sudah pasti harus dilengkapi dengan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa proyek pembangunan TPA sampah dengan sistem sanitary landfill

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

1

termasuk instalasi penunjangnya wajib dilengkapi dengan dokuman AMDAL apabila luas kawasan TPA 10 Ha dengan kapasitas total 10000 ton. Tujuan utama membuat Kerangka Acuan ANDAL yaitu menentukan ruang lingkup main issues lingkungan terpenting dalam kaitannya dengan rencana pembangunan perluasan plaza dan hotel. Penentuan ruang lingkup tersebut untuk menetapkan bahwa studi ANDAL ini dapat terfokus kepada hal-hal yang penting saja, sehingga pelaksanaan penyusunan studi ANDAL dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.11 Tahun 2006, tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisi Mengenai Dampak Lingkungan disebutkan bahwa dampak potensial dari pembangunan TPA adalah pencemaran gas/udara, resiko kesehtan masyarakat, dan pencemaran dari lindi. 1.2 Tujuan dan Manfaat Seiring dengan pesatnya pembangunan dan pertambahan jumlah penduduk, diperlukan adanya suatu sistem pengelolaan sampah yang baik. Adapun tujuan dan manfaat dilakukannya proyek pengembangan TPA Begendung adalah : Memenuhi kebutuhan akan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya timbulan sampah. Memperbaiki sistem pengolahan yang sudah ada menjadi lebih baik. Mencegah pencemaran yang lebih lanjut yang diakibatkan oleh lindi dari sistem pengolahan sampah sebelumnya.

Menghindarkan masyarakat dari dampak negatif berupa bau dan gangguan kesehatan dari sistem pengolahan open dumping konvensional dengan menerapkan sistem pengolahan sampah yang lebih baik.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

2

1.3 Peraturan Dalam rangka mengatur pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional telah dihasilkan undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan pokok yang menjadi landasan bagi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan tersebut. Pelaksanaan undang-undang lingkungan tersebut dijabarakan melalui Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri seperti tercantum di bawah ini. Peraturan perundangan yang digunakan untuk melaksanakan studi amdal diantaranya adalah : 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-11/MENLH/3/1994 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan 6. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 04 Tahun 2000 Tentang Panduan Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu 7. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 Tentang Jenis Rencanan Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 8. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 9. Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (JABOTABEK) 10.Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air. 11.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 528/Menkes/Per/XII/1982 tentang Kualitas Air Tanah yang berhubungan dengan Kesehatan.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

3

12.Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 13.Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Yang Sudah Beroperasi. 14.Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun. 15.Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. 16.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep.13/MENLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. 17.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara. 18.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. 19.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Getaran. 20.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-50/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebauan. 21.Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 22.Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 23.Keputusan Kepala Bapedal Hidup Nomor 56 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 24.Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. 25.Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. 26.Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 27.Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

4

BAB II URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN

2.1. 2.1.1

Identitas Pemrakarsa dan Penyusun Andal Pemrakarsa a. Identitas Pemrakarsa : Nama Pemrakarsa Jenis Usaha Alamat Kantor Penanggung Jawab b. Identitas Proyek: Nama Proyek Jenis Kegiatan Luas Lahan ALamat Proyek Kota Cilegon : TPA : Tempat Pembuangan Sampah : 10 Ha : Desa Bagendung, Kecamatan Cilegon, : Dinas Kebersihan Kota Cilegon : Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah : Jl. Kubang Laban No. Bendung Karet Cilegon : Drs. H. A. Nuryaman, MM

2.1.2

Penyusunan Studi AMDAL a. Identitas Penyusun Nama Perusahaan Jenis Usaha b. Penanggung Jawab Nama : : PT. Kaibon Rasirekayasa : Konsultan Management and engineering : : Ir. Tubagus Luay Sofyani (Direktur Utama)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

5

Alamat Pusat 10230 2.2.

: Jl. KH. Mas Mansur No. 49 Tanah Abang Jakarta

Uraian Rencana Usaha dan Kegiatan

2.2.1 Penentuan Batas-Batas Lahan Yang Langsung Dengan Rencana Kegiatan Rencana lokasi proyek TPA Bagendung seluas 10 Ha terletak di JL.Raya Bagendung Desa Bagendung, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, dengan batas fisik sebagai berikut : Sebelah Utara : Lahan Kosong, Kampung Sambi Buhut Sebelah Selatan : Lahan Kosong (tegalan), 500 m pemukiman

Kp.Bagendung 2.3 Sebelah Timur: Jalan Aspal , lahan milik penduduk Sebelah Barat : Sungai (Lengkong), Desa Cigedong

Lingkup rencana usaha dan/kegiatan yang akan ditelaah dan alternatif komponen

rencana usaha dan/atau kegiatan 2.3.1 Status dan Lingkup Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Pada pelaksanaannya studi AMDAL dilakukan bersamaan dengan studi kelayakan teknik dan ekonomi. Hal ini dilakukan untuk mempersingkat waktu pengerjaan dokumen AMDAL. Lokasi rencana kegiatan di tempat TPA sebelumnya yaitu Jl. Raya Begendung Desa Begendung, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon dengan luas lahan 10 Ha dan dapat dicapai dari jalan Propinsi Kota Cilegon dengan jarak 10 km. Pengelolaan sampah di TPA Bagendung sampai saat ini masih menggunakan sistem open dumping konvensional. Dikatakan konvensional karena sampah langsung diurugkan begitu saja tanpa diberi saluran lindi, sehingga air lindi mengalir secara liar dan mencemari lingkungan sekitarnya, terutama tanah dan air tanah. Pengelolaan sampah semacam ini sering dipilih untuk penenganan akhir sampah karena biayanya murah dan mudah pengoperasiannya. Walaupun sistem ini berpotensi sebagai sumber pencemaran lingkungan seperti bau, pencemaran tanah dan air tanah, pencemaran air

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

6

permukaan, juga akan berpotensi sebagai tempat berkembangbiaknya vektor penyakit menular. Datambah lagi dengan dampak sosial seperti munculnya para pemulung, lapak, yang melakukan kegiatannya di dalam dan di luar sekitar TPA tersebut, yang menciptakan masyarakat informal dan lingkungan yang tidak sehat. Berdasarkan Perda no.15 tahun 2000 tentang RTRW Kota Cilegon, rencana lokasi pengembangan TPA Begendung telah sesuai dengan peruntukannya sebagai fasilitas sosialkemasyarakatan. Secara garis besar rencana kegiatan penyebab dampak, terutama komponen usaha dan atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkan adalah sebagai berikut : A. Tahap Prakontruksi

Tahap kegiatan prakonstruksi adalah merupakan tahap persiapan kegiatan pengembangan TPA Bagendung. Pada tahap meliputi kegiatan : Kegiatan Perencanaan Kegiatan perencanaan yang sedang dan akn dilaksanakan adalah perencanaan detail engineering IPAL. Sosialisasi Proyek Kegiatan sosialisasi dilakukan melalui media massa (Radar Banten) dan pertemuan formal dengan tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah sekitar. B. Tahap Konstruksi Tahap konstruksi adalah merupakan tahapan pembangunan atau pengembangan fisik TPA Bagendung yang terdiri dari kegiatan sebagai berikut : Lokasi 1. 2. 3. 4. Mobilisasi tenaga kerja Base camp Mobilisasi peralatan dan material Pembukaan lahan baru Pembukaan Lahan Baru untuk Penimbunan Sampah Sebagai Pengembangan

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

7

Pembangunan Sarana Penunjang 1. Saluran drainase 2. Menyediakan sistem penanggulangan kebakaran/tanggap darurat 3. Penghijauan

C.

Pembangunan Fisik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Pembersihan Lingkungan Tahap Operasional Tahap operasional meliputi kegiatan : Kegiatan Pengangkutan Sampah 1. 2. 3. a. b. Jenis sampah Kegiatan pengangkutan sampah dilakukan dari TPS Kegiatan sarana dan prasarana (utilitas TPA) Kegiatan pemeliharaan sarana, prasarana dan peralatan (teknik) Kegiatan penyediaan air bersih

diangkut dnegan truk menuju ke TPA

D.

Kegiatan Pasca Operasi Pada tahap pasca operasi hanya satu kegiatan yang akan dilakukan yaitu : Penambangan Kompos Kompos yang sudah tertimbun selama 15 tahun ditambang untuk dijual.

2.3.2

Alternatif-alternatif yang akan Dikaji dalam ANDAL Alternatif yang akan dikaji dalam studi ANDAL adalah sebagai berikut : a. Untuk alternatif lokasi kegiatan kiranya sudah tidak memungkinkan untuk dikaji mengingat lokasi kegiatan memang sudah existing dan sudah berjalan selama 15 tahun. Selain tidak ada masalah yang timbul,lahan tersebut memang telah sesuai dengan peruntukannya. b. Alternatif yang memungkinkan untuk dikaji adalah tetang teknologi pengelolaan sampah. Telah diperoleh 2 (dua) alternatif teknologi pengolahan sampah, yaitu : 1. Dengan teknologi open dumping yang disempurnakan, mengingat di TPA Bagendung saat ini pengelolaan sampahnya

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

8

menggunakan teknologi open dumping yang konvensional, artinya masih hanya sekedar menimbun dan mengurug tanpa perlakuan khusus, lalu air lindinya dialirkan secara gravitasi dan sedimentasi berlereng. 2. Dengan teknologi sanitary landfill.

2.3.2.1

Teknologi Open Dumping yang Disempurnakan

Langkah pertama untuk pengelola sampah dengan teknologi open dumping yang disempurnakan adalah menyiapkan lahan untuk penimbunan sampah tanpa pelapis apapun, tetapi di tempat tersebut telah disediakan saluran air lindi. Secara umum, IPAL TPA Bagendung yang direncanakan meliputi unit operasi dan unit proses. IPAL dalam pengoperasian aliran di tahap awal (proses fisik) memakai sistem over flow dan pada tahapan proses biologi memakai sistem pemompaan, sebagaimana diuraikan berikut ini : 1. Bak Pengumpul Lindi Bak ini berfungsi untuk mengumpulkan air limbah lindi dari sumbernya dan menjaga stabilitas aliran debit air limbah lindi. 2. Bak Bar Screen/Saringan Kasar Bak bar screen ini dipasang dengan tujuan untuk memisahkan padatan kasar dan sampah besar seperti plastic, tali, kayu, kertas yang berukuran lebih dari 4 cm denga air limbah lindi. Screen yang terpasang berupa kisi-kisi jeruji besi diameter 10 mm dengan lebar antara kisi 15 mm yang dipasang dengan kemiringan 60o. 3. Bak Grease Trap/Penangkap Lindi Grease trap dalam IPAL ini berguna untuk memisahkan padatan terapung terutama lindi yang bersumber drai pembusukan sampah. 4. Equalization Tank Tangki equalisasi ini dipasang dengan tujuan untuk menetralkan kensentrasi air limbah sebalum diolah secara biologi dalam bak aerasi. 5. Aeration Tank

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

9

Aeration tank yang terpasang dalam IPAL TPA Bagendung ini nanti adalah dua unit. Dalam tangki ini akan berlangsung proses reduksi/dekomposisi materi organic dalam air limbah dengan bantuan mikrooragnisme dengan kondisi aerob. 6. Sedimentation Tank Dari ruang aerasi (Mixed Liquor Suspended Solid) MLSS akan lewat flow control float ke sedimentation tank yang masih mengandung kadar suspended solid yang tinggi. Oleh karena itu di tangki ini, suspended solid tersebut harus diendapakan. Sedangkan air yang sedikit mengandung suspended solid secara over flow dialirkan ke disinfection tank. Bentuk sedimentation tank dalam system ini adalah kerucut. 2.3.2.2 Sistem Sanitary Landfill yang Diusulkan

Sanitary Landfill adalah system pengelolaan sampah yang terdiri dari sl-sel sampah. Timbunan sampah (sel sampah) yang terbentuk setiap hari disebut sel harian. Setian timbunan sampah yang sudah dipadatkan dan mencapai luas tertentu serta ketinggian tertentu akan dilapisi tanah penutup setebal 20-30 cm. Penutupan ini dilakukan setiap hari pada akhir kerja. Secara rinci kegiatan operasional TPA dengan sistem pengolahan sanitary landfill dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Operasional Lahan TPA Prosedur pengoperasian sanitary landfill ini meluputi : Persiapan operasi Jadwal operasi Rencana pengisian atau penimbunan sampah Rencana jalur pengangkutan sampah

2. Kebutuhan Alat Berat Alat berat yang akan digunakan adalah buldozer, scrapper, loader, dan truk pengangkut, dan lain-lain. 3. Konsep Pengelolaan Teknis TPA Bagendung Konsep pengelolaan teknis di TPA Bagendung adalah sebagai berikut : Volume sampah di TPA Bagendung Identifikasi truk smapah yang masuk10

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Antrian truk Pola pembongkaran sampah Aktivitas pemulung Penjualan hasil pemulungan Pola pengurugan sampah harian

4. Rencana Pengolahan Air Lindi pada Sistem Sanitary Landfill Air lindi adalah rembesan air tercemar setelah melintasi tumpukan sampah, dimana aliran partikel-partikel kontaminan keluar dari tumpukan sampah. Karakterikti air lindi sangat tergantung pada jenis sampah yang terdapat di TPA. Usulan DisainIPAL TPA Bagendung Rencana Pipa Pengumpul Air Lindi Pipa pengumpul berfungsi untuk mengunpulkan dan mengalirkan air lindi yang dihasilkan dari tumpukan sampah. Sistem Pengumpul Air Lindi 1. Saluran lateral Saluran pengumpul air lindi terdiri dari dua baguan utama, yaitu : Saluran lateral berfungsi untuk mengumpulkan air lindi dari dasar timbunan sampah kemudian dialirkan menuju saluran manifold. 2. Saluran Manifold Saluran manifold berfungsi untuk menampung air lindi dari saluran-saluran lateral untuk dialirka menuju kolam pengolahan air lindi. Sistem Pengolahan Lindi Untuk mengolah air yang dihasilkan dapat digunakan beberapa alternatif, baik secara kimia maupun biologis. Penentuan sisitem pengolahan akan disesuaikan dengan biaya operasional dan pemeliharaannya. Secara garis besar, rencana pengolahan air lindi yang akan digunakan di TPA Bagendung adalah sebagai berikut : a. Pengolahan pertama merupakan pengolahan awal yang ditujukan untuk membantu terjadinya kesempurnaan proses pada pengolahan kedua sebagai pengolahan pokok.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

11

Bentuk unit-unit pengolahan yang termasuk dalam pengolahan pertama yang direncanakan adalah : Bak Penenang Bak Sedimentasi Sumur Pengumpul yang Dilengkapi Rumah Pompa dan

Perlengkapannya b. Pengolahan kedua yang direncanakan adalah proses biologis yang digunakan untuk menghilangkan sebagian besar zat oganik yang terlarut dalam air lindi, khususnya biodegrdable organics dan suspended solid (zat padat terlarut). Unit pengolahan yang termasuk di dalam pengolahan kedua yang direncanakan adalah : Oxidation Pitch Clarifier

c. Pengolahan ketiga merupaka proses pengolahan yang direncanakan untuk membantu menstabilkan hasil dari proses-proses terdahulu sebelum dibuang ke badan air penerima. Unit pengolahan yang termasuk di dalam pengolahan ketiga adalah : Desinfeksi Sludge Drying Bed Kolam Uji Hayati

Lokasi penempatan bangunan pengolahan air lindi didasarka pada kriteria-kriteria sebagai berikut : a. Kondisi Topografi b. Rencana Badan Air Penerima c. Kedekatan dengan Sumber Air Lindi d. Sumur Pantau e. Sistem Ventilasi Air Lindi 5. Sumber Daya Listrik (PLN)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

12

Sumner daya listrik untuk pengelolaan sampah ini menggunakan suplai listrik PLN (suplai utama) yang pemakaiannya sangat diseleksi, yakni dengan prioritas untuk IPAL, pompa air, hydrant, dan keperluan pengomposan. 6. Kegiatan Penghijauan Kegiatan penghijauan TPA Bagendung meliputi kegiatan penanaman pohon dan pemeliharaannya serta fasilitas pendukungnya. Jenis vegetasi yang dipelihara meliputi jenis rumput, perdu, dan jenis pohon keras. BAB III RONA LINGKUNGAN HIDUP 3.1 KOMPONEN FISIK KIMIA 3.1.1 Iklim Berdasarkan data BMG Kota Cilegon periode 2000 2004, iklim di kota Cilegon termasuk tipe A berdasarkan klasifikasi Schmit dan Ferguson. a. Suhu Suhu udara rata-rata 26,6C, maksimum 33,2 C pada bulan September, suhu minimum pada bulan Agustus 21,5 C b. Kelembaban Kelembaban udara rata-rata berkisar 82%, maksimum Februari 87% dan minimum Agustus 78%. Curah hujan rata-rata 1.500 mm per tahun. c. Kecepatan Angin Kecepatan angin berkisar antara 3,7 m/detik 4,8 m/detik, terendah pada bulan Juni/Juli sedangkan kecepatan rata-rata tertinggi pada bulan Desember. 3.1.2 Topografi

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

13

Luas wilayah Kota Cilegon 175.50 km2. Dibagi ke dalam 8 kecamatan dan 43 kelurahan/desa. Kota Cilegon memiliki topografi dengan ketinggian wilayah berkisar antara 0-85 m diatas permukaan laut. Dataran rendah di bagian Utara dengan ketinggian berkisar antara 0-25 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi dari bagian tengah kea rah Selatan dengan ketinggian 25-85 meter di atas permukaan laut yaitu Kecamatan Grogol, Purwakarta, Jombang, Cilegon, Cibeber, dan Citangkil. Kemiringan tanah rata-rata 0-3% menurut ke utara.

3.1.3 Hidrologi/Drainase A. Debit Air Sungai Tinggi muka air tanah di lokasi kegiatan berkisar antara 20-30 m dari muka air tanah. Saluran yang akan menerima air buangan dan limpasan air hujan TPA Bagendung adalah sungai yang berada di belakang lokasi kegiatan pada jarak sekitar 500 m. sungai tersebut lebar 3 meter, kedalaman dinding 4 meter, dengan tinggi permukaan air 1-1,5 meter dan kecepatan aliran actual (V) 0,35 meter/detik dan kecepatan aliran maksimal 0,52 meter/detik, maka diperoleh perhitungan debit oleh:

Rumus perhitungan Debit (Q) = Luas penampang (A) X Kecepatan aliran (V) Debit minimum (actual) = 0,35 m3/detik Debit maksimum = 1,30 m3/detik

Adapun kondisi dan karakteristik sungai dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

14

Kondisi Karakteristik Saluran Sekitar TPA Bagendung Lokasi/Saluran Dimensi (lebarX dalam) (2X1.5) m (2X1.5) m Tinggi efektif (m) Maks 1.25 1.25 Min 0.5 0.5 Kecepatan (m/detik) Maks 0.52 0.71 Min 0.35 0.46 Debit (m3/detik) Maks 1.3 1.78 Min 0.35 0.46

Saluran bagian depan tapak TPA Saluran drainase utara tapak TPA

Sumber : Hasil perhitungan Tim Penyusun, 2007

B. Kualitas Air Sungai Keadaan kualitas air sungai di sekitar TPA Bagendung yang diambil pada 3 titik sampel aliran di sekitar rencana tapak pembangunan TPA BAgendung seperti disajikan pada Tabel 3.2 di bawah ini. Mengingat di wilayah Kota Cilegon ini belum ada Perda tentang sungai maka, parameter yang digunakan dalam uji laboratorium air sungai ini menggunakan Baku Mutu PP Nomor 82 Tahun 2001 Golongan II : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, pertnakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut. Dari table tersebut bahwa kualitas air sungai pada sampel nomor 1 s/d sampel nomor 3, seluruhnya masih di bawah baku mutu lingkungan sesuai PP Nomor 82 Tahun Golongan II, kecuali untuk parameter Fecal Coliform, BOD5 dan COD yang sudah melampaui NAB. Untuk parameter penting lainpun yang merupakan parameter zat berbahaya dan beracun seperti pH, Hg, As, Cr+6, Se, Cu, dan Pb masih memenuhi persyaratan sesuai standar baku mutu. Masih tingginya konsentrasi Fecal Coliform sebelum rencana kegiatan TPA Bagendung disebabkan adanya kebiasaan warga yang membuang hajad ke sungai. Tingginya parameter fecal coli ini dapat berakibat pada tercemarnya air sumur penduduka yang berdekatan dengan sungai. Dengan demikian kualitas air sungai sebelum

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

15

kegiatan TPA telah tercemar oleh bakteri coli, artinua buangan air limbah penduduk telah memberikan konstribusi peningkatan konsentrasi pencemaran air sungai Bagendung. Parameter lain yang nilainya sudah melebihi ambang batas adalah BOD5 dan COD. BOD5 (Biological Oxygen Demand) adalah kemampuan oksigen untuk mengoksidasi secara biologi, sementara COD adalah kemampuan oksigen untuk mengoksidasi kandungan unsure kimiawi yang terlatur dalam air tersebut. Nilai BOD 5 dan COD yang tinggi mengindikasikan bahwa sungai sudah tersemar (melampui ambang batas). Dari ketiga titik sampel air sungai, semuanya sudah melebihi ambang batas, baik yang di upstream, pertemuan dengan outlet air lindi dan downstream. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sungai Lengkong/Bagendung telah melampaui ambang batas bukan hanya disebabkan oleh aktivitas TPA karena dari upstream-nya sudah tersemar. Tingginya nilai kedua parameter tersebut bias juga diakibatkan oleh banyaknya buangan organic dan bahan kimiawi dari arah hulu (upstream) mengingat pada saat pengukuran dilakukan air limbah dari TPA Bagendung tidak mengalir (kering).

Tabel 3.2. Hasil Pemeriksaan Kualitas Air Sungai Bagendung Dekat Dengan Lokasi TPA BagendungNO Parameter Satuan Nilai Ambang Batas 1 A. 1. FISIKA Suhu Zat (TDS) Padat Terlarut 0C Mg/L Mg/L Udara +3oC 1000 29.9 62 70 2 28.7 70 36 Hasil 3 28.5 59 30 SNI 06-6989.23-2005 SNI 06-6989.27-2005 SNI06-6989.3-2004 Metode Analisa

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

16

NO

Parameter Jumlah Padat

Satuan

Nilai Ambang Batas 50

Hasil

Metode Analisa

B 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.

Tersuspensi (TSS) KIMIA pH (insitu) Air Raksa (Hg) Arsen (As) Boron (B) Oksigen terlarut (DO) insitu Fluorida (F) Fenol Fosfat total (PO4) Kadmium (Cd) Khromium VI (Cr6+) Kobalt (Co) Khlorin bebas (Ci2) Minyak Lemak Nitrat (NO3-N) Nitrit (NO-2) Selenium (Se) Seng (Zn) Sianida (CN) Sulfida (H2S) Surfakton Anion (MBAS) Tembaga (Cu) Timbal (Pb) BOD5 COD

Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L

69 0.002 1 1 4 1.5 0.001 0.2 0.01 0.05 0.2 0.03 1 10 0.06 0.05 0.05 0.02 0.002 0.2 0.02 0.03 3 25

7.92