Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang Terancam Delisting ... Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang...

download Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang Terancam Delisting ... Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang Terancam

of 16

  • date post

    27-Oct-2020
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang Terancam Delisting ... Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang...

  • Jurnal Maksipreneur │ Vol. 9 No. 1 │ Desember 2019

    1

    Jurnal Maksipreneur │ Vol. 9 No. 1 │ Desember 2019 │ hal. 1 – 16

    Analisis Kebangkrutan Perusahaan yang Terancam

    Delisting di Bursa Efek Indonesia

    Putri Risnanti Eny Kustiyah

    Rochmi Widayanti Manajemen, Universitas Islam Batik Surakarta, Indonesia Korespondensi penulis: risna05putri@gmail.com

    Abstract. Corporate bankruptcy can be seen from the performance of the company's

    financial statements. The purpose of this study is to find out how the performance of

    companies with suspension status in 2018 from January to October in the Indonesia

    Stock Exchange with 2016-2017 financial statement research. There are 13 companies

    that have suspension status in 2018 and still publish their financial statements between

    2016-2017. The detection tool used in this study is the modified Altman Z-score

    Multiple Discriminant Analysis. With the results of this study there are six companies in

    healthy positions in two years between 2016-2017, five companies in bankruptcy

    positions, one company with the first year in a healthy position while the second year

    going bankrupt, and one company experiencing bankruptcy in the first year and grey

    area in the second year.

    Keywords: Bankruptcy; Delisting; Suspension; Z-score.

    Abstrak. Kebangkrutan perusahaan dapat dilihat dari kinerja laporan keuangan perusa-

    haan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi bagaimana kinerja perusahaan

    yang bertatus suspensi pada tahun 2018 dari bulan januari hingga bulan oktober di

    Bursa Efek Indonesia dengan penelitian laporan keuangan tahun 2016-2017. Ada 13

    perusahaan yang berstatus suspensi pada tahun 2018 dan masih mempublikasi laporan

    keuangannya antara tahun 2016-2017. Alat pendeteksi yang digunakan dalam penelitian

    ini yaitu multiple discriminant analysis Altman z-score modifikasi. Hasil penelitian ini

    menunjukkan enam perusahaan dalam posisi sehat dalam dua tahun antara tahun 2016-

    2017, lima perusahaan dalam posisi bangkrut, satu perusahaan dengan tahun pertama

    pada posisi sehat, sedangkan tahun kedua mengalami bangkrut, dan satu perusahaan

    lainnya mengalami posisi bangkrut di tahun pertama dan grey area di tahun kedua.

    Kata Kunci: Kebangkrutan; Penghapusan pencatatan; Suspensi; Z-score.

    Article Info:

    Received: March 4, 2019 Accepted: October 28, 2019 Available Online: November 6, 2019

    DOI: http://dx.doi.org/10.30588/jmp.v9i1.432

  • Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638

    2

    LATAR BELAKANG

    Perkembangan perekonomian Indonesia berimplikasi pada intensitas persaingan

    antarperusahaan yang semakin meningkat. Semakin tingginya tingkat persaingan antar-

    perusahaan menuntut perusahaan untuk giat melakukan inovasi, perbaikan kinerja,

    pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan produk agar unggul dalam

    persaingan dengan perusahaan lain (Bahri, 2015). Meningkatnya kegiatan bisnis menye-

    babkan perusahaan-perusahaan mencari sumber-sumber pembiayaan untuk membiayai

    kegiatan bisnisnya. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, perusahaan dapat

    menerbitkan surat berharga atau saham yang ditawarkan kepada invesror maupun

    masyarakat luas melalui pasar modal (Fitri, 2016). Bursa efek merupakan tempat tran-

    sanksi produk-produk surat berharga di bawah pengawasan dan pembinaan pemerintah

    (Paradiba & Nainggolan, 2015). Bursa efek diharapkan dapat mengakomodasi kebutuh-

    an modal perusahaan yang terdaftar untuk mengembangkan perusahaan agar mencapai

    tujuan perusahaan (Gere, 2015).

    Agar mampu bertahan dan berkembang dalam jangka waktu panjang, perusahaan

    didirikan dengan tujuan menghasilkan keuntungan (Permana, Ahmar, & Djadang,

    2017). Perusahaan go public yang terdaftar di bursa efek akan memanfaatkan pasar

    modal sebagai sarana mendapatkan sumber dana atau alternatif investasi untuk menda-

    patkan sumber pembiayaan (Puspitaningrum & Purnamasari, 2016). Pada dasarnya,

    perusahaan memutuskan go public untuk memperoleh manfaat lebih, yaitu memperoleh

    modal dengan biaya yang relatif rendah, memenuhi kebutuhan likuiditas, serta pening-

    katan pendapatan dan laba (Lakhaye, 2014). Beberapa perusahaan yang beroperasi

    dalam jangka waktu tertentu terpaksa gagal memenuhi kewajibannya atau dilikuidasi,

    karena mengalami kesulitan keuangan (Permana et al., 2017). Jika perusahaan tidak

    mampu mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesulitan keuangan,

    maka usahanya akan semakin meurun dan berujung pada kebangkrutan (Bahri, 2015).

    Kebangkrutan dapat terjadi karena faktor internal maupun eksternal perusahaan.

    Jika perusahaan mengalami kebangkrutan, maka beberapa pihak akan mengalami keru-

    gian, di antaranya pihak yang memiliki kepentingan kepada perusahaan seperti investor

    dan kreditor (Syafitri, 2013). Prediksi terhadap kebangkrutan dapat dilakukan melalui

    pengukuran laporan keuangan dan analisis rasio keuangan perusahaan untuk mengeta-

    hui posisi keuangan perusahaan (Bahri, 2015). Laporan keuangan juga digunakan

    sebagai informasi dari beberapa jenis informasi yang dipublikasikan di bursa efek dan

    melibatkan kondisi keuangan, kinerja, serta perubahan kondisi keuangan perusahaan

    (Paradiba & Nainggolan, 2015). Jika perusahaan menghentikan publikasi laporan

    keuangan di bursa efek, perusahaan akan terkena suspensi atau penghentian sementara

    perdagangan saham perusahaan sebelum di delisting (Lakhaye, 2014).

    Delisting merupakan tindakan penghapusan saham dari daftar saham yang tercatat

    di bursa efek, sehingga tidak dapat diperdagangkan di bursa disebut. Hal ini membuat

    para investor dan kreditor tidak dapat melihat kinerja laporan keuangan perusahaan

    (Lakhaye, 2014). Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan peraturan ketat terhadap

    perusahaan yang terdaftar (listing). Jika perusahaan tidak memenuhi persyaratan, maka

    ia akan terancam delisting (Permana et al., 2017). BEI selaku otoritas penyelenggara

    bursa saham di Indonesia berwenang mengeluarkan perusahaan yang telah terdaftar dari

    perdagangan di bursa saham, ketika perusahaan tersebut tidak mematuhi peraturan yang

    telah ditetapkan BEI (Lakhaye, 2014).

  • Jurnal Maksipreneur │ Vol. 9 No. 1 │ Desember 2019

    3

    Bursa Efek Indonesia selaku media untuk memperjualbelikan saham telah mem-

    berikan peringatan pada tahun 2018 berupa suspensi kepada 40 emiten antara bulan

    Januari hingga Oktober 2018. Dari total 40 emiten tersebut, 17 emiten sudah dicabut

    masa suspensinya, 20 emiten masih dalam masa suspensi, dua emiten dilakukan delist-

    ing dari BEI, dan satu emiten bergabung dengan emiten lain. Salah satu faktor yang

    mendasari BEI memberikan sanksi kepada emiten adalah harga saham yang naik secara

    drastis, sehingga pihak BEI dapat menghentikan sementara penjualan saham oleh emi-

    ten tersebut.

    Faktor lain yang juga dapat menyebabkan emiten mendapatkan sanksi tersebut

    adalah emiten yang tidak mempublikasikan laporan keuangannya selama beberapa

    tahun, sehingga pihak investor tidak bisa melihat hasil kinerjanya. Pada umumnya, apa-

    bila suatu emiten tidak atau belum mempublikasikan laporan keuangan, emiten tersebut

    diindikasikan mengalami kendala keuangan atau financial distress. Berdasarkan hal

    tersebut, maka penelitian ini akan mengungkap apakah suatu perusahaan yang tidak atau

    belum mempublikasikan laporan keuangannya merupakan indikasi bahwa perusahaan

    tersebut sedang mengalami financial distress.

    Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

    adalah apakah perusahaan yang berada dalam masa suspensi karena mengalami penu-

    runan kinerja dapat berpotensi mengalami kebangkrutan ataukah berada dalam grey

    area? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kinerja perusahaan-perusahaan

    yang berada di dalam masa suspensi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengguna-

    kan analisis kebangkrutan dan mendiskripsikan perusahaan yang berada dalam masa

    suspensi dapat berpotensi mengalami kebangkrutan atau pun berada dalam grey area.

    KAJIAN TEORITIS

    Laporan Keuangan

    Hasil dari proses pembukuan akuntansi yang digunakan sebagai alat untuk

    mengomunikasikan aktifitas data keuangan perusahaan kepada pihak yang berkaitan

    terhadap perusahaan, yaitu pihak internal dan eksternal adalah laporan keuangan

    (Savitri, 2014). Ada pun tujuan penyusunan laporan keuangan adalah memberikan

    penjelasan jenis dan jumlah aktiva perusahaan, modal dan kewajiban perusahaan,

    jumlah dan jenis pendapatan yang diperoleh, dan aktifitas perubahan kinerja keuangan

    perusahaan (Fitri, 2016). Laporan keuangan yang lengkap terdiri atas neraca, laporan

    laba/rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan, dan laporan lain beserta materi

    penjelasan yang menjadi bagian integral laporan keuangan, termasuk skedul dan infor-

    masi tambahan yang berkaitan dengan laporan keuangan (Bahri, 2015).

    Kebangkrutan

    Perusahaan yang mengalami kondisi kekurangan atau ketidakcukupan dana,

    sehingga perus