Analisa Usaha Budidaya Ternak Sapi Potong

download

of 24

  • date post

    29-Oct-2015
  • Category

    Documents
  • view

    178
  • download

    0

Embed Size (px)

description

budidaya sapi

transcript

<p>Analisa Usaha Budidaya Ternak Sapi PotongWed, 04/27/2011 - 18:50 | bydedi.bpp_sukra</p> <p>Analisa Usaha merupakan suatu alat untuk menghitung berapa jumlah biaya yang telah dikeluarkan untuk melakukan suatu budidaya dalam hal ini budidaya penggemukan ternak sapi, dimana akhirnya digunakan sebagai patokan untuk menentukan nilai jual dari suatu produk yang dihasilkan.berikut ini contoh analisa usaha Budidaya penggemukan sapi :Asumsi-asumsi : Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya. Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 6 ekor jenis PO dengan harga awal Rp. 7.000.000/ekor dan berat badan sekitar 250 kg/ekor Sapi dipelihara selama 6 bulan dengan penambahan berat badan sekitar 0,7 kg/ekor/hari Kandang yang dibutuhkan seluas 30 M2dengan biaya Rp. 400.000/M2 Penyusustan kandang 20 % / tahun dengan demikian penyusutan untuk satu periode 10 % Sapi membutuhkan obat-obatan sebesar Rp. 60.000/ekor/periode Tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp. 500.000/bulan Peralatan kandang dibutuhkan sebesar Rp 500.000/tahun, dengan demikian untuk satu periode Rp. 250.000 Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg dengan harga Rp. 200/kg Pakan yang diperlukan untuk satu periode HMT 40 kg x 6 x 180 x Rp.100 Konsentrat 3 kg x 6 x 180 x Rp. 1.500 Pakan tambahan 3 kg x 6 x 180 x Rp. 200A. MODAL USAHABiaya Investasi1. Pembuatan kandang 30 M2x Rp. 400.000 Rp. 12.000.0002. Peralatan kandang Rp. 500.000Biaya Variabel1. Sapi bakalan 6 x Rp. 7.000.000 Rp. 42.000.0002. HMT Rp. 4.320.0003. Konsentrat Rp. 4.860.0004. Pakan Tambahan Rp. 648.000 Total Biaya Variabel Rp. 51.828.000Biaya Tetap1. Tenaga Kerja 1 orang x 6 x Rp. 500.000 Rp. 3.000.0002. Penyusustan kandang 10 % x Rp. 12.000.000 Rp. 1.200.0003. Penyusutan peralatan Rp. 250.000 Total Modal Tetap Rp. 4.450.000 TOTAL BIAYA PRODUKSI = Rp. 51.828.000 + Rp. 4.450.000 = Rp. 56.278.000B. PENERIMAANPenjualan sapi dan kotoran Penambahan berat badan 0,7 kg x 180 = 126 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 376 kg, untuk berat keseluruhan adalah 6 x 376 kg = 2.256 kg dengan harga Rp. 32.000/kg. jadi uang yang didapat adalah Rp. 72.192.000 Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000 TOTAL PENERIMAAN = Rp. 72.192.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 73.392.000 KEUNTUNGAN = Rp. 73.392.000 - Rp. 56.278.000 = Rp. 17.000.000 B/C Ratio = Rp. 73.392.000 : Rp. 56.278.000 = 1,3 ( artinya dalam satu periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 130 ) BEP ( Break Even Point ) 1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total = Rp. 56.278.000 : 2.256 = Rp. 24.945 / kg 2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual = Rp. 56.278.000 : Rp.32.000/kg = 1.758 kgArtinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor sapi mencapai berat badan 1.758 kg atau harga jual Rp. 24.945/kg</p> <p>Ternak Ayam Pedanging (Broiler) Investasi Usaha ayam broiler kapasitas usaha 5000 ekor / siklus produksia). InvestasiNo.Macam InvestasiJumlah (Rp)</p> <p>1.Kandang ternak20.000.000</p> <p>2.Peralatan3.000.000</p> <p>Jumlah23.000.000</p> <p>b). Biaya ProduksiNo.Macam biayaJumlah (Rp)</p> <p>1.Bibit DOC 5.000 ekor x Rp 250012.500.000</p> <p>2.Pakan : 2 kg x Rp 2.500 x 2.50025.000.000</p> <p>3.Sewa lahan 500 m 25.0000.000</p> <p>4.Manajer : 1 0rang x Rp 1.000.000 x 2 blnTenaga kerja : 3 orang x Rp 500.000,- 2 x bln2.000.0003.000.000</p> <p>5.Biaya sekam, listrik,dll5.00.000</p> <p>6.Biaya obat-obatan1.000.000</p> <p>6.Penyusutan kandang dan peralatan350.000</p> <p>Jumlah49.350.000</p> <p>c). PenerimaanNo.Macam PenerimaanJumlah (Rp)</p> <p>1.Penjualan ayam : 1,5 x 10.000 x 495074.250.000</p> <p>2.Kotoran ternak da karung pkn : 20 ton x 50.0001.500.000</p> <p>Jumlah75.750.000</p> <p>1. Keuntungan Usaha : Rp 75.750.000 49.350.000 = Rp 26.400.000,-Pajak Penghasilan = 26.400.00 Rp 1.250.000,- = Rp 25.150.000,-1. Profitabilitas Usaha : (26.400.000 : 75.750.000) x 100% = 34,85%Berdasarkan analisis usaha pada ayam broiler dapat disimpulkan bahwa dengan skala usaha 5000 ekor per satu siklus produksi diperoleh keuntungan sebesar Rp 26.400.000,- dengan profitabilitas usaha sebesar 34,85% masih diatas tingkat suku bunga pinjaman bank yang rata- rata hanya senesar 4 % per bulan.</p> <p>1. Analisa Usaha yang saya buat secara umum</p> <p>Analisa Usaha Budidaya LeleA. Biaya Investasi1. 3 buah terpal ukuran 2 x 3: @Rp. 150.000,- = Rp. 450.000,-2. Selang 15 meter @Rp.2.500,- = Rp. 37.500,-3. Ember karet 2 buah @Rp.10.000,- = Rp. 20.000,-4. Gayung 1 buah @Rp. 5000,- = Rp. 5.000,-5. Lamit 1 buah @Rp.15.000,- = Rp. 15.000,-Jumlah = Rp. 527.500,-</p> <p>B. Biaya Produksi1. Bibit lele 5000 ekor @Rp.300,- = Rp.1.500.000,-2. Pakan selama 3 bulan = Rp. 337.000,-3. Obat-obatan selama 3 bulan = Rp. 50.000,-4. Tenaga Kerja = Rp. 900.000,-6. Biaya Penyusutan/ periode Rp.527.500 : 10 = Rp. 52.750,-5. Biaya lain-lain = Rp. 100.000,-Jumlah = Rp. 2.939.750,-</p> <p>Perkiraan HasilPanen : 70% x 5000 : 7 = 500 kg x Rp. 7000, = Rp. 3.500.000,-Pendapatan = Rp. 3.500.000 2.939.750 = Rp.560.250,-</p> <p>BEP = Rp. 2.939.750 : 500 = Rp. 5879.5</p> <p>Nah, itu analisa usaha secara umum dengan perhitungan 5000 bibit lele yang di tanam. Sekarang analisa usaha yang bener2 gw alami dalam arti kata apa adanya saja.. hehehe...</p> <p>2. Analisa usaha skala kecil yang saya alami saat ini</p> <p>Biaya investasi1. Lahan Tanah (saya tanggung) Rp. 0,-2. 2 buah terpal ukuran 2 x 3: @Rp. 150.000,- Rp. 300.000,-3. Bambu (saya tanggung) Rp. 0,-4. Paku 1 kg Rp. 8.000,5. Tukang (saya sendiri) Rp. 0,-Jumlah Rp. 308.000,-</p> <p>Biaya Produksi</p> <p>1. Bibit/benih 1000 ekor @Rp.300,- Rp. 300.000,-2. Pakan :Pakan bulan pertama 5kg @Rp. 10.000,- Rp. 50.000,Pakan selanjutnya 1Bal @Rp. 180.000,- Rp. 180.000,-Biaya obat/lain-lain Rp. 50.000,-Jumlah Rp. 580.000,-</p> <p>Jumlah modal awal = Rp. 888.000</p> <p>Diperkirakan panen 1 kolam 150 kgHarga lele /bulan Mei 2008 = Rp. 9.000/kg (harga bisa berubah sewaktu-waktu)150 X 9.000 = Rp. 1.350.000</p> <p>Pemasukan/panen= Rp. 1.350.000</p> <p>Keuntungan/panen= Rp. 1.350.000 - Rp. 888.000= Rp. 462.000,-</p> <p>Analisa Usaha Kakao Dan Analisa SWOT</p> <p>ANALISA KAKAOLUASAN 1 Ha1. Investasi.NoUraianUkuranJumlahNBNSUE</p> <p>1Lahan1 Ha-Rp. 3.000.000,00Rp.20.000.000,005</p> <p>2Saung3 x 4 m1Rp. 1.000.000,00Rp.200.000,003</p> <p>3Gunting Tunas-2Rp.220.000,00Rp.50.000,003</p> <p>4Cangkul-2Rp.70.000,00Rp.10.000,004</p> <p>5Parang-1Rp.35.000,00Rp.5.000,003</p> <p>6Kawat Jaring1 x 5 m4Rp.140.000,00Rp.10.000,002</p> <p>7Keep Merk Solo15 ltr1Rp.140.000,00Rp.25.000,003</p> <p>TotalRp. 4.605.000,00</p> <p>2.Modal KerjaInput Tetap + Input Variabel= Rp. 4.605.000,00 + Rp. 5.132.500,00=Rp. 9.737.500,00</p> <p>3. Input Tetap.a)Rp. 4.605.000,004. Input Variabel1Bibit834 Pohon @ Rp. 750,00Rp.625.000,00</p> <p>2Pupuk NPK 80kg @ Rp. 6.500,00Rp.520.000,00</p> <p>3Tenaga Kerja</p> <p>a.Pembuatan Lubang Tanam 30 x 30 x 30 cm 834 @ Rp. 500,00Rp.417.000,00</p> <p>b.Pengajiran Rp. 34.000,00Rp.34.000,00</p> <p>C.Pemanenan24 x @ Rp 125.000,00Rp.3.000.000,00</p> <p>4Furadan 2 kg @ Rp. 14.000,00Rp.28.000,00</p> <p>5Ajir834 Buah@ Rp. 250,00Rp.208.500,00</p> <p>6Perawatan 4 x @ Rp. 75.000,00Rp.300.000,00</p> <p>Total =Rp.5.132.500,00</p> <p>5. Out Put.1)Harga /kg Rp. 15.000,002)Rata-rata panen 1x = 120 kg3)Masa panen 1bln 2 x = 120 x 2 = 240 kgOut Put Bulanan = 240 kg x Rp. 15.000,00= Rp. 3.600.000,00Out Put Tahunan = 240 kg x 12x Rp. 15.000,00= Rp. 43.200.000,006. Perhitungan - Perhitungan1)PP (Pendapatan Pengelola)Out Put total Input Total= Rp. 43.200.000,00 Rp.9.737.500,00= Rp. 33.462.500,002)ROIPP Input Total= Rp. 33.462.500,00 Rp. 9.737.500,00= Rp. 23.725.000,003)BEPBiaya Tetap</p> <p>1 Biaya Variabel</p> <p>Hasil Penjualan</p> <p>Dalam usaha agribisnis tanaman kakao yang telah di analisa tersebut, pengembalian modal sebaiknya di lakukan secara beransur misalkan:Pendapatan perbulan Rp. 3.600.000,00 maka jika pengembalian modal secara beransur, dari pendapatan bulanan di potong untunk membiayai tanaga kerjapanendi tambah biayaperawatanserta cicilan pengembalian modal pembelianlahan.Jadi:Rp. 3.600.000,00 Rp. 125.000.000,00 Rp. 75.000,00= Rp. 3.300.000,00 Rp 250.000,00 (pengembalian modal lahan dlm 1 th)= Rp. 3.050.000,00Tanaman kakao sampai pada fase TM (tanaman menghasilkan) apabila telah berumur 2 2,5 tahun, pada masa tersebut biaya pemupukan dan perawatan harus di keluarkan, sedangkan biaya obat-obatan, pengajiran, pembelian ajir, serta pembelian bibit, juga pembuatan lubang tanam di keluarkan sebelum tanaman kakao menghasilkan (masih dalam tahap penanaman dan pemeliharaan).Setelah tanaman kakao mencapai pada masa panen atau P1, biaya rutin yang harus di keluarkan adalah biaya perawatan dan biaya pemanenan, serta cicilan pengembalian modal awal..Tanaman kakao ini masa periode hidupnya 24 26 tahun, jika perawatan di lakukan dengan benar maka buah yang di hasilkan akan selalu stabil, dan coba anda hitung kembali keuntungan yang di dapatkan selama masa tersebut.</p> <p>FL K</p> <p>Analisis Matriks S.W.O.TUsaha Perkabunan Kakao</p> <p>Internal</p> <p>Eksternal</p> <p>Kekuatan (Strengths)</p> <p>-Memiliki SDM yang memadai.-Tersedianya berbagai paket teknologi dari mulai pra panen, panen dan pasca panen yang telah dikembangkan ke masyarakat petani pekebun.-Biaya produksi relatif lebih rendah.-Ketersedian lahan dan agroklimat yang sesuai.</p> <p>Kelemahan(Weaknesses)</p> <p>-Terbatasnya ketersediaan lahan yang memadai.-Kurang informasi pasar dalam mengefisienkan sistem tataniaga.-Penerapan teknologi (agronomi, pasca panen dan pengolahan) yang masih amat terbatas.</p> <p>Kesempatan (Opportunities)</p> <p>-Perkembangan konsumsi kakao dunia (terutama negara importir) cukup baik sehingga pasar dan permintaan baru akan terbuka.-Perkembangan harga rata-rata kakao tinggi maka dapat diasumsikan bahwa pengembangan agribisnis kakao memiliki kecenderungan yang lebih prospektif .-Perkembangan konsumsi kakao dunia (terutama negara importir) cukup baik sehingga pasar dan permintaan baru akan terbuka.</p> <p>S - O-Pengembangan area selain didasarkan pada kesesuaian lahan juga dengan pertimbangan memiliki daya kompetitif dan komparatif secara antar dan intra wilayah serta pertimbangan permintaan pasar/konsumen baik domestik ataupun dunia.-Mengisi dan meningkatkan peluang pasar yang tersedia baik domestik maupun internasional serta mempertahankan pasar yang telah ada melalui berbagai upaya promosi baik dalam dan luar negeri termasuik mendukung agrowisata.-pengembangan iklim usaha yang kondusif untuk investasi dibidang kakao khususnya berupaya kebijakan yang diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan.W - O-Optimalisasi ketersediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam mendukung peningkatan kualitas tanaman dan produk yang dihasilkan.-Menumbuh kembangkan fungsi kelembagaan dan kemitraan yang berazaskan kebersamaan ekonomi.-Optomalisasi usaha tani dalam luasan skala usaha dan ekonomis baik ditingkat petani maupun usaha menengah dan besar.</p> <p>Ancaman (Treaths)</p> <p>-Perkembangan produksi yang besar di negara lain sangat tinggi menyebabkan persaingan pasar sangat tinggi.-Kelangkaan tenaga kerja. Angkatan kerja di pedesaan kurang berminat bekerja di perkebunan.S - T-Penajaman wilayah potensial yang berkelayakan teknis dan tanaman dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman dan lahan.-Mendukung pelestarian lingkungan yang berkelanjutan melalui perwujudan usaha perkebunan kakao yang ramah lingkunganW - T-Melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait dalam rangka legalisasi produk-produk kakao untuk mendapatkan nama dagang atau hak paten dari produk-produk yang bersangkutan.-meningkatkan jaminan keamanan berusaha terhadap segala bentuk penjarahan, perambahan atau aktivita serupa lainnya.</p> <p>PADI ORGANIK, SEBUAH ANALISA USAHA TANIANALISISUSAHA BUDIDAYA TANAMANPADI ORGANIK==================================</p> <p>I. PendahuluanBeras organik merupakan beras yang berasal dari padiyang dibudidayakan secara organik atau tanpa pengaplikasian pupuk kimia dan pestisida kimia. Oleh karena tanpa bahan kimia, beras organik tersebut pun terbebas dari residu pupuk kimia dan pestisida kimia yang sangat berbahaya bagi manusia.A. BERAS SEBAGAI KOMODITAS STRATEGISBeras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok lebih dari separo pendudukAsia. Sekitar 1.750 juta jiwa dari sekitar tiga miliar penduduk Asia, termasuk 200 juta penduduk Indonesia, menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras.Sementara di Afrika dan Amerika Latin yang berpenduduk sekitar 1,2 miliar 100 juta di antaranya pun hidup dari beras. Oleh sebab itu, di negara negara Asia beras memiliki nilai ekonomi sangat berarti.Di Indonesia, beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi dan kerawanan sosial yang tinggi. Demikian tergantungnya penduduk Indonesia pada beras maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat. Kenyataan seperti ini membuat pemerintah orde baru (1967 1998) menjadikan beras sebagai alat tawar menawar politik untuk mempertahankan kekuasaannya.Sebagai komoditas yang bernilai tawar politik sangat tinggi, pemerintah berobsesi untuk berswasembada beras. Segala daya upaya ditempuh agar terwujud target produksi. Intensifikasi pertanian pun efektif diterapkan. Teknologi pertanian melalui bibit unggul, pemupukan, dan pemberantasan hama penyakit diadopsi. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tahun 1985 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Atas keberhasilan swasembada beras tersebut, Indonesia pun mendapat penghargaan dari FAO (badan dunia untuk urusan pangan)Untuk meningkatkan produksi hingga tercapai swasembada beras tahun 1985, teknik bercocok tanam tradisional benar benar ditinggalkan. Teknik tersebut dianggap tidak praktis karena hasilnya kurang optimal. Dapat dikatakan hampir 100 % beras yang dikomsumsikan penduduk Indonesia merupakan hasil pertanian modern dengan penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia.B. KEUNGGULAN BERAS ORGANIKKeunggulan utama beras organik dibanding beras biasa (ditanam dengan aplikasi pupuk buatan dan pestisida kimia) adalah relatif aman untuk dikomsumsi. Selain itu, rasa nasi dari beras organik lebih empuk dan lebih pulen. Kendatipun belum ada penelitian komprehensif (lengkap) tentang pengaruh bahan kimia di dalam pupuk dan pestisida terhadap rasa beras, namun diduga pengaruhnya tetap ada. Dugaan ini semakin diperkuat dengan pernyataan kebanyakan konsumen beras organik bahwa nasi dari beras organik lebih empuk dan pulen dibanding beras biasa.Keunggulan lainnya adalah warna dan daya simpanannya lebih baik dibanding beras biasa. Sesudah ditanak, beras organik akan menjadi na...</p>