Analisa Kelayakan Proyek Apartemen

Click here to load reader

  • date post

    24-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.276
  • download

    19

Embed Size (px)

description

fs

Transcript of Analisa Kelayakan Proyek Apartemen

  • ANALISA TEKNIS DAN FINANSIAL PROYEK PEMBANGUNAN

    APARTEMEN CIPUTRA WORLD SURABAYA

    Abstrak

    Apartemen Ciputra World diharapkan menarik minat masyarakat Surabaya

    khususnya daerah Surabaya Barat untuk tinggal di apartemen , karena Ciputra Group

    berusaha menghadirkan konsep yang memadukan apartemen dan Mall. Investasi pada

    pembangunan proyek ini memerlukan biaya yang besar, sehingga perlu analisa

    kelayakan dalam hal finansial. Rencana pembangunan apartemen ini juga harus

    dianalisa apakah bisa diterima dengan tingkat pengembalian tertentu.

    Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan proyek

    pembangunan Apartment Ciputra World terhadap segi teknis dan finansial. Untuk

    mengetahui kelayakan dari segi teknis akan digunakan perbandingan terhadap standar

    pedoman persyaratan teknis bangunan gedung khususnya planologi (KDB, KLB, KDH)

    serta kebutuhan sarana parkir. Sedangkan untuk kelayakan dari segi finansial

    digunakan perhitungan analisa aliran kas dengan parameter kelayakan investasi yaitu

    NPV dan IRR.

    Dari segi teknis, perencanaan pembangunan proyek ini harus memenuhi

    syarat zoning yang ditetapkan yaitu KDB 60 %, KLB 1500 %, serta pemenuhan luasan

    parkir yaitu 603 Satuan Ruas Parkir (SRP). Sedangkan dari segi finansial, harapan

    pengembalian investasi dengan umur 25 tahun dapat dipenuhi. Dan dilakukan analisa

    sensitivitas untuk menjelaskan perubahan kelayakan investasi yang dapat terjadi akibat

    perubahan tingkat okupansi dan pembahasan harapan terhadap pengembalian

    (MARR). Hasil analisa yang telah dilakukan menyatakan bahwa proyek tersebut dapat

    diterima secara teknis dan finansial pada tingkat okupansi 90%.

    Kata kunci : Analisa Teknis dan Finansial, Apartemen.

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Apartemen Ciputra World diharapkan menarik minat masyarakat Surabaya khususnya daerah Surabaya Barat untuk tinggal di apartemen, karena Ciputra Group berusaha menghadirkan konsep superblok yang memadukan apartemen dan Mall, 2 Hotel berbintang mewah (5 star dan 5 star Diamond), serta Office Tower yang eksklusif. Apartment Ciputra World terletak di Jl. Mayjend Sungkono. Lokasi ini mudah dalam hal akses ke segala arah seperti pusat hiburan dan rekreasi, perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, serta sekolah dan universitas. Dengan dibangunnya Apartment Ciputra World ini (408 unit, 26 lantai tipikal, 3 lantai penthouse),

    investor dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

    Rencana pembangunan apartemen ini harus dianalisa apakah bisa diterima dengan tingkat pengembalian tertentu. Dengan melihat tingkat okupansi sebuah apartemen yang berkisar antara 6090%, serta dilihat dari biaya investasi sebuah apartemen yang nilainya lebih berat daripada investasi perumahan, maka sangat penting untuk dilakukan sebuah analisa kelayakan investasi untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal investor yang cukup besar. 1.2 Rumusan Masalah

  • 1. Bagaimana pemenuhan persyaratan proyek pembangunan Apartment Ciputra World dari segi teknis ?.

    2. Bagaimana kelayakan proyek pembangunan Apartment Ciputra World dari segi financial ?.

    3. Berapa besar batas kelayakan finansial terhadap perubahan tingkat okupansi dan harapan tingkat pengembalian ?.

    1.3 Tujuan 1. Mengetahui pemenuhan persyaratan

    proyek pembangunan Apartment Ciputra World dari segi teknis.

    2. Mengetahui kelayakan proyek pembangunan Apartment Ciputra World dari segi finansial.

    3. Mengetahui batas kelayakan financial terhadap perubahan tingkat okupansi dan harapan tingkat pengembalian.

    1.4 Ruang Lingkup Pembahasan 1. Analisa terhadap persyaratan teknis

    bangunan gedung. Aspek teknis yang ditinjau terbatas pada : a. Pemenuhan persyaratan tata

    bangunan terhadap ketentuan planologi meliputi :

    - KDB = Koefisien Dasar Bangunan

    - KLB = Koefisien Luas Bangunan

    - KDH = Koefisien Daerah Hijau b. Pemenuhan fasilitas parkir

    2. Analisa finansial : a. Pembahasan berdasarkan aspek

    finansial yaitu menganalisa tingkat pengembalian investasi Apartment Ciputra World dengan metode Net Present Value dan Internal Rate of Return (IRR)

    b. Perhitungan analisa sensitivitas Apartment Ciputra World dengan melakukan perubahan tingkat okupansi.

    c. Perhitungan Depresiasi menggunakan metode garis lurus.

    d. Masa investasi Apartment and Mall Ciputra World selama 25 tahun.

    1.5 Manfaat Penelitian

    Manfaat yang diperoleh dari penulisan laporan Tugas Akhir ini adalah mengetahui kelayakan proyek dalam hal pengembalian investasi, serta mengetahui nilai pengembalian akibat sensitivitas terhadap tingkat hunian. 1.6 Sistematika Penulisan

    Sistematika penulisan laporan Tugas Akhir ini terdiri dari 5 (lima) bab.

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Pengertian Proyek

    Menurut Soeharto (1999), proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya terbatas dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas.

    Lebih lanjut Soeharto (1999), menjelaskan bahwa proyek memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

    a. Memiliki tujuan khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir.

    b. Jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses mencapai tujuan.

    c. Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas.

    d. Non rutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung.

  • 2.2 Bangunan dan Properti Bangunan gedung adalah

    wujud fisik pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial dan budaya, maupun kegiatan khusus (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 29/PRT/M/2006). Terdapat 4 (empat) jenis properti : 1. Real Property Tanah, bangunan, sarana pelengkap. 2. Personal Property Mesin dan peralatan, perhiasan, kendaraan, surat berharga. 3. Business Kegiatan di bidang komersial industri, jasa, investasi-saham. 4. Financial Interest Instrument investasi yang dijamin aset-aset real estate-BOT, sewa.

    Menurut Kyle and Baird

    (1995) real property diklasifikasikan dalam bentuk antara lain : 1. Residensial Property meliputi single

    family home dan multi family residence.

    2. Commersial Real Estate meliputi Office Property dan Retail Property.

    3. Industrial Property meliputi Heavy Manufacturing, Warehouse.

    4. Special Purpose Property meliputi Hotel, Gedung Teater, Kantor Pemerintahan, dll.

    2.2.1 Apartemen

    Apartemen tergolong dalam jenis multi family residence yang dapat diartikan sebagai bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan, terbagi atas bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah vertikal dan horizontal dan merupakan satuan-satuan yang dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, yang dilengkapi dengan bagian bersama,

    tanah bersama dan benda bersama (UURS No.16 Tahun 1985).

    Berbeda dengan residen

    lainnya, berdasarkan konsep penjualan properti, apartemen terbagi atas : 1. Apartemen Strata-title (unit dijual

    lepas menjadi hak milik) 2. Apartemen Sewa/Service (unit dijual

    sebatas menjadi hak guna) Di dalam investasi sebuah apartemen, terdapat beberapa pembiayaan yang dikeluarkan, antara lain : a. Harga tanah ketika dibeli b. Ongkos pematangan lahan c. Biaya konstruksi d. Biaya perawatan hunian dan fasilitas e. Manajemen Terdapat beberapa faktor dalam mengembangkan sebuah apartemen, antara lain (Kyle and Baird,1995) : 1. Lokasi 2. Harga 3. Fasilitas 4. Fleksibilitas 5. Segmen Pasar 6. Occupancy Rate 7. Interior/Eksterior

    2.3 Pengertian Studi Kelayakan

    Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), yang dimaksud dengan studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek dilakukan dengan berhasil.

    Hal-hal yang perlu diketahui

    dalam studi kelayakan, antara lain : a. Ruang lingkup kegiatan proyek b. Cara kegiatan proyek dilakukan c. Evaluasi terhadap aspek-aspek yang

    menentukan berhasilnya proyek tersebut.

    Menurut Sutojo (2003), pada

    tahap studi kelayakan, proyek dievaluasi mencakup aspek-aspek sebagai berikut: 1. Pasar dan Pemasaran 2. Teknis dan Teknologis 3. Manajemen Operasi Proyek 4. Ekonomi dan Keuangan

  • 2.3.1 Pengkajian Aspek Teknis Pengkajian aspek teknis

    dalam studi kelayakan dimaksudkan untuk memberikan batasan garis besar parameter-parameter teknis yang berkaitan dengan perwujudan fisik proyek. Pengkajian aspek teknis amat erat hubungannya dengan aspek lain terutama aspek ekonomi, finansial, dan pasar (Soeharto, 2003). Pengkajian aspek teknis mencakup hal-hal berikut : 1. Menentukan letak geografis lokasi 2. Mencari dan memilih teknologi

    proses produksi 3. Menentukan kapasitas produksi 4. Denah dan tata letak instalasi 5. Bangunan instalasi

    Parameter dalam mengkaji

    aspek tenis dalam penulisan laporan Tugas Akhir ini digunakan perbandingan dengan standar : a. Pedoman persyaratan teknis

    bangunan : KDB, KLB, KDH, dan ketinggian bangunan.

    b. Pedoman teknis fasilitas parkir Departemen Perhubungan.

    2.3.1.1 Standar Bangunan

    Gedung Sebagaimana tertera dalam

    Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 29/PRT/M/2006, terdapat beberapa hal yang harus sesuai standar pedoman persyaratan teknis bangunan : 1. Intensitas Bangunan Gedung, yang

    berisi standar mengenai : a. Kepadatan dan Ketinggian

    Bangunan Gedung b. Penetapan Koefisien Dasar

    Bangunan (KDB) dan Koefisien Luas Bangunan (KLB) / Jumlah Lantai

    c. Perhitungan KDB dan KLB d. Garis Sempadan (muka)

    Bangunan Gedung e. Garis Sempadan (samping dan

    belakang) Bangunan Gedung f. Jarak Bebas Bangunan Gedung

    2. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan / Samping / Belakang Gedung

    keseimbangan, keserasian dan keselarasan dengan lingkungan yang berisi standar mengenai: a. Persyaratan Ruang Terbuka

    Hijau Pekarangan (RTHP) b. Persyaratan Ruang Sempadan

    Bangunan Gedung c. Persyaratan Tapak Bawah Tanah

    (Basement) Terhadap Lingkungan Hijau Pada Bangunan

    d. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir e. Pertandaan (Signage) f. Pencahayaan Ruang Luar

    Bangunan Gedung 2.3.1.2 KDB, KLB, KDH

    Perhitungan KDB, KLB dan KDH ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut : a. Perhitungan luas lantai bangunan

    adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar.

    b. Luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan tersebut dihitung penuh 100%.

    c. Luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan dihitung 50% selama tidak melebihi 10% dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan.

    d. Overstek atap yang melebihi lebar 1,50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah.

    e. Teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai.

    f. Luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB, asal tidak melebihi 50% dari KLB yang ditetapkan, selebihnya diperhitungkan 50% terhadap KLB.

  • g. Ram dan tangga terbuka dihitung 50% selama tidak melebihi 10% dari luas lantai dasar yang diperkenankan.

    h. Dalam perhitungan KDB dan KLB, luas tapak yang diperhitungkan adalah yang di belakang garis sempadan jalan (GSJ)

    i. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan, keselamatan, dan pendapat teknis para ahli terkait.

    j. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblok), perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan dalam kawasan tersebut terhadap total keseluruhan luas kawasan.

    k. Dalam perhitungan ketinggian bangunan, apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m, maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai.

    l. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh.

    m. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah.

    2.3.1.3 Sirkulasi dan Fasilitas

    Parkir Berdasarkan Keputusan

    Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Nomor: 272/HK.105/DRJD/96 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir, untuk perhitungan luasan efektif area parkir adalah sebagai berikut: 1) Apartemen a. Unit dengan luas >90 m2 : 1 SRP

    untuk 1 unit b. Unit dengan luas 70 - 90 m2 : 1 SRP

    untuk 2 unit

    c. Unit dengan luas

  • 2.3.2.3 Perubahan Nilai Uang Terhadap Waktu

    Pengertian bahwa satu rupiah saat ini akan bernilai lebih tinggi dari waktu yang akan datang, merupakan konsep dasar dalam membuat keputusan investasi. Pada umumnya masalah finansial atau arus kas suatu investasi mencakup periode waktu yang cukup lama sehingga perlu diperhitungkan pengaruh waktu terhadap nilai uang. Ini dirumuskan sebagai bunga (interest) atau tingkat arus pengembalian (rate of return).

    Dengan demikian, maka

    untuk mendapatkan ekivalensi nilai uang perlu mengetahui 3 hal antara lain (Pudjosumarto, 1995) : 1. Jumlah uang yang diinvestasikan 2. Periode / waktu investasi 3. Tingkat bunga yang dikenakan

    2.3.2.4 Keuntungan dan Bunga Dalam analisa investasi baik

    untuk modal milik sendiri maupun modal

    pinjaman harus diberikan imbalan berupa keuntungan bagi modal sendiri, dan bunga bagi modal pinjaman. Hanya bedanya, bunga bagi modal pinjaman diperhitungkan sebagai biaya yang akan mengurangi pajak, sedangkan penyisihan dana untuk memberi keuntungan bagi modal sendiri tidak mengurangi pajak.

    2.3.2.5 Perhitungan Bunga

    Ada dua macam bunga, yaitu bunga biasa (simple interest) dan bunga yang menjadi berlipat (compound interest), sedangkan untuk laju / tingkat bunga juga ada dua macam, yaitu laju / tingkat nominal dan laju / tingkat bunga efektif.

    Beberapa rumus penting

    merupakan dasar analisis ekonomi proyek yang berdasarkan penggunaan bunga berganda (interest compound) dan metode penggandaan yang berperiode (discrete compounding) p

    1. F = P n Future Value

    (harga yang akan datang)

    2. P = F Present Value

    (harga sekarang)

    3. A = F Sinking Fund

    (penanaman sejumlah uang)

    4. A = P Capital

    Recovery

    5. F = A F dari Annual

    6. P = A P dari Annual

    7. A = G Uniform

    dari Gradient Series

    Keterangan simbol : P = nilai ekivalen saat ini yang

    terjadi satu periode sebelum A yang pertama

    F = nilai ekivalen yang akan datang A = nilai ekivalen tahunan (annual) I = tingkat suku bunga per periode N = jumlah periode pembungaan

    (misal dalam tahun) 2.3.2.6 Variabel Analisa

    Investasi Pada analisa investasi terdapat beberapa variabel yang mendukung perhitungan analisa investasi itu sendiri. 2.3.2.6.1 Biaya Investasi Total Komponen-komponen biaya investasi total adalah : a. Biaya tanah b. Biaya bangunan c. Biaya tidak langsung 2.3.2.6.2 Modal Sendiri (Equity)

    Modal sendiri adalah jumlah modal yang ditanam untuk membiayai

  • pekerjaan-pekerjaan pra-konstruksi pada proyek, seperti pengadaan tanah, perencanaan, penasehat, biaya-biaya hukum, serta modal sendiri. 2.3.2.6.3 Modal Pinjaman

    Modal pinjaman adalah pembiayaan proyek yang berasal dari : a. Kredit langsung dari bank/institusi

    keuangan lain. b. Dana dari pasar uang dan modal. 2.3.2.6.4 Loan Equity Ratio

    Perbandingan ini tidak mutlak, tergantung jenis proyek yang mempengaruhi resiko proyek. Lazimnya untuk proyek komersil perbandingannya adalah 3:1. 2.3.2.6.5 Masa Konstruksi

    Menurut Poerbo (1995), proyek-proyek komersil yang dibiayai dengan modal pinjaman yang dikenakan bunga, maka masa konstruksi harus diusahakan sesingkat-singkatnya agar beban bunga pada masa tersebut (grace periode) menjadi sekecil-kecilnya. 2.3.2.6.6 Suku Bunga

    Bunga atas suatu pinjaman adalah sejumlah uang sebagai imbalan atas jasa pemberian modal pinjaman yang dapat dinikmati oleh pemberi pinjaman.

    2.3.2.6.7 Faktor Kekosongan Gedung

    Dalam analisa finansial suatu proyek selalu diperhitungkan faktor kekosongan gedung sedikitnya 5%, yaitu kekosongan yang disebabkan perpindahan penghuni.

    2.3.2.6.8 Pendapatan Bangunan

    Yang dimaksud dengan pendapatan bangunan adalah penjualan (dengan atau tanpa angsuran) dalam proyek apartemen. 2.3.2.6.9 Pengeluaran Bangunan

    Yang dimaksud dengan pengeluaran bangunan adalah : a. Biaya operasi dan pemeliharaan. b. Biaya personil dan asuransi. c. Pajak-pajak real estate. 2.3.2.6.10 Biaya Operasi dan

    Pemeliharaan Gedung Kelompok biaya ini terdiri dari : a. Biaya pemeliharaan gedung b. Biaya listrik, telepon, dan AC c. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) d. Asuransi gedung dan peralatan e. Biaya personil dari badan pengelola

    gedung 2.3.2.6.11 Pajak Penghasilan

    Tarif pajak untuk wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap menurut UU No.17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan adalah sebagai berikut :

    Tabel 2.1 Tarif Pajak untukWajib Pajak Badan Dalam Negeri & Bentuk Usaha

    Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

    Sampai dengan Rp 50.000.000,- 10 % (sepuluh persen)

    (lima puluh juta rupiah)

    Di atas Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) 15 % (lima belas persen)

    s.d. Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah)

    Di atas Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) 30 % (tiga puluh persen) Sumber : UU No 17 Tahun 2000

  • 2.3.2.6.12 Depresiasi Adalah nilai ganti per tahun

    yang harus dikeluarkan atas beban pendapatan sebelum pajak yang besarnya tergantung dari umur ekonomis suatu gedung dan jenis gedung. Depresiasi atau

    penurunan nilai yang terjadi pada suatu aset pada berbagai kelompok harta berwujud yang diatur menurut UU No 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut :

    Tabel 2.2

    Penyusutan Aset

    Kelompok

    Masa Manfaat Harta Susut

    Berwujud

    I 2,5 4

    II 12,5 8

    III 6,25 16

    IV 5 20

    Tanah 0 -

    Bangunan 5 Permanen 20

    Bangunan 10 Semi Permanen 10 Sumber : UU No 17 Tahun 2000

    2.3.2.7 Net Present Value

    (NPV) NPV merupakan selisih antara

    benefit (penerimaan) dengan cost (pengeluaran) yang telah dipresent-valuekan (Pudjosumarto, 1998). Adapun tingkat bunga yang dipergunakan untuk mendiskon selisih aliran kas yang masuk dan keluar diperoleh dengan melihat

    tingkat bunga pinjaman jangka panjang yang berlaku di pasar modal atau dengan mempergunakan tingkat bunga pinjaman yang harus dibayar oleh pemilik proyek. Apabila NPV>0 maka proyek dikatakan layak, sedangkan sebaliknya bila NPV

  • proyek dikatakan layak jika IRR > social discount rate. Begitu pula sebaliknya, jika diperoleh IRR < social discount rate

    maka proyek dikatakan tidak layak dijalankan.

    Dimana : (C)t = Aliran kas masuk tahun ke-t (Co)t = Aliran kas keluar tahun ke-t i = Arus pengembalian (diskonto) n = tahun (Soeharto, 2003)

    2.3.2.9 Analisa Sensitivitas

    Analisa sensitivitas dilakukan dengan mengubah nilai dari suatu parameter pada suatu saat untuk selanjutnya dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap akseptabilitas suatu investasi. Parameter-parameter

    yang biasanya berubah dan perubahannya bisa mempengaruhi keputusan dalam studi ekonomi teknik adalah ongkos investasi, aliran kas, nilai sisa, tingkat bunga, tingkat pajak, tingkat hunian, dan lain-lain. (Pujawan, 2003)

    BAB III

    METODOLOGI

    3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian termasuk

    deskriptif yang sifatnya perbandingan antara peraturan dengan kondisi yang ada, dan analitis melalui proses pengumpulan, penyusunan data, dan perhitungan. 3.2 Data Penelitian

    Langkah pertama yang dilakukan sebelum memulai perhitungan adalah mengumpulkan data yang dibutuhkan yang diperoleh dari PT. Win-Win Reality Center selaku pihak owner Apartemen Ciputra World, serta instansi dan pihak lain yang terkait. 3.2.1 Klasifikasi Data Data-data tersebut antara lain : 1. Data Primer

    Wawancara langsung dengan pihak pengelola untuk mengetahui konsep pengelolaan Apartemen Ciputra World, misalnya penjelasan tentang fasilitas yang diperoleh konsumen sesuai harga yang ditetapkan.

    2. Data Sekunder

    a) Gambar-Gambar Proyek b) Data Properti Pembanding Untuk data pendekatan yang digunakan dalam menentukan asumsi meliputi : - Kebutuhan area parkir sebuah

    gedung apartemen. - Biaya operasional manajemen

    gedung apartemen. c) Anggaran Biaya 1. Biaya Pembangunan Apartemen

    Ciputra World 2. Data Tarif Dasar Listrik 3. Data Tarif Dasar Air 4. Data Tarif Telepon 5. Data Pengelolaan Proyek 6. Data Gaji Karyawan 7. Data Biaya Service Charge 3.2.2 Prosedur Pengumpulan

    Data 1. Observasi Proyek

    Survey dilakukan pada kunjungan awal ke proyek untuk memperoleh gambaran umum dan di kunjungan berikutnya untuk melakukan wawancara lebih mendalam mengenai konsep pengelolaan. Observasi juga dilakukan dengan

  • pihak luar proyek untuk menunjang ketersediaan data.

    2. Dokumentasi A. Data Proyek Data dan sumber data yang dibutuhkan antara lain : - Data gambar proyek dan data

    keuangan dari objek yang diteliti.. - Data suku bunga yang dikeluarkan

    oleh Bank Indonesia. - Data pajak dari Dinas Perpajakan. - Data tarif dasar listrik, air, dan

    telepon. - Data koefisien bangunan dari

    Pemerintah Daerah. B. Data Penunjang Dalam kegiatan ini dilakukan pengumpulan data di luar dari pihak proyek antara lain publikasi data dari berbagai instansi terkait seperti, PLN, PDAM, Telkom, BI, serta dari lembaga-lembaga yang bekerja sebagai lembaga penelitian dan manajemen proyek seperti PT. Procon Indah dan lainnya. 3.3 Analisa Data 3.3.1 Aspek Teknis Adapun tahapan serta gambaran perhitungannya adalah sebagai berikut : - KDB = Luas seluruh lantai dasar

    dibagi dengan luas tapak/tanah perencanaan (satuan dalam %)

    - KLB = Jumlah luas lantai seluruh bangunan dibagi dengan luas tapak/tanah perencanaan (satuan %)

    - KDH = Luas seluruh daerah hijau/terbuka di luar bangunan dibagi dengan luas tapak/tanah perencanaan (satuan dalam %)

    Perhitungan kebutuhan ruas parkir untuk tiap unit apartemen sesuai luasannya. 3.3.2 Aspek Finansial

    Analisa aspek finansial dilakukan setelah melakukan analisa aliran kas yang akan terjadi : 1. Aliran kas masuk untuk

    perhitungan aspek finansial, yaitu pendapatan dari unit apartemen yang terjual, service charge, dan sinking fund.

    2. Aliran kas keluar untuk perhitungan aspek finansialnya didapat dari : a. Biaya total investasi (biaya

    tanah, biaya konstruksi, biaya perencanaan, biaya perizinan)

    b. Biaya operasional (biaya listrik, air, telepon, dll)

    c. Biaya maintenance (perbaikan, perawatan gedung)

    d. Biaya replacement (mengganti mesin secara berkala)

    e. Biaya pajak Analisa aspek finansial dilakukan dengan cara menghitung dua parameter kelayakan investasi yaitu : 1. Net Present Value (NPV) Menganalisa selisih antara penerimaan dengan pengeluaran yang telah dipresent-valuekan. Bila NPV > 0 maka proyek dikatakan layak, sedangkan sebaliknya bila NPV < 0 maka proyek dikatakan tidak layak. 2. Internal Rate of Return (IRR) Menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa mendatang. 3.3.3 Analisa Sensitivitas

    Analisa sensitivitas yang dilakukan dengan mengubah nilai dari suatu parameter pada suatu saat untuk selanjutnya dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat penerimaan suatu investasi. Parameter-parameter yang akan dianalisa dalam Tugas Akhir ini adalah perubahan tingkat okupansi dan tingkat harapan terhadap pengembalian. 3.4 Langkah Langkah

    Penelitian Langkah penelitian dalam menyusun Tugas Akhir ini, yaitu : 1. Perumusan Masalah Sebelum muncul sebuah permasalahan dilakukan pemilihan objek penelitian, yakni diperoleh proyek pembangunan Apartemen Ciputra World. Dari kondisi lapangan yang ada diharapkan sebuah hasil yang ideal dalam segi teknis dan segi finansial.

  • Perumusan Masalah : 1. Pemenuhan persyaratan dari segi teknis dan finansial 2. Batas kelayakan finansial terhadap perubahan tingkat

    okupansi

    Studi Literatur

    Pengumpulan data primer dan sekunder :

    1. Biaya segala kegiatan yang terjadi (Outflow dan Inflow) 2. Data gambar konstruksi

    Analisa Teknis bangunan :

    1. Perbandingan kondisi eksisting bangunan terhadap standar zoning

    2. Mengetahui kebutuhan luasan parkir

    Analisa Finansial :

    1. Perkiraan Kas Masuk 2. Perkiraan Kas Keluar :

    (Biaya total investasi, biaya operasional, biaya maintenance, biaya pajak) 3. Penilaian Investasi

    Analisa Sensitivitas :

    - Terhadap tingkat okupansi - Terhadap Discount Factor

    Kesimpulan

    2. Studi Literatur Selain berupa buku tulisan para ahli di bidang manajemen konstruksi, literatur juga berupa peraturan-peraturan pemerintah, hasil laporan pengerjaan Tugas Akhir, maupun berupa informasi dari internet. 3. Pengumpulan Data Dalam kegiatan ini dilakukan pengumpulan data-data finansial pembangunan proyek yang dibuat pihak owner, kemudian direkapitulasi sesuai kebutuhan penelitian. 4. Analisa Data a) Segi Teknis Pada tahap ini dilakukan perhitungan menyangkut luasan bangunan dan penunjangnya yang hasilnya digunakan untuk perbandingan dengan standar yang disyaratkan.

    b) Segi Finansial Pengolahan data keuangan dalam bentuk aliran kas masuk, serta perkiraan aliran kas keluar yang akan terjadi selama masa investasi, kemudian dilakukan analisa kelayakan investasi dengan metode Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Setelah mengetahui NPV, dilanjutkan Analisa Sensitivitas yaitu memaparkan perubahan investasi yang dapat terjadi akibat perubahan variabel analisa investasi. 5. Kesimpulan Hasil dari pengerjaan Tugas Akhir ini yaitu bagaimana kelayakan investasi pada pembangunan Apartemen Ciputra World. Langkah pengerjaan Tugas Akhir ini dapat dilihat seperti pada Gambar 3.1.

  • BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

    4.1 Gambaran Umum Proyek

    Proyek Apartemen Ciputra World dibangun di atas lahan seluas 5,087.6 m2 yang terletak di Jl. Mayjend Sungkono Surabaya. Dengan luas dasar bangunan seluas 1,710.7 m2, maka pembangunan proyek ini telah menyisakan 66,37 % lahannya untuk ruang terbuka yang di dalamnya termasuk daerah hijau, parkir outdoor, sirkulasi, dan sarana penunjang (bak sampah, pos jaga, box listrik). Dalam analisa ini akan menggunakan asumsi berdasarkan properti pembanding yakni Somerset Surabaya mewakili apartemen.

    Fasilitas apartemen seperti parkir, kolam renang, gymnasium merupakan fasilitas yang disediakan untuk pemilik apartemen sehingga tidak dibebani biaya penggunaan. Biaya listrik,air,telepon, service charge dibebankan tiap bulan. 4.2 Analisa Teknis

    Berikut peraturan mengenai Rencana Tata Ruang Kota yang diperuntukkan kawasan Jl. Mayjend Sungkono Unit Pengembangan VIII Satelit (Kecamatan Dukuh Pakis) : 1. KDB maksimum adalah 60% 2. KLB maksimum adalah 1500% 3. Ruang terbuka 40% dihitung dari

    luas lahan di bagian dalam persil. 4.2.1 Analisa Luasan Bangunan 4.2.1.1 Koefisien Dasar Bangunan

    Berdasarkan RTRK Unit Pengembangan VIII Satelit Kota Surabaya, kawasan di Jl. Mayjend Sungkono Surabaya mempunyai KDB maksimum sebesar 60%. Ciputra World akan memanfaatkan luas tanahnya untuk dibangun apartemen seluas 1,710.7 m2 atau sebesar 33.6% dari luas total. Dalam pemenuhan terhadap peraturan setempat, proyek pembangunan Apartemen Ciputra World telah memenuhi syarat.

    Berikut adalah perhitungan

    Koefisien Dasar Bangunan apartemen.

    Luas Area Proyek = 5,087.6 m2 Luas Dasar Bangunan - Fasilitas Gedung = 2,952.74 m2 - Fasilitas Pelengkap = 424.16 m2 _ Total = 1,710.7 m2

    KDB = = 0,336 33,6% < 60%

    4.2.1.2 Koefisien Lantai Bangunan

    Kawasan Jl. Mayjend Sungkono Surabaya mempunyai KLB maksimum sebesar 1500%. Berdasarkan syarat batas tersebut, Ciputra World

    hanya diperbolehkan membangun dengan total luasan lantai maksimum sebesar 76,314 m2.

    Di bawah ini adalah perhitungan Koefisien Lantai Bangunan, Luas Lantai Bangunan : - Hunian Apartemen = 42,615.69 m2 Penthouse = 2,382.71 m2 - Fasilitas Gedung = 19,096.54 m2 - Fasilitas Pelengkap = 3,630.06 m2 + Total = 67,725.00 m2

  • KLB = = 13,31 1331% < 1500%

    4.2.1.3 Ruang Terbuka

    KDB Apartemen Ciputra World sebesar 33.6% artinya bahwa Ciputra World telah menyisakan lahan terbuka seluas 66.4%. Dapat disimpulkan bahwa proyek Apartemen Ciputra World

    telah memenuhi luas minimal penyediaan Ruang Terbuka.

    4.2.2 Analisa Luasan Area Parkir

    Berikut ketentuan kebutuhan ruang parkir berdasarkan jenis fungsi ruang apartemen :

    Unit dengan luas > 90 m2 = 1 parkir R4 untuk 1 unit Unit dengan luas70-90 m2 = 1 parkir R4 untuk 2 unit Unit dengan luas < 70 m2 = 1 parkir R4 untuk 5 unit Keterangan : SRP = Satuan Ruang Parkir

    Untuk memenuhi persyaratan

    izin zoning, maka dilakukan perbandingan antara syarat zoning dengan ruang parkir yang disediakan. Berdasarkan perhitungan kebutuhan tempat parkir tersebut di atas, total kebutuhan parkir yang harus disediakan adalah sebesar 461 SRP kendaraan roda empat, sedangkan menurut izin zoning diperlukan 608 SRP karena tiap 70 m2 harus menyediakan 1 SRP. Total tempat parkir yang disediakan oleh Ciputra World sebesar 608 SRP mobil / R4 (lihat tabel 2 lampiran 1). Dengan demikian berdasarkan tempat yang disediakan, untuk ruas parkir gedung Ciputra sudah memenuhi syarat. 4.2.3 Manajemen Pengelolaan

    Untuk pengelolaan proyek Apartemen Ciputra World ini, owner membentuk sebuah management building sebagai pengelola apartemen. 4.3 Analisa Finansial

    Dalam pembangunan proyek Apartemen Ciputra World diperlukan biaya investasi sebesar Rp.709,940,749,000.00, yang dikeluarkan pada awal dan hanya terjadi sekali selama masa konstruksi. Modal investasi pembangunan apartemen ini diperoleh dari modal sendiri dan modal pinjaman dari bank. Untuk modal pinjaman sebesar 2/3 dari biaya investasi atau sebesar Rp.473,293,832,700.00. Pengembalian pinjaman ini akan diangsur selama 10 tahun dengan i = 9 %, sehingga besar angsuran sebesar Rp.73,739,179,150.00 per tahun.

    Tabel 4.1 Biaya Investasi Apartment Ciputra World

    No Uraian Pekerjaan Jumlah

    1 Pembebasan Lahan 98,657,138,000

    2 Biaya Perizinan 12,784,707,000

    3 Biaya Perencanaan 51,138,828,000

    4 Biaya Konstruksi 511,388,280,000

    5 Pengembangan Fasilitas 35,971,796,000

    Total 709,940,749,000

  • 4.3.1 Apartemen Apartemen Ciputra World

    (The Via & The Vue) memiliki 408 unit yang tersebar di dua tower masing-masing 29 lantai dengan empat tipe berdasar luas lantai, terdiri dari 26 lantai tipikal dan 3 lantai penthouse. 4.3.1.1 Pendapatan A. Penjualan Unit Apartment

    Pendapatan ini diperoleh dari penjualan unit apartemen dan service charge. Apartemen tersebut memiliki harga yang berbeda tiap unitnya, harga tersebut ditentukan oleh lokasi lantai, pilihan zona A atau B, tipe kamar (1,2,3, atau 4 kamar), luas kamar (dari 75 m2 s/d 175 m2), dapat dilihat pada lampiran gambar. Harga apartemen sudah termasuk izin mendirikan bangunan (IMB), listrik dan instalasi (telepon,

    antenna tv, AC, water heater), PDAM, Akta pemisahan, Pemecahan Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun atas nama PT. Win-Win Reality Center.

    Penjualan unit apartemen

    ditetapkan dilakukan dengan cara angsuran selama tiga tahun dengan bunga 8%, dengan target tahun ketiga atau tahun 2011 unit sudah laku semua. Dengan sistem pembayaran tersebut, maka angsuran terjadi hingga tahun 2013. Dari data yang diperoleh dari pihak Ciputra, tahun ke-1 unit apartemen telah terjual 55% maka diasumsikan pada tahun ke-2 occupancy rate mencapai 82.7% dan pada tahun ke-3 occupancy rate telah mencapai 100% atau unit terjual semua. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pendapatan dari penjualan apartemen pada :

    tahun ke-1 senilai Rp.112,849,800,000.00, tahun ke-2 sebesar Rp.175,492,400,000.00, tahun ke-3 senilai Rp.253,480,400,000.00, tahun ke-4 sebesar Rp.140,630,600,000.00, dan; tahun ke-5 sebesar Rp.77,988,000,000.00.

    Rincian pendapatan penjualan unit apartemen selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1 lampiran 2. Penentuan asumsi terhadap tingkat hunian berdasarkan minat pembeli apartemen yang lebih banyak memilih tipe 1 bedroom, lalu 2 bedroom, lalu 3 bedroom, kemudian disusul 4 bedroom. Dalam perhitungan pemasukan dari penjualan apartemen ini akan selalu dikalikan dengan tingkat huniannya. Unit Penthouse di tiga lantai paling atas, dalam tugas akhir ini tidak ikut dihitung dan dianggap sebagai pemasukan tambahan nantinya.

    B. Service Charge Ada biaya rutin yang harus

    dikeluarkan oleh pemilik apartemen di luar listrik, air dan telepon yaitu Service Charge. Service Charge adalah biaya yang harus dikeluarkan pemilik apartemen untuk perawatan gedung, fasilitas umum, taman, kebersihan dan

    keamanan yang dihitung per meter persegi apartemen penghuni. Biasanya besarnya Rp.12,000.00 sampai Rp.20,000.00/m2. Pada Apartemen Ciputra World dikenakan service charge sebesar Rp.18,000.00/m2. Contohnya unit apartemen tipe 1 bedroom dengan luas 75 m2 maka biaya service charge yang harus dikeluarkan per bulan adalah 75 x Rp.18,000.00 = Rp.1,350,000.00. Dana ini dikelola oleh manajemen apartemen. Pendapatan dari service charge ini diperoleh saat apartemen mulai dioperasikan. Dengan asumsi bahwa tingkat hunian apartemen mencapai 100% di tahun 2011, maka nilai service charge akan dikalikan 100%. Maka besar dari pendapatan service charge adalah 44,998.39 m2 x Rp.18,000.00 = Rp.809,971,020.00. Service charge akan mengalami kenaikan sebesar 10% tiap lima tahunnya, asumsi ini diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak manajemen Ciputra World. Selengkapnya mengenai pendapatan

  • service charge dapat dilihat pada tabel 2 lampiran 2. C. Rekapitulasi Pendapatan

    Dari pendapatan penjualan unit ditambah pendapatan service charge

    per tahunnya diperoleh nilai pendapatan tahunan dari penjualan apartemen. Selengkapnya mengenai rekapitulasi pendapatan dari Apartemen Ciputra World dapat dilihat pada tabel 4.2.

    Tabel 4.2

    Rekapitulasi Pendapatan Apartemen

    Tahun ke- Penjualan Unit (Rp) Service Charge (Rp) Pendapatan Total (Rp) 1 112,849,800,000.00 112,849,800,000.00 2 175,492,400,000.00 175,492,400,000.00 3 253,480,400,000.00 9,719,652,240.00 263,200,052,240.00 4 140,630,600,000.00 9,719,652,240.00 150,350,252,240.00 5 77,988,000,000.00 9,719,652,240.00 87,707,652,240.00 6 9,719,652,240.00 9,719,652,240.00 7 9,719,652,240.00 9,719,652,240.00 8 10,691,617,464.00 10,691,617,464.00 9 10,691,617,464.00 10,691,617,464.00 10 10,691,617,464.00 10,691,617,464.00 11 10,691,617,464.00 10,691,617,464.00 12 10,691,617,464.00 10,691,617,464.00 13 11,760,779,210.40 11,760,779,210.40 14 11,760,779,210.40 11,760,779,210.40 15 11,760,779,210.40 11,760,779,210.40 16 11,760,779,210.40 11,760,779,210.40 17 11,760,779,210.40 11,760,779,210.40 18 12,942,256,938.24 12,942,256,938.24 19 12,942,256,938.24 12,942,256,938.24 20 12,942,256,938.24 12,942,256,938.24 21 12,942,256,938.24 12,942,256,938.24 22 12,942,256,938.24 12,942,256,938.24 23 14,230,110,860.04 14,230,110,860.04 24 14,230,110,860.04 14,230,110,860.04 25 14,230,110,860.04 14,230,110,860.04

    4.3.1.2 . Pengeluaran Pengeluaran untuk Apartemen Ciputra World terdiri atas : 1. Biaya Operasional 2. Biaya Pemeliharaan 3. Biaya Replacement A. Biaya Operasional Apartemen

    Ciputra World a. Perhitungan Biaya Listrik

    Apartemen Ciputra World 1. Kebutuhan Daya Untuk

    Pencahayaan

    Perhitungan daya dikonversi dari satuan watt ke kWh, serta untuk perhitungan daya listrik yang digunakan setiap bulannya maka dikalikan 30 hari (1 bulan). a. Pencahayaan Ruang Koridor

    Waktu pemakaian lampu diasumsikan selama 24 jam. Perhitungan daya pencahayaan koridor selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.3.

  • Tabel 4.3

    Total Daya Listrik Untuk Pencahayaan Koridor

    No Nama Lantai Daya (kwh) t (jam) n2 (hari) Ptot (kwh/bln) 1 Lantai 7 2.5 24 30 1800 2 Lantai 8 1.25 24 30 900 3 Lantai 9 1.25 24 30 900 4 Lantai 10 1.25 24 30 900 5 Lantai 11 1.25 24 30 900 6 Lantai 12 1.25 24 30 900 7 Lantai 15 1.25 24 30 900 8 Lantai 16 1.25 24 30 900 9 Lantai 17 1.25 24 30 900 10 Lantai 18 1.25 24 30 900 11 Lantai 19 1.25 24 30 900 12 Lantai 20 1.25 24 30 900 13 Lantai 21 1.25 24 30 900 14 Lantai 22 1.25 24 30 900 15 Lantai 23 1.25 24 30 900 16 Lantai 25 1.25 24 30 900 17 Lantai 26 1.25 24 30 900 18 Lantai 27 2.5 24 30 1800 19 Lantai 28 2.5 24 30 1800 20 Lantai 29 2.5 24 30 1800 21 Lantai 30 2.5 24 30 1800 22 Lantai 31 2.5 24 30 1800 23 Lantai 32 2.5 24 30 1800 24 Lantai 33 2.66 24 30 1915.2 25 Lantai 35 2.66 24 30 1915.2 26 Lantai 36 2.66 24 30 1915.2

    Total 32745.6

    Keterangan: t = waktu pemakaian n2 = jumlah hari dalam 1 bulan Ptotal = daya x t x n2 b. Pencahayaan Ruang Kantor

    Manajemen Kantor manajemen apartemen berada di ruangan seluas 140 m2 dimana tiap m2 perseginya

    memerlukan daya 0.03 kWh. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.4.

    Tabel 4.4

    Kebutuhan Listrik Pencahayaan Kantor Manajemen

    Keterangan Luas (m2)

    Daya/m2 (kWh) t (jam) n (hari)

    Total kebutuhan/bln

    Kantor manajemen 140 0.03 10 30 1260

  • 2. Kebutuhan Daya Untuk Air Bersih Pada proyek Apartemen Ciputra World, sistem distribusi air bersih menggunakan sistem vertikal. Cara pendistribusiannya dengan menampung terlebih dahulu pada

    tangki air, Kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa untuk langsung ke titik-titik kran yang diperlukan. Sedangkan asumsi penggunaan pompa yaitu selama 10 jam.

    Tabel 4.5

    Total Daya Listrik Untuk Pompa Air Bersih

    Tipe Keterangan Daya (kWh) t (jam) n2 (hari) P total

    Tipikal SWP tipe 1 5.32 5 30 798

    SWP tipe 2 5.32 5 30 798

    SWP tipe 3 5.32 5 30 798

    Tipikal SWP tipe 4 4.2 5 30 630

    SWP tipe 5 4.2 5 30 630

    SWP tipe 6 4.2 5 30 630

    4284 Keterangan : t = waktu pemakaian n2 = jumlah hari dalam 1 bulan

    Ptotal = daya x t x n2 3. Kebutuhan Daya Untuk Elevator Apartemen Ciputra World mempunyai alat transportasi vertikal berupa lift. Untuk apartemen menggunakan elevator sebanyak 6 buah dengan daya 6.6 kWh

    per jamnya dan beroperasi selama 24 jam, maka kebutuhan daya untuk elevator diperoleh 28,080 kWh tiap bulannya. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.6.

    Tabel 4.6

    Total Daya Listrik Untuk Elevator

    Keterangan : t = waktu pemakaian n2 = jumlah hari dalam 1 bulan Ptotal = daya x t x n2 4. Kebutuhan Daya Untuk Air

    Conditioner (AC) Untuk Apartemen Ciputra World, perhitungan AC tidak untuk kebutuhan unit apartemen melainkan hanya untuk

    kantor manajemen, dan dihitung asumsi penggunaanya selama 10 jam. Kebutuhan daya untuk AC diperoleh 2100 kWh untuk tiap bulannya (tabel 4.7).

    Tabel 4.7

    Total Daya Listrik Untuk Air Conditioner (AC)

    Keterangan Daya/m2 (kWh) t (jam) n (hari) Total kebutuhan/bln

    Elevator (6 buah) 6.5 24 30 28,080.00

  • Keterangan Luas (m2)

    Daya/m2 (kWh) t (jam) n (hari)

    Total kebutuhan/bln

    Air Conditioner(AC) 140 0.05 10 30 2100 Keterangan : t = waktu pemakaian n2 = jumlah hari dalam 1 bulan Ptotal = daya x t x n2

    Dari perhitungan daya di atas, diperoleh kebutuhan daya total untuk operasional apartemen sebesar 68,469.60 kWh (lihat tabel 10 lampiran 3). Dengan dikalikan tarif dasar listrik Rp.1,518.00/kwh, maka biaya listrik per bulan untuk operasional apartemen sebesar Rp.103,936,852.80. b. Perhitungan Biaya Air

    Apartemen Ciputra World Pada Apartemen Ciputra

    World selain toilet yang tersebar di setiap lantai apartemen, terdapat juga kolam renang dan taman. Kebutuhan airnya

    sebesar 133 L/hari/toilet, dan untuk kebutuhan kolam renang yaitu 38 L/hari, sedangkan untuk taman kebutuhan airnya sebesar 19 L/hari. Maka perhitungan kebutuhan airnya berdasarkan jumlah toilet, kolam renang, dan taman, apartemen ini membutuhkan air sebanyak 35.34 m3 setiap bulannya (tabel 4.8).

    Dari masing-masing

    kebutuhan tersebut akan dihitung kebutuhan airnya untuk mendapatkan biaya kebutuhan air.

    Tabel 4.8 Kebutuhan Air

    Jumlah Fasilitas Kebutuhan air

    (L/hari) Kebutuhan air

    (m3) Kebutuhan air

    (m3/bulan)

    1 Toilet 70 0.07 2.1

    1 Kolam renang

    3.42 102.6

    104.7 Berdasarkan perkalian antara kebutuhan air dengan tarif air diperoleh biaya untuk

    air per bulan sebesar Rp.15,513,500.00 (tabel 4.9).

    Tabel 4.9 Biaya Tetap Kebutuhan Air

    No Keterangan Pemakaian (m3) Tarif air (Rp) Total (Rp)

    1 Pemeliharaan Meteran 3,000.00

    2 PPN 10% 300.00

    3 Toilet 1633 9,500.00 15,513,500.00

    4 Kolam renang 3.42 6,000.00 20,520.00

    5 Taman 1.71 6,000.00 10,260.00

    Total/bulan 15,544,280.00

    Total/tahun 186,531,360.00

  • c. Perhitungan Gaji Karyawan

    Pengelola Apartemen Berikut adalah data besarnya

    gaji karyawan pengelola yang akan

    dikeluarkan tiap tahunnya oleh pihak manajemen pengelola.

    Tabel 4.10 Gaji Karyawan Pengelola Apartemen

    No Keterangan Jumlah Harga Satuan

    (Rp) Total Gaji/bulan

    (Rp)

    1 General Manager 1 10,000,000.00 10,000,000.00

    2 Manager 3 5,000,000.00 15,000,000.00

    3 Staf 10 2,000,000.00 20,000,000.00

    4 Security 30 1,000,000.00 30,000,000.00

    5 Cleaning Service 30 1,000,000.00 30,000,000.00

    6 Pelaksana/Engineer 10 1,000,000.00 10,000,000.00

    7 Operasional Kantor 5 1,000,000.00 5,000,000.00

    120,000,000.00

    d. Rekapitulasi Biaya Operasional

    Apartemen Untuk perhitungan aliran kas,

    agar lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.12 tentang biaya operasional per tahun.

    Tabel 4.12 Rekapitulasi Biaya Operasional Apartemen Per Tahun

    Tahun Biaya/bulan (Rp) Biaya/tahun (Rp)

    2011 288.888.077,94 3.466.656.935,28

    2012 288.888.077,94 3.466.656.935,28

    2013 288.888.077,94 3.466.656.935,28

    2014 288.888.077,94 3.466.656.935,28

    2015 288.888.077,94 3.466.656.935,28

    2016 317.776.885,73 3.813.322.628,81

    2017 317.776.885,73 3.813.322.628,81

    2018 317.776.885,73 3.813.322.628,81

    2019 317.776.885,73 3.813.322.628,81

    2020 317.776.885,73 3.813.322.628,81

    2021 349.554.574,31 4.194.654.891,69

    2022 349.554.574,31 4.194.654.891,69

    2023 349.554.574,31 4.194.654.891,69

    2024 349.554.574,31 4.194.654.891,69

    2025 349.554.574,31 4.194.654.891,69

    2026 384.510.031,74 4.614.120.380,86

    2027 384.510.031,74 4.614.120.380,86

    2028 384.510.031,74 4.614.120.380,86

    2029 384.510.031,74 4.614.120.380,86

    2030 384.510.031,74 4.614.120.380,86

    2031 422.961.034,91 5.075.532.418,94

  • 2032 422.961.034,91 5.075.532.418,94

    B. Biaya Pemeliharaan

    Biaya pemeliharaan untuk gedung Apartemen Ciputra World digunakan untuk aktivitas perbaikan peralatan, pemeliharaan elevator, pengecatan ulang, dan lain sebagainya yang dilakukan setiap setahun sekali.

    Besarnya biaya pemeliharaan per tahun dialokasikan sebesar 30% dari service charge apartemen atau sebesar Rp.242,991,306.00. Rincian biaya pemeliharaan Apartemen Ciputra World dapat dilihat dalam tabel 4.13.

    Tabel 4.13

    Biaya Pemeliharaan Apartemen

    Keterangan Biaya (Rp)

    Gedung 121,495,653.00

    Fasilitas Umum 121,495,653.00

    242,991,306.00

    C. Biaya Replacement Apartemen

    Biaya replacement / penggantian dalam Apartemen Ciputra World meliputi penggantian mesin, seperti pompa air, AC, generator atau genset, lift, dll yang dialokasikan sebesar 30% (Poerbo, 1995) dari service charge yaitu sebesar Rp.242,991,306.00. 4.3.2 Biaya Penyusutan

    Biaya penyusutan adalah nilai suatu aset yang berkurang dikarenakan waktu/pemakaian maupun keusangan, dalam hal ini yang mengalami penyusutan adalah nilai bangunannya.

    Penyusutan bangunan Apartemen Ciputra World menggunakan metode garis lurus (Straight Line) dengan asumsi umur bangunan 20 tahun (UU No.17 Tahun 2000) dan nilai penyusutan tiap tahun adalah 5% dari Rp.709,940,749,000.00 (biaya proyek Apartemen Ciputra World) atau sebesar Rp.35,497,037,450.00.

    4.3.3 Biaya Pajak

    Menurut UU No.17 Tahun 2000 di Indonesia mengenai Pajak Penghasilan, perhitungan pajak untuk badan usaha dalam negeri adalah sebagai berikut :

    Tabel 4.14

    Tarif Pajak Untuk Wajib Pajak Badan Usaha Dalam Negeri

    Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

    Sampai dengan Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) 10%

    Di atas Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) 15% s.d. Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah)

    Di atas Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) 30%

    Sumber : Undang-Undang No.17 Tahun 2000

  • Dalam analisa ini, pajak dihitung dalam dua lapisan pendapatan kena pajak. Untuk pendapatan Rp.50,000,000.00 dikenakan 10%, sedangkan selebihnya dikenakan 15%.

    4.3.4 Analisa Aliran Kas Penilaian investasi diketahui

    dengan menghitung aliran kas masuk dan aliran kas keluar yang telah dihitung kemudian digunakan untuk membuat cash flow proyek.

    Perhitungan MARREquity : Safe Rate + 6,5% Resiko Investasi + 6,5% + MARREquity 13 % MARRInvestasi = MARREquity + Loan

    = ( x 13%) + ( x 9%)

    = 15% Perhitungan cash flow

    tersebut menggunakan besaran Minimum Attractive Rate of Return (MARR) sebesar 10%, adapun besaran MARR tersebut merupakan pendekatan berdasarkan analisa proyek lain yang sejenis, serta penilaian investasi selama 25 tahun. Kriteria yang digunakan untuk menilai kelayakan investasi proyek Apartemen Ciputra World dengan menggunakan metode NPV, IRR, dan dilanjutkan dengan analisa sensitivitas.

    Dalam pembangunan Apartemen Ciputra World menghabiskan dana investasi sebesar Rp.709,940,749,000.00, dengan masa investasi 25 tahun. Dengan mengurangkan biaya pengeluaran (investasi, operasional, pajak, depresiasi) terhadap pemasukan (penjualan unit apartemen), investasi ini dapat menghasilkan NPV sebesar -Rp.13,755,648,147.19 atau IRR 9%.

    Tabel 4.15

    Penilaian Kelayakan Investasi

    Penilaian Investasi

    NPV -13,755,648,147.19

    IRR 9%

    MARR 15%

    4.4 Analisa Sensitivitas

    Analisa Sensitivitas dilakukan dengan mengubah tingkat hunian (Occupancy Rate) apartemen dengan presentase yang sama, selanjutnya dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap indikator NPV dan IRR-nya. Dalam perhitungan sensitivitas, karena asumsi awal tingkat okupansi 80% menunjukkan hasil NPV negatif, maka dilakukan asumsi penambahan tingkat okupansi 10% menjadi 90% sehingga menghasilkan NPV sebesar

    Rp.44,311,376,102.58 (tabel 19 lampiran3). Saat dilakukan penambahan okupansi sebesar 10% lagi menjadi 100%, NPV yang dihasilkan sebesar Rp.102,378,400,352.35. Tampak di sini bahwa ketika tingkat okupansi 80%, proyek Apartemen Ciputra World tidak layak dalam hal finansial. Maka agar proyek ini layak dan tidak mengalami kerugian, tingkat okupansi harus mencapai 90%.

    Karena dilihat dari aspek finansial proyek ini mengalami kerugian,

  • maka sebaiknya pihak owner menaikkan harga jual unit apartemen atau biaya service charge kepada penghuni, dengan

    harapan pengembalian investasi dengan umur 25 tahun dapat terpenuhi.

    Tabel 4.16

    Analisa Sensitivitas Terhadap NPV

    Okupansi Apartemen NPV

    80% -Rp.13,755,648,147.19

    90% Rp. 44,311,376,102.58

    100% Rp.102,378,400,352.35

    Tabel 4.17

    Analisa Sensitivitas Terhadap Discount Rate (i)

    MARR (i) NPV

    15% -Rp.13,755,648,147.19

    10% Rp.20,348,529,724.54

    5% Rp.83,607,912,398.42

    Sumber : Hasil Perhitungan

    Gambar 4.1 Grafik Sensitivitas Okupansi Terhadap NPV

    020406080

    100120

    Sensitivitas

    Sensitivitas

    NPV

  • Gambar 4.2 Grafik Sensitivitas MARR Terhadap NPV

    KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

    Setelah dilakukan analisa aspek teknis dan aspek finansial yang telah diuraikan pada Bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari segi teknis, perencanaan pembangunan Apartemen Ciputra World telah sesuai

    dengan standar zoning yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. 2. Dari segi finansial, dengan nilai investasi sebesar Rp.709,940,749,000.00

    dihasilkan NPV sebesar -Rp.13,755,648,147.19 dengan tingkat okupansi 80%. Karena NPV yang dihasilkan negatif, berarti proyek ini tidak layak bila ditinjau dari segi finansial yang berarti kerugian.

    3. Dari hasil perhitungan analisa sensitivitas, dapat dilihat bahwa investasi proyek Apartemen Ciputra World akan menjadi layak jika tingkat okupansi mencapai 90%.

    5.2 Saran

    Saran yang dapat diambil dari Tugas Akhir ini berkaitan dengan pembahasan analisa investasi pada proyek Apartemen Ciputra World adalah : 1. Dikarenakan keterbatasan data yang diperoleh, besarnya biaya

    replacement/penggantian hanya menghitung penggantian utilitas lift, perlu penelitian lanjutan yang menghitung kebutuhan biaya penggantian pada utilitas dengan lebih lengkap.

    02468

    10121416

    Sensitivitas

    Sensitivitas

  • 2. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan analisa sensitivitas pada beberapa variabel lain yang mempengaruhi arus kas investasi, termasuk sumber-sumber pembiayaan.

    DAFTAR PUSTAKA Husnan, S. dan Suwarsono, M. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Edisi ke-4.

    Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan.

    Kyle, R.C. dan Baird, F.M. 1995. Property Management. Edisi ke-5. Amerika Serikat

    : Real Estate Education Company.

    Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Nomor 272/HK.105/DRJD/96

    Tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir.

    Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 Tentang Persyaratan

    Teknis Bangunan Gedung.

    Poerbo, H. 1995. Utilitas Bangunan. Jakarta : Djambatan.

    Procon Indah, 2008 Tentang Nilai Jual Apartemen.

    Pudjosumarto, M. 1998. Evaluasi Proyek. Yogyakarta : Liberty.

    Pujawan. 2003. Ekonomi Teknik Edisi Pertama. Cetakan ke-3. Surabaya : Guna

    Widya.

    Soeharto, I. 1999. Manajemen Proyek. Jakarta : Erlangga.

    Soeharto, I. 2003. Manajemen Proyek Jilid 1 dan 2. Jakarta : Erlangga.

    Sutojo, S. 2003. Studi Kelayakan Proyek. Jakarta : PT.Sapdodadi.

    UURS Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Pengertian Apartemen.

    Undang Undang Nomor 17 Tahun 2000 Tentang Pajak Penghasilan.