ANALISA INTEGRASI PASAR DAN TRANSMISI HARGA...

download ANALISA INTEGRASI PASAR DAN TRANSMISI HARGA …lib.ui.ac.id/file?file=digital/20318516-T31959-Analisa integrasi.pdf · Fenomena transmisi harga tidak simetris pada jangka panjang

If you can't read please download the document

  • date post

    26-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    225
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of ANALISA INTEGRASI PASAR DAN TRANSMISI HARGA...

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISA INTEGRASI PASAR DAN TRANSMISI HARGA BERAS PETANI-KONSUMEN DI INDONESIA

TESIS

FIRDAUSSY YUSTININGSIH 1006741513

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

JAKARTA DESEMBER 2012

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

PerpustakaanNoteSilakan klik bookmarks untuk melihat atau link ke hlm

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISA INTEGRASI PASAR DAN TRANSMISI HARGA BERAS PETANI-KONSUMEN DI INDONESIA

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi

FIRDAUSSY YUSTININGSIH 1006741513

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

KEKHUSUSAN EKONOMI PERSAINGAN USAHA JAKARTA

DESEMBER 2012

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

ii

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa tesis ini saya susun tanpa tindakan plagiarism sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia.

Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan Plagiarisme, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya.

Jakarta, 28 Desember 2012

(Firdaussy Yustiningsih)

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Firdaussy Yustiningsih

NPM : 1006741513

Tanda Tangan :

Tanggal : Desember 2012

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Tesis ini diajukan oleh : Nama : Firdaussy Yustiningsih NPM : 1006741513 Program Studi : Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Judul Tesis : Analisa Integrasi Pasar dan Transmisi Harga Beras

Petani-Konsumen di Indonesia Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Dr. Ir. Widyono Soetjipto M.Sc ( )

Penguji : Iman Rozani S.E., M.Sc ( )

Penguji : Dr. Aris Yunanto S.TP., M.S.E ( )

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : Desember 2012

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-

Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam

rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Ekonomi

Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik pada Fakultas

Ekonomi Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan

bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan

tesis ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu,

saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

(1) Bapak Dr. Widyono Soetjipto, selaku dosen pembimbing yang telah

menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam

penyusunan tesis ini;

(2) Bapak Iman Rozani S.E., M.Sc dan Bapak Dr. Aris Yunanto, selaku dosen

penguji tesis, yang telah memberikan masukan terhadap isi tesis ini;

(3) Bapak Dr. Riyanto, selaku narasumber, yang telah memberikan masukan dan

bantuan terkait model ekonometri yang digunakan dalam tesis ini;

(4) Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia (KPPU), yang telah

menyediakan dana beasiswa untuk menempuh studi S-2 pada Program Studi

Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik di Fakultas Ekonomi

Universitas Indonesia;

(5) Bapak Mulangin dari BPS dan Bapak Eri dari PT. Food Station Cipinang,

yang telah mendukung perolehan data dalam tesis ini;

(6) Bapak Taufik Ariyanto, selaku Kepala Biro Pengkajian, atas ide, arahan, dan

masukannya selama penulisan tesis ini;

(7) Suami, orang tua, dan keluarga tercinta, atas doa, dukungan, dan

bantuannyanya selama penulisan tesis ini;

(8) Mas Daniel, Mba Riris, Mba Nuring, Mba Indar, Mba Noor, dan rekan-rekan

KPPU yang telah banyak membantu selama masa perkuliahan dan

penyusunan tesis ini

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

vi

(9) Liasari, Wiwit, Vidi, Mba Febby, Mba Endang, Mba Metty, Mba Ita, Mba

Leni, Mba Indi, Mba Ance, dan seluruh rekan-rekan MPKP FEUI Angkatan

XXIII Sore yang telah menjadi teman dan sahabat seperjuangan selama masa

perkuliahan ini.

Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua

pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan.

Jakarta, Desember 2012

Penulis

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

vii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di

bawah ini:

Nama : Firdaussy Yustiningsih

NPM : 1006741513

Kekhususan : Ekonomi Persaingan Usaha

Program Studi : Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik

Fakultas : Ekonomi

Jenis Karya : Tesis

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada

Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-

Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :

Analisa Integrasi Pasar dan Transmisi Harga Beras Petani-Konsumen

di Indonesia

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti

Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,

mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),

merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan

nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta

Pada Tanggal : ___ Desember 2012

Yang menyatakan

(Firdaussy Yustiningsih)

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

viii Universitas Indonesia

ABSTRAK Nama : Firdaussy Yustiningsih Program Studi : Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Judul Tesis : Analisa Integrasi Pasar dan Transmisi Harga Beras Petani-

Konsumen di Indonesia Tesis ini dilatarbelakangi oleh fenomena disparitas harga beras Indonesia yang semakin melebar antara level petani dengan level konsumen, sejak tahun 1998. Padahal, sebagai komoditas yang strategis, kebijakan perberasan seharusnya mampu menjamin harga beras yang tinggi di level petani namun tetap terjangkau di level konsumen.

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk melakukan analisis pergerakan harga gabah kering panen (GKP) di level petani dengan harga beras di level konsumen, dengan menggunakan pendekatan teori Asymmetric Price Transmission, dan (2) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat integrasi pasar dan transmisi harga beras petani konsumen, yang dikaitkan dengan kondisi struktur dan perilaku pedagang perantara beras di Indonesia.

Model yang digunakan dalam analisa adalah model error correction (ECM), yang diestimasi dari pergerakan data harga GKP di level petani dengan harga beras di level konsumen. Data yang digunakan adalah data sekunder bulanan dengan rentang waktu (time series) dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2011.

Hasil pendugaan model menunjukkan bahwa dalam jangka pendek transmisi harga GKP petani terhadap harga beras konsumen bersifat simetris, sementara dalam jangka panjang bersifat asimetris. Fenomena transmisi harga tidak simetris pada jangka panjang disebabkan oleh dua hal, yaitu (1) penyalahgunaan market power oleh pedagang perantara, dan (2) kebijakan Pemerintah. Pedagang perantara mendapatkan market power dari kondisi struktur pasar yang bersifat oligopolistik, dimana jumlah pedagang perantara relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah petani dan konsumen. Hal ini menyebabkan pedagang perantara memiliki posisi tawar yang lebih tinggi, sehingga memudahkan pedagang perantara untuk mengendalikan harga.

Dalam hal kebijakan Pemerintah, berbagai kebijakan perberasan dirancang untuk mengintervensi harga di level petani agar berada di atas level harga Pemerintah, sementara harga di level konsumen diserahkan kepada mekanisme pasar. Hal ini menimbulkan persepsi pedagang perantara bahwa penurunan harga GKP petani hanya bersifat sementara, sehingga pedagang perantara tidak segera bereaksi terhadap penurunan harga GKP petani.

Kata kunci :

Integrasi pasar, transmisi harga vertikal, rantai pemasaran beras, market power, Indonesia

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

ix Universitas Indonesia

ABSTRACT Name : Firdaussy Yustiningsih Study Program : Master of Planning and Public Policy Title : Analysis of Market Integration and Price Transmission on

Farm - Retail Rice Price in Indonesia The background of this thesis is due to the price disparity between the farm level and the consumer retail in rice sectors in Indonesia. The anomaly is the price disparity has widened after the liberalization of the rice market in 1998. As a strategic commodity in Indonesia, the government should develop a policy that can guarantee the price of rice is high at the farmers level and remain affordable at the consumer level. The goal of this research is (1) to analyze the price transmission between the farm level and the consumer level in rice sector, by using the Asymmetric Price Transmission approach, and (2) to explain the factors that affect the level of market integration and rice price transmission between the farm level and the consumers level, which associated with the condition of the structure and behavior of Indonesian rice middle man. The model used in the analysis is the error correction model (ECM), which is estimated from the movements of rice price in the farm level with the consumer level. The data used are monthly price in each level from 2000 to 2011.

Based on the model, the price transmission from the farm level to the consumer level is symmetric in the short term. Meanwhile in the long term, the price transmission is asymmetric. It means that the price transmission is caused by the long term factors, such as abuse of market power by the middle man and the government policy. Middle man get their market power from the market structure of the middle man level which lead to oligopolistic market, where the number of middlemen are relatively few compared to the number of farmers and consumers. This causes the middle man has a higher bargaining position, so they can easily control the prices. In terms of policy, the Indonesian government prefer to give more protection to farmer than to consumer. In the farm level, government made the Government Purchase Price Policy which aims to ensure that the farmer always get a better price (high price) by selling their rice. While, prices at the consumer level left to the market mechanism. This gives the perception in the middle man level that the falling price in the farm level only temporary, because the government will immediately intervene the market. This makes the middle man not immediately react for the falling prices in the farm level. On the other hand, the middle man believe that the rising price in the farm level is permanent, so they will increase the rice price in the consumers level immediately.

Keywords : Market integration, vertical price transmission, marketing chain of rice, market power, Indonesia

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

x Universitas Indonesia

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .. i SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME . ii HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ...... iii HALAMAN PENGESAHAN iv KATA PENGANTAR v HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .. vii ABSTRAK .. viii DAFTAR ISI .. x DAFTAR GAMBAR . xii DAFTAR TABEL .. xiii 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang . 1 1.2. Perumusan Masalah Penelitian .. 5 1.3. Tujuan Penelitian 5 1.4. Manfaat Penelitian .. 6 1.5. Hipotesa ... 6 1.6. Metodologi Penelitian . 6

1.6.1. Data-Data yang Digunakan . 6 1.6.2. Metode Analisis 7 1.6.3. Ruang Lingkup Penelitian .. 8

1.7. Sistematika Penelitian . 8 1.8. Kerangka Penelitian .. 9

2. TINJAUAN LITERATUR . 12 2.1. Teori Integrasi Pasar dan Transmisi Harga 12 2.2. Asymmetric Vertical Price Transmission . 16 2.3. Penyebab Asymmetric Vertical Price Transmission 21

2.3.1. Market Power dan Struktur Pasar Persaingan Tidak Sempurna . 22

2.3.2. Adjustment Cost atau Menu Cost . 26 2.3.3. Return to Scale dalam Produksi ... 28 2.3.4. Karakteristik Produk 29 2.3.5. Kebijakan Pemerintah . 30

2.4. Penelitian Terdahulu 31 3. GAMBARAN PERBERASAN INDONESIA ... 35

3.1. Gap Antara Pola Produksi dan Konsumsi Beras 36 3.2. Gambaran Distribusi Beras di Indonesia 39 3.3. Kebijakan Perberasan Indonesia ..... 44

3.3.1. Kebijakan Produksi .. 46 3.3.2. Kebijakan Harga ... 49 3.3.3. Kebijakan Impor .. 53 3.3.4. Kebijakan Distribusi . 55

3.4. Kebijakan Pemerintah dan Perkembangan Harga ..... 59 3.5. Kebijakan Pemerintah dan Peningkatan Produksi . 61

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

xi Universitas Indonesia

4. METODOLOGI PENELITIAN 65

4.1. Cakupan Penelitian . 65 4.2. Metode Analisis ... 68 4.3. Tahapan Pengujian .. 70

4.3.1. Tes Stasioner 70 4.3.2. Tes Kointegrasi . 72 4.3.3. Tes Kausalitas ... 74 4.3.4. Model Simetris Error Correction Model (ECM) . 76 4.3.5. Tes Asimetri . 77

4.4. Keterbatasan Penelitian ... 80 5. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 82

5.1. Analisa Data Deskriptif 82 5.2. Analisa Time Series .. 86

5.2.1. Uji Stasioner . 86 5.2.2. Uji Kointegrasi .. 90

5.3. Estimasi Model Asimetris 91 5.3.1. Uji Kausalitas 91 5.3.2. Uji Model Simetris 93 5.3.3. Uji Model Asimetris . 95

5.4. Analisa Faktor Penyebab Transmisi Harga Asimetris 107 5.4.1. Biaya Penyesuaian 107 5.4.2. Kebijakan Pemerintah dan Perilaku Pedagang Perantara. 108 5.4.3. Market Power dan Struktur Pasar 111

6. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 116 6.1. Kesimpulan ... 116 6.2. Rekomendasi . 117

DAFTAR REFERENSI ..... 120

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

xii Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Perbandingan Harga Beras Petani-Konsumen . 2 Gambar 1.2. Kerangka Penelitian 10 Gambar 2.1. Transmisi Harga Tidak Simetris Dari Sisi Kecepatan dan

Besaran ... 17

Gambar 2.2. Transmisi Harga Tidak Simetris Positif dan Negatif ... 20 Gambar 3.1. Pola Produksi dan Konsumsi Beras di Indonesia . 38 Gambar 3.2. Rantai Pemasaran Beras di Indonesia ... 42 Gambar 3.3. Rantai Distribusi Beras di Pulau Jawa .. 44 Gambar 3.4. Kurva Pembentukan Harga Dasar Gabah . 51 Gambar 3.5. Kurva Pembelian Harga Dasar Pembelian Pemerintah 52 Gambar 3.6. Interaksi Pergerakkan Harga Beras dan Kebijakan Perberasan

Indonesia . 60

Gambar 3.7. Pertumbuhan Luas Areal Tanam Padi di Indonesia . 62 Gambar 3.8. Pertumbuhan Produktivitas Lahan Padi di Indonesia .. 63 Gambar 3.9. Pertumbuhan Produksi Padi di Indonesia . 63 Gambar 4.1. Tahapan Analisa .... 80 Gambar 5.1. Pergerakan Harga GKP Petani dan Harga Beras Eceran

Konsumen Periode 2000 2011 82

Gambar 5.2. Kondisi Supply-Demand saat ECT+ ................................... 104 Gambar 5.3. Kondisi Supply-Demand saat ECT- ................................... 105 Gambar 5.4. Struktur Pasar Gabah dan Beras di Setiap Level Pemasaran. 114

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

xiii Universitas Indonesia

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Perbandingan Jumlah Produksi dan Konsumsi Beras Indonesia... 37 Tabel 3.2. Program Peningkatan Produksi Padi Pemerintah Periode

1959 2007 . 47

Tabel 5.1. Uji Stasioneritas Data Harga GKP Petani pada level dengan ADF Test ..... 86 Tabel 5.2. Uji Stasioneritas Data Harga GKP Petani pada level dengan

PP Test .... 87

Tabel 5.3. Uji Stasioneritas Data Harga GKP Petani pada first difference dengan ADF Test .... 88

Tabel 5.4. Uji Stasioneritas Data Harga GKP Petani pada first difference dengan PP Test ... 88

Tabel 5.5. Uji Stasioneritas Data Harga Beras Konsumen pada level dengan ADF Test . 88

Tabel 5.6. Uji Stasioneritas Data Harga Beras Konsumen pada level dengan PP Test .... 89

Tabel 5.7. Uji Stasioneritas Data Harga Beras Konsumen pada first difference dengan ADF Test 89

Tabel 5.8. Uji Stasioneritas Data Harga Beras Konsumen pada first difference dengan PP Test ... 89

Tabel 5.9. Hasil Uji Kointegrasi pada data Harga GKP Petani dan Harga Beras Konsumen ..... 91 Tabel 5.10. Hasil Uji Kausalitas dengan Metode Granger Test 92 Tabel 5.11. Hasil Estimasi Model Simetris 93 Tabel 5.12. Hasil Estimasi Model Asimetris Sederhana dengan Metode Granger-Lee . 95 Tabel 5.13. Hasil Pengujian Koefisien Model Asimetris Sederhana ... 96 Tabel 5.14. Hasil Estimasi Model Asimetris Kompleks dengan Metode Von Cramon-Taubadel dan Loy . 99

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

xiv Universitas Indonesia

Tabel 5.15. Hasil Pengujian Koefisien Variabel Harga GKP Petani Periode t pada Model Asimetris Kompleks ... 100 Tabel 5.16. Hasil Pengujian Koefisien Variabel Harga GKP Petani Periode t-1 pada Model Asimetris Kompleks ... 101 Tabel 5.17. Hasil Pengujian Koefisien Variabel Harga Beras Konsumen pada Periode t-1 pada Model Asimetris Kompleks . 101 Tabel 5.18. Hasil Pengujian Koefisien Transmisi Harga Jangka Panjang pada Model Asimetris Kompleks 102

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Beras merupakan komoditas penting bagi penduduk Indonesia. Program

diversifikasi pangan yang gagal dilakukan Pemerintah menyebabkan peran

beras sebagai sumber karbohidrat utama belum tergantikan oleh jenis

pangan lainnya. Tingginya tingkat ketergantungan penduduk Indonesia akan

beras menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi beras

tertinggi di Asia Tenggara. Saat ini konsumsi beras di Indonesia mencapai

139 kilogram per kapita per tahun1. Menurut Menteri Pertanian, tingkat

konsumsi beras penduduk Indonesia sudah terlalu banyak, sementara

konsumsi sumber karbohidrat lainnya masih relatif rendah. Contohnya

umbi-umbian yang jumlah konsumsinya hanya 40 gram per kapita per hari ,

dari jumlah ideal 100 gram per kapita per hari2.

Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap beras, didukung dengan tidak

adanya produk subtitusi, menyebabkan kurva permintaan beras di Indonesia

bersifat inelastis. Dalam teori ekonomi mikro, produk dengan kurva

permintaan inelastis memberikan keuntungan yang besar bagi produsen,

atau dalam hal ini petani beras. Kondisi ini akan menyebabkan petani beras

memiliki posisi tawar yang relatif lebih tinggi dibandingkan konsumen,

sehingga produsen akan dengan mudah menaikan harga beras tanpa harus

takut kehilangan konsumen.

Dari sisi ekonomi makro, harga beras yang terlalu tinggi akan berbahaya

bagi perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu komoditas utama

pembentuk inflasi, Pemerintah selalu berupaya menjaga harga beras berada

pada suatu tingkat tertentu yang menguntungkan bagi petani dan konsumen

sekaligus. Dalam hal ini, Pemerintah akan menghadapi food price dilemma,

1 Kompas Online, www.kompas.com, Konsumsi Beras Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara, 7 Februari 2012 2 Republika Online, www.republika.co.id, Mentan: Konsumsi Beras Indonesia Terlalu Banyak, 4 April 2012

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

2

Universitas Indonesia

dimana petani menginginkan harga beras yang tinggi namun konsumen

menginginkan sebaliknya. Oleh sebab itu kebijakan harga beras yang

diambil Pemerintah diharapkan dapat menjembatani kepentingan petani dan

juga konsumen. Efektivitas kebijakan tersebut akan tercermin dari harga

beras yang tinggi di level petani dan rendah di level konsumen. Sayangnya

kondisi tersebut tidak terjadi di pasar beras Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia di tahun 2008

diketahui bahwa pergerakan harga beras di tingkat petani tidak

ditransmisikan secara sempurna terhadap harga beras di tingkat konsumen,

ataupun sebaliknya. Hal ini tercermin dari semakin besarnya disparitas

harga antara level petani dengan konsumen selama periode Januari 2001

sampai Januari 20083. Adapun perbandingan harga dan disparitas harga

antara level petani dan konsumen digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.1. Perbandingan Harga Beras Petani - Konsumen

Sumber : Pengaruh Distribusi Dalam Pembentukan Harga Komoditas dan Implikasinya Terhadap Inflasi, Working Paper BI 2008

3 Working Paper BI Edisi WP/07/2008, Juni 2008, Pengaruh Distribusi Dalam Pembentukan Harga Komoditas dan Implikasinya Terhadap Inflasi, www.bi.go.id

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

3

Universitas Indonesia

Arifin et al. (2006) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa

permasalahan disparitas harga pada komoditi beras sangat siginifikan terjadi

sejak jatuhnya Pemerintahan Soeharto pada tahun 1998. Pada 1 Juni 1998,

Pemerintah menetapkan Harga Dasar Gabah (HDG) sebesar Rp. 1.000 per

kilogram, sedangkan harga beras di tingkat grosir minimal sudah mencapai

Rp. 1.850 per kilogram. Sejak saat itu disparitas harga beras dan gabah terus

berlanjut dan menjadi salah satu permasalahan kompleks yang dihadapi

Pemerintah Indonesia.

Disparitas harga beras yang tinggi menunjukkan bahwa baik petani maupun

konsumen tidak diuntungkan dalam perdagangan beras. Nilai tambah

pengolahan dan perdagangan beras kemungkinan lebih banyak dinikmati

oleh pedagang perantara. Dalam teori pemasaran, besarnya disparitas harga

dalam suatu lini pemasaran dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu jalur

pemasaran yang terlalu panjang dan/atau adanya market power yang

dimiliki oleh pedagang perantara. Keduanya akan menyebabkan margin

yang terbentuk dalam satu lini pemasaran dari hulu ke hilir (vertikal)

menjadi sangat besar dan tidak efisien.

Secara teori ekonomi industri, semakin kecil tingkat margin distribusi yang

dihasilkan mengindikasikan bahwa para pelaku di jalur distribusi tidak

memiliki market power yang cukup untuk membentuk harga (price maker).

Dengan kata lain, pasar yang tercipta mengarah pada model pasar

persaingan sempurna. Sebaliknya, semakin tinggi margin distribusi

mengindikasikan bahwa para pelaku di jalur distribusi memiliki market

power yang cukup untuk menetapkan harga di atas biaya marginalnya dan

menunjukkan bahwa mereka berada pada pasar yang cukup terkonsentrasi.

Namun poin yang menarik pada kasus pasar beras adalah semakin

melebarnya disparitas harga antara level petani dengan konsumen justru

terjadi pasca diberlakukannya kebijakan deregulasi pasar beras di Indonesia

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

4

Universitas Indonesia

pada tahun 19984, atau pada saat pasar beras memasuki era pasar bebas.

Dengan kata lain dari sisi struktur, seharusnya pasar distribusi beras sudah

mengarah pada kondisi pasar yang lebih bersaing. Apabila mekanisme pasar

berjalan secara sempurna maka idealnya pedagang perantara tidak memiliki

kemampuan untuk menetapkan margin pemasaran yang besar, sehingga

disparitas harga yang terbentuk pun relatif kecil. Besarnya disparitas harga

beras antara level petani dengan konsumen dapat menjadi indikasi bahwa

terdapat perilaku anti persaingan yang dilakukan oleh pedagang perantara.

Menurut Vavra dan Goodwin (2005), salah satu penyebab transmisi harga

yang tidak simetris antar pasar yang terhubung secara vertikal (dalam satu

rantai pemasaran) adalah adanya perilaku tidak kompetitif antara para

pedagang perantara, khususnya apabila pedagang perantara tersebut berada

pada pasar yang terkonsentrasi. Umumnya pedagang perantara akan

berusaha mempertahankan tingkat keuntungannya dan tidak akan

menaikan/menurunkan harga sesuai dengan sinyal harga yang sebenarnya.

Sehingga pedagang perantara akan lebih cepat bereaksi terhadap kenaikan

harga dibandingkan dengan penurunan harga, Kondisi inilah yang

menyebabkan competition restraint pada jalur distribusi dan transmisi harga

yang tidak sempurna antara level produsen dengan konsumen. Pada

akhirnya pasar petani dan konsumen menjadi tidak terintegrasi.

Hal yang sama dikemukakan oleh Jochen Meyer dan Stephan von Cramon-

Taubadel (2004), disebutkan bahwa tidak terjadinya transmisi harga antara

dua level pasar yang berbeda dalam satu rantai pemasaran disebabkan oleh

pasar yang tidak kompetitif. Bahkan untuk komoditas pertanian secara jelas

disebutkan bahwa persaingan yang tidak sempurna di rantai pemasaran

(marketing chain) membuka ruang bagi middleman untuk melakukan

penyalahgunaan kekuatan pasar yang dimilikinya (abuse of market power).

4 Di tahun 1998, Pemerintah mencabut hak monopoli BULOG dalam impor beras, sehingga saat ini seluruh pihak dapat dengan bebas menjadi importir beras.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

5

Universitas Indonesia

Untuk meneliti dugaan penyalahgunaan market power yang dilakukan oleh

pedagang perantara beras maka akan digunakan pendekatan teori integrasi

pasar dan transmisi harga secara vertikal (vertical price transmission).

Berdasarkan teori tersebut, dua pasar yang saling berhubungan (melakukan

transaksi) akan terintegrasi secara sempurna dan transmisi harga terjadi

secara simetris. Apabila transmisi harga antar kedua pasar tersebut tidak

simetris maka dapat menjadi indikasi adanya penyalahgunaan market power

yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam pasar tersebut. Untuk menunjang

hasil analisa statistik agar lebih menyeluruh, dalam penelitian ini dipaparkan

pula mengenai gambaran struktur dan perilaku pedagang perantara di

sepanjang jalur pemasaran (marketing chain) beras secara umum.

1.2. Perumusan Masalah Penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan apakah fenomena integrasi

pasar dan transmisi harga vertikal yang simeris terjadi antara pasar beras di

tingkat petani dan konsumen di Indonesia. Apabila kondisi tersebut tidak

terjadi, maka selanjutnya akan dianalisa apakah terdapat faktor struktur

pasar dan perilaku pedagang perantara yang menyebabkan fenomena

Asymmetric Vertical Price Transmission tersebut.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis transmisi harga beras

secara vertikal antara level petani dengan konsumen berdasarkan teori

Asymmetric Price Transmission dengan cara :

a. Membandingkan pergerakan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat

petani dengan harga beras di tingkat konsumen.

b. Menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat integrasi

dan transmisi harga beras petani-konsumen berdasarkan teori integrasi

pasar dan transmisi harga vertikal dikaitkan dengan kondisi struktur dan

perilaku pasar beras di Indonesia.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

6

Universitas Indonesia

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari peneltian ini adalah :

a. Tersedianya gambaran mengenai kondisi pasar distribusi beras di

Indonesia, baik dari sisi struktur, perilaku, dan kinerja.

b. Apabila terbukti bahwa terjadi transmisi harga vertikal yang tidak

simetris antara harga beras di level petani dengan konsumen, maka

dapat menjadi masukan lebih lanjut untuk meneliti faktor penyebab

dari kejadian tersebut.

1.5. Hipotesa

Dengan memperhatikan kondisi margin antara petani dan konsumen yang

semakin lebar, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 1.1, maka hipotesis

awal dari penelitian ini adalah :

a. Diduga transmisi harga beras secara vertikal antara level petani dan

konsumen bersifat tidak simetris, yaitu terjadi perbedaan respon harga

beras di level konsumen terhadap perubahan kenaikan harga dengan

perubahan penurunan harga beras di level petani.

b. Diduga terdapat faktor struktur dan perilaku pedagang perantara yang

menyebabkan transmisi harga beras petani-konsumen tidak simetris.

1.6. Metodologi Penelitian

1.6.1. Data Data Yang Digunakan

Penelitian ini akan difokuskan pada kondisi transmisi harga petani-

konsumen setelah era deregulasi pasar beras di Indonesia di tahun 1998.

Data yang digunakan adalah data sekunder dari Badan Pusat Statistik

periode 2000 2011. Tahun 2000 dijadikan tahun awal karena pada tahun

1998 1999 terjadi bencana El-Nino dan La-Nina yang mengurangi

jumlah produksi padi nasional, sehingga dikhawatirkan pergerakan harga

pada tahun tersebut tidak dapat menjelaskan faktor terjadinya transmisi

harga yang tidak simetris antara level petani dan level konsumen secara

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

7

Universitas Indonesia

akurat. Data harga beras petani yang digunakan adalah data harga GKP

bulanan, sementara harga beras konsumen digunakan data harga beras

eceran bulanan.

1.6.2. Metode Analisis

a. Analisa Kuantitatif

Metode ini mengacu pada fenomena harga yang terjadi ketika harga di

level hilir bereaksi terhadap perubahan (shock) harga di level hulu.

Kondisi transmisi harga vertikal yang tidak simetris terjadi apabila

terdapat perbedaan respon harga di level hilir antara shock kenaikan

dan shock penurunan yang terjadi pada harga di level hulu. Dalam

kondisi transmisi harga yang tidak simetris, penyesuaian harga di level

hilir umumnya lebih cepat terjadi pada saat harga di level hulu

mengalami kenaikan, dibandingkaan saat harga mengalami penurunan.

Kondisi transmisi harga yang tidak simetris juga dapat dilihat dari sisi

besaran harga. Sebagai contoh, pada saat terjadi kenaikan harga di

sektor hulu maka harga di sektor hilir akan mengalami kenaikan pada

besaran yang sama dengan kenaikan harga di level hulu, sementara

pada saat terjadi penurunan harga di level hulu maka penurunan harga

yang ditransmisikan di level hilir tidak sebesar penurunan harga yang

terjadi di level hulu. Sebagai ilustrasi berikut ditampilkan gambar

perbedaan respon yang terjadi pada kondisi transmisi harga vertikal

yang tidak simetris (asymmetric vertical price transmission).

Dalam penelitian ini akan digunakan Cointegration dan Error

Correction Model (ECM) untuk menguji dugaan transmisi harga

vertikal yang tidak simetris pada harga beras di level petani dan

konsumen di Indonesia.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

8

Universitas Indonesia

b. Analisa Kualitatif

Analisa kualitatif dilakukan untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab

terjadinya transmisi harga vertikal yang tidak simetris antara harga

beras petani dan konsumen di Indonesia, khususnya dikaitkan dengan

faktor struktur pasar dan perilaku pedagang perantara.

1.6.3. Ruang Lingkup Penelitian

Pada penelitian ini penulis hanya akan mengukur kinerja distribusi harga

beras Indonesia dengan pendekatan teori integrasi pasar dan transmisi

harga asimetris, dengan melihat transmisi pergerakan harga GKP di level

petani terhadap harga eceran beras di level konsumen. Variabel lain di luar

penelitian dianggap konstan. Data harga sebelum periode 2000 dianggap

tidak stabil karena adanya krisis ekonomi dan bencana El-Nino dan La-

Nina pada tahun 1998 1999, maka data pergerakan harga beras yang

digunakan adalah periode 2000 2011.

1.7. Sistematika Penelitian

Pada bab pertama, akan diuraikan mengenai latar belakang penelitian,

perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, sistematika

penulisan, serta kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian. Dalam

bab selanjutnya kemudian akan dijelaskan mengenai berbagai teori yang

melandasi penulisan tesis, mulai dari teori mengenai integrasi pasar dan

transmisi harga vertikal, berbagai faktor penyebab transmisi harga tidak

simetris, sampai dengan hasil penelitian mengenai integrasi pasar dan

transmisi harga vertikal yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Dalam

bab ini juga akan dipaparkan secara ringkas mengenai posisi penelitian dan

perbedaannya dari penelitian terdahulu.

Dalam bab ketiga, akan dijelaskan mengenai gambaran industri beras secara

umum di Indonesia, dalam hal karakteristik produksi, karakteristik

konsumsi, serta berbagai kebijakan yang pernah ditetapkan Pemerintah,

berikut implikasinya terhadap harga dan produksi.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

9

Universitas Indonesia

Bab keempat merupakan bab metodologi. Dalam bab ini akan diuraikan

mengenai metodologi yang digunakan dalam penelitian, yaitu dengan

menggunakan teori asymmetric vertical price transmission dengan

pendekatan error correction model (ECM). Selain itu, bab ini akan

membahas pula mengenai cakupan data yang digunakan serta tahapan

pengolahan data tersebut.

Setelah melalui tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan dalam metodologi,

hasil estimasi model kemudian akan dibahas secara mendalam pada bab

kelima, mulai dari interpretasi model sampai dengan pembahasan faktor

penyebab transmisi harga tidak simetris antara harga GKP di level petani

dengan harga beras eceran level di konsumen. Untuk dapat menjelaskan

hasil pengujian model dengan kondisi industri beras di Indonesia yang riil,

maka pembahasan faktor penyebab transmisi harga tidak simetris akan

dikaitkan dengan kondisi struktur dan perilaku pasar serta kebijakan

perberasan yang ditetapkan Pemerintah pada periode tersebut. Hasil analisa

yang telah diuraikan pada bab kelima kemudian disimpulkan dalam bab

selanjutnya, untuk selanjutnya diusulkan saran dan rekomendasi.

1.8. Kerangka Penelitian

Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

membandingkan kondisi ideal dengan kondisi riil yang terjadi di industri

beras Indonesia setelah liberalisasi pasar yang dilakukan Pemerintah pada

tahun 1998. Gambaran kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian

ini secara lebih lengkap ditampilkan pada Gambar 1.2 di halaman

selanjutnya

Kebijakan liberalisasi pasar beras di Indonesia pada tahun 1998 dilakukan

dengan cara mencabut hak monopoli impor yang dimiliki oleh BULOG serta

menghapuskan tarif ekspor beras. Pada kondisi yang ideal, kebijakan

liberalisasi tersebut akan membuka peluang bagi pelaku usaha baru untuk

masuk ke pasar beras Indonesia, sehingga jumlah pelaku usaha di industri

beras akan bertambah.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

10

Universitas Indonesia Gambar 1.2. Kerangka Penelitian

Karakteristik Pasar Beras dan Kebijakan Perberasan di Indonesia

Kondisi Ideal :

Jumlah pedagang perantara bamyak

Pedagang perantara sebagai price taker

Perubahan harga GKP Petani ditransmisikan sempurna terhadap harga beras konsumen

Kondisi Saat Ini :

Jumlah pedagang perantara relatif sedikit

Pedagang perantara sebagai price maker

Perubahan harga GKP Petani ditransmisikan tidak sempurna terhadap harga beras konsumen

Tujuan Penelitian :

Pengujian kondisi asymmetric vertical price transmission pada harga beras level petani konsumen di Indonesia

Metode Penelitian :

Pengujian asymmetric vertical price transmission dengan menggunakan data harga GKP petani dan data harga beras eceran konsumen

Pergerakan Harga Beras Petani - Konsumen

Pergerakan Harga Beras Petani - Konsumen

Analisa penyebab asymmetric vertical price transmission pada harga beras level petani kosnumen di Indonesia dan keterkaitannya dengan struktur dan perilaku pedagang perantara

Kesimpulan dan Saran

YA TIDAK

Gap

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

11

Universitas Indonesia

Sesuai dengan teori ekonomi industri, pertambahan jumlah pelaku usaha

pada suatu industri akan menyebabkan market power yang dimiliki pelaku

usaha berkurang, sehingga pelaku usaha tidak memiliki kemampuan yang

cukup besar untuk mempengaruhi harga (price taker). Pada kasus rantai

pemasaran, pedagang perantara yang tidak memiliki market power akan

mentransmisikan perubahan biaya (harga pembelian produk) yang

dihadapinya terhadap harga jual produknya secara sempurna. Dengan kata

lain, perubahan harga di hulu rantai pemasaran akan ditransmisikan secara

sempurna terhadap perubahan harga di hilir.

Akan tetapi, pada kasus pasar beras di Indonesia, sejak liberalisasi pasar

beras yang dilakukan Pemerintah di tahun 1998 disparitas harga beras di

tingkat petani dengan tingkat konsumen semakin melebar. Hal ini dapat

mengindikasikan adanya dugaan market power yang dimiliki pedagang

perantara. Kondisi ini yang kemudian menjadi latar belakang dan tujuan dari

penelitian.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

12 Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN LITERATUR

2.1. Teori Integrasi Pasar dan Transmisi Harga

Para ekonom neo-klasik percaya bahwa harga merupakan indikator utama

yang dapat mencerminkan tingkat efisiensi suatu pasar. Transmisi harga dan

tingkat integrasi pasat dapat dijadikan indikasi efisiensi yang terbentuk antar

dua pasar yang saling berinteraksi, baik secara vertikal maupun spasial

(Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004).

Kondisi pasar persaingan sempurna dijadikan sebagai titik acuan dalam

menilai proses transmisi harga dan tingkat integrasi antar dua pasar. Premis

yang digunakan adalah transmisi harga akan berjalan sempurna apabila di

dalam pasar tidak terjadi friksi dan distorsi (Conforti, 2004). Tidak adanya

transmisi harga antar pasar yang saling melakukan transaksi dianggap akan

menyebabkan inefisiensi alokasi sumber daya dan menurunkan

kesejahteraan ekonomi di bawah titik keseimbangan pareto. Dengan kata

lain, transmisi harga yang sempurna akan berujung pada pasar yang berjalan

secara efisien.

Menurut Amikuzuno dan Ogundari (2012), khusus untuk bidang ekonomi

pertanian, analisa transmisi harga dan integrasi pasar sudah berkembang

sejak 50 tahun terakhir. Penelitian mengenai integrasi pasar dan transmisi

harga diawali dengan analisa tingkat integrasi dan transmisi harga antar dua

pasar yang berbeda wilayah geografisnya, yang kemudian disebut dengan

interaksi secara spasial. Penelitian kemudian berkembang untuk melihat

interaksi harga yang terjadi antar dua level pasar yang berada dalam satu

rantai pemasaran, yang kemudian disebut dengan interaksi secara vertikal.

Pada kasus spasial, interaksi harga akan berjalan sesuai hukum satu harga

(Law of One Price/LOP) sebagaimana dikemukakan oleh Enke (1951),

Samuelson (1952), serta Takayama dan Judge (1972) dalam Rapsomanikis,

et al. (2003), dimana harga antara dua pasar yang berbeda lokasi adalah

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

13

Universitas Indonesia

sama, selisih harga yang terjadi hanya sebesar biaya transfer antar kedua

pasar tersebut. Pada model tersebut, perubahan yang terjadi di sisi

permintaan dan penawaran di salah satu pasar akan mempengaruhi

perdagangan dan harga jual di pasar yang lain, sampai pada akhirnya

mencapai suatu titik keseimbangan harga yang tidak memungkinkan

terjadinya pertukaran perdagangan antara kedua pasar tersebut.

Pada kasus vertikal, integrasi pasar didefinisikan sebagai keterkaitan

hubungan antara suatu lembaga pemasaran dengan lembaga pemasaran

lainnya dalam suatu rantai pemasaran (Suparmin 2005 dalam Irawan dan

Rosmayanti 2007). Bustaman (2003) menyatakan bahwa integrasi pasar

vertikal penting untuk dipelajari guna mengetahui tingkat keeratan hubungan

antara pasar produsen dan pasar ritel/pedagang. Menurut Goodwin (2006),

tingkat transmisi harga pada satu rantai pemasaran dapat menjadi petunjuk

kinerja dari setiap level/lembaga pemasaran yang berada dalam rantai

pemasaran tersebut. Suatu rantai pemasaran dikatakan efisien dan

terintegrasi secara vertikal apabila pola interaksi harga antar level hanya

tergantung pada biaya produksinya. Dengan kata lain, perubahan harga pada

suatu level pemasaran akan ditransformasikan kepada level pemasaran

lainnya secara selaras. Dalam kasus beras, integrasi pasar beras dikatakan

efisien apabila perubahan harga beras di tingkat petani diikuti dengan

perubahan harga beras di tingkat konsumen dalam porsi yang sama.

Pada beberapa penelitian, integrasi pasar dalam jangka panjang cenderung

terjadi dalam bentuk integrasi yang lemah dan perkembangan transmisi

harga sering menunjukkan perilaku tidak simetri (asimetri). Asimetri harga

secara teoritis dapat terjadi dalam hubungannya dengan karakteristik

kompetisi yang tidak sempurna, misalnya akibat adanya lag informasi,

promosi, dan konsentrasi pasar (Henderson & Quant, 1980; Kinnucan &

Forker, 1987).

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

14

Universitas Indonesia

Analisa transmisi harga asimetri untuk produk pertanian pertama kali

dilakukan oleh Tweeten & Quance (1969), yang menggunakan teknik

variabel dummy untuk mengestimasi fungsi penawaran yang tidak dapat

diubah (Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004, hal. 594). Variabel dummy

digunakan untuk memisahkan harga bahan baku menjadi dua, yaitu variabel

yang hanya terdiri dari kenaikan harga input dan variabel yang hanya terdiri

dari penurunan harga input. Selanjutnya koefisien untuk kedua variabel

tersebut diestimasi dan dibandingkan. Hipotesis transmisi harga simetris

ditolak apabila kedua koefisien tersebut berbeda signifikan secara statistik.

Wolffram (1971) memperkenalkan teknik pemisahan variabel baru dengan

menggunakan data harga turunan (first difference) ke dalam persamaan yang

ajan diestimasi. Metode tersebut kemudian dimodifikasi oleh Houck (1979)

dengan mengeluarkan nilai observasi awal, karena level observasi yang

pertama dinilai tidak memiliki kekuatan penjelasan bebas. Ward (1982)

kemudian mengembangkan model Houck dengan menambahkan lag pada

variabel eksogen, seperti efek keterlambatan dan lamanya waktu lag, yang

tetap dapat dipisahkan antara efek kenaikan harga dan efek penurunan harga

(Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004, hal. 594-595).

Boyd & Brorsen (1988) adalah yang pertama menggunakan lag untuk

memisahkan transmisi dalam hal waktu penyesuaian (speed of adjustment)

dengan besaran penyesuaian (magnitude of adjustment) (Meyer & von

Cramon-Taubadel, 2004, hal. 595). Dari hasil estimasi, nilai koefisien

variabel menunjukan lamanya waktu penyesuaian pada periode tertentu, dan

nilai penjumlahan koefisien menunjukkan besaran penyesuaian.

Meyer dan von Cramon-Taubadel (2004) mengklasifikasikan metode

tersebut sebagai teknik pre-kointegrasi, dimana regresi terhadap lag

dipisahkan berdasarkan tandanya. Pada teknik ini sehingga perubahan atas

kenaikan harga (diinisiasikan dengan tanda positif) diperbolehkan untuk

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

15

Universitas Indonesia

memberikan efek yang berbeda dengan perubahan atas penurunan harga

(diinisiasikan dengan tanda negatif).

Penelitian-penelitian yang menggunakan teknik tersebut dalam analisa

transmisi harga antara lain analisa transmisi harga vertikal untuk industri

susu (Kinnucan & Forker, 1987), industri daging babi di Amerika (Boyd &

Brorsen, 1988), industri broiler di Amerika (Bernard & Willet, 1996),

analisa transmisi harga asimetris vertikal untuk tomat, bawang, susu bubuk,

kopi, beras, dan buncis di Brazil (Aguiar & Santana, 2002), dan analisa

harga asimetris pada industri tomat segar di Amerika (Girapunthong et al.,

2003).

Von Cramon-Taubadel & Fahlbusch (1994) merupakan yang pertama

mengenalkan konsep kointegrasi dalam model transmisi harga tidak simetris

dengan menggunakan konsep error correction model (ECM) (Vavra &

Goodwin, 2005, hal. 12). Prinsip utama model ini adalah dengan melihat

signifikansi penyimpangan (error) dari model keseimbangan jangka

panjangnya. Pada konsep kointegrasi, dua series harga dikatakan

terkointegrasi apabila pergerakan di salah satu series harga diikuti dengan

pergerakan harga di series lainnya secara sempurna (Wixson & Katchova,

2012, hal. 11). Apabila terdapat pergerakan harga yang menyimpang, maka

akan dimasukan sebagai bentuk error correction (error correction

term/ECT).

Konsep tersebut didasari oleh penelitian Engle & Granger (1987)

sebelumnya yang menunjukkan bahwa kointegrasi untuk data time series

yang tidak stasioner akan merepresentasikan nilai ECT yang valid

(Hassouneh, et al., 2012, hal. 7). Mereka menyebutkan bahwa teknik pre-

kointegrasi untuk analisa transmisi harga asimetri justru dapat menghasilkan

regresi lancung (spurious regression) karena menggunakan series data yang

tidak stasioner.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

16

Universitas Indonesia

Pada analisa transmisi harga dengan metode ECM, ECT kemudian

dipisahkan antara bentuk positif dengan bentuk negatif. ECT positif

menunjukkan kondisi penyimpangan di atas garis keseimbangan jangka

panjang, sementara ECT negatif menunjukkan kondisi penyimpangan di

bawah garis keseimbangan jangka panjangnya (Wixson & Katchova, 2012,

hal. 11). Vavra & Goodwin (2005) dan Acquah & Onumah (2010)

menyebutkan bahwa penggunaan metode ECM lebih disarankan

dibandingkan metode Houck yang konvensional.

Meskipun demikian, Meyer & von Cramon-Taubadel (2004) menyebutkan

bahwa analisa transmisi harga dengan menggunakan ECM hanya dapat

menggambarkan pola asimetris dari sisi waktu penyesuaian. Hal ini

disebabkan analisa kointegrasi dan ECM merupakan bentuk keseimbangan

jangka panjang, sehingga apabila transmisi harga tidak simetris terjadi dari

sisi besaran penyesuaian maka data tidak akan saling terkointegrasi.

2.2. Asymmetric Vertical Price Transmission

Transmisi harga dikatakan tidak simetris apabila terdapat perbedaan respon

harga antara shock harga positif (saat terjadi kenaikan harga) dengan shock

harga negatif (saat terjadi penurunan harga). Menurut Meyer & von-Cramon

Taubadel (2004), yang dimaksud dengan asimetri pada kasus transmisi harga

dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kriteria.

Kriteria yang pertama transmisi harga tidak simetris yang terjadi secara

vertikal atau spasial. Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya,

transmisi harga vertikal terjadi antar level pemasaran dalam satu rantai,

sedangkan transmisi harga spasial terjadi antar pasar yang berbeda lokasi

geografisnya. Sebagai contoh, transmisi harga vertikal yang tidak simetris

terjadi pada saat kenaikan harga di level petani ditransmisikan lebih cepat

dan lebih sempurna kepada harga di level konsumen, dibandingkan saat

terjadi penurunan harga di level petani. Sementara transmisi harga spasial

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

17

Universitas Indonesia

yang tidak simetris dapat dicontohkan melalui perbedaan respon harga

domestik terhadap harga internasional, dimana kenaikan harga internasional

lebih cepat dan lebih sempurna diadopsi oleh harga domestik dibandingkan

saat terjadi penurunan harga internasional.

Kriteria yang kedua merujuk kepada kondisi transmisi harga yang tidak

simetris dari sisi kecepatan waktu dan besaran penyesuaian harga. Dalam hal

kecepatan waktu penyesuaian, fenomena asimetris terjadi apabila shock

harga di salah satu pasar tidak dengan segera ditransmisikan oleh pasar

lainnya. Sementara dari sisi besaran, fenomena asimetris terjadi pada saat

shock harga di satu pasar tidak ditransmisikan secara penuh oleh pasar

lainnya. Kondisi transmisi harga yang tidak simetris dari sisi kecepatan

waktu dan besaran penyesuaian harga ditampilkan pada Gambar 2.1.

(a) (b)

(c)

Gambar 2.1. Transmisi Harga Tidak Simetris Dari Sisi Kecepatan dan Besaran

Sumber : Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004, Asymmetric Price Transmission : A Survey, Journal of Agricultural Economics Volume 55 Number 3, Nov 2004

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

18

Universitas Indonesia

Pada Gambar 2.1 diasumsikan sumber dari shock harga terjadi pada Pin. Dari

Gambar 2.1.a dapat dilihat bahwa terjadi perbedaan respon dari sisi besaran

penyesuaian harga di Pout antara shock positif dengan shock negatif yang

terjadi di Pin. Pada saat terjadi shock positif di Pin, Pout akan mentransmisikan

shock tersebut secara sempurna, dimana kenaikan harga yang terjadi di Pout

sama dengan kenaikan yang terjadi di Pin. Sementara saat terjadi shock

negatif di Pin, penurunan harga yang terjadi di Pout tidak terjadi dengan

sempurna. Hanya setengah dari shock negatif di Pin yang ditransmisikan oleh

Pout.

Gambar 2.1.b menjelaskan transmisi yang tidak simetris dari sisi kecepatan

waktu penyesuaian. Saat terjadi kenaikan harga di Pin pada waktu t1, Pout

akan dengan segera melakukan penyesuaian pada waktu yang sama.

Sementara saat di Pin terjadi penurunan harga, Pout tidak dengan segera

merespon penurunan harga tersebut, melainkan terdapat lag selama n.

Sehingga shock negatif di Pin baru akan ditransmisikan di Pout pada waktu

t1+n.

Gambar 2.1.c menjelaskan transmisi yang tidak simetris dari sisi kecepatan

waktu dan besaran. Kenaikan harga yang terjadi di Pin pada waktu t1, tidak

ditransmisikan seluruhnya pada waktu yang sama, melainkan hanya

setengahnya. Pada waktu t2 barulah seluruh shock positif di Pin

ditransmisikan secara sempurna. Sementara saat terjadi penurunan harga

pada waktu yang sama di Pin, proes transmisinya dilakukan pada waktu yang

lebih lama dibandingkan saat terjadi shock positif, yaitu pada waktu t3.

Respon penurunan harga yang terjadi di Pout pun tidak sebesar penurunan

harga yang terjadi di Pin. Hal ini menggambarkan bahwa terjadi transmisi

yang tidak sempurna dari sisi kecepatan waktu dan besaran penyesuaian

yang ditunjukan oleh Pout saat terjadi shock negatif di Pin.

Dalam Gambar 2.1 ditampilkan pula dampak hilangnya kesejahteraan akibat

adanya transmisi harga yang tidak sempurna, yang digambarkan dalam

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

19

Universitas Indonesia

bentuk area yang gelap. Menurut Meyer & von-Cramon Taubadel, transmisi

harga tidak simetris dari sisi kecepatan akan menghilangkan kesejahteraan

yang sifatnya sementara. Adapun ukuran/besaran kesejateraan yang hilang

sementara tersebut sangat tergantung pada panjangnya interval waktu

transmisi antara t1 dan t1+n, besarnya respon perubahan, dan volume

transaksi yang dilakukan (Gambar 2.1.b). Sedangkan transmisi harga tidak

simetri dari sisi besaran menyebabkan hilangnya kesejahteraan secara

permanen (Gambar 2.1.a), dan ukurannya hanya tergantung pada besarnya

respon perubahan harga dan volume transaksi yang dilakukan. Terakhir,

transmisi tidak simetris dari sisi kecepatan dan besaran akan menyebabkan

perubahan kesejahteraan yang bersifat sementara sekaligus permanen.

Meyer & von-Cramon Taubadel (2004) menambahkan bahwa hilangnya

kesejahteraan yang sifatnya sementara dalam jumlah besar dapat

memberikan dampak yang lebih buruk dibandingkan dengan hilangnya

kesejahteraan permanen dalam jumlah kecil yang terjadi saat ini.

Kriteria ketiga, mengacu pada Peltzman (2000), transmisi harga yang tidak

simetris dapat diklasifikasikan menjadi transmisi tidak simetris yang positif

dan transmisi tidak simetris yang negatif. Transmisi tidak simetris yang

positif adalah kondisi dimana shock positif akan direspon secara lebih cepat

dan/atau lebih sempurna dibandingkan saat terjadi shock negatif (Gambar

2.2.a). Sebalikannya, transmisi tidak simetris yang negatif adalah situasi

dimana shock negatif akan lebih cepat dan/atau lebih sempurna direspon

dibandingkan shock positif (Gambar 2.2.b).

Pada konteks transmisi harga vertikal dalam satu rantai pemasaran, transmisi

tidak simetris yang positif ataupun negatif tidak hanya dapat terjadi dari hulu

ke hilir saja, melainkan dapat pula terjadi sebaliknya (dari hilir ke hulu),

contohnya pada saat terjadi pergesaran kurva permintaan. Untuk

menghindari kesalahan penafsiran, Meyer & von-Cramon Taubadel (2004)

mendefinisikan transmisi harga tidak simetris yang positif adalah kondisi

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

20

Universitas Indonesia

transmisi harga yang lebih cepat dan/atau lebih sempurna terjadi saat adanya

tekanan terhadap margin (squeeze margin) dibandingkan saat adanya

penambahan margin (stretch margin). Yang dimaksud dengan squeeze

margin adalah pada saat terjadi kenaikan harga di hulu (Pin) atau penurunan

harga di hilir (Pout), sementara stretch margin adalah saat terjadi penurunan

Pin atau kenaikan Pout.

(a) (b)

Gambar 2.2. Transmisi Harga Tidak Simetris Positif dan Negatif

Sumber : Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004, Asymmetric Price Transmission : A Survey, Journal of Agricultural Economics Volume 55 Number 3, Nov 2004

Dalam hal kesejahteraan, apabila transmisi harga tidak simetris berjalan dari

hulu ke hilir, misal untuk kasus produk pertanian adalah dari petani ke

konsumen, maka transmisi tidak sempurna yang negatif dianggap baik bagi

konsumen. Hal ini disebabkan kenaikan harga input tidak akan

ditransmisikan kepada konsumen, sehingga konsumen akan selalu

menikmati harga yang rendah. Sebaliknya, transmisi harga tidak simetris

yang positif akan merugikan konsumen karena konsumen tidak pernah

menikmati penurunan harga yang terjadi di level petani. Akibatnya, harga di

level konsumen cenderung tinggi dan kesejahteraan konsumen akan

berkurang. Meskipun demikian, Vavra & Goodwin (2005) menyebutkan

bahwa untuk menghitung tingkat kesejahteraan maka perlu memperhatikan

faktor biaya transaksi (adjustment cost dan menu cost pada kasus transmisi

vertikal) dalam perhitungan transmisi harga.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

21

Universitas Indonesia

Menurut Vavra & Goodwin (2005), untuk analisa transmisi harga secara

vertikal setidaknya terdapat 4 (empat) pertanyaan yang fundamental untuk

menjelaskan proses transmisi harga yang terjadi (mengacu pada tipe-tipe

transmisi harga tidak simetris yang digambarkan sebelumnya). Pertanyaan-

pertanyaan tersebut adalah :

1. Seberapa besar respon penyesuaian harga di setiap level akibat

perubahan harga yang terjadi di level lainnya? (transmisi yang dilihat

dari sisi besaran);

2. Apakah terdapat lag penyesuaian yang signifikan? (transmisi yang

dilihat dari sisi kecepatan waktu penyesuaian);

3. Apakah transmisi harga secara positif dan negatif yang terjadi bersifat

asimetri?

4. Apakah terjadi perbedaan respon transmisi saat sumber shock terjadi di

hulu dengan saat sumber shock terjadi di hilir? (transmisi yang dilihat

dari sisi arah shock).

2.3. Penyebab Asymmetric Vertical Price Transmission

Berbagai literatur ekonomi telah secara khusus mengidentifikasi berbagai

faktor yang dapat menyebabkan terjadinya transmisi harga secara tidak

simetris, baik secara spasial maupun vertikal. Sebagian besar penelitian

mengaitkan fenomena transmisi harga yang tidak simetri dengan dugaan

adanya market power yang dimiliki pedagang di pasar (von Cramon-

Taubadel, 1998; Goodwin & Holt, 1999; Peltzman, 2000; dan McCorriston

& Shelton, 1999 dalam Vavra & Goodwin, 2005). Sebagian lagi

mengemukakan bahwa kehadiran biaya transaksi yang tinggi akan

menyebabkan transmisi harga antar pasar menjadi tidak simetris, meskipun

pasar tersebut berada pada persaingan sempurna (Zachariasse & Bunte, 2003

dalam Vavra & Goodwin, 2005).

Beberapa faktor lain yang diduga menjadi penyebab transmisi harga tidak

simetris antara lain : (1) masing-masing perusahaan akan menyikapi secara

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

22

Universitas Indonesia

berbeda dalam penyesuaian biaya tergantung apakah harga sedang naik atau

sedang turun; (2) pelaku pemasaran menahan barangnya pada saat harga

naik karena takut kehabisan stok (Kinnucan & Forker, 1987; Goodwin &

Holt. 1999); (4) market power industri dalam hubungannya dengan

karakteristik fungsi biaya yang sering bersifat increasing return to scale

(Mc. Corriston et al., 2000); (5) adanya intervensi pemerintah, misalnya

dalam bentuk kebijakan subsidi harga (Kinnucan & Forker, 1987; Gardner,

1975 dalam Vavra & Goodwin, 2005).

Menurut Conforti (2004) meskipun faktor yang mempengaruhi derajat

integrasi pasar dan transmisi harga secara spasial dapat pula digunakan

untuk menjelaskan proses transmisi harga secara vertikal, seperti market

power dan biaya transaksi, namun terdapat beberapa faktor yang khusus

dikaitkan dengan fenomena transmisi harga vertikal seperti increasing

return to scale pada produksi dan tingkat homogenitas dan diferensiasi

produk. Berikut dipaparkan beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan

transmisi harga tidak simetris secara vertikal.

2.3.1. Market Power dan Struktur Pasar Persaingan Tidak Sempurna

Sebagian besar literatur ekonomi menyebutkan bahwa struktur pasar

persaingan yang tidak sempurna menjadi faktor utama penyebab

transmisi harga yang tidak simetris (Kinnucan & Forker (1987),

Acharya (2000), McCoriston (2002), Lyod et al. (2003). Khusus

untuk produk pertanian, struktur pasar yang terbentuk pada level

manufaktur dan pedagang perantara mengarah pada struktur

persaingan tidak sempurna, terutama jika dibandingkan dengan

struktur pasar di level petani dan level konsumen. Hal ini

menyebabkan manufaktur dan pedagang perantara akan bertindak

sebagai pembentuk harga (price taker), sementara petani dan

konsumen akan bertindak sebagai penerima harga (price taker)

(Conforti, 2004). Akibatnya, manufaktur dan pedagang perantara

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

23

Universitas Indonesia

dapat dengan leluasa menyalahgunakan market power yang

dimilikinya untuk kepentingan kesejahteraan dan keuntungannya

sendiri, dan proses penyesuaian harga antar level pemasaran menjadi

tidak sempurna (Karantininis, 2011; Vavra & Goodwin, 2005).

Dalam investigasi yang dilakukan oleh Otoritas Pengawas

Persaingan di Inggris (UKs Competition Commission), analisa

transmisi harga menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk

membuktikan dugaan adanya market power yang dimiliki oleh

pelaku usaha di sektor ritel. Basis penelitiannya adalah melihat

transmisi harga yang dilakukan oleh supermarket akibat adanya

penurunan harga di level petani. Apabila harga tidak ditransmisikan

secara sempurna antar setiap level pemasaran maka konsumen akhir

tidak akan mendapatkan keuntungan dari penurunan harga di level

petani, dan sebaliknya. Hal ini menyebabkan permasalahan re-

distribusi consumer welfare (McCorriston et al., 2000).

Penyalahgunaan market power yang dilakukan oleh manufaktur dan

pedagang perantara umumnya menyebabkan transmisi harga tidak

simetris yang positif. Artinya, tekanan terhadap margin (margin-

squeezing) yang diakibatkan kenaikan harga input atau penurunan

jumlah permintaan akan dengan segara dan sempurna ditransmisikan

kepada level diatas atau dibawahnya, dibandingkan saat terjadinya

penambahan margin (margin-stretching) akibat perubahan harga

(Boyd & Brorsen, 1988); Meyer & von-Cramon Taubadel, 2004).

Menurut Balke et al (1998), Brown & Ycel (2000), dan Damania

& Yang (1998), transmisi harga tidak simetris yang positif terjadi

akibat adanya perjanjian tidak tertulis dan sanksi diantara pelaku

usaha yang berada di pasar oligopoli (Meyer & von-Cramon

Taubadel, 2004, hal. 587). Zachariasse & Bunte (2003) dalam Vavra

& Goodwin (2005) menambahkan bahwa dalam pasar oligopoli atau

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

24

Universitas Indonesia

oligopsoni terdapat interdependence antar pelaku usaha yang dapat

menyebabkan lag pada proses penyesuaian harga. Sebagai

gambaran, apabila terjadi kenaikan harga input maka seluruh pelaku

usaha akan dengan segera menyesuaikan harganya sebagai sinyal

bahwa tidak ada perjanjian yang dilanggar. Sementara pada saat

terjadi penurunan harga input, pelaku usaha akan saling menunggu

reaksi pesaingnya, untuk menghindari sanksi yang akan diterapkan

pesaingnya dalam bentuk perang harga. Kovenock & Widdows

(1998) menambahkan bahwa fenomena tersebut akan lebih

cenderung terjadi apabila market power antar pelaku usaha dalam

suatu pasar tidak sama, atau biasa disebut dengan pola price

leadership-price follower (Meyer & von-Cramon Taubadel, 2004,

hal. 588).

Ward (1982) dalam Serra & Goodwin (2002) menyebutkan bahwa

transmisi harga tidak simetris yang disebabkan oleh market power

juga dapat terjadi secara negatif, apabila manufaktur dan pedagang

perantara yang berada pada struktur pasar oligopoli beranggapan

bahwa kenaikan harga justru beresiko terhadap penurunan

marginnya. Bailey & Brorsen (1989) menambahkan bahwa transmisi

harga tidak simetris akan berjalan secara positif atau negatif

tergantung dari reaksi dari pesaing. Apabila suatu perusahaan

percaya bahwa tidak ada satu pun pesaingnya yang akan merespon

perubahan kenaikan harga, sementara pada saat terjadi penurunan

harga seluruh pesainganya akan dengan cepat merespon, maka yang

terjadi adalah transmisi harga tidak simetris yang negatif. Begitu

pula sebaliknya, apabila perusahaan percaya bahwa pesainganya

akan lebih bereaksi terhadap kenaikan harga dibandingkan

penurunan harga maka transmisi harga tidak simetris yang terjadi

adalah positif. Senada dengan hal tersebut, Meyer & von-Cramon

Taubadel (2004) menambahkan bahwa pada struktur pasar oligopoli,

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

25

Universitas Indonesia

transmisi harga tidak simetris dapat terjadi secara positif maupun

negatif, tergantung pada struktur dan perilaku pasar. Sementara pada

pasar monopoli, transmisi harga tidak simetris yang terjadi lebih

akan mengarah pada bentuk positif daripada negatif.

Meskipun berbagai penelitian telah mengaitkan tranmisi harga tidak

simetris dengan dugaan adanya market power yang dimiliki oleh

perusahaan manufaktur dan/atau pedagang perantara, namun

menurut Meyer & von-Cramon Taubadel (2004) hanya sedikit

penelitian yang secara khusus menganalisa keterkaitan antara market

power dengan transmisi harga asimetris. Salah satu penelitian untuk

melihat hubungan antara market power dengan transmisi harga

dilakukan oleh Peltzman (2000), dengan menggunakan data jumlah

pelaku usaha dan konsentrasi pasar dalam bentuk Herfindahl-

Hirschman Index (HHI) sebagai indikator market power. Hasil

penelitiannya menunjukkan anomali, dimana jumlah pelaku usaha

yang sedikit menyebabkan lag transmisi harga tidak simetris

semakin besar, namun derajat konsentrasi pasar justru menunjukkan

hal yang sebaliknya (transmisi harga simetris terjadi pada pasar yang

konsentrasinya tinggi). Dengan demikian penelitian ini gagal

menunjukkan dugaan transmisi harga tidak simetris yang disebabkan

oleh adanya market power. Hal senada diungkapkan oleh

Weldegebriel (2004) dalam Vavra & Goodwin (2005) yang

menyebutkan bahwa adanya kekuatan oligopoli dan oligopsoni tidak

selalu menyebabkan transmisi harga yang tidak sempurna. Menurut

Weldegebriel, fungsi permintaan di level ritel dan fungsi penawaran

di level petani merupakan faktor kunci yang menentukan tingkat

transmisi harga.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

26

Universitas Indonesia

2.3.2. Adjustment cost atau menu cost

Kekakuan dalam proses penyesuaian harga antar level dalam satu

rantai pemasaran sering pula disebabkan adanya sejumlah tambahan

biaya yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha untuk menyesuaikan

harganya. Dalam ilmu ekonomi biaya tersebut dikenal dengan

adjustment cost atau menu cost, seperti biaya yang digunakan untuk

melakukan perubahan label dan katalog harga, biaya periklanan,

serta biaya lain yang harus dikeluarkan untuk menyampaikan

perubahan harga kepada klien (Jensen & Mller, 2007; Meyer &

von-Cramon Taubadel, 2004).

Menurut Vavra dan Goodwin (2005), perubahan harga yang relatif

sering pun akan mempengaruhi reputasi dari pedagang perantara,

khususnya pedagang ritel yang berhubungan langsung dengan

konsumen akhir. Selain itu, menurut McCorriston et al. (2000),

ketidakpastian apakah perubahan harga terjadi secara permanen atau

hanya bersifat sementara menghalangi pedagang untuk merespon

sinyal perubahan harga. Sehingga perubahan harga yang tidak terlalu

signifikan tidak akan ditransmisikan secara sempurna oleh pedagang.

Lebih jauh lagi, Balke et al. (1998) menyebutkan bahwa manajemen

persediaan (inventory) perusahaan pun akan berpengaruh terhadap

proses transmisi harga (Meyer & von-Cramon Taubadel, 2004, hal.

590). Manajemen persediaan merupakan elemen penting yang

menentukan seberapa cepat proses adjustment shock yang dapat

dilakukan oleh suatu perusahaan. Dari hasil penelitianya, Balke et al

menyebutkan bahwa model penyimpanan persediaan secara FIFO

(first in first out) dapat menyebabkan transmisi harga yang tidak

sempurna.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

27

Universitas Indonesia

Menurut Reagan & Weitzman (1982) hubungan antara manajemen

persediaan dengan transmisi harga tidak simetris tergantung dari

kondisi permintaan yang dihadapi perusahaan. Pada periode

permintaan rendah, perusahaan akan cenderung mengurangi jumlah

penjualan dan meningkatkan jumlah persediaannya, dibandingkan

melakukan penurunan harga. Sebaliknya, pada saat permintaan

tinggi perusahaan akan langsung menaikan harga, sehingga terjadi

transmisi harga tidak simetris yang positif.

Ball dan Mankiw (1994) mengembangkan model yang

mengkombinasikan variabel menu cost dengan inflasi untuk melihat

fenomena transmisi harga asimetris. Hasilnya menunjukkan bahwa

kenaikan harga input lebih cepat disesuaikan dibandingkan

penurunan harga input. Dengan adanya inflasi, penurunan harga

input akan mengurangi margin riil yang dapat diterima pelaku usaha.

Dengan demikian, penurunan harga input tidak akan ditransmisikan

dalam bentuk penurunan harga output apabila terjadi inflasi.

Perbedaan mendasar antara transmisi harga yang disebabkan oleh

market power dengan adjustment cost adalah dalam hal waktu.

Adjustment cost yang besar hanya akan terjadi dalam jangka pendek,

sehingga sifatnya hanya menunda proses transmisi atau penyesuaian

harga, dan dalam jangka panjang akan terjadi penyesuaian harga

yang sempurna (Karantininis, 2011; McCorriston et al., 2000).

Sementara asimetri yang disebabkan oleh market power dapat

bertahan dalam waktu yang lama, karena tidak hanya berpengaruh

dari sisi time of adjustment tetapi juga mempengaruhi magnitude of

adjustment (Meyer & von-Cramon Taubadel, 2004).

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

28

Universitas Indonesia

2.3.3. Return to Scale dalam Produksi

Penelitian mengenai transmisi harga tidak simetris yang dikaitkan

dengan dugaan market power selalu mengasumsikan bahwa produksi

bersifat constant return to scale, artinya setiap penambahan satu unit

output disebabkan adanya penambahan satu unit input5. Menurut

McCorriston et al. (2000), asumsi constant return to scale akan

menghasilkan kesimpulan yang bias, karena menghilangkan potensi

korelasi antara skala ekonomi dengan perilaku harga yang diterapkan

oleh pelaku usaha. Kombinasi antara keduanya akan menghasilkan

proses transmisi harga yang berbeda. Untuk membuktikan dugaan

tersebut, McCorriston membandingkan nilai elastisitas transmisi

pada 3 (tiga) kondisi, yaitu 1) kondisi persaingan sempurna, 2)

kondisi persaingan tidak sempurna dan constant return to scale, serta

3) kondisi persaingan tidak sempurna dan increasing return to

scale6. Dalam penelitian tersebut dibandingkan pula kondisi kurva

permintaan, antara kurva permintaan yang linear dengan kurva

permintaan yang log-linear.

Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa untuk fungsi permintaan

yang linear, nilai elastisitas transmisi harga pada kondisi persaingan

tidak sempurna dan increasing return to scale lebih tinggi

dibandingkan nilai elastisitas pada kondisi persaingan tidak

sempurna dan constant return to scale. Sementara pada saat fungsi

permintaan bersifat log linear, nilai elastisitas transmisi harga untuk

kondisi persaingan tidak sempurna dan increasing return to scale

adalah yang tertinggi, bahkan dibandingkan kondisi persaingan

sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa asumsi non-constant return

to scale tidak hanya mempengaruhi derajat transmisi harga namun

5 Pindyck & Rubinfeld, 2009, Microeconomics, Seventh Edition. Pearson Prentice Hall. 6 Yaitu situasi dimana penambahan satu unit input menghasilkan jumlah output yang lebih dari satu unit.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

29

Universitas Indonesia

juga dapat menghilangkan pengaruh dari market power dalam proses

transmisi harga, tergantung dari fungsi permintaan yang dihadapi.

McCorriston menambahkan bahwa pada kondisi decreasing return

to scale, pengaruh market power terhadap proses transmisi harga

tidak simetris akan lebih besar.

Sama halnya dengan menu cost, pengaruh return to scale terhadap

transmisi harga akan berbeda antara jangka pendek dan jangka

panjang. Menurut Karantininis (2011), return to scale hanya akan

memberikan pengaruh jangka pendek dalam proses transmisi harga,

sementara untuk jangka panjang hanya faktor market power yang

akan berpengaruh terhadap transmisi harga.

2.3.4. Karakteristik Produk

Dalam penelitian yang dilakukan European Commision (EU-COM,

2009) disebutkan bahwa khusus untuk produk pertanian,

karakteristik produk, seperti daya simpan dan musiman, merupakan

faktor penting yang mempengaruhi tingkat integrasi pasar dan

transmisi harga produk pertanian. Ward (1982) dalam Serra &

Goodwin (2002) menyebutkan bahwa pada produk pertanian yang

daya simpannya singkat, pola transmisi harga asimetris yang terjadi

mengarah pada tipe negatif. Pedagang perantara yang menjual

barang-barang perishable cenderung tidak akan menaikan harga

outputnya meskipun terjadi kenaikan harga input. Alasannya adalah

pedagang khawatir barangnya tidak laku. Sehingga pedagang lebih

memilih menekan marginnya, dengan tidak menaikan harga output,

daripada harus menanggung kerugian yang lebih besar, akibat barang

yang tidak laku. Dalam kasus ini, transmisi harga asimetri akan

menguntungkan bagi supplier dan konsumen, sementara untuk

pedagang perantara akan cenderung merugikan.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

30

Universitas Indonesia

Namun menurut Heien (1980), dampak permasalahan perubahan

harga pada produk perishable sebenarnya relatif kecil jika

dibandingkan dengan produk-produk jangka panjang (Vavra &

Goodwin, 2005, hal. 8). Menurutnya, untuk barang yang memiliki

umur produk yang panjang, perusahaan yang terakhir melakukan

perubahan harga justru akan mendapatkan biaya yang lebih besar

akibat kehilangan reputasi perusahaan.

2.3.5. Kebijakan Pemerintah

Menurut Kinnucan dan Forker (1987), kebijakan pemerintah pun

dapat menyebabkan transmisi harga asimetris yang terjadi antar level

pemasaran. Perubahan harga di level petani yang relatif sering pada

dasarnya akan menyebabkan ketidakpastian bagi pedagang perantara

dalam menentukan harga jualnya, mengingat harga di level petani

merupakan biaya input bagi pedagang perantara. Apabila perubahan

biaya input tersebut bersifat sementara, maka tidak ada insentif bagi

pedagang perantara untuk melakukan penyesuaian harga.

Pada kasus kebijakan Pemerintah, hampir di semua negara

Pemerintah memiliki kebijakan intervensi harga (dalam bentuk floor

price) sebagai antisipasi saat terjadi penurunan harga di level petani,

yang tujuannya adalah untuk melindungi petani. Sebaliknya,

Pemerintah tidak akan melakukan intervensi apabila terjadi kenaikan

harga di level petani. Di satu sisi, kebijakan ini akan dapat

mengurangi ketidakpastian perubahan biaya yang dihadapi pedagang

perantara. Namun di sisi lain, kebijakan ini pun akan menyebabkan

transmisi harga di level petani ke level konsumen menjadi tidak

simetris. Penjelasannya adalah pada saat terjadi kenaikan harga di

level petani, pedagang akan menganggap bahwa perubahan tersebut

sifatnya permanen karena tidak akan ada intervensi Pemerintah.

Akibatnya, pedagang akan dengan segera melakukan penyesuaian

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

31

Universitas Indonesia

harga jualnya sesuai dengan kenaikan harga di level petani. Namun

pada saat terjadi penurunan harga di level petani, pedagang akan

percaya bahwa penurunan tersebut hanya bersifat sementara karena

Pemerintah akan segera melakukan intervensi. Sehingga pedagang

tidak akan dengan cepat melakukan penyesuaian harga jual saat

terjadi penurunan harga di level petani. Hal ini yang menyebabkan

terjadinya transmisi harga asimetris yang positif.

Penelitian serupa dilakukan oleh Serra dan Goodwin (2003) yang

melakukan studi terhadap transmisi harga pada produk-produk susu

(dairy products) di Spanyol. Dari penelitian tersebut disimpulkan

bahwa bahwa kelangkkan susu, pada besaran tertentu disebabkan

oleh sistem kuota yang ditetapkan Pemerintah. Sehingga mengarah

pada situasi dimana pabrik pengolah susu bersaing untuk

meningkatkan akses mereka terhadap kuota susu dan market share

penjualan mereka akan tetapi tidak mentrasmisikan peningkatan

harga di level petani secara penuh kepada harga di level ritel.

2.4. Penelitian terdahulu

Analisa transmisi harga tidak simetris telah banyak mengalami berbagai

perkembangan metodologi. Analisa transmisi harga yang sederhana

dilakukan dengan mengikuti metode Houck (1979) dalam Acquah dan

Onumah (2010), yang membagi efek perubahan harga antara shock kenaikan

harga dengan shock penurunan harga. Metode Houck kemudian disebut

dengan model statis, yang dapat ditulis dalam persamaan berikut :

(2.1)

dimana dan merupakan perubahan positif dan negatif yang

terjadi pada . Pengujian transmisi harga simetri dilakukam dengan

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

32

Universitas Indonesia

membandingkan koefisien dan , transmisi harga dikatakan tidak

simetris apabila kedua keofisien tersebut signifikan tidak identik.

Metode Houck dianggap tidak sesuai apabila terdapat hubungan kointegrasi

antara dua series data harga. Von Cramon-Taubadel mengusulkan

pendekatan ECM lebih valid untuk digunakan untuk pengujian transmisi

harga asimetris. Penggunaan ECM dalam analisa transmisi harga tidak

simetris pertama kali dilakukan oleh Granger dan Lee (1989) dalam Acquah

dan Onumah (2010), dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

(2.2)

(ECTt-1 = PA,t-1 - - PB,t-1) (2.3)

dimana merupakan bentuk penyimpangan dari keseimbangan jangka

panjang (keseimbangan kointegrasi) dari dan , yang kemudian

dipisahkan dalam bentuk positif ( ) dan negatif ( ).

menggambarkan kondisi saat penyimpangan berada di atas garis

keseimbangan jangka panjang. Sebaliknya, menggambarkan kondisi

saat penyimpangan berada di bawah garis keseimbangan jangka panjang.

Koefisien dan diharapkan bernilai negatif, artinya bahwa

penyimpangan yang terjadi akan kembali ke garis keseimbangan (Wixson &

Katchova, 2012). Kondisi asimetris ditentukan dengan membandingkan

keidentikan koefisien dengan .

Analisa transmisi harga asimetris dengan menggunakan ECM disebut

dengan model dinamis. Von Cramon-Taubadel dan Loy (1996) dalam

Acquah dan Onumah (2010) kemudian mengembangkan model dinamis

yang lebih kompleks, dengan menggabungkan model Houck dan model

ECM Granger. Persamaan model ECM yang dikembangkan Von Cramon-

Taubadel dan Loy adalah sebagai berikut :

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

33

Universitas Indonesia

(2.4)

Pada model ini, proses transmisi harga dapat dilihat dalam parameter jangka

pendek dan jangka panjang sekaligus. Hipotesa transmisi harga asimetris

akan ditolak apabila koefisien positif dengan koefisien negatif terbukti tidak

identik secara statistik. Pengujian koefisien dilakukan baik terhadap

koefisien jangka pendek ( = dan = ) maupun koefisien jangka

panjang ( = ).

Model ECM Von Cramon-Taubadel dan Loy dalam analisa transmisi harga

pun telah dinyatakan valid oleh Hassouneh et al. (2012). Hassouneh et al.

membandingkan beberapa model ekonometri dalam analisa transmisi harga,

dengan mempertimbangkan ada atau tidaknya unit roots dan kointegrasi

dalam dua data series harga. Mereka menyimpulkan bahwa VECM dan

ECM adalah model yang valid untuk menguji pola transmisi harga pada

kondisi data yang tidak stasioner namun terkointegrasi. Pada saat persamaan

jangka panjangnya menunjukkan pola yang tidak stasioner, maka persamaan

VECM dan ECM yang biasa tidak dapat digunakan sehingga diperlukan

metode AVECM atau AECM7.

Aplikasi metode tersebut dalam analisa transmisi harga untuk produk-

produk pertanian menjadi sangat popular. Beberapa analisa transmisi harga

vertikal yang menggunakan metode tersebut antara lain von Cramon-

Taubadel (1998), Rapsomanikis et al. (2004), Acquah & Onumah (2010),

dan Alam et al. (2010).

Penelitian yang dilakukan Alam et al. (2010) merupakan penelitian yang

paling ideal untuk digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini. Alam et

al. (2010) secara khusus meneliti dugaan transmisi harga beras tidak 7 Untuk kasus persamaan jangka panjang yang tidak linear, aplikasi model AVECM sama validnya dengan model Threshold Vector Error Correction (TVECM) maupun model Smooth Transition Vector Error Correction (STVECM).

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

34

Universitas Indonesia

simetris antara harga beras level pedagang grosir dengan harga beras level

konsumen di Bangladesh. Untuk membuktikan dugaan transmisi harga

asimetris, mereka menggunakan metode ECM Von Cramon-Taubadel dan

Loy, dimana harga beras level pedagang grosir bertindak sebagai variabel

independent dan variabel harga beras level konsumen sebagai variabel

dependent-nya. Penentuan variabel dependent dan independent dilakukan

dengan metode VECM.

Meskipun penelitian ini menggunakan penelitian Alam et al. (2010) sebagai

referensi, namun akan dilakukan beberapa modifikasi diantaranya (1) data

harga yang digunakan adalah harga gabah kering panen (GKP) di level

petani dan harga eceran beras di level konsumen; (2) pengujian kausalitas

dilakukan dengan menggunakan Granger test yang kemudian dibandingkan

dengan teori dan karakteristik perdagangan beras; dan (3) pengujian

asimetris dilakukan dengan menggunakan model asimetris Granger Lee

(1989) dan model asimetris Von Cramon-Taubadel dan Loy (1996).

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

35 Universitas Indonesia

BAB 3 GAMBARAN PERBERASAN INDONESIA

Beras merupakan komoditas strategis di Indonesia. Menurut Dodge &

Gemessa (2012), berdasarkan data Susenas tahun 2010, sebanyak 98.5%

masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan pangan

pokoknya. Program diversifikasi pangan yang gagal menyebabkan beras

masih menjadi pangan utama di berbagai daerah. Bahkan daerah yang

sebelumnya mempunyai pola pangan pokok bukan beras pun beralih

mengkonsumsi beras, seiring dengan peningkatan pendapatan yang

diperoleh. Sehingga beras berperan penting dalam mewujudkan ketahanan

pangan8 masyarakat Indonesia. Selain itu, usaha tani padi masih menjadi

urat nadi perekonomian di pedesaan. Menurut Mardianto & Ariani (2004),

sebanyak 20 juta keluarga petani dan buruh tani menggantungkan hidupnya

pada usaha tani padi. Akibatnya, gejolak yang terjadi pada komoditas beras

tidak hanya akan menyebabkan kerawanan ekonomi, tetapi juga kerawanan

sosial dan politik, yang berujung pada kegoyahan stabilitas negara.

Sebagai salah satu komoditas pertanian, beras memiliki karakteristik

penawaran dan permintaan yang unik. Fungsi penawaran maupun fungsi

permintaan beras bersifat inelastis terhadap perubahan harga (Prastowo et

al., 2008). Petani sebagai produsen tidak bisa serta merta meningkatkan

produksinya ketika terjadi kenaikan harga, karena padi termasuk dalam

kelompok tanaman musiman. Begitu pula halnya dengan konsumen yang

tidak dapat mengurangi permintaannya secara drastis ketika harga beras

eceran meningkat.

Kondisi tersebut menyebabkan perlunya suatu formulasi kebijakan yang

khusus, guna menjembatani kepentingan produsen dan konsumen sekaligus.

8 Definisi ketahanan pangan, menurut UU No 7 Tahun 1996 Pasal 1 Ayat 17, adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.

Analisa integrasi..., Firdaussy Yustiningsih, FEUI, 2012

36

Universitas Indonesia

Di sisi petani, kebijakan yang diambil Pemerintah harus mampu

meningkatkan pendapatan petani, sehingga petani memiliki insentif untuk

tetap menanam padi dan meningkatkan produktivitasnya. Di sisi lain,

kebijakan tersebut pun harus mampu menjamin harga eceran beras yang

terjangkau di level konsumen. Kebijakan perberasan dikatakan efektif

apabila dapat mempertahankan harga yang baik di tingkat produsen dan

pada saat yang sama tidak terlalu memberatkan konsumen.

3.1. Gap Antara Pola Produksi dan Konsumsi Beras

Sebagai negara agraris, pada dasarnya produksi padi/beras di Indonesia

sudah cukup besar. Dari berbagai penelitian yang mengkaji pola permintaan

dan penawaran beras dalam negeri menyebutkan bahwa secara statistik

produksi beras di dalam negeri mampu mencukupi seluruh kebutuhan

(konsumsi) beras masyarakat Indonesia (Prastowo et al, 2008;

Kusumaningrum, 2008; Arifin, 2011). Sebagai gambaran di tahun 2007,

jumlah produksi padi Indonesia mencapai 57.05 juta ton, atau setara dengan

29.57 juta ton beras, sementara jumlah konsumsi beras dalam negeri adalah

26.99 juta ton. Dengan demikian di tahun 2007 Indonesia memiliki surplus

beras sebanyak 2.62 juta ton.

Secara statistik, jumlah produksi beras di Indonesia terus mengalami

peningkatan setiap tahunnya, meskipun peningkatannya tidak terlalu besar.

Data BPS menunjukkan produktivitas lahan padi di Indonesia pun

mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 produktivitas lahan padi rata-rata

sebesar 47.26 kuintal/hektar, sementara di tahun 2011 produktivitasnya

mencapai 50.09 kuintal/hektar9. Hal ini menunjukkan bahwa produksi padi

Indonesia mengalami pola increasing return to scale yang melambat.

Apabila membandingkan dengan jumlah konsumsi beras tahunan, Indonesia

telah mengalami surplus beras se