Analgetika kebidanan

download Analgetika kebidanan

of 57

  • date post

    28-May-2015
  • Category

    Technology

  • view

    8.604
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Analgetika kebidanan

  • 1. ANALGETIKA Endang Yuniarti, S.Si., M.Kes, Apt Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

2. Rasa Nyeri

  • Suatu perasaan sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dengan disertai kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau yang dikemukakan dalam pengertian kerusakan semacam itu
  • Bersifat individual dan kontekstual
  • Tidak selalu ada hubungan yang jelas antara kerusakan jaringan dan rasa nyeri

3. Lanjutan..

  • Batas nyeri untuk suhu adalah konstan antara 44 45 derajat celcius.
  • Nyeri merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi tubuh.
  • Nyeri sebagai isyarat bahaya adanya gangguan di jaringan, seperti peradangan (encok, rheuma), infeksi jasad renik, atau kejang otot

4. Lanjutan

  • Mediator nyeri disebut juga autocoida, terdiri dari antara lain, histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin.
  • Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat dimana nyeri dirasakan untuk pertama kali jadi sebagai rangsangan terendah saat seseorang merasakan rasa nyeri.

5. Patofisiologi Nyeri

  • Perjalanan impuls rasa nyeri tergantung pada potensial aksi dalam neuron pada jaras nyeri.
  • Penyatuan serabut saraf untuk rasa nyeri serta sentuhan dan tractus desendens analgetik terdapat pada kornu dorsal medula spinalis yang dinamakan pintu gerbang rasa nyeri atau pain gate kerja opioid

6. Lanjutan

  • Jaras nyeri membentuk sinaps dalam formatio-retikularis batang otak. Disini jaras nyeri mengaktifkan sistem saraf simpatik dan meningkatkan :
    • Tingkat kesadaran dan kesiagaan
    • Respirasi
    • Frekuensi jantung
    • Emesis
    • Pengeluaran keringat/respirasi
  • Jaras nyeri dapat mendominasi korteks serebri dengan menyingkirkan pertimbangan lain
  • Nyeri hebat dapat menimbulkan konsekueansi fisiologis yang merugikan

7. DEMAM

  • Demam adalah suatu gejala yaitu reaksi tangkis yang berguna bagi tubuh terhadap infeksi.
  • Suhu diatas 37 derajat C makrofag dan limfosit menjadi lebih aktif, tapi diatas 40-41 derajat C merusak otak.
  • Antipiretika : Pengurang demam, berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hypothalamus, vasodilatasi perifer dan keluar banyak keringat dan kalor.

8. Nyeri melahirkan

  • Nyeri yang hebat dan tidak dapat diredakan
  • bukan hanya memberi pengalaman melahirkan
  • yang sangat negatif kepada ibu, tetapi juga
  • dapat menimbulkankonsekuensi fisiologis
  • yang merugikan.

9. Peningkatan frekuensi dan kedalaman respirasi

  • Hiperventilasi dengan cepat akan meningkatkan kadar CO2 di dalam tubuh sehingga terjadi vasokonstriksi pada sirkulasi darah maternal dan plasental, yang membahayakan keselamatan janin.

10.

  • Diantara saat-saat kontraksi uterus, kekurangan CO2 akan menurunkan dorongan untuk bernapas dan mengurangi frekuensi respirasi, mengakibatkan hipoksia pada ibu dan janinya

11. Takikardi

  • Takikardi dapat menurunkan curah jantung. Jika curah jantung menurun, pengiriman oksigen ke dalam otot tidak cukup untuk melangsungkan respirasi otot yang aerob, sehinggaakan terjadi penumpukan asam laktat yang membuat ibu hamil semakin mengalami asidosis

12. Hipertensi

  • Setiap kenaikan tekanan darah yang mendadak dapat mengancam sirkulasi serebral.
  • Stasis lambung dan emesis
  • Rasa nyeri menyebabkan stasis lambung dan gangguan saraf otonom. Nyeri yang hebat dapat menimbulkan mual dan muntah

13. 4 TINGKAT RASA NYERI

  • Nyeri ringan, dapat diobati dengan analgetika perifer.
  • Nyeri sedang, dapat diobati dengan analgetika perifer dan kofein atau kodein.
  • Nyeri yang disertai pembengkakan atau akibat trauma karena jatuh, sebaiknya diobati dengan antiradang
  • Nyeri hebat, diobati dengan analgetika sentral.

14. PENANGANAN RASA NYERI

  • Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetika perifer.
  • Merintangi penyaluran rangsangan di syaraf-syaraf sensoris misal dengan anestetika lokal.
  • Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral atau dengan anestetika umum.

15. Obat-obat yang digunakan

  • Analgetika perifer,contoh: Paracetamol
  • Anti inflamasi: NSAID
  • Analgetika sentral: OPIOID
  • Analgetika inhalasi: N2O

16. ANALGETIKA

  • Analgetika atau penghalang rasa nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.

17. ANTI INFLAMASI

  • Anti radang
  • Zat yang menghalangi atau mengurangi gejala-gejala inflamasi melalui penghambatan release atau kerja mediator nyeri

18. ZAT-ZAT TERSENDIRI

  • Asetaminofen
  • Asam asetil salisilat
  • Fenilbutazon
  • Ketorolac
  • Asam mefenamat
  • Tramadol
  • Ibuprofen
  • Diklofenak
  • Piroksikam

19.

  • Etodolac
  • Ketoprofen
  • Meloxicam
  • Celecoxib
  • Lumiracoxib

20. Asetaminofen

  • Mekanisme kerja : mengurangi panas dengan langsung berpengaruh pada hypothalamus sehingga menyebabkan vasodilatasi dan berkeringat
  • Use :Khasiat antipiretika dan analgetika tetapi tidak antiradang,untuk rasa sakit yang sedang atau ringan

21. Lanjutan

  • Absorpsi usus sempurna dan untuk bentuk sediaan suppositoria kurang.
  • PP 8 43 %, t 1-3 jam, neonatus 2-5 jam antara kadar plasma dan efek tak ada hubungan.
  • Dalam hati dimetabolisir menjadi metabolit-metabolit yang toksis dan diurai menjadi bentuk glukoronid dan sulfat.
  • Efek samping yang sering muncul adalah reaksi hipersensitifitas, dan kelainan darah.

22. Lanjutan

  • Dosis : 2-3 kali 0,5 1 gram sehari, untuk anak-anak 10 mg / kg berat badan.
  • Rektal : 20 mg / kg berat badan, dewasa 4 kali sehari 0,5 1 gram
  • Interaksi : dengan memperkuat efek antikoagulansia, pada dosis biasa tidak terjadi.
  • Interaksi dengan barbiturat, carbamazepin, rifampisin, (efek parasetamol berkurang) dipisah 1 jam berikutnya
  • Interaksi dg rifampisin, inh, carbamazepin, rifampisin, etanol meningkatkan efek hepatoksis
  • Dengan khloramfenikol memperpanjang waktu paruhnya.
  • Dengan zidovudin maka meningkatkan resiko akan neutropenia.

23. Nursing actions

  • Physical assessment: sejarah penyakit liver dan alkoholik
  • Patient education:
    • Jangan menambah dosis dan frekuensi
    • Diminum bersama makanan atau susu
    • Amati peristiwa yang terjadi selama menggunakan obat ini

24. ASETOSAL

  • Merupakan analgetika tertua (1899),
  • Mempunyai sifat anakgetika kuat, dan pada dosis kecil 40-100 mg, menghambat agregasi trombosit.
  • Analgetika pengurang rasa sakit.
  • PP 90-95%, t 15-20 menit, 2-3 jam
  • Kontraindikasi: asma, rhinitis, nasal polips, anak dengan infeksi virus (dengue, chickenpox, flu),

25. Lanjutan.

  • Efek samping : iritasi lambung sangat kuat, sehingga muncul tukak lambung dan perdarahan tersembunyi.
  • Reaksi alergi kulit dan tinnitus, kejang-kejang bronchi yang hebat,
  • Anak kecil yang selesma/cacar air jangan diberi, bisa menyebabkan Reye : muntah hebat, termangu-mangu, gangguan pernafasan, dan konvulsi, kadang sampai koma.
  • Jangan diberikan pada pasien dengan antikoagulan
  • Monitor LED

26. Lanjutan..

  • Wanita hamil dan menyusui dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi obat ini karena dapat memperpanjang masa kehamilan, memperhebat perdarahan dan persalinan dapat diperpanjang.
  • Interaksi : Memperkuat kerja antikoagulasia, antidiabetik oral, dan metotreksat.
  • Alkohol memperkuat perdarahan lambung.
  • Dosis : 4 kali sehari 0,5 -1 g sehari. Anak-anak 20 mg/kg berat badan.
  • Seminggu sebelum operasi tidak boleh menggunakan asetosal

27. Lanjutan..

  • Mekanisme kerja:
    • menghambat sintesa prostaglandin sebagai antiradang.
    • Bekerja pada pusat panas di hypothalamus sehingga panas berkurang
    • Memblok sintesa prostaglandin dengan pencegah terbentuknya senyawa platelet-agregrating thromboxan A2

28. Nursing actions

  • Physical assessment: perhatikan bila alergi, monitor bila terjadi overdose,
  • Patient education: diminum bersama makanan atau susu, diikuti minum yang banyak 200 ml (2-3 l/hari)
  • Dietary issues: minum bersama makanan dan susu dg banyak minum