ALSIN FIRMAN

download ALSIN FIRMAN

of 21

  • date post

    08-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    73
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ALSIN FIRMAN

LAPORAN TETAP FIELDTRIP PAGARALAM ALAT DAN MESIN PERTANIAN

OLEH : FIRMANSYAH 05091003046

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2011

1

Kata Pengantar

Puji dan syukur salam kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat Nya kita diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan laporan fieldtrip mata kuliah alat dan mesin pasca panen dengan optimal dan tepat waktu. Tak lupa shalawat serta salam nabi besar nabi Muhammad SAW, beserta keluarga serta para sahabatnya yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang menuju alam terang benderang seperti sekarang ini. Ucapan terima kasih kepada dosen pengajar dan juga asisten yang telah membimbing dalam hal materi maupun praktikum ini sehingga kami dapat menyelsaikan laporan ini. Terima kasih kepada teman-teman yang juga ikut mendukung dalam praktikum tersebut. Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan maupun kekeliruan dalam laporan ini. Untuk itu penulis sangat berharap kritik dan saran yang bersifat membangun di masa yang akan datang.

Indralaya, 21 Mei 2011

Penulis

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar..i Daftar Isi..ii I.Pendahuluan A.Latar Belakang....4 B.Tujuan..7 II.Tinjauan Pustaka A,Teh (Camelia sinensis).....8 B. Kopi (Coffea sp) ....9 C. Bunga Krisan (Chrysanthemum sp) ..11 III.Waktu dan Pelaksanaan.13 IV.Pembahasan A.Teh (Camelia sinensis)...14 B.Kopi (Caffea sp) .15 C.Bunga Krisan (Chrysanthemum sp)16 V.Kesimpulan dan Saran A.Kesimpulan18 B.Saran..18 Daftar pustaka19 Lampiran

3

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Negara Indonesia mempunyai 100 juta penduduknya yang bekerja di dalam sektor pertanian (agraris), Indonesia perlu memiliki kebijakan yang jelas dalam hal pembangunan industri alat dan mesin pertanian (alsintan). Dalam bidang pertanian, terutama bidang teknologi pertanian mempunyai ruang tersendiri, antara lain : prapanen, pasca panen, dan teknik pengolahan hasil pertanian. Khusus dibidang teknologi pertanian kita akan mempelajari tentang alat-alat mesin pertanian dan cara pengolahan hasil pertanian Pertanian di Indonesia secara umum masih diusahakan dengan sistem tradisional dan tingkat efisiensi produksinya relatif sangat rendah. Salah satu upaya peningkatan efisiensi produksi dapat dilakukan dengan cara itroduksi alat dan mesin pertanian. Introduksi alsin yang kurang tepat dapat memperbesar inefisiensi produksi. Sistem usaha pertanian yang masih perlu ditingkatkan efisiensi produksinya adalah sistem usaha pertanian di lahan kering. Di Indonesia jumlah lahan kering mencapai 4.594.036 Ha di Jawa dan 57.779.658 Ha di luar Jawa (BPS, 2003). Lahan kering mempunyai potensi yang cukup besar untuk meningkatkan pendapatan petani. Pada lahan kering, berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan kehutanan dapat diusahakan. Dibandingkan dengan komoditas padi, harga produk hasil pertanian lahan kering cukup tinggi dan sampai saat ini belum diusahakan secara maksimal. Dukungan alsintan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi dan optimalisasi pengolahan pasca panennya, sehingga diharapkan pendapatan petani dapat meningkat Teknologi pertanian mempunyai ruang lingkup tersendiri, antara lain prapanen, pasca panen, dan teknik pengolahan hasil. Di bidang teknologi pertanian kita juga mempelajari tentang alat-alat dan mesin pertanian serta cara pengolahan hasil pertanian tersebut hingga dapat digunakan. Penggunaan alat-alat mekanis dan mesin pertanian ditujukan untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal dan lebih 4

baik. Di zaman yang modern ini penggunaan alat-alat tersebut jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Kemajuan teknologi tersebut menyebabkan hasil produksi dapat bertambah serta mutu yang dihasilkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Alat-alat dan mesin pertanian tersebut dibuat lebih spesifik sesuai dengan fungsi masing-masing. Alat dan mesin pertanian telah digunakan dalam usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Penggunaan alat dan mesin pertanian telah dirasakan manfaatnya oleh petani khususnya tanaman pangan dalam mempercepat pengolahan tanah, pengendalian hama, panen dan perontokan khususnya di daerah intensifikasi. Namun demikian jumlah alat dan mesin pertanian masih sangat sedikit dibanding dengan luas lahan yang ada. Ditinjau dari jumlah alat dan mesin yang digunakan, level mekanisasi pertanian masih berada + 30 persen. Indonesia merupakan negara agraris, dimana mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah petani. Indonesia juga merupakan salah satu negara

pegunungan dan sebagian besar dari pegunungan yang ada di Indonesia masih dalam keadaan aktif. Indonesia merupakan wilayah pegunungan, maka suhu atau iklim di Indonesia cocok untuk tanaman yang membutuhkan suhu rendah atau dingin, contohnya adalah tanaman teh dan kopi di bagian wilaya Pagar Alam Sumatra Selatan. Pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat atau disebut dengan pertanian dalam arti sempit, perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan rakyat dan perkebunan besar), kehutanan, peternakan dan perikanan dalam perikanan dikenal pembagian lebih lanjut yaitu perikanan darat dan perikanan laut. Tanah yang baik adalah tanah yang mampu menyediakan unsur-unsur hara secara lengkap, namun pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi doleh faktor-faktor penunjang kesuburan tanah, selain harus mengandung zat oragnik dan anorganik, air dan udara yang tidak kalah penting adalah pengolahan tanah yang bertujuan memperbaiki struktur tanah. Tanah yang gembur akibat pengolahan memiliki

rongga-rongga yang cukup untuk menyimpan air dan udara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanamna. Kondisi ini juga menguntungkan bagi mikroorganisme tanah

5

yang berperan dalam proses dekomposisi mineral dan zat oraganik tanah, sehingga zat hara dibutuhkan tanaman mudah diserap oleh tanaman. Tanaman teh masuk ke Indonesia pada tahun 1686 yang dibawa oleh Dr. Andreas eyer yang berkebangsaan Belanda. Pada saat itu teh hanya dikenal sebagai tanaman bonsai atau tanaman hias. Teh sudah dikenal di Cina sejak zaman dahulu, yang mana teh ini dijadikan minuman para bangsawan dan digunakan sebagai obat. Pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai memperhatikan teh dengan mendatangkan biji-biji teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudidayakan di pulau Jawa. Usaha perkebunan teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan bagi pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat Indonesia. Perkebunan dan Pabrik Pengolahan Teh Unit Usaha Pagar Alam merupakan salah satu Unit Usaha dari PT. Perkebunan nusantara VII (persero) yang didirikan pada tahun 1929 oleh perusahaan Belanda yaitu NV. Landbouw Maata Chapij. Perusahaan tersebut sempat dikuasai oleh Jepang, tetapi akhirnya berhasil direbut kembali. Perkebunan teh Unit Usaha Pagaralam yang terletak di kaki Gunung Dempo merupakan satu-satunya Unit Usaha di lingkungan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) yang mengelola budidaya teh. Lokasi perkebunan teh Pagaralam berada di Kelurahan Gunung Dempo Kecamatan Pagaralam Selatan yang berjarak 9 km Kota Pagaralam, 69 km dari Kota Lahat, 300 km dari Kota Palembang ibukota Propinsi Sumatera Selatan dan 660 km dari Kantor Direksi PTPN VII (Persero) Bandar Lampung. Kondisi topografi relatif lereng dan bergelombang dengan jenis tanah umumnya Andosol. Areal kebun berada pada ketinggian sekitar 950 M-1.450 M di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata pertahun 2.500 mm-3.000 mm. Musim basah selama 10 bulan dan kering selama 2 bulan, memiliki kelembaban udara berkisar antara 60 %-85 % dengan suhu udara berkisar antara15oC-26oC. Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping

6

itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat.Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi arabika di Indonesia adalah kurang diperhatikannya penggunaan varietas unggul yang telah diajurkan. Masih banyak pekebun yang menggunakan bahan tanam berasal dari varietas lokal yang diperoleh karena kenampakannnya lebih unggul dibanding kopi disekitarnya. Bahkan beberapa diantaranya menggunakan benih varietas bukan anjuran yang berasal bukan dari kebun benih.Salah satu faktor penentu berhasilnya budidaya kopi arabika adalah penggunaan bahan tanam sesuai anjuran. Dengan bahan tanam pilihan, teknik budidaya yang benarm serta sistem pengolahan yang baku, dapat diharapkan hasil produksi yang berkualitas baik.

Klon Kopi Robusta berdasarkan Iklim dan Tinggi Tempat Klon Kopi Robusta untuk Batang Bawah Harga kopi dipasaran cukuplah tinggi, ini disebabkan karena biaya perawatan

tanaman kopi cukup mahal. Untuk memperoleh hasil yang maksimal dan kualitas yang baik, sekarang para pengelola kopi banyak menggunakan teknologi modern, tapi teknologi modern ini banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan saja karena alat yang digunakan relatif mahal. Perkebunan ini merupakan kumpulan dari kebunkebun kecil yang dimiliki oleh petani. Mereka tidak mempunyai modal, teknologi, dan pengetahuan yang cukup untuk mengelola tanaman yang mereka miliki secara optimal. Dengan demikian, produktivitas tanaman relatif rendah dibandingkan dengan potensinya. Selain itu, petani umumnya juga belum mampu menghasilkan biji kopi dengan mutu seperti yang dipersyaratkan untuk ekspor.

B. Tujuan Tujuan kunjungan lapangan ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang alat dan mesin pasca panen proses pemetikan teh, penyanggraian kopi dan pembudidayaan bunga krisan.

7

II.TINJAUAN PUSTAKA

A.Teh (Camelia sinensis) Tanaman teh (Camelia sinensis) diduga berasal dari d