Airlangga materi seminar iacf dpr

download

of 14

Embed Size (px)

description

 

transcript

  • 1. Korupsi di Sektor Perijinan dan Investasi Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI
  • 2. Outline Peran strategis investasi dalam perekonomian; Tantangan perekonomian nasional; Tantangan di sektor perijinan dan investasi Iklim investasi yang masih buruk; Reformasi birokrasi yang lamban; Tumpang tindih kebijakan antar sektor/antara pusat dan daerah/antar daerah Implikasi ketidakpastian di sektor perijinan dan investasi Contoh kasus masalah merijinan dan investasi Sektor pertambangan mineral dan batubara; Sektor migas; Sektor penanaman modal Upaya-upaya prioritas 2
  • 3. Peranan Strategis Investasi dalam Perekonomian Investasi, baik yang bersumber dari dalam negeri (PMDN) maupun luar negeri (PMA), sangat berperan, antara lain bagi: Sumber pembiayaan bagi kegiatan pembangunan; Pemerataan kegiatan pembangunan; Pembiayaan kegiatan riset dan pengembangan teknologi; Peningkatan nilai tambah dan daya saing ekonomi nasional; dan Pengembangan SDM & Penciptaan lapangan kerja; Peningkatan kesejahteraan masyarakat; Peluang Indonesia sebagai tujuan investasi cukup besar, didukung oleh: Kepemilikan atas sumberdaya alam; Jumlah penduduk/pasar ekonomi yang besar; dan Situasi politik yang relatif stabil; Sejumlah faktor yang mempengaruhi kegiatan investasi, antara lain: Kemudahan dalam berinvestasi; Kepastian hak dan kewajiban; Keterbukaan informasi; Jaminan kepastian hukum; Jaminan kepastian berusaha; Jaminan keamanan berusaha Jaminan perlakuan yang adil 3
  • 4. Tantangan Perekonomian Nasional Infrastruktur yang belum memadai, antara lain terkait: Sistem logistik; Jaringan transportasi; Bandara & pelabuhan; dan Listrik/energi Tingkat korupsi yang masih tinggi; Menyebabkan output dari kegiatan pembangunan dan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat tidak optimal; Menghambat investasi 4 Ekonomi Biaya Tinggi Daya Saing Rendah Permasalahan daya saing harus menjadi prioritas di tengah persaingan yang makin ketat; Tahun depan kita mulai menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, melalui implementasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
  • 5. Tantangan di Sektor Perijinan & Investasi(1) Dalam 5 tahun terakhir upaya untuk perbaikan iklim investasi mengalami stagnasi; Berdasarkan indikator Ease of Doing Business, pada tahun 2010 Indonesia berada di peringkat 122, dan 2014 berada di peringkat 120, tidak mengalami perkembangan signifikan; Bandingkan dengan sejumlah negara berikut: Singapura tetap di peringkat 1 Malaysia meningkat dari peringkat 23 ke peringkat 6; Brunei, meningkat dari peringkat 96 ke peringkat 59; Filipina, meningkat dari peringkat 144 ke peringkat 108; Brazil, meningkat dari peringkat 129 ke peringkat 116; 5 2010 2011 2012 2013 2014 122 121 129 128 120 Ease of Doing Business (DB) Indonesia 2010-2014 Peringkat 89 129 133 1 23 12 93 96 144 96 116 134 1 6 18 99 59 108 Perkembangan DB Beberapa Negara 2010 2014
  • 6. Tantangan di Sektor Perijinan & Investasi(2) Birokrasi yang belum efektif masih menjadi salah satu kendala utama dalam kegiatan investasi dan upaya percepatan pembangunan ekonomi nasional; Proses reformasi birokrasi yang berjalan lamban, antara lain terkait permasalahan: Kapasitas kelembagaan pemerintahan di daerah; Standar dan prosedur: persyaratan; proses yang berbelit-belit; ketidakpastian waktu; ketidakpastian biaya; dan pungutan liar Transparansi/akses dan keterbukaan informasi; Kebijakan-kebijakan yang bersifat reaksioner dan temporer; Kualitas, profesionalisme dan integritas penyelenggara birokrasi; 6
  • 7. Tantangan di Sektor Perijinan & Investasi(3) Tumpang tindih kebijakan antar sektor, antara lain: Pertambangan dan industri vs kehutanan; Program infrastruktur vs pertanahan Pasar modern vs pasar rakyat Konflik dan ketidakselarasan kebijakan antara pusat dan daerah, antara lain: Banyaknya peraturan daerah yang bermasalah pasca implementasi otonomi daerah: Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Pusat telah membatalkan/merevisi lebih dari 1.800 Perda selama periode periode 2002-2009, dan sekitar 1.000 Perda selama periode 2010-2013 Konflik batas wilayah, dan tumpang tindih perijinan yang berimbas pada ketidakpastian ijin: Hingga saat ini, terdapat lebih dari 700 sengketa batas wilayah antar daerah (berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri); Berdasarkan data bulan Juni 2013, dari sekitar 11 ribu Izin Usaha Pertambangan (IUP), sekitar 5 ribu masih bermasalah/mengalami tumpang tindih (Data Kementerian ESDM); 7
  • 8. Implikasi Ketidakpastian di Sektor Perijinan & Investasi Munculnya pihak-pihak dari kalangan swasta yang melakukan suap kepada pejabat publik/jajaran birokrasi agar: Mendapatkan kemudahan/fasilitas dan keuntungan secara tidak fair; Memenangkan persaingan secara tidak fair; Mengamankan dan memproteksi investasi yang dilakukan; Munculnya oknum-oknum di lembaga publik/birokrasi yang melakukan penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) demi untuk keuntungan pribadi/kelompok, antara lain melalui: Pemberian informasi yang bersifat rahasia (rencana tender, rencana kebijakan/regulasi, data pesaing); Perubahan regulasi yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu; Pungutan liar dalam proses perijinan dan investasi; Munculnya oknum-oknum pihak ketiga (rent seekers), yang menjembatani pihak investor dan pejabat publik dalam rangka kemudahan perijinan dan investasi, yang dilakukan secara tidak fair; 8
  • 9. Contoh Kasus Masalah Perijinan & Investasi(1) Sektor Pertambangan Mineral dan Batubara Banyak pengusaha, yang hanya bermodalkan kedekatan dengan pejabat di daerah, mendapatkan ijin usaha di bidang pertambangan mineral dan batubra, namun tidak bermaksud melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi, melainkan hanya untuk: Mendapatkan pendanaan; Dijual ke pihak lain; Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, maka melalui UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba dilakukan pengaturan lebih ketat (dalam Pasal 93), sebagai berikut: 1)Pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya kepada pihak lain. 2)Untuk pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham Indonesia hanya dapat dilakukan setelah melakukan kegiatan eksplorasi tahapan tertentu. 3)Pengalihan kepemilikan dan/atau saham sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan dengan syarat: a. harus memberitahu kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya; dan b. sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 9
  • 10. Contoh Kasus Masalah Perijinan & Investasi(2) Sektor Migas Pengaturan mengenai jenis-jenis pengeluaran yang bisa mendapatkan cost recovery dalam PSC tidak spesifik, sehingga memberikan ruang kepada kontraktor migas mendapatkan pengembalian biaya untuk kegiatan- kegiatan yang mestinya tidak layak mendapatkan cost recovery; Ketidakjelasan pengaturan jenis-jenis biaya operasi yang bisa atau tidak bisa mendapatkan pengembalian biaya, telah menyebabkan in-efisiensi cost recovery, dan juga membuka peluang untuk terjadinya negosiasi antara pihak kontraktor dan wakil pemerintah; Untuk mengatasi hal tersebut, kemudian dilakukan pengaturan mengenai negative list cost recovery melalui Permen ESDM No. 22 Tahun 2008, yang diatur kembali dalam PP No. 79 Tahun 2010. Terdapat 24 item biaya yang tidak bisa mendapatkan pengembalian biaya (dalam Pasal 13), antara lain: Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi dan/atau keluarga; Biaya pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat pada masa eksploitasi; Biaya pelatihan teknis untuk tenaga kerja asing; dan Biaya terkait merger, akuisisi, atau biaya pengalihan participating interest; 10
  • 11. Contoh Kasus Masalah Perijinan & Investasi(3) Sektor Penanaman Modal Ijin untuk usaha penanaman modal masih dihadapkan pada sejumlah kendala, antara lain: standar dan prosedur perijinan, akses informasi, proses yang berbelit-belit, dan tidak adanya kepastian waktu dan biaya; Untuk mengatasi permasalahan perijinan tersebut di atas, dalam UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal telah diamanatkan agar proses perijinan dilakukan melalui pelayanan terpadu satu pintu (Pasal 25 & 26), yaitu sebagai berikut: Pasal 25 ayat 4 dan 5: (4) Perusahaan penanaman modal yang akan melakukan kegiatan usaha wajib memperoleh izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dari instansi yang memiliki kewenangan, kecuali ditentukan lain dalam undang-und