Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

of 5 /5
07/01/12 Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh.com 2/8 harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam Fokus - 7 April 2011 | 0 Komentar Sebelum Pemerintah Aceh terbentuk, di berbagai daerah di Aceh telah terdapat beberapa pemerintah, mulai dari pantai timur sampai pantai barat selatan. Pen\atuann\a kemudian melahirkan Kerajaan Aceh Darussalam. Benteng Indrapatra (Harian Aceh / Junaidi Hanafiah) BEBERAPAÆ kerjaan yang sudah muncul jauh sebalum pemerintah Aceh Darussalam itu adalah, Pemerintah Peureulak, Kerajaan Samudra Pase, Kerjaan Banua, Kerjaan Pedir, Pemerintah Sanghela (Sahe), Pemerintah Linge dan Isak, Pemerintah Daya, Kerjaan Indra Purwa dan Kerajaan Lamuri. Pemerintah Peureulak Raja Kerajaan Peureulak merupakan keturunan Raja-Raja Siam (Syahir Nuwi). Pada 173 H (800 M), di Kota Peureulak berlabuh kapal dagang yang membawa saudagar dari Teluk Kambay (Gujarat) yang dipimpin oleh Nahkoda Khalifah. Saudagar itu juga berperan sebagai misionaris. Sebagian besar penduduk Kerajaan Peureulak lalu masuk Islam. Setengah abad kemudian, di Peureulak telah terbentuk masyarakat Islam yang terdiri atas orang keturunan pribumi, campuran peranakan Arab, Persia, dan Gujarat. Masyarakat Islam tersebut memproklamasikan berdirinya Kerajaan Islam Peureulak pada 1 Muharram 225 Ha Æ (840 M). Menurut M. Junus Djamil, Pemerintah Peureulak saat itu sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Pemerintah Malaka, India, Arab, dan Persia. Selain itu, Peureulak juga sudah memiliki angkatan perang yang teratur, memiliki sistem politik, perekonomian yang mapan, dan pusat ilmu pengetahuan berupa Dayah Cot Kala yang dipimpin ulama besar, Teungku Muhammad Amin (Teungku Cot Kala). Pemerintah Samudera Pase Pada 433 H (1042 M), datang seorang misionaris bernama Meurah Khair, keluarga Sultan Mahmud Peureulak. Meurah Khair-lah yang diduga membangun Kerajaan Islam Samudera / Pase dan beliau adalah raja pertama (433-470 H, 1042-1078 M) bergelar Kaisar Mahmud Syah juga disebut Meurah Giri, Pada 560 H (1166 M), ulama besar dari Mekkah (Syekh Abdullah Arif) datang ke Samudera / Pase. Kedatangan beliau untuk menyaksikan perkembangan pemerintah tersebut. Sebagai kenang-kenangan, Syeikh Abdullah memberi gelar Sultan al- Kamil kepada Kaisar Nurdin atau Meurah Nur. Pada waktu pemerintahan Sultan al-Kamil, banyak berdatangan tokoh dan ulama dari Malabar dan Sarkasih. Salah satu di antaranya diangkat sebagai Panglima Angkatan Perang Kerajaan Samudera / Pase, yaitu Qaidul Mujahidin Maulana Naina bir Naina Al-Malabari, yang wafat pada bulan Syawal 623 H (1226 M). Makamnya berada di Geudong (dikenal dengan nama Teungku Cot Mamplam). Sultan al-Kamil mengangkat seorang ulama menjadi Perdana Menteri

Transcript of Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

Page 1: Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

07/01/12 Aceh Sebelum Darussalam | Harian Aceh.com

2/8harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam

Fokus - 7 April 2011 | 0 Komentar

Sebelum Pemerintah Aceh terbentuk, di berbagai daerah diAceh telah terdapat beberapa pemerintah, mulai dari pantai

timur sampai pantai barat selatan. Penyatuannya kemudianmelahirkan Kerajaan Aceh Darussalam.

Benteng Indrapatra (Harian Aceh / Junaidi

Hanafiah)

BEBERAPAÂ kerjaan yang sudah muncul jauh sebalum pemerintah AcehDarussalam itu adalah, Pemerintah Peureulak, Kerajaan Samudra Pase, Kerjaan

Banua, Kerjaan Pedir, Pemerintah Sanghela (Sahe), Pemerintah Linge dan Isak,Pemerintah Daya, Kerjaan Indra Purwa dan Kerajaan Lamuri.

Pemerintah Peureulak

Raja Kerajaan Peureulak merupakan keturunan Raja-Raja Siam (Syahir Nuwi).Pada 173 H (800 M), di Kota Peureulak berlabuh kapal dagang yang membawa

saudagar dari Teluk Kambay (Gujarat) yang dipimpin oleh Nahkoda Khalifah.Saudagar itu juga berperan sebagai misionaris. Sebagian besar penduduk KerajaanPeureulak lalu masuk Islam.

Setengah abad kemudian, di Peureulak telah terbentuk masyarakat Islam yang

terdiri atas orang keturunan pribumi, campuran peranakan Arab, Persia, danGujarat. Masyarakat Islam tersebut memproklamasikan berdirinya Kerajaan IslamPeureulak pada 1 Muharram 225 Ha  (840 M).

Menurut M. Junus Djamil, Pemerintah Peureulak saat itu sudah menjalin hubungandiplomatik dengan Pemerintah Malaka, India, Arab, dan Persia. Selain itu,

Peureulak juga sudah memiliki angkatan perang yang teratur, memiliki sistem politik,perekonomian yang mapan, dan pusat ilmu pengetahuan berupa Dayah Cot Kalayang dipimpin ulama besar, Teungku Muhammad Amin (Teungku Cot Kala).

Pemerintah Samudera Pase

Pada 433 H (1042 M), datang seorang misionaris bernama Meurah Khair, keluarga

Sultan Mahmud Peureulak. Meurah Khair-lah yang diduga membangun KerajaanIslam Samudera / Pase dan beliau adalah raja pertama (433-470 H, 1042-1078 M)bergelar Kaisar Mahmud Syah juga disebut Meurah Giri,

Pada 560 H (1166 M), ulama besar dari Mekkah (Syekh Abdullah Arif) datang keSamudera / Pase. Kedatangan beliau untuk menyaksikan perkembangan pemerintah

tersebut. Sebagai kenang-kenangan, Syeikh Abdullah memberi gelar Sultan al-Kamil kepada Kaisar Nurdin atau Meurah Nur.

Pada waktu pemerintahan Sultan al-Kamil, banyak berdatangan tokoh dan ulamadari Malabar dan Sarkasih. Salah satu di antaranya diangkat sebagai Panglima

Angkatan Perang Kerajaan Samudera / Pase, yaitu Qaidul Mujahidin MaulanaNaina bir Naina Al-Malabari, yang wafat pada bulan Syawal 623 H (1226 M).Makamnya berada di Geudong (dikenal dengan nama Teungku Cot Mamplam).

Sultan al-Kamil mengangkat seorang ulama menjadi Perdana Menteri

Page 2: Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

07/01/12 Aceh Sebelum Darussalam | Harian Aceh.com

3/8harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam

(Quthbulma'aly Abdurrahman Al-Pasy) yang wafat pada bulan Zulqaidah 610 H(1213 M) dan dikuburkan di Geudong (Teungku di iboh). Ada juga yang diangkat

sebagai Kantor Pemerintah dan Anggota Fikih (Syeikh Ya'kub Blang Raya) yangwafat pada bulan Muharram 630 H (1213 M), dimakamkan di Blang PeriyaGeudong (Teungku jirat Raya).

Pada waktu pemerintahan Sultan Malikul Saleh, utusan Syarif Mekkah yangdipimpin Syeikh Ismail Al-Zarfi datang ke Samudera / Pase. Saat itu, Pemerintah

Islam Samudera / Pase telah memiliki lembaga negara (Pemerintah) yang teratur,memiliki angkatan perang, angkatan laut, dan angkatan darat yang kuat dan besar.

Selain itu, juga sudah ada lembaga lain antara lain: Lembaga Kabinet, yang menjadiPerdana Menteri adalah Sri Kaya Said Khiatuddin, Lembaga Mahkamah Agung,

yang menjadi mufti besar (Syaikhul Islam) adalah Sayyid Ali bin Ali Al-Makarany,dan Lembaga Kementrian Luar Negeri , di bawah pimpinan Bawa Kaya AliHasanuddin Al-Malabari.

Pada waktu itu, yang berpengaruh dalam pemerintahan adalah kaum Ahlus SunnahWal Jamaah yang bermazhab Syafia € ™ i. Pada waktu Pemerintahan Sultan

Malikul Zahir (688-725 H), Pemerintah Islam Peureulak dikombinasikan denganPemerintah Islam Samudera / Pase. Masa Pemerintahan Sultan Ahmad MalikulZahir, Pemerintah Beunua (Tamiang) juga digabung dengan Pemerintah IslamSamudera / Pase.

Sementara, pada 750-796 H waktu Pemerintahan Sultan Zainul Abidin MalikulZahir, Kerajaan Majapahit menyerang Pemerintah Samudera / Pase dipimpinPanglima Patih Nala, bekerja sama dengan Pemerintah Siam. Dengan tipu daya dariutusan Raja Siam, mereka berhasil menculik Raja Zainul Abidin. Tentara Majapahitmeninggalkan Samudera / Pase dengan membawa sejumlah tawanan.

Pada waktu Pemerintahan Malikah Nahrasiyah Wangsa Kadiyu pada 801-831 H(1400-1427 M), berkembang pesat paham Tarekat wujudiyah (satu aliran dariSyi'ah). Makanya Ratu mengangkat seorang tokoh wujudiyah menjadi PerdanaMenteri, yaitu Raja Bakoy.

Ketika Sultan Zainul Abidin Malikul Zahir tewas terbunuh karena perebutankekuasaan dan pertentangan politik. Tampuk pimpinan kerjaan dilanjutkan KaisarNagur Rabath Abdul Kadir Syah selama empat tahun (sampai 801 H), yangakhirnya juga tewas setelah mangkat Kaisar Nagur. Selanjutnya diangkat Putri

Malikah Nahrasiyah Wangsa Kadiyu sampai mangkat. Sesudah itu, PemerintahSamudera / Pase diperintah oleh beberapa raja, sampai raja yang terakhir, Sultan

Abdullah mangkat pada 1513 M.

Pemerintah Islam Samudera / Pase sudah memiliki lembaga pemerintahan yang

teratur, perdagangan yang maju, perekonomian, dan keuangan yang stabil.Pemerintah juga sudah memiliki mata uang sendiri, angkatan perang yang kuat dan

hubungan luar negeri yang teratur, serta lembaga pendidikan (tempat berkembangilmu pengetahuan).

Pemerintah Banua

Pemerintah Banua di Tamiang telah berdiri sejak 580 H (1184 M). Raja pertama

bergelar Meurah Gajah, 580-599 H (1184-1213 M). Raja terakhir sebelum Islamadalah Makhdum Saat (Panglima Eumping Beusoe), 723-753 H (1323-1353 M),

berasal dari Peureulak dan perkawinannya dengan Putri Raja Mala (678-723 H),diperoleh seorang anak laki-laki yang diberi nama Raja muda.

Pada waktu pemerintahan Eumping Beusoe, datanglah rombongan mubaligh dariPeureulak yang dipimpin seorang ulama, Teungku Ampon Tuan, yang kemudian

Pemerintah Tamiang menjadi Kerajaan Islam. Putri Teungku Ampon Tuandinikahkan dengan Pangeran Kerajaan Raja Muda. Dari perkawinan tersebut, lahir

seorang putri yang bernama Putri Lindung Bulan.

Setelah Raja Eumping Beusoe mangkat, diangkat Raja Muda menjadi Raja

Page 3: Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

07/01/12 Aceh Sebelum Darussalam | Harian Aceh.com

4/8harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam

Kerajaan Islam Banua dengan gelar Raja Muda Seudia, sekaligus raja pertamaKerajaan Islam Banua (setelah namanya diubah menjadi Kerajaan Islam Tamiang),

yang memerintah selama 47 tahun, 753-800 H (1353-1398 M).

Pada waktu pemerintahan Raja Muda terjadi agresi Majapahit yang dipimpin Patih

Nala pada 7I9 H (1377 M). Angkatan perang Majapahit menduduki Pulau Kampaidi Selat Malaka. Patih Nala mengirim utusan kepada Raja Muda Seudia, meminta

Raja untuk menyerahkan puterinya (Puteri Lindung Bulan) untuk persembahan padaRaja Majapahit, Prabu Rajasanagara Hayam Wuruk.

Raja Muda Seudia menolak permintaan itu. Karena itu, Patih Nala melakukanagresi terhadap Kerajaan Islam Banua. Karena diserang, Raja Muda Seudia dan

rakyat mengadakan perlawanan dengan gigih. Angkatan perang Majapahitmengalami kerugian besar di Kota Kuala Peunaga dan Aron Meubajee. Selain itu,

di ibukota kerajaan terjadi perang besar sehingga semua bangunan hancur, terbakar,

dan diruntuhkan.

Pada saat kritis tersebut, datang bantuan pasukan beserta perlengkapan perang dariKerajaan Islam Peureulak dan Kerajaan Samudera / Pase (sekutu Banua dalam

federasi). Akhirnya, tentara Majapahit kalah dalam medan tempur dan Majapahitmengurungkan niat untuk menjajah Pemerintah Banua. Setelah Raja Muda Seudia

mangkat pada 800 H (1398 M), Pemerintah Islam Banua menjadi kacau sehingga

terpecah menjadi tiga kerajaan kecil (Kerajaan Negeri Karang, Kerajaan KualaPeunaga, dan Kerajaan Negeri Indra / Daerah Alas).

Pemerintah Pedir (Pidie)

Memasuki abad ke-8 H (abad 14 M) Pemerintah Hindu / Budha di Syahir Poli

(Pedir) dilebur menjadi Kerajaan Islam Pedir, setelah Pemerintah Aceh Darussalamyang dipimpin Sultan Mansyursyah I (755-811 H) berhasil mengalahkan tentara

Syahir Poli dalam sebuah peperangan .

Menurut Teungku M. Junus Djamil, zaman Pemerintahan Sultan Mahmud IIAlaiddin Johan Syah, Pemerintah Aceh Darussalam (811-870 H), Islam menyebar

dan berkembang luas dalam wilayah Syahir Poli yang sebelumnya beragama Hindu /

Budha. Untuk memimpin pemerintah baru tersebut, Sultan Mahmud II mengangkatputranya, Raja Husen Syah, menjadi Raja Muda dengan gelar Kaisar Pedir

Laksamana Raja.

Pemerintah Sahe (Sanghela)

Pemerintah Sahe sering juga di sebut Sanghela di daerah Ulei Gle dan Meureudu.Menurut HM Zainuddin dalam tulisannya Aceh Dalam Inskripsi dan Lintasan

Sejarah. Sebelum Islam masuk ke Aceh, di Aceh telah berkembang kota-kotaPemerintah hindu seperti: Kerajaan Poli di Pidie yang berkembang sekitar tahun 413

M. Pemerintah Sahe sering juga di sebut Sanghela di daerah Ulei Gle danMeureudu, Pemerintah ini terbentuk dan dibawa oleh pendatang dari pulau Ceylon.

Menurur HM Zainuddin, semua kota-kota Hindu tersebut setelah islam kuat di

Aceh dihancurkan. Bekas-bekas kerajaan itu masih bisa diperiksa walau sudahtertimbun, seperti di daerah Paya Seutui, Kecamatan Ulim (perbatasan Ulim dengan

Meurah Dua).

Tentang kedatangan dan pengaruh pendatang dari Ceylon itu juga diungkapkan H

Muhammad Said dalam makalah budaya di Kota Kebudayaan Aceh (PKA) II,Agustus 1972. Ia menjelaskann, pada tahun 1891, seorang peneliti asing bernama

GK Nieman sudah menemukan 150 kata dari bahasa Campa dalam bahasa Aceh.Demikian juga dengan bahasa Khmer (Kamboja) tetapi yang sangat dominan adalah

bahasa Melayu dan bahasa Arab.

Pemerintah Linge dan Isak

Ketika Pemerintah Sriwijaya menyerang Kerajaan Islam Peureulak pada 375 H(986 M), banyak terjadi pengungsian penduduk, termasuk ulama dan anak-anak

Page 4: Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

07/01/12 Aceh Sebelum Darussalam | Harian Aceh.com

5/8harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam

Raja Peureulak. Ada yang mengungsi ke pegunungan, ada juga ke negeri lain yangsudah ada seperti Negeri Linge. Para pengungsi mengembangkan Islam, yang

kemudian hari dapat menyatukan masyarakat dan mendirikan kerajaan Islam.

Menurut M Junus Djamil, pembina pertama Pemerintah Islam Lingga adalah Adi

Genali dengan gelar Meurah Lingga (putra Meurah Tanjong Krueng jamboo Aye,saudara Sultan Peureulak Makhdum Johan Berdaulat Syahir Nuwi).

Adi Genali memiliki 3 orang putera, yaitu: Sibayak Lingga, mengungsi ke daerahKaro dan menetap di lembah / kaki Gunung Sibayak, beliau gagal mengislamkan

orang Karo. Meurah Johan, mengikuti rombongan Syeikh Abdullah karia € ™ an(Syiah Hudan) dari Peureulak ke Indra Purba untuk melaksanakan dakwah

Islamiyah. Meurah Lingga II, tinggal di negeri Linge, menjadi Raja Linge danmemerintah secara turun-temurun, sampai kemudian terbentuk Pemerintah Aceh

Darussalam.

Pemerintah Daya

Pemerintah Daya didirikan para pengungsi dari Pemerintah Indra Jaya, sebuahKerajaan yang berpusat di Kota Panton Bie (Seudu). Alasan mereka mengungsi

adalah untuk menghindari serangan tentara angkatan laut Negeri Cina yang

menyerang negeri mereka. Raja Indra Jaya turut mengungsi ke suatu tanah dataryang subur di sebelah Gunung Geurutee. Melihat lokasi tersebut, Raja Indra Jaya

beserta rombongan tinggal di daerah tersebut sehingga dinamai Indra Jaya.

Kemudian serombongan misionaris pimpinan Meurah Pupok (Teungku Sagop)datang ke Pemerintah Indra Jaya. Mereka berhasil mengembangkan Islam dan

rajanya pun ikut menganut agama Islam. Akhirnya, Meurah Pupok diangkat menjadi

raja dan kerajaannya bernama Kerajaan Daya.

Diantara raja yang terkenal namanya dari keturunan Meurah Pupok adalahMeureuhom Onga (Almarhum Onga). Setelah Onga mangkat, Pemerintah Daya

mengalami kemunduran dan kekacauan. Akhirnya datanglah Raja Inayat Syah dan

putranya Riayat Syah dari Kerajaan Aceh Darussalam. Putra mahkota Riayat Syahdiangkat menjadi Raja Kerajaan Daya dengan gelar Sultan Salathin Riayat Syah,

sedangkan ayahnya, Sultan Inayat Syah tetap memerintah Kerajaan AcehDarussalam, 885-895 H (1480-1490 M).

Ketika Pemerintah Aceh Darussalam diperintah oleh Syamsu Syah, 902-916 H(1497-1511 M) terjadi sengketa dengan Pemerintah Daya, bahwa Pemerintah

Daya telah terpengaruh oleh hasutan Portugis. Akhirnya mereka kembali berdamaisetelah Sultan Syamsu Syah (Raja Muda Ali Mughayat Syah) mengawini Puteri

Raja Daya (Puteri Hur). Pada 7 Rajab 913 H (12 November 1508), Sultan SalathinRiayat Syah mangkat. Pemerintah ini, kemudian terkenal dengan Meureuhom Daya.

Pemerintah Indra Purwa

Pemerintah Indra Purwa diduga sudah ada 2.000 tahun sebelum Masehi. Dalam

perjalanan sejarahnya, Pemerintah Indra Purwa pernah diserang oleh Sriwijaya,Cola, Cina, Portugis, dan lain-lain. Di antara 450-460 H (1059-1069 M), prajurit

Cina yang sudah menduduki Pemerintah Indra Jaya menyerang Pemerintah IndraPurwa yang saat itu diperintah oleh Kaisar Indra Sakti.

Ketika berkecamuk perang antara pasukan Cina dan tim Indra Purwa datanglahpasukan Pemerintah Islam Peureulak sebanyak 300 orang, dipimpin seorang ulama

(Syeikh Abdullah Kan'an) yang bergelar Syiah Hudan (keturunan Arab Kana € ™an). Mereka datang dari Dayah Cot Kala, Bayeuen, yang merupakan Pusat

Kegiatan Ilmu Militer.

Diantara mereka, ikut pula Johan Putra (anak Adi Genali atau Teungku Kawee

Teupat yang menjadi Raja di Negeri Lingga). Rombongan tersebut mendapat izinmenetap di Pemerintah Indra Purwa. Mereka membuka kebun lada / merica di

sekitar daerah Mamprai.

Page 5: Aceh Sebelum Darussalam _ Harian Aceh

07/01/12 Aceh Sebelum Darussalam | Harian Aceh.com

6/8harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam

Pemerintah Lamuri

Lamuri merupakan nama sebuah kota atau kota untuk Pemerintah Aceh Indra

Purba yang raja-rajanya dari Dinasti Kaisar (Meurah) Syahir Dauliy. Orang luar(pendatang) menyebutkan dengan Lam Oerit atau Lamuri, terletak dekat Kampung

Lam Krak, Kecamatan Suka Makmur sekarang (Teuku Iskandar menyebutkan

Lamreh, dekat Krueng Raya).

Menurut M. Junus Djamil (1972), keberadaan Pemerintah Lamuri dijelaskan dalamHikayat Raja masah, Hikayat Syiah Hudan (Teungku Lam Peuneuâ € ™ euen),

riwayat asal usul sukee Lhee reutoh, riwayat Putroe Neng (Raja Seudue), dan hasil

penelitian Ceng Oi dari Cina pada 1919.

Pada 414 H (1024 M) Lamuri diserang oleh Raja Rajendra Cola Dewa dari India.Menghadapi serangan itu, Lamuri membuat pertahanan di Mampreh. Penduduknegeri itu diungsikan ke Gle Weung. Serangan Raja Rajendra itu pun dapat

dipatahkan. Riwayat perang tersebut disusun dalam Hikayat Prang Raja Kula, yangmenyebutkan bahwa setelah perang terjadilah perpecahan karena ada sebagianwilayah yang dicaplok, seperti Indra Jaya / Pemerintah Seudu yang diserang oleh

armada Cina pimpinan Liang Khie dengan Laksamana O Nga.

Beberapa generasi Liang Khie telah menguasai Negeri Seudu / Panton Bie(Cantoli), di antaranya yang terkenal adalah Putri Nian Nio Liang Khie (PutroeNeng). Pada waktu Putroe Neng berkuasa, ia melakukan penyerangan ke Lamuri

yang saat itu diperintah oleh Kaisar Indra Sakti. Pada waktu itulah datang ke Lamurirombongan Syeh Abdullah Kana € ™ an yang dikenal sebagai Teungku Lampeuâ €™ neuen atau Syiah Hudan, yang membawa ajaran Islam ke daerah tersebut. Syehberangkat bersama rombongan dari Bayeuen (Peureulak) yang merupakan murid

dari Dayah Cot Kala.

Atas izin Kaisar Indra Sakti, rombongan misionaris itu menetap di daerah Mampreh.Suatu ketika Syiah Hudan menawarkan bantuannya kepada Kaisar Indra Saktiuntuk menghadapi serangan Putroe Neng. Penawaran itu diterima dan kelompok

Syiah Hudan berperang dengan pasukan Liang Khie. Setelah perang itudimenangkan oleh Syiah Hudan, Putroe Neng berdamai dengan pihak Syiah Hudan.Karena kemenangan itu, Kaisar Indra Sakti dan rakyatnya kemudian memeluk

Islam. []

-

Penulis Iskandar Norman

Follow Twitter @ harianaceh dan Facebook Ha

TweetTweet 14

41Suka

0

Share 41

KOMENTAR

Nama Anda (Required)

Email (Will not be published) (Required)

http://atjehnews.com (Optional)

Wristbands Indonesia,BaliParty, Concert, Park, Tyvex Bands Print 5000 pcs less than 4 hours

www.wristbands-indonesia.com