ACARA PRAKTIKUM II ANALISIS PROKSIMAT BAHAN PAKAN ... Karbohidrat terbagi menjadi 2 fraksi yaitu...

Click here to load reader

  • date post

    29-Nov-2020
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ACARA PRAKTIKUM II ANALISIS PROKSIMAT BAHAN PAKAN ... Karbohidrat terbagi menjadi 2 fraksi yaitu...

  • 17

    ACARA PRAKTIKUM II

    ANALISIS PROKSIMAT BAHAN PAKAN TERNAK DAN BOMB KALORIMETER

    2.1 Landasan Teori

    Segala sesuatu yang dapat dimakan dinamakan bahan makanan. Tetapi tidak

    semua yang dapat dimakan bermanfaat bagi tubuh. Komponen bahan makanan

    yang dapat dicerna, diserap serta bermanfaat bagi tubuh disebut zat makanan. Ada

    6 macam zat makanan yaitu air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

    Kecuali air, tiap zat makanan tersebut terdiri atas berbagai macam. Misalnya

    mineral tidak kurang 15 – 21 macam, vitamin terdiri dari 13 – 15 macam. Dengan

    demikian analisis bahan makanan akan banyak sekali. Jika semuanya itu akan

    dianalisis jelas akan makan banyak waktu, tenaga dan biaya.

    Mengingat sangat kompleksnya penganalisaan bahan makanan itu orang

    mencoba membuat penyederhanaan yaitu mencoba mengelompokkan zat-zat

    makanan berdasar sifat fisik dan kimianya. Analisis lain yang tidak terwakili oleh

    pengelompokkan itu dilakukan secara khusus. Usaha ini telah dirintis oleh para

    sarjana Jerman sejak awal abad 19. Antara lain oleh Thaer pada tahun 1809.

    Kemudian pada tahun 1860 oleh Henneberg dan Stohman dari Weende (nama

    kota di Jerman Timur) metode Thaer disempurnakan.

    Metode ini kemudian sampai sekarang dikenal dengan nama analisis

    Proksimat Weende. Proksimat berarti terdekat. Artinya terdekat dalam

    menggambarkan komposisi zat makanan suatu bahan makanan. Metode tersebut

    sangat popular hingga kini.

    Pengelompokkan zat makanan suatu bahan makanan menurut analisis

    proksimat digambarkan dalam ilustrasi sebagai berikut :

  • 18

    Bahan ----- Air makanan ----- Bahan ----- Abu/ mineral Kering ----- Bahan ----- Protein Organik ----- BOTN ----- Lemak ----- Karbohidrat ----- Serat Kasar ----- BETN

    Ilustrasi tersebut nampak bahwa bahan makanan terbagi ke dalam 10 zat

    makanan, 5 diantaranya, yaitu bagian atas bagan pembagian tersebut, diperoleh

    dengan jalan analisis dan 5 lainnya dihitung sebagai selisih.

    Analisis proksimat didasarkan atas komposisi kimia dari bahan makanan,

    dengan skema sebagai berikut :

    Bahan Makanan

    ----------------------Pemanasan 105 ºC

    Bahan Kering

    Ekstraksi ether Kjeldhal

    Lemak Nitrogen

    Asam

    Filtrat

    Residu

    Filtrat

    Basa

    Abu dan Serat Kasar

    Pembakaran

    600 ºC

    Abu Serat Kasar

    Analisis Proksimat Weende

  • 19

    Dengan memanaskan bahan makanan pada suhu 100 ºC, seluruh air yang

    dikandung bahan makanan itu akan menguap, yang tertinggal adalah bahan

    kering. Bila pemanasan dilanjutkan pada suhu 600 ºC maka seluruh bahan organik

    akan menguap dan yang tertinggal adalah Abu (mineral). Selisih antara Bahan

    Kering dan Abu adalah Bahan Organik.

    Protein bahan makanan ditentukan dengan metode Kjeldhal. Metode ini

    menganut asumsi bahwa semua Nitrogen bahan makanan berasal dari protein dan

    semua protein mengandung Nitrogen sebesar 16 %. Maka protein bahan makanan

    ditentukan dengan menganalisis kandungan Nitrogennya. Hasil yang diperoleh

    dikalikan denngan 100/ 16 atau 6,25. Prinsip metode Kjeldahl adalah sebagai

    berikut : Nitrogen bahan makanan diubah menjadi ammonium sulfat dengan jalan

    memasaknya di dalam asam sulfat pekat. Kemudian setelah didinginkan

    diencerkan dengan air suling, lau dibuat basa dengan menambahkan NaOH. Maka

    ammonia akan dibebaskan. Amonia itu ditangkap oleh laruutan asam borat, lalu

    dititar dengan asam sulfat yang telah ditentukan normalitasnya.

    Bahan kering setelah dikurangi dengan N dinamakan Bahan Organik Tanpa

    Nitrogen (BOTN). BOTN ada yang larut dalam pelarut organik ada yang tidak.

    Fraksi yang larut dinamakan lemak sedangkan yang tidak larut dinamakan

    karbohidrat.

    Dalam analisi proksimat kadar lemak ditentukan dengan jalan

    mengekstraksikan bahan makanan ke dalam pelarut organic (misal petroleum

    ether atau hexan).

    Karbohidrat terbagi menjadi 2 fraksi yaitu Serat Kasar dan Bahan Ekstrak

    Tanpa Nitrogen (BETN). Serat kasar adalah karbohidrat yang tidak larut setelah

    dimasak berturut-turut dalam larutan H2SO4 1,25 % mendidih selama 30 menit

    dan dalam larutan NaOH 1,35 % mendidih selama 30 menit.

    CARA MENYIAPKAN SAMPEL UNTUK DIANALISA

    1. Semua contoh (sampel) yang akan dianalisa di Laboratorium harus

    ditimbang dengan segera, baik masih segar maupun sudah kering.

    2. Bila contoh terdiri dari hijauan segar, maka hijauan tersebut harus

    dikeringkan lebih dahulu dengan cara menjemur di panas matahari atau

  • 20

    dimasukkan ke dalam alat pengering pada suhu 40 – 60 ºC selama 24 – 28

    jam dan sesudah dingin ditimbang kembali.

    3. Buah-buahan dan biji-bijian yang mempunyai kulit, lebih dahulu harus

    dikupas dan bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bagian-bagian

    yang dapat dimakan ditimbang berturut-berturut dan baru dikeringkan dan

    kemudian ditimbang lagi.

    4. Semua bahan yang akan dianalisa harus dihaluskan terlebih dahulu dengan

    gilingan dan disaring dengan saringan yang bergaris tengah satu

    millimeter.

    5. Semua contoh/ sampel bahan yang akan dianalisa harus diberi kode dan

    arti dari kode tersebut harus dicatat di dalam buku khusus.

    PENGAMBILAN SAMPEL

    Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil secra acak dari

    bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi. Dalam pengambilan sampel suatu

    bahan harus dilakukan secra benar agar diperoleh sampel yang benar-benar

    representatif, yang mampu menggambarkan keadaan bahan yang diambil

    sampelnya secara tepat. Untuk tujuan tersebut maka pengambilan sampel perlu

    diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

    1. Homogenitas sampel Salah satu faktor yang menentukan tingkat represetatif sampel yang diambil

    adalah homogenitas bahan yang akan diambil sampelnya. Efek ukuran dan

    berat partikel sangat berpengaruh terhadap homogenitas bahan, dimana

    bagian yang berukuran dan berat yang lebih besar kemungkinan akan

    berpisah dengan bagian lebih kecil atau ringan (segresi). Sehingga pada

    bahan yang ditumpuk atau dimuat diatas truk, bagian bahan yang mempunyai

    ukuran dan berat partikel yang lebih besar terletak pada bagian bawah atau

    bagian dasar dari tumpukan tersebut. Oleh karena itu sebelum bahan diambil

    sampelnya harus dicampur secara merata sehingga bahan benar-benar

    homogen, atau sampel diambil secara acak dari beberapa bagian baik bagian

    dasar, tengah maupun bagian atas sehingga diperoleh sampel yang benar-

    benar representatif. Demikian juga pada hijauan disuatu lahan, kualitas

  • 21

    hijauan pada tiap-tiap bagian lahan, kemungkinan mempunyai kualitas yang

    berbeda karena adanya kemungkinan perbedaan kesuburan tanah pada lahan

    tersebut. Oleh karena itu agar diperoleh sampel yang representatif,

    pengambilan sampel harus dilakukan pada beberapa bagian lahan secara acak,

    sehingga data yang diperoleh memberikan informasi yang benar terhadap

    kualitas bahan tersebut.

    2. Cara pengambilan sampel a. Aselectif : yaitu cara pengambilan sampel yang dilakukan secara acak dari

    keseluruhan bahan tanpa memperhatikan atau memisahkan bagian-bagian

    dari bahan tersebut. Misalnya dalam pengambilan sampel pada rumput

    gajah, sampel kita ambil dari seluruh bagian rumput gajah tersebut baik

    bagian daun maupun bagian batang, kemudian dipotong-potong dan

    dicampur secara merata agar diperoleh bahan yang benar-benar

    homogeny, sehingga sampel yang diambil benar-benar representatif.

    b. Selectif : yaitu cara pengambilan sampel yang dilakukan secara acak dari

    bagian-bagian tertentu dari suatu bahan. Misalnya dalam pengambilan

    sampel bagian batang dan bagian daun rumput gajah, maka sebelum

    diambil sampelnya bagian-bagian tersebut harus dipisah terlebih dahulu,

    baru masing-masing bagian diambil sampelnya dengan tetap

    memperhatikan homogenitas bahan tersebut.

    3. Jumlah sampel Jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap tingkat

    representatif sampel yang diambil. Jumlah sampel yang diambil tergantung

    pada kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya.

    Sebagai pedoman jumlah sampel yang diambil adalah 10% dari jumlah

    bahan. Pada bahan yang berjumlah banyak misalnya lebih dari 100 kg,

    sampel diambil 10% dari jumlah tersebut secara acak, kemudian sampel

    diambil lagi 10% dari sampel yang diambil tersebut.

    4. Penanganan sampel Sanpel yang telah diambil harus segera diamankan agar tidak rusak atau

    berubah sehingga mempunyai sifat yang berbeda dengan bahan dari mana

    sampel tersebut diambil. Misalnya terjadinya penguapan air, pembusukan

    atau tumbuhnya jamur, ketengikan dan lain-lain. Sampel yang diproleh dari

  • 22

    bahan dengan kadar air rendah (kurang dari 15%), kemungkinan terjadinya