About Immanuel Malang

download About Immanuel Malang

of 35

  • date post

    09-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    453
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Final Report to be a Priest of GPIB

Transcript of About Immanuel Malang

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Pada saat menuliskan laporan ini penulis sedang memperhatikan beritaberita seputar usulan pembubaran Front Pembela Islam (FPI) ataupun premanisme yang ada di tengah-tengah masyarakat. Penulis berupaya untuk memahami apa yang terjadi sebelum akhirnya setuju dengan yang dinyatakan oleh media. Dalam pada itu, penulis melihat bahwa ternyata keberadaan FPI dan preman-preman yang terbentuk itu merupakan akibat dari lemahnya sistem keamanan yang ada di Indonesia, yang seharusnya menjadi tanggung jawab TNI dan POLRI sebagai alat negara dalam pertahanan dan keamanan. Penulis mencoba melihat kenyataan sosial ini sebagai pembanding keberadaan gereja di tengah-tengah masyarakat, khususnya di Indonesia. Ada kenyataan sosial dimana -mungkin saja- warga jemaat tidak merasa nyaman dengan keberadaan Gereja khususnya GPIB sehingga mencari perlindungan lain yang memberikan kepuasan secara rohani. Kenyataan inilah yang kemudian membuat penulis menyadari bahwa dalam tugas dan tanggung jawab pelayanan, seharusnya gereja menjadi wadah di mana setiap anggota jemaat belajar dan bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Selain itu, dalam semangat menjalankan misi Allah di tengah-tengah dunia ini Gereja seharusnya menghadirkan Kerajaan Allah di dunia dan dirasakan oleh seluruh umat manusia dan ciptaan lainnya. Gereja hadir sebagai tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalaNya sehingga satu-satunya misi yang harus dilaksanakan oleh gereja adalah misis Kristus. Perkembangan yang terjadi setelah kehadiran Yesus Kristus dan para rasulnya yang membentuk gereja, kehadiran gereja kemudian tampak dalam lembaga-lembaga gereja di berbagai tempat, negara, bangsa dan suku dalam masyarakat. Penampakan gereja itu juga nyata dalam lembaga Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (selanjutnya disingkat : GPIB). Untuk menumbuhkan dan mengembangkan persekutuan, pelayanan dan kesaksian di tengah masyarakat, GPIB menata kehidupannya dengan bersumber dari Firman Allah. Penataan itu dilakukan dengan memberdayakan warga gereja berdasarkan Imamat Am dalam ketaatan kepada Yesus Kristus yang menghendaki segala sesuatu rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagian dan perangkat, baik warga, wilayah, kepemimpinan dan tata aturan dengan sistem Presbiterial Sinodal.1 Sistem Presbiterial-Sinodal yang digunakan GPIB memiliki beberapa hal yang menonjol, salah satunya adalah para presbiter mendapat peranan penting. Presbiter itu sendiri terdiri atas Diaken, Penatua dan Pendeta yang melakukan tugas pelayanan berdasarkan panggilan batin dan lahir. Untuk Diaken dan Penatua, panggilan lahir dilaksanakan oleh Gereja (GPIB) melalui Pemilihan Diaken dan Penatua. Bagi Pendeta, harus melalui pendidikan teologi dan vikariat. Penulis sedang berada dalam pembentukan diri di tengah-tengah masa vikariat untuk menjadi salah satu unsur Presbiter yaitu Pendeta, Pelayan Firman dan Sakramen di GPIB. Proses ini yang membuat vikaris banyak belajar dan melihat bahwa Presbiter adalah teladan yang akan membina umat untuk mandiri menjalankan Misi Kristus yaitu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Proses ini juga melatarbelakangi penulisan laporan ini. Selama kurang lebih satu tahun (1 April 2011 hingga Maret 2012) penulis menjalani pelayanan di GPIB Jemaat Immanuel Malang, pembelajaran yang terjadi akan coba dipaparkan dalam bab-bab laporan ini. Secara keseluruhan1

Majelis Sinode GPIB, Tata Gereja GPIB buku III : Tata Dasar, Pembukaan,17. 1

laporan ini memuat hasil pengamatan dan pengalaman hidup bersama jemaat. Oleh karenanya, tulisan ini bukan hanya memaparkan permasalahan di tengah masyarakat melainkan dalam keutuhan menjadi pembelajaran penting bagi penulis dalam pengamatan dan keterlibatan pelayanan dan persoalanpersoalannya di tengah-tengah jemaat. Permasalahan dan persoalan di tengah-tengah kehidupan bergereja, tidak dilihat sebagai aspek yang memperkeruh suasana saja, melainkan juga sebagai kesempatan untuk terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan tema tahunan GPIB pada masa vikariat tahun kedua ini yaitu : Manusia Baru yang Terus Menerus Dibaharui. Penulis mempersempit isi laporan ini dengan hanya melihat tugas panggilan dan pengutusan Presbiter GPIB sebagai pembina untuk mewujudkan jemaat misioner dan peran serta jemaat dalam pencapaian tujuan menjadi pelaksana misi Kristus. Dalam pada itu, data yang diperoleh berasal dari keterlibatan penulis dalam berbagai kegiatan pelayanan (pengamatan), wawancara dengan beberapa narasumber yang terkait dan studi pustaka dengan mengambil data dari buku-buku yang menunjang isi laporan. I.2 TUJUAN DAN HASIL YANG INGIN DICAPAI Salah satu syarat bagi calon pegawai pendeta yang diatur dalam Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB , Perekrutan dan Hubungan Kerja Pasal 3 ayat 3 tentang Perekrutan Pegawai yaitu calon pegawai pendeta perlu membuat laporan perkembangan studi secara berkala dalam mengikuti masa vikariat selama 2 tahun.2 Oleh karena itu, laporan ini ditulis dengan tujuan bagi : 1. Penulis Sebagai tolak ukur untuk menilai kemampuan penulis sebagai vikaris dalam masa vikariat tahun II. Sebagai pertanggungjawaban penulis atas tugas pelayanan yang dilakukan penulis selama di GPIB Jemaat Immanuel Malang di bawah arahan mentor sesuai panduan Majelis Sinode. Sebagai bentuk pembelajaran, refleksi dan evaluasi diri penulis dalam pengalaman masa vikariat tahun II di tempat yang berbeda dari masa vikariat tahun I sehingga harus lebih bertanggung jawab dalam pengenalan keadaan dan situasi jemaat yang dilayani dan pemahaman misi yang perlu diemban oleh semua pelayanNya. 2. Majelis Sinode GPIB Sebagai tolak ukur untuk menilai kemampuan penulis selama menjalani masa vikariat. Untuk melihat situasi dan kondisi jemaat tempat penulis menjalani masa vikariat tahun II serta melihat permasalahan yang sementara dihadapi jemaat. 3. GPIB Jemaat Immanuel Malang Sebagai bahan untuk melihat perkembangan pelayanan di tengahtengah jemaat dalam rangka kemajuan jemaat. Menjadi pertimbangan untuk pengenalan dan perkembangan pelayanan di dalam jemaat yang berdampak baik bagi masyarakat di sekitar sehingga upaya menghadirkan Kerajaan Allah dapat terjadi dengan lebih maksimal. Dengan beberapa tujuan yang dipaparkan di atas, penulis berharap laporan ini berguna bagi perkembangan pelayanan di masa yang akan datang.

2

Ibid., 171. 2

BAB II GAMBARAN UMUM GPIB JEMAAT IMMANUEL MALANG II.1 SEJARAH PERKEMBANGAN3 II. 1. 1 Sejarah Pra Pelembagaan GPIB Immanuel Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel Malang adalah bagian dari Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat. GPIB Immanuel Malang adalah nama jemaat yang ditetapkan berdasarkan data historis yang semula bernama Protestanche Gemente te Malang, yang diresmikan pada tanggal 30 Juli 1861. Gereja ini mulanya digunakan sebagai tempat ibadah orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Oleh karena itu, keberadaan gedung gereja yang sudah lebih dari 150 tahun ini mulanya digunakan sebagai pelayanan oleh orang-orang Belanda, Pendeta Belanda dan juga guru-guru Agama yang berasal dari Belanda. Pada permulaan abad ke-16 Injil Tuhan dibawa masuk ke Indonesia oleh misi Portugis. Pekerjaan tersebut dilanjutkan pada permulaan abad ke-19, oleh suatu perhimpunan Pengutusan Inji yang bernama Nederlands Zendeling Genootschap (N.Z.G) Perhimpunan-perhimpunan Pengutusan Injil Belanda, Jerman, Swiss dan Amerika mengambil bagian dalam memberitakan Injil di Indonesia. Demikian berdirilah Gereja Tuhan yang disebutkan Gereja Protestan di Indonesia. Di mana-mana tempat, baik di kota-kota besar maupun di kampung-kampung dan desa-desa terbentuklah jemaat-jemaat Protestan. Dengan terbentuknya jemaat protestan, maka didirikanlah gedung-gedung gereja sebagai tempat jemaat beribadah. Gedung gereja Protestan juga didirikan di Malang pada tahun 1861 di Alun-alun Kulon 9 (kini Jl. Merdeka Barat No.9) dan kini bernama GPIB IMMANUEL Malang. Pendeta dan pejabat gereja semuanya orang Belanda. Bahasa dalam ibadah juga bahasa Belanda. Pendeta pertama ialah J.F.G Brumund yang meninggal di Malang tahun 1863. Seiring dengan banyaknya orang-orang bumi putera yang menjadi tentara Belanda (KNIL) beserta keluarganya maka didirikanlah Gedung Gereja setengah gedek di Klojen Lorong No. 10 Malang. Gereja ini dikhususkan bagi golongan bumi putera. Pendeta dan pejabat gereja/majelis dijabat oleh orang-orang Belanda. Pada tanggal 25 Oktober 1936, A.E. Pattipeilohy terpilih sebagai syamas (diaken). Waktu itu ada 2 Majelis gereja4 yaitu Majelis Gereja Belanda dan Majelis Gereja Melayu. Akan tetapi, karena Majelis Gereja Melayu belum diakui oleh pejabat gereja pemerintah (Kerkbestuur) maka urusan keuangan tetap dipegang oleh Bendahara Majelis Gereja Belanda. Kemudian, pada tanggal 18 September 1838 Kerkbestuur baru mengakui Majelis Gereja Melayu. Keuangan diurus dan dipertanggungjawabkan oleh Gereja Melayu. Sementara itu Majelis Gereja Belanda mengusahakan mendirikan sebuah gedung permanen menggantikan gedung di Klojen Lorong No.10, dengan diberi nama: Christ, Inh. Militair Tehui, Huize Ora et Labora, dan ditahbiskan Kamis, 31 Oktober 1940. Ketika Perang Dunia II, gedung gereja ini berfungsi sebagai tempat Perkumpulan Kerohanian Kristen. Sementara itu, pada masa pendudukan Jepang, gedung gereja yang terletak di Jln. Merdeka Barat No. 9 dipakai sebagai3 Catatan Sejarah ini tidak tertulis dalam arsip yang baku di GPIB Jemaat Immanuel Malang. Penulis merangkumnya berdasarkan data dari pidato Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Malang Ds. J. G. H Maramis dalam HUT gedung gereja ke 100 tahun 1961 dan tulisan dalam Majalah Arcus edisi perdana Oktober-Desember 2011. Selain itu, sebagian data diperoleh dari hasil percakapan dengan warga jemaat sepuh dan yang banyak mengetahui tentang sejarah GPIB Jemaat Immanuel Malang. 4 Majelis Gereja merupakan istilah yang berlaku saat itu.

3

gudang beras. Merupakan suatu penghi