Abortus Habitualis Sip

download Abortus Habitualis Sip

of 34

  • date post

    26-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    68
  • download

    2

Embed Size (px)

description

abortus habitualis

Transcript of Abortus Habitualis Sip

STUDI KEPUSTAKAAN :

Studi Pustaka Hubungan Infeksi TORCH Terhadap Kejadian Abortus Berulang

OLEH :

Nur Akbaryan Anandito

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversi di masyarakat Indonesia, Namun terlepas dari kontorversi tersebut, abortus merupakan masalah kesehatan masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya abortus juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis. Akan tetapi, kematian ibu yang disebabkan komplikasi abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Hal itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat.Prevalensi abortus spontan diperkirakan 15 % dari seluruh kehamilan, sedangkan abortus habitualis diperkirakan terjadi pada 0,4% kehamilan. Angka lahir mati di Amerika Serikat 9 10 per 1000 kelahiran hidup. Bila mungkin, adalah penting menetapkan sebab kematian janin. Sama pentingnya adalah melindungi kesehatan psikososial ibu dan keluarganya.10Seorang wanita dikatakan menderita abortus habitualis apabila ia mengalami abortus berturut-turut 3 kali atau lebih. Wanita tersebut umumnya tidak sulit hamil, akan tetapi kehamilannya tidak dapat bertahan terus sehingga wanita yang bersangkutan tidak dapat melahirkan anak yang hidup. Keadaan tersebut dapat digolongkan sebagai infertilitas atau sterilitas.1,2Terdapat berbagai penyebab abortus yakni: faktor genetik, kelainan anatomis, gangguan hormonal dan nutrisi, faktor imunologis, penyakit infeksi, faktor lingkungan, dan psikologis yang kebanyakan belum diketahui mekanisme penyebabnya. Penyakit TORCH merupakan kelompok infeksi beberapa jenis virus yaitu parasit Toxoplasma gondii, virus Rubella, CMV (Cytomegalo Virus), virus Herpes Simplex (HSV1 HSV2). Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan berbagai keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat menyebabkan keguguran spontan, kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan mental yang beraneka ragam. Pada referat ini penulis akan mencoba menelaah secara studi literatur mengenai hubungan infeksi TORCH terhadap kejadian abortus berulang.B. Tujuan Penulisan

Penulisan referat ini bertujuan untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan abotus habitualis dan kaitannya dengan infeksi toxoplasmosis, rubella, cytomegalo virus, dan herpes (TORCH).BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Abortus HabitualisAbortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.12Istilah abortus habitualis digunakan kalau seorang wanita mengalami tiga kali atau lebih abortus spontan yang terjadi berturut-turut.4 Sedangkan pengertian abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis.10B. Etiologi Abortus HabitualisPenyebab abortus habitualis lebih dari satu (multipel) dan sering terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat.4 Penyebab abortus berulang yang diketahui yakni:51) Kelainan genetik (kromosomal) pada suami atau istriAgar bisa terjadi kehamilan, dan kehamilan itu dapat berlangsung terus dengan selamat, perlu adanya penyatuan antara spermatozoon yang normal dengan ovum yang normal pula. Kelainan genetik pada suami atau isteri dapat menjadi sebab kelainan pada zigot dengan akibat terjadinya abortus. 11Beberapa kelainan kromosamal pada orang tua yang telah diketahui menyebabkan abortus berulang yaitu : Balanced reciprocal translocations 50%; Robertsonian translocations 24%; X chromosome mosaicism (47, XXY) 12%.2Dapat dikatakan bahwa kelainan kromosomal yang dapat memegang peranan dalam abortus berturut-turut, jarang terdapat. Dalam hubungan ini dianjurkan untuk menetapkan kariotipe pasangan suami isteri, apabila terjadi sedikit-sedikitnya abortus berturut-turut 3 kali, atau janin yang dilahirkan menderita cacat.112) Kelainan Anatomis

Abortus juga dapat disebabkan oleh kelainan anatomik bawaan, laserasi uterus yang luas, serviks inkompeten yang membuka tanpa rasa nyeri, sehingga ketuban menonjol dan pecah. Di mioma uteri submukus terjadi gangguan implantasi ovum yang dibuahi atau gangguan pertumbuhan dalam kavum uteri.5Kelainan bawaan dapat menjadi sebab abortus habitualis, antara lain hipoplasia uteri, uterus subseptus, uterus bikornis, dan sebagainya. Akan tetapi pada kelainan bawaan seperti uterus bikornis, sebagian besar kehamilan dapat berlangsung terus dengan baik. Walaupun pada abortus habitualis perlu diselidiki histerosalpingografi, apakah ada kelainan bawaan, perlu diperiksa pula apakah tidak ada sebab lain dari abortus habitualis, sebelum mnganggap kelainan bawaan uterus tersebut sebagai sebabnya.113) Gangguan HormonalPada wanita dengan abortus habitualis, ditemukan bahwa fungsi glandula tiroidea kurang sempurna. Hubungan peningkatan antibodi antitiroid dengan abortus berulang masih diperdebatkan karena beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berlawanan. Luteal phase deficiency (LPD) adalah gangguan fase luteal. Gangguan ini bisa menyebabkan disfungsi tuba dengan akibat transpor ovum terlalu cepat, mobilitas uterus yang berlebihan, dan kesukaran nidasi karena endometrium tidak dipersiapkan dengan baik. Penderita dengan LPD mempunyai karakteristik siklus haid yang pendek, interval post ovulatoar kurang dari 14 hari dan infertil sekunder dengan recurrent early losses.5, 13Gangguan hormonal lain yang sering dikaitkan dengan kejadian abotus berulang yaitu polycystic ovarian syndrome (PCOS), diabetes mellitus, thyroid disease, and hyperprolactinemia. 13Evaluasi gangguan endokrin harus mencakup pengukuran hormon (TSH) tingkat thyroid-stimulating. Pengujian lainnya yang diindikasikan berdasarkan presentasi pasien termasuk pengujian resistensi insulin, pengujian cadangan ovarium, prolaktin serum dengan adanya mens tidak teratur, tes antibodi antitiroid, dan, biopsi endometrium fase luteal.4) Gangguan TrombotikGangguan trombotik berasal dari ketidakseimbangan antara jalur pembekuan dan antikoagulan. Aktivasi protein S bersinergi dengan activated protein C, sehingga menghambat tindakan pembekuan faktor V dan VIII. Dengan demikian, protein S dan C memiliki efek antikoagulan. Penurunan aktivitas protein ini telah didalilkan untuk meningkatkan risiko keguguran. 2Hubungan antara abortus berulang dan thrombophilias yang berulang didasarkan pada teori bahwa gangguan perkembangan dan fungsi sekunder vena dan / atau trombosis arteri plasenta dapat menyebabkan keguguran. Berdasarkan studi yang telah menunjukkan darah ibu untuk mulai mengalir dalam ruang intervili plasenta pada sekitar 10 minggu kehamilan, maka hubungan antara thrombophilias dan keguguran pada usia kehamilan lebih dari 10 minggu lebih mudah diterima dibandingkan dengan keguguran yang terjadi sebelum 10 minggu kehamilan.135) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan diduga menjadi salah satu penyebab keguguran berulang. Eksposur terhadap rokok, alkohol, dan kafein telah mendapatkan perhatian khusus pada penelitian akhir-akhir ini. Meskipun alkoholisme ibu (atau konsumsi sering memabukkan jumlah alkohol) secara konsisten dikaitkan dengan tingkat yang lebih tinggi terhadap terjadinya keguguran spontan, tetapi hubungannya masih lemah. Studi yang menghubungkan konsumsi alkohol dengan kehilangan kehamilan telah menunjukkan peningkatan risiko ketika lebih dari 3 minuman per minggu dikonsumsi selama trimester pertama atau lebih dari 5 gelas per pekan yang dikonsumsi selama kehamilan. 13Tampaknya logis bahwa merokok dapat meningkatkan risiko aborsi spontan didasarkan pada konsumsi nikotin, suatu vasokonstriktor kuat yang dikenal untuk mengurangi rahim dan plasenta aliran darah. Namun, hubungan antara merokok dan keguguran masih kontroversial. 13Meski tetap tak terbantahkan, tampaknya ada beberapa bukti bahwa kafein, bahkan dalam jumlah serendah 3 sampai 5 cangkir kopi per hari, dapat meningkatkan risiko keguguran spontan dengan respon tergantung dosis. Asosiasi kafein, alkohol, dan asupan nikotin dengan keguguran berulang bahkan lebih lemah dari asosiasi mereka dengan keguguran sporadis.136) Faktor Imunologis

Karena janin secara genetik tidak identik dengan ibunya, maka wajar jika menduga bahwa ada faktor imunologi yang memungkinkan ibu untuk menolak janin selama kehamilan. Bahkan, telah ada setidaknya 10 mekanisme tersebut diusulkan. Oleh karena itu mungkin ada kelainan dalam mekanisme imunologi yang dapat menyebabkan baik sporadis dan keguguran berulang. Meskipun minat yang kuat dalam potensi etiologi ini untuk abortus berulang, tetapi tidak ada konsensus tentang pemeriksaan diagnostik yang tepat atau terapi.13Satu gangguan autoimun tertentu yaitu anti phospolipid syndrome(APS) telah jelas dikaitkan dengan banyak orang dengan riwayat abortus berulang. Tetapi mekanisme terjadinya abortus berulang dikarenakan APS belum sepenuhnya jelas difahami. 13Inkomtabilitas golongan darah A, B, O dengan reaksi antigen-antibody dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan fragilitas kapiler. Inkompatibilitas karena Rh faktor dapat menyebabkan pula abortus berulang.7) Faktor Psikologis dan NutrisiDibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus berulang dan keadaan mental, akan tetapi masih belum jelas penyebabnya. Yang peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang secara emosional, dan sangat mengkhawatirkan risiko kehamilan, begitu pula wanita yang sehari-hari bergaul dalam dunia pria dan menganggap kehamilan suatu beban yang berat.11Penyakit-penyakit yang mengganggu