Abdullah an Na'Im

download Abdullah an Na'Im

of 28

  • date post

    10-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    169
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Abdullah an Na'Im

INFO BUKU BARU KARYA DR. MOH DAHLAN, MAg TELAH TERBIT BUKU BARU BERJUDUL "ABDULLAHI AHMED AN-NA'IM: EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM, KARYA DR. MOH DAHLAN, MAg, YANG DITERBITKAN OLEH PUSTAKA PELAJAR, YOGYAKARTA, 2009. NO KONTAKS PENULIS, 08179403094. Diposkan oleh DR. MOH DAHLAN di 22:03 0 komentar Rabu, 26 Agustus 2009 AGAMA DAN DEMOKRASI: Upaya Intelektual Sejati Membangun Tanggung Jawab Sosial Oleh: Dr. Moh. Dahlan, M.Ag. Pendahuluan Agama dan demokrasi seringkali dianggap saling bertentangan, pendasaran segala persoalan terhadap agama yang bersumberkan wahyu dianggap menjadi antitesis demokrasi, dan kekuasaan yang berlandaskan agama dianggap akan membawa ke arah absolutisme dan bertolak belakang dengan pemerintahan rakyat (baca: demokrasi). Anggapan itu pada dasarnya muncul dari pengetahuan informatif terhadap (ajaran) agama. Sebaliknya, pengetahuan analisis memahami agama yang bersifat ilahiah (ke-Tuhan-an) sebagai ajaran yang bisa menyentuh realitas historis kita. Walaupun munculnya agama berasal dari Tuhan, tetapi agama (sebagai kekuatan moral) juga berupaya menjawab realitas historis kita, dan kita harus menafsirkan dan menerapkannya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan. Paradigma Keilmuan Karakteristik ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua klasifikasi: Klasifikasi pertama berbicara masalah kepentingan, yakni: (1) Kepentingan teknis merupakan bentuk kepentingan yang pada dasarnya berasal dari ilmu alam yang bertujuan untuk penguasaan, kontrol, dan manipulasi yang bersifat objektif. (2) Kepentingan emansipatoris adalah kepentingan yang munculnya bertujuan untuk memberdayakan atau membebaskan dari kungkungan-kungkungan ideologis atau hegemoni. Kepentingan emansipatoris merupakan upaya mendialektikakan kepentingan murni dan kepentingan empiris. Klasifikasi kedua berbicara masalah pengetahuan, yakni: (1) Pengetahuan informatif adalah informasi atau refleksi akal sehat pada umumnya yang dengan gagasan atau pikiran fungsinya mengiyakan atau menyetujui kenyataan seperti apa adanya. Pengetahuan ini bersifat afirmatif, yaitu afirmasi saja atau sekadar menggarisbawahi realitas. (2) Pengetahuan analisis adalah pengetahuan yang muncul bukan hanya untuk mengetahui realitas, tetapi juga berusaha mengubah eksistensi realitas itu sendiri dari irasionalitas menuju rasionalitas. Dalam pengetahuan analisis ini, arus pemikiran kritis bergerak dan berjuang karena tujuan

suatu gagasan atau pikiran reflektif adalah untuk membebaskan atau transformatif dan menggugat pengetahuan yang ada dari irasionalitas menuju rasionalitas. Signifikansi Intelektual Sejati bagi Penegakan Demokrasi Upaya penafsiran dan penerapan itu perlu untuk menghilangkan irasionalitas agama menuju rasionalitas agama agar supaya agama yang memiliki tujuan mulia dan paripurna bagi penegakan nilai-nilai kemanusiaan bisa berhasil. Ini sekaligus untuk mengkritik pangetahuan informatif yang menyebutkan bahwa agama dan demokrasi tidak ada korelasi, bahkan saling bertentangan; keyakinan bahwa segala hal harus ditempu dengan pemilihan atau pemungutan suara, juga tidaklah benar. Bukankah demokrasi sebenarnya, di samping mendorong pembelaan nilai-nilai kemanusiaan, penegakan keadilan dan pemenuhan kesejahteraan sebagai tujuannya, juga mendorong adanya pemilihan metode yang rasional untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Semua persoalan kehidupan manusia membutuhkan metode untuk mencapai tujuan, demikian juga agama yang memiliki ajaran moral untuk membela dan menegakan nilai-nilai kemanusiaan membutuhkan metode untuk mencapai tujuannya. Tidak ada metode yang lepas dari tujuan, demikian juga tidak ada tujuan yang lepas dari metode. Demikian juga siapa pun yang ingin menjadi pemimpin dalam negara demokrasi haruslah melalui metode, betapa pun minimalnya metode itu, sedangkan metode membutuhkan pelaksana yang amanah. Artinya, pengetahuan dan pelaksana merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Manusia (termasuk mahasiswa) yang memiliki pengetahuan dan mau menerapkan pengetahuannya dalam tataran empirik ini disebut intelektual sejati. Predikat ini diberikan sesuai dengan upayanya yang selalu menggugah kaum cendekia untuk bangkit dan menyadari tentang peran keintelektualannya dalam ranah kehidupan empirik di masyarakat. Ia membangun kesadaran komunitas cendekia yang santun, radikal, dan kritis. Suatu komunitas santun yang berorientasi pada upaya membangun integritas intelektual sejati. Komunitas santun yang dimaksud adalah komunitas yang independen tetapi berkesadaran kritis terhadap setiap wacana dominan dan melakukan aksi konter terhadap segala bentuk kejahatan simbolis. Adapun metode rasional itu menjadi keharusan di dalam proses pemilihan pemimpin; sebuah metode yang tidak hanya sekadar mengejar tujuan yang menentukan pilihan sarana, tetapi juga harus memperhatikan dan menghargai pilihan dan pertimbangan pihak lain dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, tindakan menghalalkan segala cara demi mencapai suatu tujuan tidak bisa dibenarkan, karena telah menjadikan pilihan dan pertimbangan pihak lain hanyalah sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Apalagi tidak ada pemimpin yang lahir dari suatu takdir, dan lahir dari wilayah lain untuk mempimpin suatu komunitas manusia, adanya pemimpin hampir pasti muncul di tengah-tengah orang banyak dan para pemilih serta demi memperjuangkan hak-hak mereka. Ini menandakan bahwa metode rasional ini mengharuskan adanya unsur-unsur moralitas agama sebagai pendorong tercapainya keadilan dalam penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Karena agama dan demokrasi memiliki kesamaan tujuan yang berupa penegakan hak-hak kemanusiaan dalam kehidupan bersama -walaupun keduanya

muncul dari wilayah yang berbeda-, maka penegakan nilai-nilai kemanusiaan saat ini bukan hanya menjadi kewajiban demokrasi, tetapi juga kewajiban agama. Ini secara tidak langsung juga mewajibkan pada kita untuk memilih seorang pemimpin yang amanah supaya tidak menyelewengkan kekuasaannya yang telah diamanahkan. Sebab, seringkali penyelewengan ataupun pelanggaran terhadap amanah itu dibungkus oleh peraturan hukum yang dapat melegalkannya, sehingga penegakkan keadilan demi terpeliharanya nilai-nilai kemanusiaan hanya melahirkan keadilan prosedural, bukan keadilan sebagai fairness. Padahal, keadilan prosedural seringkali dijadikan alibi (dalih) oleh para pelanggarnya, sehingga mereka bisa meloloskan diri dari jeratan hukum. Apalagi jenis keadilan prosedural hanya menuntut pemenuhan persyaratan hukum secara formal tanpa memperhatikan substansinya, sehingga keputusan hukum yang dihasilkannya pun tidak mencerminkan rasa keadilan, misalnya penerapan kebijakan publik yang secara legalformal sah, tetapi secara legal-substansial tidak mencerminkan rasa keadilan di hati rakyat. Keadilan prosedural ini juga merupakan salah satu personifikasi dari kepentingan teknis. Keadilan prosedural yang juga ditolak oleh agama ini sering diistilahkan dengan tindakan munafik. Penolakan agama terhadap tindakan munafik mendorong kita untuk selalu menjalankan hukum bukan hanya pada bentuk formalnya saja tanpa menyentuh substansinya. Akan tetapi sebaliknya, hal ini mendorong kita untuk selalu menjalankan hukum baik secara formal (lahiriyah) maupun secara substansial (batiniyah) secara sekaligus. Dengan kata lain, keadilan sebagai fairness inilah yang seharusnya ditegakkan karena selalu mendorong kita untuk menjalankan hukum secara lahiriyah dan secara batiniyah secara sekaligus, misal pembelaan terhadap kaum lemah. Keadilan sebagai fairness ini juga merupakan salah satu personifikasi dari kepentingan emansipatoris. Dalam bahasanya Jacques Derrida, kepentingan emansipatoris itu berusaha untuk membela kaum lemah tanpa mengharap balasan apa pun dari mereka itu. Sebab, pemberian seringkali mengandaikan sirkulasi yang teratur di dalam jeda waktu, sehingga perbedaan antara pemberian dan pertukaran hanya terletak pada kenyataan bahwa pemberian itu memberi waktu, yang juga meminta waktu, artinya pemberian itu meminta waktu untuk tidak segera dikembalikan. Padahal, pemberian itu seharusnya tidak mengharapkan pengembalian walaupun dalam jeda waktu yang sangat jauh karena pemberian dalam jeda waktu itu seringkali melupakan kontrakdiksi antara logika pemberian dan pertukaran. Dengan demikian, lupa yang awalnya merupakan sifat negatif manusia (hilang ingatan) di sini menjadi sesuatu yang positif, yakni melupakan dengan sengaja dilakukan karena menjadi syarat supaya terjadi pemberian secara semestinya, sehingga pemberian itu tidak lagi mendua, dan seseorang yang memberikan sesuatu sudah tidak lagi mengharapkan imbalan apa pun, bahkan tidak menginginkan imbalan. Dengan demikian, apa yang ingin diungkapkan oleh Derrida di sini sama dengan apa yang diinginkan Jurgen Habermas, yakni upaya penciptaan sikap kritis dan pembelaan yang membebaskan dari kungkungan tradisi (ekonomi) yang menindas. Adapun kepentingan emansipatoris itu lahir dari pengetahuan analisis. Dengan pengetahuan analisis ini, maka lahirlah pemahaman agama yang bisa menjadi prinsip moral bagi tegaknya demokrasi. Sehingga pelanggaran terhadap prinsip moral ini dapat melahirkan perlawanan dari rakyat atau umat yang tidak hanya memiliki

motivasi tunggal sebagai pembela demokrasi, tetapi juga sekaligus pembela agama. Dorongan untuk melakukan perlawanan terhadap pelanggaran prinsip moral ini akan lebih dahsyat ketimbang hanya didasari oleh perjuangan membela demokrasi semata. Dengan demikian, demokrasi membutuhkan spirit dari agama, dan juga agama membutuhkan spirit dari prinsip demokrasi. Agama tanpa prinsip demokrasi akan melahirkan tindakan anarkis (kalau dangkal pemahamannya terhadap agama), demikian juga demokrasi tanpa agama tidak akan optimal penegakannya (karena hanya dilandasi motivasi tunggal, yakni membela demokrasi saja). Dalam konteks pengetahuan analisis ini, agama akan memiliki peranan yang signifikan dalam penegakan prinsip-prinsip demokrasi baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam kehidupan bernegara. Ini bukan be