Abdul Qadir Afin Kolly

Click here to load reader

  • date post

    06-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    226
  • download

    0

Embed Size (px)

description

afin lapsus

Transcript of Abdul Qadir Afin Kolly

Slide 1

LAPORAN KASUSREAKSI REVERSAL MH TIPE BL

Disusun Oleh:Abdul Qadir Afin Kolly, S.Ked10542 0245 10Pembimbing:DR. dr. Sitti Musafirah, Sp.KK

PendahuluanKusta atau Morbus Hansen (MH) merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya ialah Mycobacterium Leprae yang bersifat intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat.1

Pada penyakit kusta dapat terjadi reaksi kusta. Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik. Klasifikasi yang paling banyak digunakan dibagi menjadi 2 yaitu Eritema Nodosum leprosum (ENL) dan Reaksi Reversal. Laporan KasusSeorang perempuan berusia 44 tahun datang ke Balai Pengobatan Kulit dan Kelamin untuk mengontrol penyakitnya dengan keluhan berupa bercak bercak kemerahan di wajah (1 lesi) dan di leher (1 lesi) yang berbatas tegas yang berukuran plakat. Pasien tersebut berobat di Balai Kulit Pengobatan sejak tahun 1 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 juni 2014. Pasien telah mendapatkan terapi MDT, dan pada tanggal 16 januari 2015 timbul reaksi reversal disertai perpindahan tipe dari tipe BT kearah lepromatous yaitu tipe BL. Sehingga penanganan yang diberikanpun berubah sesuai dengan keadaan pasien.

Lanjutan Pasien tidak memiliki alergi makanan apapun, riwayat keluhan yang sama dikeluarga disangkal oleh pasien. Pemeriksaan fisis didapatkan lesi bercak kemerahan sebanyak 2 lesi dengan ukuran plakat, hipostesi (+), penebalan saraf ulnaris (-), gangguan fungsi saraf (-), pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (+1). Pada tanggal 23 juni 2015 pasien telah menyelesaikan pengobatannya dan dinyatakan Released From treatment (RFT).

Status Dermatologi

Pemeriksaan Penunjang :Sensibilitas : raba, nyeri, (hipoestesi) daerah yang lesi.Saraf : palpasi saraf periferJumlah lesi : 2 lesi (1 wajah dan 1 lesi di leher )Nervus :nyeri tebalkonsistensiN. Ulnaris -/- -/- lunakLaboratorium: pewarnaan Ziehl Nielsen ditemukan BTA (+1)

Pembahasan Gejala dan keluhan penyakit bergantung pada : 5Multiplikasi dan diseminasi kuman M. lepraeRespon imun penderita terhadap kuman M. lepraeKomplikasi yang diakibatkan oleh kerusakan saraf perifer 5

Pembahasan Ada 3 tanda cardinal. Kalau salah satunya ada, tanda tersebut sudah cukup untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta, yakni : 51. Lesi kulit anastesi2. Penebalan saraf perifer3. Ditemukannya M. Leprae (bakteriologis positif) 5

Klasifikasi (Ridley & Jopling)1. Tipe Tuberkuloid (TT)2. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT)3. Tipe Borderline (BB)4. Tipe Borderline Lepromatous (BL)5. Tipe Lepromatous (LL)

Reaksi Kusta (Reaksi Reversal)Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik. 1Gejala klinis dari reaksi reversal umumnya sebagian atau seluruh lesi yang telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi baru dalam waktu yang singkat dan mendadak. Tidak timbul nodus dan terkadang ada jejak neuritis. Tidak perlu seluruh gejala harus ada, satu saja sudah cukup. 1,4

Diagnosis Banding Psoriasis Vulgaris: berupa bercak bercak eritema dengan skuama di atasnya. Eritema sirkumskrip dan merata. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih, serta transparan. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner.

Erisipelas : kelainan kulit yang utama ialah eritema yang berwarna merah cerah, berbatas tegas dan pinggirnya meninggi dengan tanda-tanda radang akut. Dapat disertai edema, vesikel dan bula. Penyakit ini didahului trauma.

Diagnosis : Reaksi Reversal MH Tipe BL TerapiTerapi sistemik Minum di depan petugas :R/ Rifampicin 600 mg tab / Bulan (300 mg + 300 mg ) 1 dd IIR/ Dapson 100 mg tab No I 1 dd IR/ Klofazimin 300 mg tab No I 1 dd I

Yang dibawa pulang :R/ Dapson 50 mg tab No XXVIII 1 dd IR/ Klofazimin 50 mg tab No XXVIII 1 dd IR/ Prednison 5 mg tab No X 1 dd I

Pembahasan Seluruhnya diberikan dalam 12 dosis selama 12-18 bulan dengan syarat bakterioskopis negatif. Apabila masih positif , pengobatan dilanjutkan sampai bakterioskopis negatif. Selama pengobatan, pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan bakterioskopis setiap 3 bulan. Penghentian pemberian obat lazim disebut Released From Treatment (RFT). Setelah RFT dilakukan tindak lanjut tanpa pengobatan secara klinis dan bakterioskopis minimal setiap tahun selama 5 tahun. Jika pemeriksaan bakterioskopis tetap negatif dan klinis tidak ada keaktifan baru maka pasien dinyatakan bebas dari pengamatan atau Released From Control (RFC). 1,2

Jadwal pengobatan reaksi kusta yang dianjurkan Sub Direktorat Kusta-Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) Departemen Kesehatan Indonesia dapat dilihat pada skema berikut : 1, 2

Minggu pemberianDosis harian yang dianjurkanMinggu 1-240 mgMinggu 3-430 mgMinggu 5-620 mgMinggu 7-815 mgMinggu 9-1010 mgMinggu 11-125 mgKomplikasi Keratitis Kecacatan pada tangan dan kakiPrognosis Qou ad vitam : bonamQuo ad function: bonamQuo ad sanationam: bonam

Prognosis bergantung pada seberapa luas lesi dan tingkat stadium penyakit. Kesembuhan bergantung pula pada kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Terkadang pasien dapat mengalami kelumpuhan bahkan kematian, serta kualitas hidup pasien menurun3.

DAFTAR PUSTAKAA. Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe-Daili, Sri Linuwih Menaldi. Kusta. Dalam: Djuanda, Adhi dkk. (ed.). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 6 Cetakan Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2007; 73-88.Amirudin,Dali.M, dalam penyakit kusta sebuah pendekatan klinis. Wijaya agus (editor ) Brilian international. Surabaya : Fk Unhas. 2012. Wolff Klaus, Doldsmith, Stevern, Barbara. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7th ed. USA : McGraw Hill 2008. P 1789-1796 )Siregar, R.S., Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit edisi 2.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta.2005. hal : 154-163Amirudin Dali M. Penyakit Kusta. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit. Harahap M (ed). Edisi 1 Jakarta : Penerbit Hipokrates. 2000; hal : 260-270Lockwood D.N.J. leprosy Burns Tony, Breathnach Stephen, Cox Neil, Griffi ths Christopher.Rooks Textbook of Dermatology eighth edition.Willey black weel .2010. P 32.1-32.20Lewis, Felisa S. Leprosy. http://emedicine.medscape.com/article/1104977-overview, 28 Juni 2015. Istiantoro Y.H, Setiabudi R. Tuberkulostatik dan Leprostatik. Dalam : Farmakologi dan Terapi edisi kelima. Gunawan S.G, Seriabudi R, Elisabeth (editor). Badan Penerbit FKUI. Jakarta. 2011. hal : 633-635 Brown,Robin Graham,et al. Lecture Notes Dermatologi. Penerbit Erlangga. Jakarta. 2005.,hal 23-5