95274350 Afektif Bipolar

download 95274350 Afektif Bipolar

of 23

  • date post

    04-Jun-2018
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of 95274350 Afektif Bipolar

  • 8/13/2019 95274350 Afektif Bipolar

    1/23

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. LATAR BELAKANGGangguan suasana perasaan (gangguan mood/afektif) merupakan sekelompok

    penyakit yang biasanya mengarah ke depresi atau elasi(suasana perasaan yang

    meningkat). Pasien dengan mood yang meninggimenunjukkan sikap meluap-luap,

    gagasan yang meloncat-loncat,penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri dan

    gagasan kebesaran. Pasien dengan mood yang terdepresi merasakan hilangnya energi

    dan minat, perasaan bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan,

    pikiran tentang kematian dan bunuh diri (Andra, 2011)

    Keadaan afek yang meningkat dengan peningkatan aktivitas fisikdan mental

    yang berlebihan serta perasaan gembira luar biasa yang secarakeseluruhan tidak

    sebanding dengan peristiwa yang terjadimerupakankarakteristik dari mania. Bentuk

    mania yang lebih ringan disebut hipomania.

    Mania dan hipomania agak sulit ditemukan karenakegembiraan jarang

    mendorong seseorang untuk berobat ke dokter. Padapenderita mania sebagian besar

    tidak menyadari adanya sesuatu yang salahdengan kondisi mental maupun

    perilakunya (Atmaji, 2011)

    Secara sederhana, depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan dan

    perasaan tidak ada harapan lagi. Pada saat ini, depresi menjadi gangguan kejiwaan

    yang sangat mempengaruhi kehidupan, baik hubungan dengan orang lain maupun

    dalam hal pekerjaan. WHO memprediksikan pada tahun 2020, depresi akan menjadi

    salah satu penyakit mental yang banyak dialami masyarakat dunia (Anonim, 2011)

  • 8/13/2019 95274350 Afektif Bipolar

    2/23

    2

    Gangguan manik depresi atau yang lebih dikenal dengan gangguan bipolar

    adalah gangguan mood yang mempengaruhi sekitar 5.700.000 orang Amerika.

    Gangguan ini memiliki ciri episode depresi dan manic yang bergantian. Gejala

    gangguan bipolar sangat bervariasi dan sering mempengaruhi keseharian individu

    dan hubungan interpersonal. Gangguan bipolar memiliki resiko bunuh diri yang

    besar (Widiodiningrat, 2011).

    Sindrom mania disebabkan oleh tingginya kadar serotonin pada celah sinaps

    neuron khususnya pada sistem limbik. Sedangkan pada sindrom depresi terjadi

    defisiensi dari salah satu atau beberapa neurotransmitter aminergic pada celah sinap

    neuron khususnya di sistem limbik sehingga aktivitas reseptor serotonin menurun.

    Mekanisme kerjaobat antidepresan adalah dengan menghambat reuptake

    neurotransmitter aminergic dan menghambat penghancuran

    neurotransmiter aminergic olehenzim monoamine oxydase (Kaplan, 1997).

    Episode mania atau hipomania pada gangguan bipolar dapatdiobati dengan

    cara yang sama dengan mania akut. Pada penderitagangguan bipolar sebaiknya

    diberikan obat yang dapat menstabilkansuasana hati misalnyalithium. Episode

    depresi diobati dengan cara yangsama pada depresi. Sebagian besar obat

    antidepresan bisa menyebabkanperubahan depresi menjadi hipomania atau mania.

    Obat-obat tersebutdigunakan hanya untuk jangka pendek dan efeknya terhadap

    suasana hatiharus diawasi secara ketat. Jika terdapat tanda-tanda hipomania atau

    maniamaka obat antidepresan segera dihentikan. Psikoterapi bisa dilakukansecara

    individu maupun dalam suatu kelompok. Terapi kelompokmembantu penderita dan

    pasangannya atau keluarganya untuk memahamipenyakit yang dialami penderita dan

    mengahadapi penyakit tersebutdengan lebih baik (Atmaji, 2011).

  • 8/13/2019 95274350 Afektif Bipolar

    3/23

    3

    Hampir pada semua kasus, gangguan bipolar mengalamikekambuhan.

    Terkadang perubahan suasana perasaan dari depresi kemania atau sebaliknya tanpa

    melalui periode suasana hati yang normalterlebih dahulu. Sekitar 15% penderita,

    terutama wanita, mengalami empatepisode atau lebih setiap tahunnya. Penderita yang

    sering mengalamikekambuhan, lebih sulit untuk diobati. Tidak ada cara yang pasti

    untukmencegah gangguan bipolar. Namun dengan mendapatkan perawatansecara

    dini pada awal gangguan kesehatan mental dapat membantumencegah gangguan

    bipolar atau kondisi kesehatan mental yang lebih buruk (Atmaji, 2011)

    1.2. TUJUANMakalah ini disusun untuk memenuhi tugas ujian dalamKepaniteraan

    Psikiatri Program Pendidikan Profesi FakultasKedokteran Universitas Yarsi.

    1.4 MANFAAT

    1. Diharapkan tulisan ini dapat menambah pengetahuan penulis mengenai.2. Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfat bagi mahasiswa dalam

    memahami gangguan suasana perasaan (gangguan mood /afektif), memahami

    etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, pemeriksaan statusmental,

    penegakan diagnosis, pengelolaan dan penatalaksanaan secaraefektif dan

    efisien serta menentukan prognosisnya

  • 8/13/2019 95274350 Afektif Bipolar

    4/23

    4

    BAB II

    GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

    I. PENDAHULUAN

    Gangguan afektif bipolar adalah kondisi umum yang dijumpai, dan diantara

    gangguan mental menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab

    ketidakmampuan/disabilitas. Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita

    dengan angka kejadian sekitar 5 per 1000 orang. Penderita depresi bipolar dapat

    mengalami bunuh diri 15 kali lebih banya dibandingkan dengan penduduk umum.

    Bunuh diri pertama-tama sering terjadi ketika tekanan pada pekerjaan, studi, tekanan

    emosional dalam keluarga terjadi pada tingkat yang paling berat. Pada risiko bunuh

    diri dapat meningkat selama menopause (Widiodiningrat, 2011).

    Kebanyakan pasien dengan gangguan afektif bipolar secara potensial dengan

    terapi yang optimal dapat kembali fungsi yang normal. Dengan pengobatan yang

    kurang optimal hasilnya kurang baik dan dapat kambuh untuk melakukan bunuh diri

    lagi. Data menunjukkan bahwa pengobatan sering kurang optimal (Widiodiningrat,

    2011)

    Studi longitudinal bahwa pasien dengan kecenderungan bunuh diri pada

    kasus dengan afektif bipolar 50% dapat dikurangi dengan terapi

    maintenance/pemeliharaan dan terapi depresi yang tepat (Widiodiningrat, 2011)

    Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ (K), guru besar di bagian Psikiatri FKUI

    menjelaskan perbedaan ekstrem perasaan (manik dan depresi) penderita Bipolar tidak

    selalu bisa diamati oleh lingkungannya karena masing-masing individu reaksinya

    berlainan. Ada yang menonjol kutub maniknya, sementara yang lain menonjol

  • 8/13/2019 95274350 Afektif Bipolar

    5/23

    5

    depresinya.

    Kondisi tidak normal itu bisa terjadi hanya beberapa minggu sampai 2-3

    bulan.Setelah itu kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun di

    kesempatan lain muncul kembali (Andra, 2011)

    II. DEFINISI

    Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu

    gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada

    suasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan ini

    didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah

    tinggi yang tidak terkendali) dan depresi (Atmaji, 2011)

    III. ETIOPATOFISIOLOGI

    Dahulu virus sempat dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Serangan virus

    pada otak berlangsung pada masa janin dalam kandungan atau tahun pertama

    sesudah kelahiran. Namun, gangguan bipolar bermanifestasi 15-20 tahun kemudian.

    Telatnya manifestasi itu timbul karena diduga pada usia 15 tahun kelenjar timus dan

    pineal yang memproduksi hormon yang mampu mencegah gangguan psikiatrik sudah

    berkurang 50% (Andra, 2011)

    Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial.

    Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di

    otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang

    menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor

    lainnya (Anonim, 2011)

  • 8/13/2019 95274350 Afektif Bipolar

    6/23

    6

    Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya

    episode manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya,

    berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua dengan

    gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja).

    Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki

    resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan

    bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan.

    Keturunan pertama dari seseorang yang menderita gangguan bipolar berisiko

    menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada anak kembar sangat

    tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih

    rendah, yakni 10-20% (Andra, 2011)

    Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar

    dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari

    kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah

    diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22.

    Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi

    21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar (Andra, 2011)

    Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,

    peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar.

    Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen

    yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen

    yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tir