80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

30
1 2.1 Definisi Obstruksi Saluran Napas Atas Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran napas atas (laring) yang disebabkan oleh adanya radang, benda asing, trauma, tumor dan kelumpuhan nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan terganggu. 1 2.2 Penyebab dan Gejala Klinis Obstruksi Saluran Napas Atas Obstruksi saluran napas bagian atas disebabkan oleh trauma, tumor, infeksi akut, kelainan kongenital hidung atau laring, difteri, paralysis satu atau kedua plika vokalis, pangkal lidah jatuh ke belakang pada penderita yang tidak sadar karena penyakit, cedera, atau narkose maupun karena benda asing. Obstruksi saluran napas bagian atas ditandai dengan sesak napas, stridor inspiratore, ortopne, pernapasan cuping hidung, dan cekung di daerah jugularis- supraklavikula-interkostal. Selanjutnya penderita akan sianotik dan gelisah. Obstruksi jalan napas atas

description

yuttg

Transcript of 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

Page 1: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

1

2.1 Definisi Obstruksi Saluran Napas Atas

Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran napas atas (laring)

yang disebabkan oleh adanya radang, benda asing, trauma, tumor dan kelumpuhan

nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan terganggu.1

2.2 Penyebab dan Gejala Klinis Obstruksi Saluran Napas Atas

Obstruksi saluran napas bagian atas disebabkan oleh trauma, tumor, infeksi

akut, kelainan kongenital hidung atau laring, difteri, paralysis satu atau kedua plika

vokalis, pangkal lidah jatuh ke belakang pada penderita yang tidak sadar karena

penyakit, cedera, atau narkose maupun karena benda asing.

Obstruksi saluran napas bagian atas ditandai dengan sesak napas, stridor

inspiratore, ortopne, pernapasan cuping hidung, dan cekung di daerah jugularis-

supraklavikula-interkostal. Selanjutnya penderita akan sianotik dan gelisah.

Obstruksi jalan napas atas

Kongenital atresia koane

stenosis supraglotis,glottis dan infraglotis

kista duktus tireoglosus

kista bronkiegen yang besar

laringokel yang besar

Radang laringotrakeitis

epiglotitis

hipertrofi adenotonsiler

angina ludwig

abses parafaring atau retrofaring

Traumatik ingesti kaustik

Page 2: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

2

patah tulang wajah atau mandibula

cedera laringotrakeal

intubasi lama: udem/stenosis

dislokasi krikoaritenoid

paralysis n. laringeus rekurens bilateral

Tumor hemangioma

higroma kistik

papiloma laring rekuren

limfoma

tumor ganas tiroid

karsinoma sel skuamosa laring, faring atau oesofagus

Lain-lain benda asing

udem angioneurotik

Kelainan Kongenital

Atresia koane

Koane dapat menyumbat total atau sebagian, di satu atau dua sisi, akibat

kegagalan absorpsi membran bukofaringeal. Obstruksi mungkin berupa membran

atau tulang. Gejalanya ialah kesulitan bernapas dan keluar sekret hidung terus

menerus. Diagnosis mudah dibuat dengan timbulnya sianosis pada waktu diam yang

menghilang pada waktu menangis, dan melihat sumbatan di belakang rongga hidung.

Pengobatan dengan pembedahan.

Sindrom Piere Robin

Sindrom ini terdiri dari trias gejala yaitu mikrognasia, celah langit-langit, dan

oleh karena mikrognasia, lidah jatuh ke belakang mengakibatkan obstruksi jalan

napas atas. Kadang sindroma ini disertai defek pada mata.

Page 3: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

3

Selaput (web) glotis dan stenosis glotis

Pita suara terbentuk dari membran horizontal primordial yang terbelah pada

garis tengah. Kegagalan pemisahan mengakibatkan berbagai derajat stenosis glotis,

mulai dari selaput pada komisura anterior sampai atresia total glotis. Biasanya

ditandai suara parau sedangkan pada bayi menifestasinya berupa suara serak dan

menangis tidak keras. Derajat sesak dan disfonia tergantung dari luasnya kelainan.

Pengobatan sementara pada bayi atau anak dengan businasi. Diperlukan

tindakan bedah untuk memisahkan pita suara melalui tirotomi.

Obstruksi di subglotis jarang ditemukan, yaitu berupa penyempitan jalan

napas setinggi rawan krikoid.

Radang

Angina Ludwig

Angina Ludwig ialah selulitis di dasar mulut dan leher akut yang invasif,

menyebabkan udem hebat di leher bagian atas yang dapat menyumbat jalan napas.

Kuman penyebab biasanya streptokokus atau stafilokokus. Infeksi biasanya berasal

dari lesi di mulut seperti abses alveolar gigi atau infeksi sekunder pada karsinoma

dasar mulut. Kelainan ini cepat meluas melalui ruang fasia tertutup dan dapat

menyebabkan udem glotis yang dapat mengancam jiwa karena obstruksi jalan napas.

Karena radang dasar mulut ini lidah terdorong ke palatum dan ke dorsal, ke arah

dinding dorsal faring sehingga menutup jalan napas.

Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dibantu dengan pemeriksaan

biakan dan uji kepekaan kuman dari nanah.

Bila dapat dibuat diagnosis dini maka pemberian antibiotik kadang-kadang

memberikan hasil yang memuaskan. Bila pembengkakan leher dan dasar mulut tidak

segera berkurang maka dilakukan dekompresi terhadap ruang fasia yang tertutup di

dasar mulut dan leher, selanjutnya dipasang pipa penyalir.

Page 4: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

4

Trauma

Menelan bahan kaustik

Larutan asam kuat seperti asam sulfat, nitrat dan hidroklorit, atau basa kuat

seperti soda kaustik, potasium kaustik dan ammonium bila tertelan dapa

mengakibatkan terbakarnya mukosa saluran cerna. Pada penderita yang tak sengaja

minum bahan tersebut, kemungkinan besar luka baker hanya pada mulut dan faring

karena bahan tersebut tidak ditelan dan hanya sedikit saja masuk ke dalam lambung.

Tetapi pada mereka yang coba bunuh diri akan terjadi luka bakar yang luas pada

esofagus bagian tengah dan distal karena larutan tersebut berdiam di sini agak lama

sebelum memasuki kardia lambung.

Diagnosis didasarkan riwayat menelan zat kaustik dan adanya luka bakar di

sekitar dan di dalam mulut. Kasus kecelakaan biasanya terjadi pada anak usia

dibawah enam tahun, sedangkan kasus bunuh diri pada dewasa.

Trauma trakea

Trauma tajam atau tumpul pada leher dapat mengenai trakea. Trauma tumpul

tidak menimbulkan gejala atau tanda tetapi dapat juga mengakibatkan kelainan hebat

berupa sesak napas, karena penekanan jalan napas atau aspirasi darah atau emfisema

kutis bila trakea robek.

Dari pemeriksaan photo roentgen dapat dilihat benda asing, trauma penyerta

seperti fraktur vertebra servikal atau emfisema di jaringan lunak di mediastinum,

leher dan subkutis.

Trauma tumpul trakea jarang memerlukan tindakan bedah. Penderita

diobservasi bila terjadi obstreksi jalan napas dikerjakan trakeotomi. Pada trauma

tajam yang menyebabkan robekan trakea segera dilakukan trakeotomi di distal

robekan. Kemudian robekan trakea dijahit kembali.

Trauma intubasi

Page 5: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

5

Pemasangan pipa endotrakea yang lama dapat menimbulkan udem laring dan

trakea. Keadaan ini baru diketahui bila pipa dicabut karena suara penderita terdengar

parau dan ada kesulitan menelan, gangguan aktivitas laring, dan beberapa derajat

obstruksi pernapasan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian kortikosteroid. Bila

obstruksi napas terlalu hebat maka dilakukan trakeotomi.

Stenosis trakea adalah komplikasi pemasangan pipa endotrakea berbalon

dalam waktu lama. Tekanan balon menyebabkan nekrosis mukosa trakea disertai

penyembuhan dengan jaringan fibrosis yang mengakibatkan stenosis.

Pengobatan stenosis ini berupa peregangan bagian yang stenosis dalam waktu

lama, tetapi seringkali perlu dilakukan reseksi segmental trakea dan anstomosis ujung

ke ujung.

Dislokasi krikoaritenoid

Trauma pada laring dapat menyebabkan dislokasi persendian krikoaritenoid

yang mengakibatkan suara parau disertai obstruksi jalan napas bagian atas. Pada

pemeriksaan roentgen leher tampak dislokasi struktur laring, penyempitan jalan

napas, dan udem jaringan lunak.

Penanganannya berupa trakeotomi, kemudian dislokasi direposisi secara

terbuka dan dipasang bidai dalam. Kelambatan penanganan dislokasi krikoaritenoid

dapat mengakibatkan stenosis laring.

Paralisis korda vokalis bilateral

Kedua pita suara tidak dapat bergerak sedangkan posisinya paramedian dan

cenderung bertaut satu sama lain waktu inspirasi. Penderita mengalami sesak napas

hebat yang mungkin memerlukan intubasi dan atau trakeotomi.

Page 6: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

6

Tumor

Papiloma laring rekuren (papilomatosis laring infantil)

Tumor epithelial papiler yang multipel pada laring ini disebabkan oleh papova

virus yang banyak didapatkan di lembah sungai Missisipi (AS). Penderitanya sering

mempunyai veruka kulit yang mengandung virus. Biasanya kelainan sudah mulai

pada usia dua tahun. Jika si ibu mempunyai veruka vagina maka kelainan ini dapat

terjadi pada bayi usia enam bulan.

Gejala khas berupa disfonia dan sesak napas yang bertambah hebat sampai

terjadi sumbatan total jalan napas.

Terapi terdiri dari pembedahan dengan mikrolaringoskopi. Eksisi papiloma

dilakukan tanpa mengikutsertakan jaringan sehat. Kadang digunakan laser CO2,

pembedahan dingin atau radiasi ultrasonik. Angka kekambuhan tinggi sehingga perlu

dilakukan pembedahan berulang kali.

Papiloma pada orang dewasa merupakan lanjutan dari papilomatosis infantile

atau tumbuh pada usia pertengahan dan tetap sebagai satu lesi tunggal terbatas pada

satu korda.

Kedua keadaan ini dapat berubah jadi karsinoma sel skuamosa. Perubahan ke

keganasan terjadi khusus pada penderita yang sebelumnya pernah mendapat

radioterapi. Penanganannya sama seperti pada anak-anak, hanya tidak memerlukan

trakeotomi.

Neoplasma tiroid

Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring dan mempengaruhi jalan napas.

Adanya invasi ini harus dicurigai bila tumor tiroid tidak dapat digerakkan dari

dasarnya, disertai suara parau dan gangguan napas. Pada pemeriksaan photo roentgen

leher terlihat distorsi laring atau bayangan suatu massa yang menonjol ke lumen

laring dan trakea.

Kadang tumor tiroid berada pada saluran napas atas secara primer. Diduga

tumor primer di laring atau trakea bagian atas berasal dari sisa tiroid yang terletak

Page 7: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

7

dalam submukosa yang melapisi krikoid dan cincin trakea atas yang ditemukan pada

1-2 % populasi. Tumor ini harus dieksisi dengan laringektomi.

Udem angioneurotik

Udem angiopneurotik mukosa laring adalah salah satu penyebab obstruksi

laring yang disebabkan oleh alergi. Gejala berupa suara parau yang progresif setelah

kontak dengan menghirup atau menelan alergen tanpa tanda infeksi. Kadang

diperlukan trakeotomi untuk menyelamatkan jiwa.

2.3 Diagnosis Obstruksi Saluran Napas Atas

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik, serta

pemeriksaan penunjang.

Gejala dan tanda sumbatan yang tampak adalah :

· Serak (disfoni) sampai afoni

· Sesak napas (dispnea)

· Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.

· Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium,

supraklavikula dan interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-

otot pernapasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.

· Gelisah karena pasien haus udara (air hunger)

· Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui letak

sumbatan, diantaranya adalah :

· Laringoskop. Dilakukan bila terdapat sumbatan pada laring. Laringoskop

dapat dilakukan secara direk dan indirek.

· Nasoendoskopi

· X-ray. Dilakukan pada foto torak yang mencakup saluran nafas bagian atas.

Apabila sumbatan berupa benda logam maka akan tampak gambaran

radiolusen. Pada epiglotitis didapatkan gambaran thumb like.

· Foto polos sinus paranasal

Page 8: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

8

· CT-Scan kepala dan leher

· Biopsi

·

2.4 Stadium Obstruksi Saluran Napas Atas

Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium:

Stadium I : Adanya retraksi di suprasternal dan stridor. Pasien tampak tenang

Stadium II : Retraksi pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam,

ditambah lagi dengan timbulnya retraksi di daerah epigastrium. Pasien sudah

mulai gelisah.

Stadium III : Retraksi selain di daerah suprastrenal, epigastrium juga

terdapat di infraklavikula dan di sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea.

Stadium IV : Retraksi bertambah jelas, pasien sangat gelisah, tampak

sangat ketakutan dan sianosis, jika keadaan ini berlangsung terus maka penderita

akan kehabisan tenaga, pusat pernapasan paralitik karena hiperkapnea. Pada

keadaan ini penderita tampaknya tenang dan tertidur, akhirnya penderita

meninggal karena asfiksia.1

2.5 Tindakan pada Obstruksi Saluran Napas Atas

Pada prinsipnya penanggulangan pada obstruksi atau obstruksi saluran

napas atas diusahakan supaya jalan napas lancar kembali.

Tindakan konservatif : Pemberian antiinflamasi, antialergi, antibiotika serta

pemberian oksigen intermiten, yang dilakukan pada

obstruksi laring stadium I yang disebabkan oleh

peradangan.

Tindakan operatif/resusitasi : Memasukkan pipa endotrakeal melalui mulut (intubasi

orotrakea) atau melalui hidung (intubasi nasotrakea),

membuat trakeostoma yang dilakukan pada obstruksi

laring stadium II dan III, atau melakukan

Page 9: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

9

krikotirotomi yang dilakukan pada obstruksi laring

stadium IV.

Untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas ada tiga cara, yaitu :

1. Intubasi

Intubasi dilakukan dengan memasukkan pipa endotrakeal lewat mulut atau

hidung.

Intubasi endotrakea merupakan tindakan penyelamat (lifesaving procedure) dan

dapat dilakukan tanpa atau dengan analgesia topikal dengan xylocain 10%.

Indikasi intubasi endotrakea adalah :

- Untuk mengatasi obstruksi saluran napas bagian atas.

- Membantu ventilasi.

- Memudahkan mengisap sekret dari traktus trakeobronkial.

- Mencegah aspirasi sekret yang ada di rongga mulut atau berasal dari

lambung.

Keuntungan intubasi, yaitu:

- Tidak cacat karena tidak ada jaringan parut.

- Mudah dikerjakan.

Kerugian intubasi, yaitu:

- Dapat terjadi kerusakan lapisan mukosa saluran napas atas.

- Tidak dapat digunakan dalam waktu lama.

Orang dewasa 1 minggu, anak-anak 7-10 hari.

- Tidak enak dirasakan penderita.

- Tidak bisa makan melalui mulut.

- Tidak bisa bicara.

Komplikasi yang dapat timbul yaitu stenosis laring atau trakea.

Teknik intubasi endotrakea:

- Posisi pasien tidur telentang, leher fleksi sedikit dan kepala ekstensi

Page 10: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

10

- Laringoskop dengan spatel bengkok dipegang dengan tangan kiri,

dimasukkan melalui mulut sebelah kanan, sehingga lidah terdorong ke kiri.

Spatel diarahkan menelusuri pangkal lidah ke valekula, lalu laringoskop

diangkat keatas, sehingga pita suara dapat terlihat.

- Dengan tangan kanan, pipa endotrakea dimasukkan melalui mulut terus

melalui celah antara kedua pita suara kedalam trakea.

- Kemudian balon diisi udara dan pipa endotrakea difiksasi dengan baik.

- Jika menggunakan spatel laringoskop yang lurus maka pasien yang tidur

telentang itu pundaknya harus diganjal dengan bantal pasir, sehingga kepala

mudah diekstensikan maksimal.

- Laringoskop dengan spatel yang lurus dipegang dengan tangan kiri dan

dimasukkan mengikuti dinding faring posterior dan epiglotis diangkat

horizontal ketas bersama-sama sehingga laring jelas terlihat.

- Pipa endotrakea dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui

celah pita suara sampai di trakea. Kemudian balon diisi udara dan pipa

endotrakea difiksasi dengan plester.

Page 11: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

11

\

Gambar 3. Teknik pelaksanaan intubasi endotrakea

2. Laringotomi (Krikotirotomi)

Laringotomi dilakukan dengan membuat lubang pada membran tirokrikoid

(krikotirotomi).

Krikotiromi merupakan tindakan penyelamat pada pasien dalam keadaan gawat

napas. Bahayanya besar tetapi mudah dikerjakan, dan harus dikerjakan cepat

walaupun persiapannya darurat.

Krikotirotomi merupakan kontraindikasi pada anak di bawah usia 12 tahun,

demikian juga pada tumor laring yang sudah meluas ke subglotik dan terdapat

laringitis.

Page 12: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

12

Bila kanul dibiarkan terlalu lama maka akan timbul stenosis subglotik karena

kanul yang letaknya tinggi akan mengiritasi jaringan-jaringan di sekitar

subglotis, sehingga terbentuk jaringan granulasi dan sebaiknya diganti dengan

trakeostomi dalam waktu 48 jam.

Teknik krikotirotomi:

- Pasien tidur telentang dengan kepala ekstensi pada artikulasi

atlantooksipitalis.

- Puncak tulang rawan tiroid mudah diidentifikasi difiksasi dengan jari tangan

kiri.

- Dengan telunjuk jari tangan kanan tulang rawan tiroid diraba ke bawah

sampai ditemukan kartilago krikoid. Membran krikotiroid terletak di antara

kedua tulang rawan ini. Daerah ini diinfiltrasi dengan anestetikum kemudian

dibuat sayatan horizontal pada kulit.

- Jaringan di bawah sayatan dipisahkan tepat pada garis tengah.

- Setelah tepi bawah kartilago terlihat, tusukkan pisau dengan arah ke bawah.

- Kemudian masukkan kanul bila tersedia. Jika tidak, dapat dipakai pipa

plastik untuk sementara.

Page 13: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

13

Gambar 4. Krikotirotomi yang dilakukan pada obstruksi laring stadium IV

3. Trakeostomi

Trakeostomi adalah suatu tindakan bedah dengan mengiris atau membuat

lubang sehingga terjadi hubungan langsung lumen trakea dengan dunia luar

untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas.

Indikasi trakeostomi adalah:

1. Mengatasi obstruksi laring.

2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran pernapasan atas.

3. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus.

4. Untuk memasang alat bantu pernapasan (respirator).

5. Untuk mengambil benda asing di subglotik, apabila tidak mempunyai

fasilitas bronkoskopi.

a. Keuntungan trakeostomi yaitu:

- Dapat dipakai dalam waktu lama.

- Trauma saluran napas tidak ada.

Page 14: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

14

- Penderita masih dapat berbicara sehingga kelumpuhan otot laring dapat

dihindari.

- Penderita merasa enak dan perawatan lebih mudah

- Penderita dapat makan seperti biasa.

- Menghindari aspirasi, menghisap sekret bronkus.

- Jalan napas lancar, meringankan kerja paru.

Kerugian trakeostomi, yaitu:

- Tindakan lama.

- Cacat dengan adanya jaringan sikatrik.

Jenis irisan trakeostomi ada dua macam:

- Irisan vertikal di garis median leher.

- Irisan horizontal.

Berdasarkan jenis trakeostomi:

- Trakeostomi letak tinggi, yaitu di cincin trakea 2-3.

- Trakeostomi letak tengah, yaitu setinggi trakea 3-4.

- Trakeostomi letak rendah, yaitu setinggi cincin trakea 4-5.

Untuk perawatan trakeostomi, yang harus diperhatikan adalah:

1. Kelembaban udara masuk.

- Dapat dilakukan dengan uap air basah hangat.

- Nebulizer.

- Kassa steril yang dibasahi diletakkan di permukaan stoma.

2. Kebersihan dalam kanul.

- Jangan tersumbat oleh sekret, dianjurkan disuksion ½-1 jam pada 24 jam

pertama dan tidak boleh terlalu lama setiap suksion, biasanya 10-15

detik. Bila lama penderita bisa sesak atau hipoksia atau cardiac arrest.

- Lakukanlah berkali-kali sampai bersih.

3. Anak: kanul dibersihkan setiap hari kemudian pasang kembali.

Pengangkatan kanul dilakukan secepatnya, atau dengan indikasi berikut:

Page 15: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

15

- Tutup lubang trakeostomi selama 3 menit, penderita tidak sesak.

- Dalam 25 jam tidak ada keluhan sesak bila lubang trakeostomi ditutup waktu

tidur, makan dan bekerja.

- Penderita sudah dapat bersuara.

Komplikasi trakeostomi:

- Waktu operasi:

Perdarahan, lesi organ sekitarnya, apnea dan shock.

- Pasca operasi:

Infeksi, sumbatan, kanul lepas, erosi ujung kanul atau desakan cuff pada

pembuluh darah, fistel trakeokutan, sumbatan subglotis dan trakea, disfagia,

granulasi.

Teknik trakeostomi:

- Penderita tidur telentang dengan kaki lebih rendah 30˚ untuk menurunkan

tekanan vena di daerah leher. Punggung diberi ganjalan sehingga terjadi

ekstensi. Leher harus lurus, tidak boleh laterofleksi atau rotasi.

- Dilakukan desinfektan daerah operasi dengan betadin atau alkohol.

- Anestesi lokal subkutan, prokain 2% atau silokain dicampur dengan

epinefrin atau adrenalin 1/100.000. Anestesi lokal atau infiltrasi ini tetap

diberikan meskipun trakeostomi dilakukan secara anestesi umum.

- Dilakukan insisi.

- Insisi vertikal: dimulai dari batas bawah krikoid sampai fossa suprasternum,

insisi ini lebih mudah dan alir sekret lebih mudah

- Insisi horizontal: dilakukan setinggi pertengahan krikoid dan fossa sternum,

membentang antara kedua tepi depan dan medial m.sternokleidomastoid,

panjang irisan 4-5 cm.

Irisan mulai dari kulit, subkutis, platisma sampai fasia colli superfisial

secara tumpul. Bila tampak ismus, maka ismus disisikan ke atas atau ke

bawah. Bila mengalami kesukaran dan tidak memungkinkan, potong saja.

Page 16: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

16

- Bila sudah tampak trakea maka difiksasi dengan kain tajam. Kemudian

suntikkan anestesi lokal kedalam trakea sehingga tidak timbul batuk pada

waktu memasang kanul.

- Stoma dibuat pada cincin trakea 2-3 bagian depan, setelah dipastikan trakea

yaitu dengan menusukkan jarum suntik dan letakkan benang kapas tersebut.

Kemudian kanul dimasukkan dengan bantuan dilator.

- Kanul difksasi dengan pita melingkar leher, jahitan kulit sebaiknya jahitan

longgar agar udara ekspirasi tidak masuk ke jaringan dibawah kulit.

Page 17: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

17

Gambar 5. Trakeostomi yang dilakukan pada obstruksi laring

stadium II dan III

4. Perasat Heimlich (Heimlich Maneuver)

Page 18: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

18

Perasat heimlich adalah suatu cara mengeluarkan benda asing yang menyumbat

laring secara total atau benda asing ukuran besar yang terletak di hipofaring.

Prinsip mekanisme perasat heimlich adalah dengan memberi tekanan pada paru.

Diibaratkan paru sebagai sebuah botol plastik berisi udara yang tertutup oleh

sumbatan. Dengan memencet botol plastik itu sumbatan akan terlempar keluar.

Perasat heimlich ini dapat dilakukan pada orang dewasa dan juga pada anak.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur lambung, ruptur hati dan fraktur

iga.

Teknik perasat heimlich:

- Penolong berdiri di belakang pasien sambil memeluk badannya.

- Tangan kanan dikepalkan dan dengqan bantuan tangan kiri, kedua tangan

diletakkan pada perut bagian atas.

- Kemudian dilakukan penekanan pada rongga perut kearah dalam dan kearah

atas dengan hentakan beberapa kali. Diharapkan dengan hentakan 4-5 kali

benda asing akan terlempar keluar. Pada anak, penekanan cukup dengan

memakai jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan.

- Pada pasien yang tidak sadar atau terbaring, dapat dilakukan dengan cara

penolong berlutut dengan kedua kaki pada kedua sisi pasien. Kepalan

tangan diletakkan di bawah tangan kiri di daerah epigastrium.

- Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan ke atas beberapa kali udara

dalam paru akan mendorong benda asing keluar.

Page 19: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

19

Gambar 6. Perasat heimlich

Page 20: 80730734 Obstruksi Saluran Napas Atas

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar N. Editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga-hidung-

tenggorok. Edisi 5. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

2005.

2. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Editor. Kepala dan Leher dalam: Buku ajar ilmu

bedah. Edisi revisi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997.

3. D Gerard,MD. Epiglotitis. Dalam: Daniel J Kelley MD, Francisco Talavera,

harmD, PhD, Gregory C Allen,MD, Christopher L Slack, MD, Arlen D

Meyers,MD,MBA (editor). http://www.emedicine.com.

4. D Gerard,MD. Croup Dalam: Daniel J Kelley MD, Francisco Talavera, PharmD,

PhD, Gregory C Allen,MD, Christopher L Slack, MD, Arlen D Meyers,MD,MBA

(editor). http://www.emedicine.com.

5. Adams GL, Boies LR, Jr. Highler PA. Boies Buku Ajar THT. Edisi 6. Effendi H.

Santoso RAK. Editor. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1993.

6. Ballenger JJ. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi 13.

Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta. 1994.

7. Hermani B, Abdurrachman. Penanggulangan sumbatan laring. Dalam: S.A.Efiaty,

I.Nurbaiti, B.Jenny, R.D.Ratna (editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga

Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia. Jakarta: 2003 : 243 - 253.