8. MANIFESTASI ORAL AKIBAT DEFISIENSI NUTRISI.doc

download 8. MANIFESTASI ORAL AKIBAT DEFISIENSI NUTRISI.doc

of 26

  • date post

    01-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    44
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of 8. MANIFESTASI ORAL AKIBAT DEFISIENSI NUTRISI.doc

Makalah Ilmiah

MAKALAH ORAL MEDICINE-1MANIFESTASI ORAL

AKIBAT DEFISIENSI NUTRISI

Oleh :MEILINDA

(04101004038)LINDA RIMADINI

(04101004041)PUTRI INAYAH F.F

(04101004042)DEDE WIGUNA

(04101004043)SRI WAHYUNI

(04101004044)Dosen Pembimbing : drg. SulistiawatiPROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGIFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA2012MANIFESTASI ORAL

AKIBAT DEFISIENSI NUTRISINutrisi memiliki peranan penting dalam setiap tahap tumbuh kembang gigi dan dalam menjaga keseimbangan lingkungan rongga mulut yang dihubungkan dengan kesehatan gigi. Meningkatnya masalah gizi, tentunya berdampak pula pada peningkatan prevalensi penyakit gigi dan mulut yang dapat mengakibatkan bertambah buruknya masalah gizi tersebut. Mengetahui hubungan antara nutrisi yang didapat dan kesehatan gigi dan mulut menjadi penting karena seringkali terdapat karakteristik yang khas dari berbagai jaringan dalam rongga mulut yang lebih sensitif terhadap defisiensi nutrisi, sehingga apabila tubuh mengalami defisiensi nutrisi seringkali jaringan dalam rongga mulutlah yang pertama kali memperlihatkan efek defisiensi nutrisi tersebut. Biasanya yang bermanifestasi pada rongga mulut adalah defisiensi mineral, protein, dan vitamin.

1. Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)a. Definisi

Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa ulser putih kekuningan. Ulser ini dapat berupa ulser tunggal maupun lebih dari satu dan dapat terjadi berulang-ulang pada mukosa mulut tanpa adanya tanda-tanda suatu penyakit. SAR dapat menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, serta palatum dalam rongga mulut. Penyakit ini relatif ringan karena tidak bersifat membahayakan jiwa dan tidak menular, namun SAR sangat menganggu.b. Etiologi

Etiologi SAR masih belum diketahui dengan pasti. Ulser pada SAR bukan karena satu faktor saja, tetapi multifaktorial yang memungkinkannya berkembang menjadi ulser.Faktor Etiologi Berdasarkan Defisiensi Nutrisi

Defisiensi hematinic (besi, asam folat, vitamin B1, B2, B6, B12) kemungkinan dua kali lebih besar terkena SAR dibandingkan orang yang sehat. Pada penelitan di Jepang ditemukan adanya hubungan SAR dengan menurunnya asupan makanan yang mengandung zat besi dan vitamin B1. Akan tetapi, pada penelitian ini tidak dilakukan pengujian hubungan antara asupan makanan dengan fakta-fakta defisiensi haematologi.Pada penelitian yang baru-baru ini dilakukan di India dilaporkan adanya korelasi antara konsentrasi nitrat dalam air minum dengan timbulnya SAR, nitrat mengakibatkan meningkatnya aktivitas cytochrome B5 reductase dalam darah dan kerentanan terjadinya recurrent stomatitis. Penjelasan dari teori ini berhubungan dengan adanya kelebihan oksidasi NADH yang mendukung timbulnya inflamasi pada mukosa mulut.Defisiensi vitamin B1, B2, dan B6 telah ditemukan pada 28% pasien yang menderita SAR. Defisiensi vitamin tersebut menyebabkan menurunnya kualitas mukosa sehingga bakteri mudah melekat pada mukosa, dan menurunnya sintesis protein sehingga menghambat metabolisme sel.c. Gambaran KlinisUlser mempunyai ukuran yang bervariasi 1-30 mm, tertutup selaput kuning keabu-abuan, berbatas tegas, dan dikelilingi pinggiran yang eritematous, serta dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan. Karakteristik ulser yang sakit terutama terjadi pada mukosa mulut yang tidak berkeratin yaitu mukosa bukal, labial, lateral dan ventral lidah, dasar mulut, palatum lunak, dan mukosa orofaring.d. Patogenesis

Stanley telah membagi karakter klinis dari SAR kepada 4 tahap yaitu :1. PremonitoriTahap premonitori terjadi pada 24 jam pertama perkembangan lesi SAR. Pada waktu prodromal, pasien akan merasa sensasi mulut terbakar pada tempat di mana lesi akan muncul. Secara mikroskopis, sel-sel mononuklear akan menginfeksi epitelium, dan oedem akan mulai berkembang.2. Pre-ulseratifTahap pre-ulseratif terjadi pada 18-72 jam pertama perkembangan lesi SAR. Pada tahap ini, makula dan papula akan berkembang dengan tepi eritematous. Intesitas rasa nyeri akan meningkat sewaktu tahap pra-ulseratif ini.

3. UlseratifTahap ulseratif akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu. Pada tahap ini papula-papula akan berulserasi dan ulser itu akan diselaputi oleh lapisan fibromembranous yang akan diikuti oleh intensitas nyeri yang berkurang.4. Penyembuhan

Tahap penyembuhan terjadi pada hari ke-4 hingga 35. Ulser tersebut akan ditutupi oleh epitelium. Penyembuhan luka terjadi dan selalu tidak meninggalkan jaringan parut di mana lesi SAR pernah muncul. Oleh karena itu, semua lesi SAR menyembuh dan lesi baru berkembang.e. Klasifikasi 1. SAR Tipe Mayor

Stomatitis tipe mayor disebut juga Recurrent Scarring Aphthous Ulser atau Periadenitis mucosa necrotica recurrens (penyakit Sulton). Kira-kira berkisar 10-15% dari kasus SAR adalah stomatitis aftosa tipe mayor. Pada stadium permulaan berupa nodul atau plak yang kecil, lunak, merah dan sakit yang jika pecah akan menjadi ulser tunggal, berbentuk oval dan sangat sakit. Lesi lebih besar 1 cm dan dapat mencapai hingga 5 cm. SAR tipe mayor dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin. Lesinya berupa ulser yang besar, dalam, serta bertumbuh dengan lambat, biasanya terbentuk dengan tepi yang menonjol atau meninggi, eritematous dan mengkilat, yang menunjukkan bahwa terjadi edema. Lesi berbentuk kawah warna abu-abu dan keras jika dipalpasi. Tipe ini sering diragukan dengan squamus karsinoma. Masa penyembuhannya sekitar 3-6 minggu. Lesi yang sembuh akan meninggalkan jaringan parut setelah sembuh dan jaringan parut tersebut terjadi karena keparahan dan lamanya ulser.

Gambar 1. SAR tipe mayor2. SAR Tipe Minor Tipe minor mengenai sebagian besar pasien SAR yaitu 75-85% dari keseluruhan SAR, yang ditandai dengan adanya ulser berbentuk bulat dan oval, dangkal, dengan diameter 1-10 mm, dan dikelilingi oleh pinggiran yang eritematous. Ulserasi dari tipe minor cenderung mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal, dan dasar mulut. Ulserasi biasa tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri atas ulser dan akan sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas jaringan parut.

Gambar 2. SAR tipe minor3. SAR Tipe HerpetiformStomatitis jenis ini terdapat hanya 5-10% dari semua kasus SAR. Nama herpetiform digunakan karena mirip dengan lesi intraoral pada infeksi virus herpes simplex primer (HSV), tetapi HSV tidak mempunyai peran etiologi pada stomatitis herpetiform atau dalam setiap bentuk ulser SAR lainnya. Bentuk lesi ini ditandai dengan ulser-ulser kecil, berbentuk bulat, sakit, penyebarannya luas, dan dapat menyebar di rongga mulut. Seratus ulser kecil bisa muncul pada satu waktu, dengan diameter 1-3 mm, bila pecah satu per satu ukuran lesi menjadi lebih besar. Ulser akan sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas ulserasi herpetiformis. Istilah herpetiformis digunakan karena bentuk klinis dari ulserasi herpetiformis (yang dapat terdiri atas 100 ulser kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virus-virus herpes ini tidak mempunyai peran etiologi pada ulserasi herpetiformis atau dalam setiap bentuk ulserasi aphtosa.

Gambar 3. SAR Tipe Herpetiformf. PenatalaksanaanSebagian besar SAR akan sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya untuk mengurangi keluhan, kecuali jika ada infeksi sekunder ke jaringan sekitarnya. Obat-obat yang lazim digunakan antara lain:

1. Analgesik lokal (tablet hisap atau obat kumur)

Misalnya Benzydamine (Tanflex, Tantum). Tablet hisap dapat digunakan setiap 3-4 jam (maksimum 12 tablet per hari) hingga sembuh (maksimum 7 hari). Sedangkan obat kumur digunakan berkumur selama 1 menit, setiap 3 jam hingga sembuh (maksimum 7 hari).2. Anestesi lokal (cairan atau gel oles)Misalnya Lidokain, Benzokain, dioleskan pada sariawan (sering dioleskan karena efek anestesi berlangsung singkat).3. Antiseptik (obat kumur)Misalnya povidone iodine (bethadine, septadine, molexdine), klorheksidin (minosep), heksetidin (bactidol, hexadol).4. KortikosteroidMisalnya triamsinolon (ketricin, kenalog in orabase), dioleskan 2-3 kali sehari sesudah makan (maksimal 5 hari).

Beberapa obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati stomatitis.

1. Benzokain dan Lidokain

Dapat digunakan untuk pasien yang menderita stomatitis dengan kesakitan yang sedang atau parah. Obat ini berupa obat kumur yang kental yang dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit jangka pendek yang berlangsung sekitar 10-15 menit.

2. Zilactin

Dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit selama 6 jam. Zilactin dapat lengket pada ulser dan membentuk membran impermeabel yang melindungi ulser dari trauma dan iritasi lanjut.

3. Ziladent

Bersifat sama dengan Zilactin yang juga mengandung benzokain untuk topikal analgesik.

4. Larutan Betadyne

Digunakan secara topikal, memiliki efek yang sama dengan Zilactin dan ziladent.

5. Dyclone

Berupa obat kumur yang digunakan sebelum makan dan sebelum tidur.

6. Aphthasol

Merupakan pasta oral amlexanox yang mirip dengan Zilactin yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit dengan membentuk lapisan pelindung pada ulser.

7. Glukokortikoid

Dapat juga digunakan dalam penyembuhan ulser yang lebih cepat. Digunakan baik secara oral atau topikal.

8. Topikal betametason

Mengandung sirup dan fluocinonide ointment, dapat digunakan pada kasus SAR yang ringan.

9. Prednison

Pemberian secara oral (sampai 15mg/hari) pada kasus SAR yang lebih parah. Hasil terapeutik dapat dilihat dalam satu minggu.

10. Thalidomide

Merupakan obat hipnotis yang mengandung imunosupresif dan anti-inflamasi. Obat ini telah digunakan dalam pengobatan stomatitis aftosa rekuren mayor, sindrom B