46031084 Gejala Gangguan Jiwa.pdf Lengkap

download 46031084 Gejala Gangguan Jiwa.pdf Lengkap

of 34

  • date post

    24-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    636
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of 46031084 Gejala Gangguan Jiwa.pdf Lengkap

GEJALA GANGGUAN JIWA DAN KLASIFIKASI GANGGUAN JIWAI. GEJALA GANGGUAN JIWA A. Pendahuluan Gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara maju diantaranya penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan. Gejala-gejala gangguan jiwa merupakan hasil interaksi yang kompleks antara unsur somatik, psikologik dan sosiobudaya. Gejala-gejala gangguan jiwa menandakan dekompensasi proses adaptasi terutama pada pemikiran, perasaan dan perilaku. Konsep gangguan jiwa memenuhi kriteria berikut: 1. Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa: 2. 3. Sindrom atau pola prilaku Sindrom atau pola psikologik

Gejala klinis tersebut menimbulkan penderitaan (distress), antara lain dapat berupa rasa nyeri, tidak nyaman, tidak tenteram, terganggu dan disfungsi organ tubuh. Gejala klinis tersebut menimbulkan disability yaitu keterbatasan atau kekurangan kemampuan untuk melaksanakan suatu aktivitas pada tingkat personal, yaitu melakukan kegiatan hidup sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup seperti mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, buang air besar dan kecil. Berdasarkan asal penyebabnya, gejala gangguan jiwa dibagi menjadi:

1. Organik Gejala gangguan jiwa timbul akibat adanya perubahan pada jaringan atau fungsi otak. Penyebab kelainan organik dapat berasal dari ekstrakranial seperti racun, infeksi dan lainnya serta berasal dari intrakranial seperti tumor dan aterosklerosis. 2. Psikogenik Gejala ditimbulkan karena adanya stres psikis yang tidak dapat ditanggulangi secara baik oleh mekanisme mental.

1

Tanda (sign) adalah temuan objektif yang didapat oleh dokter, sedangkan gejala (symptom) adalah pengalaman subjektif yang digambarkan oleh pasien. Sebagian besar kondisi psikiatrik adalah sindroma yang merupakan kelompok tanda dan gejala yang terjadi bersama-sama sebagai suatu kondisi yang dapat dikenali yang mungkin kurang spesifik dibandingkan gangguan atau penyakit yang jelas. B. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa 1. Kesadaran Kesadaran merupakan kemampuan individu mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca inderanya) dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta terhadap dirinya sendiri (melalui perhatian). 1.1 Gangguan Kesadaran a. Pengaburan kesadaran : kejernihan ingatan yang tidak lengkap dengan gangguan persepsi dan sikap. b. Somnolen : keadaan mengantuk abnormal yang sering ditemukan pada proses organik. c. Stupor : hilangnya reaksi dan ketidaksadaran terhadap lingkungan sekeliling. d. Delirium : gelisah, bingung, konfusi, reaksi disorientasi yang disertai dengan halusinasi dan rasa takut. e. Koma : derajat ketidaksadaran yang berat. f. Koma vigil : koma dimana pasien tampak tidur tetapi dapat segera dibangunkan. g. Keadaan seperti mimpi (dreamlike state) : seringkali digunakan secara sinonim dengan kejang parsial kompleks atau epilepsi psikomotor. h. Keadaan temaram (twilight state) : gangguan kesadaran dengan halusinasi i. Disorientasi : gangguan orientasi waktu, tempat dan orang. 1.2 Gangguan atensi Atensi adalah jumlah usaha yang dilakukan untuk memusatkan pada bagian tertentu dari pengalaman, kemampuan untuk mempertahankan perhatian pada satu aktivitas, kemampuan untuk berkonsentrasi.

2

a. b.

Distraktibilitas : ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian, penarikan

atensi kepada stimuli eksternal yang tidak penting atau tidak relevan. Inatensi selektif : hambatan hanya pada hal hal yang menimbulkan kecemasan. c. d. Hipervigilensi : atensi dan pemusatan yang berlebihan pada semua stimuli Keadaan tidak sadarkan diri (trance) : atensi yang terpusat dan kesadaran internal dan eksternal, biasanya sekunder dari keadaan delusional atau paranoid. yang berubah, biasanya terlihat pada hipnosis, gangguan disosiatif, dan pengalaman religius yang luar biasa. 1.3 Gangguan sugestibilitas Adalah kepatuhan dan respon yang tidak kritis terhadap gagasan atau pengaruh a. Folie a deux / folie a trios : penyakit emosional yang berhubungan atara dua atau tiga orang. b. Hipnosis : modifikasi kesadaran yang diinduksi secara buatan yang ditandai dengan penigkatan sugestibilitas. 2. Emosi Suatu kompleks keadaan perasaan dengan komponen psikis, somatik dan prilaku yang berhubungan dengan afek dan mood. 2.1 Mood Mood adalah suatu emosi yang meresap dan dipertahankan, yang dialami secara subjektif dan dilaporkan oleh pasien dan terlihat oleh orang lain : contohnya elasi, kemarahan, depresi. a. b. c. d. e. Mood yang meluap-luap (expansive mood) : ekspresi perasaan seseorang tanpa pembatasan Mood eutimik : mood dalam rentang normal Mood disforik : mood yang tidak menyenangkan Mood yang meninggi (elevated mood) : suasana keyakinan dan kesayangan Mood yang iritabel : dengan mudah diganggu atau diubah f. g. Pergeseran mood (mood yang labil) : osilasi antara euforia dan depresi atau kecemasan Ektasi : perasaan kegairahan yang kuat

3

h. i.

Euforia : elasi yang kuat dengan perasaan kebesaran Depresi : perasaan sedih yang psikopatologis j. Dukacita atau berkabung : kesedihan yang sesuai dengan kehilangan yang nyata k. l. 2.2. Afek Merupakan suatu ekspresi emosi yang terlihat, mungkin tidak konsisten dengan emosi yang dikatakan pasien. a. b. Afek yang sesuai (appropriate affect) : kondisi dimana irama emosional Afek yang tidak sesuai (inappropriate affect) : ketidakharmonisan antara harmonis dengan gagasan, pikiran, atau pembicaraan yang menyertai. irama perasaan emosional dengan gagasan, pikiran atau pembicaraan yang menyertai. c. d. e. f. Afek yang terbatas : penurunan intensitas irama perasaan yang kurang Afek yang labil : perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba-tiba yang Afek yang tumpul : gangguan pada afek yang dimanifestasikan oleh Afek yang datar : tidak adanya atau hamper tidak ada tanda ekspresi afek, parah daripada afek tumpul tetapi jelas menurun. tidak berhubungan dengan stimuli eksternal. penurunan berat pada intensitas irama perasaan yang diungkapkan keluar. suara yang monoton, wajah yang tidak bergerak. 2.3 Emosi yang lain a. Ketakutan : kecemasan yang disebabkan oleh bahaya yang dikenali secara sadar dan realistic. b. Agitasi : kecemasan berat yang disertai dengan kegelisahan motorik. c. Kecemasan yang mengambang bebas : rasa takut yang meresap dan tidak terpusatkan yang tidak berhubungan dengan suatu gagasan. d. Ketegangan (tension) : peningkatan aktivitas motorik dan psikologis yang tidak menyenangkan. Aleksitimia : ketidakmampuan atau kesulitan dalam menggambarkan atau Anhedonia : hilangnya minat dan menarik diri dari semua aktivitas rutin menyadari emosi atau mood seseorang dan menyenangkan

4

e. Rasa malu : kegagalan membangun pengharapan diri. f. Abreaksional : pelepasan emosional setelah mengingat pengalaman yang menakutkan. g. Panik : serangan kecamasan yang akut, episodic, dan kuat yang disertai dengan perasaan ketakutan yang melanda dan pelepasan otonomik. h. Apati : irama emosi yang tumpul disertai dengan pelepasan atau ketidakacuhan. i. Kecemasan : perasaan ketakutan yang disebabkan oleh dugaan bahaya, yang mungkin berasal dari dalam atau luar. j. Ambivalensi : terdapatnya secara bersama-sama dua impuls yang berlawanan terhadap hal yang sama pada satu orang yang sama pada waktu yang sama k. Rasa bersalah : emosi sekunder karena melakukan sesuatu yang dianggap salah. 3. Perilaku motorik (Konasi) a. Abullia : penurunan impuls untuk bertindak dan berfikir disertai dengan ketidakacuhan tentang akibat tindakan, disertai dengan defisit neurologist b. Negativisme : tahanan tanpa motivasi terhadap semua usaha untun menggerakkan atau terhadap semua instruksi c. Mannerisme : pergerakan yang tidak disadari yang mendarah daging dan kebiasaan d. Ekopraksia : peniruan pergerakan yang patologis seseorang pada orang lain e. Katapleksi : hilangnya tonus otot dan kelemahan secara sementara yang dicetuskan oleh berbagai keadaan emosional f. Otomatisme : tindakan yang otomatis yang biasanya mewakili suatu aktivitas simbolik yang tidak disadari g. Hipoaktivitas (hipokinesis) : penurunan aktivitas motorik dan kognitif, seperti pada retardasi psikomotor, perlambatan pikiran, bicara dan pergerakan yang dapat terlihat h. Mutisme : tidak bersuara tanpa kelainan struktural

5

i. Stereotipik : pola tindakan fisik atau bicara yang terfiksasi dan berulang j. Memerankan : ekspresi langsung dari suatu harapan atau impuls yang tidak disadari dalam bentuk gerakan k. Mimikri ; aktivitas motorik tiruan dan sederhana pada anak l. Otomatisme perintah : otomatisme mengikuti sugesti m. Katatonia : kelainan motorik dalam gangguan nonorganik Cerea flexibilitas (fleksibilitas lilin) : seseorang dapat diatur dalam suatu posisi yang kemudian dipertahankannya, jika pemeriksa menggerakkan anggota tubuh pasien, anggota tubuh terasa seakanakan terbuat dari lilin. Posturing katatonik : penerimaan postur yang tidak sesuai atau Luapan katatonik : aktivitas motorik yang teragitasi, tidak Stupor katatonik : penurunan aktivitas motorik yang nyata, kaku yang disadari, biasanya dipertahankan dalam waktu yang lama. . bertujuan, dan tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal. seringkali sampai tidak mobilitas dan tampaknya tidak menyadari sekeliling. Katalepsi : posisi yang tidak bergerak yang dipertahankan terusRigiditas katatonik : penerimaan postur yang kaku yang disadari, menerus. menentang usaha untuk digerakkan n. Overaktivitas Agitasi psikomotor : averaktivitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya tidak produktif dan sebagai respon dari ketegangan. Hiperaktivitas (hiperkinesis) : kegelisahan, agresif, aktifitas Tidur berjalan : aktivitas motorik saat tidur. Tik : pergerakan motorik yang spasmodik dan tidak disadari. Ataksia: kegagalan koordinasi otot, irregularitas gerakan otot. Polifagia : makan berlebihan yang patologis. destruktif, seringkali disertai patologi otak dasar.

6

-

A