44569376 Asuhan Keperawatan Pada Ny Y

download 44569376 Asuhan Keperawatan Pada Ny Y

of 81

  • date post

    10-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    74
  • download

    0

Embed Size (px)

description

miastenia gravis miastenia gravis miastenia gravis miastenia gravis

Transcript of 44569376 Asuhan Keperawatan Pada Ny Y

MAKALAHASKEP HALUSINASI PADA NY. Y DI RS DR V.L. RATUMBUYSANG MANDO

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN JIWA 1 DISUSUN OLEH: Laura F. Makaminang Tania M. Lontah Lingsey Paparang Fiska Polii Helty T. Rorimpandey Amanda Q. Manitik Amsal Kasiaheng Switly Wungkana Yusman Labulu

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO 20101

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut dapat menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidaktepatan individu dalam berprilaku yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta dapat menghambat pembangunan karena mereka tidak produktif (Hawari, 2000). Salah satu masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi dan menimbulkan hendaya yang cukup skizofrenia. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang sering ditunjukan oleh adanya gejala positif, diantaranya adalah halusinasi. Halusinasi merupakan persepsi klien terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus yang nyata atau klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar. Penanganan atau perawatan intensif perlu diberikan agar klien skizofrenia dengan halusinasi tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Dengan pernyataan diatas maka kelompok kami tertarik untuk mengangkat kasus tersebut dengan askep pada klien Ny Y dengan halusinasi Auditori dan visual di Rumah Sakit Ratumbuysang Manado Sulut.

2

B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Setelah melakukan praktek di Rumah Sakit Ratumbuysang Manado Sulut diharapkan mahasiswa S1 Keperawatan Unika DE LA SALLE Manado mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny Y dengan Halusinasi Auditori dan Visual di Ruang Kabela RS Ratumbuysang Manado Sulut. 2. Tujuan khusus a. Mampu memahai konsep dasar halusinasi b. Mampu melaksanakan pengkajian pada klien dengan halusinasi c. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan halusinasi d. Mampu menyusun tujuan dan intervensi keperawatan pada klien dengan halusinasi e. Mampu melaksanakan intervensi keperawatan yang telah disusun pada klien dengan halusinasi f. Mampu mengevaluasi hasil pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan halusinasi.

C. RUANG LINGKUP Dalam laporan ini kelompok kami hanya membatasi penyelesaian masalah keperawatan pada Ny Y dengan Perubahan Persepsi Sensori Halusinasi di Ruang Kabela mulai tanggal 22 sampai tggl 27 november 2010.

3

D. METODE PENULISAN Metode yang dilakukan dalam pembuatan makalah ini adalah : 1. Studi kasus Kelompok melakukan asuhan keperawatan secara langsung pada seorang klien dengan masalah perubahan sensori persepsi halusinasi pendengaran di ruang Kabela RSJ Manado. 2. Observasi Mengobservasi gejala gejala perilaku yang dialami klien dengan halusinasi pendengaran dan observasi keberhasilan standard asuhan keperawatan yang diberikan. 3. Wawancara Pengkajian dalam rangka pengumpulan data dilakukan terhadap klien dan perawat ruangan 4. Studi perpustakaan Dengan mempelajari beberapa buku yang berhubungan dengan halusinasi termasuk bahan bahan perkuliahan agar makalah ini mempunyai nilai ilmiah untuk dipertahankan.

E. SISTEMATIKA PENULISAN Adapun metode penyusunan ini terdiri dari V bab yaitu : Bab I Pendahuluan, menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan penulisan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus, ruang lingkup, metode dan sistematika penulisan. Bab II Bab III Bab IV Bab V Landasan teori, menjelaskan tentang LP dan ASKEP teori. Mengenai ASKEP kasus Pembahasan, sedangkan Penutup, yang menjelaskan mengenai kesimpulan dan saran.

Daftar pustaka. Demikian metode penulisan makalah kami.

4

BAB II LANDASAN TEORI

A. LAPORAN PENDAHULUAN 1. MASALAH UTAMA Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi

2. PENGERTIAN Halusinasi adalah salah satu cara respon maladaktif individu yang berada dalam rentang neurobiologis (struart dan Araira, 2001). Ini merupakan respon paling maladaktiv. Jika orang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasika stimulus berdasarkan informasi yang diterimanya melalui panca indera. Stimulus tersebut tidak ada pada pasien halusinasi. Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987). Menurut Maramis (1998) : halusinasi adalah gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu sebenarnya yang tidak terjadi. Perubahan persepsi sensorik adalah suatu keadaan individu yang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat disertai dengan pengurangan berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan respon perubahan yang sering ditemukan pada klien gangguan orientasi realitas adalah halusinasi dan dipersonalisasi (Stuart and sunden, 1998) Struart and Sunden, 1998 mengelompokan karakteristik halusinasi sebagai berikut :

1)

Halusinasi Pendengaran (Auditori) Karakteristik, Mendengar suara, paling sering suara orang yang

membicara sesuatu.5

Perilaku Klien yang diamati Melirikan mata kekiri dan kekanan mencari orang yang berbicara, Mendengarkan penuh perhatian pada benda mati, Terlihat percakapan dengan benda mati.

2)

Halusinasi Penglihatan (Visual) Karakteristik, Stimulus penglihat dalam bentuk pancaran cahaya atau panorama yang luas dan komplek. Perilaku Klien yang diamati Tiba-tiba, tanggap, ketakutan pada benda mati, Tiba-tiba lari keruang lain tanpa stimulus.

3. KLASIFIKASI HALUSINASI a. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya. b. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada. c. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium baubauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya. d. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya. e. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.6

4. PROSES TERJADINYA HALUSINASI Halusinasi pendengaran merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa (schizoprenia). Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara suara bising atau mendengung. Tetapi paling sering berupa kata kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti : bicara sendiri, bertengkar atau respons lain yang membahayakan. Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan

mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati. Halusinasi pendengaran merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi, psikosa mania depresif dan syndroma otak organik.

5. TANDA DAN GEJALA Klien dengan halusinasi sering menunjukan adanya (carpenito, L.J, 1998: 363, Townsend, M.C, 1998, Stuart and Sunden 1998: 328329):

Data Subjektif 1) 2) Tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat. Tidak mampu memecahkan masalah halusinasi (misalnya: mendengar suara-suara atau melihat bayangan) 3) Mengeluh cemas dan khawatir

Data Objektif 1) 2) 3) Mudah tersinggung Apatis dan cenderung menarik diri Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola komunikasi kadang berhenti bicara seolah-olah mendengar sesuatu7

4) 5) 6) 7) 8) 9)

Menggerakan bibirnya tanpa menimbulkan suara Menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai Gerakan mata yang cepat Pikiran yang berubah-ubah dan konsentrasi rendah Kadang tampak ketakutan Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang komplek)

6. PENYEBAB Stuart and Sunden (1998 : 305) mengemukakan faktor predisposisi dari timbulnya halusinasi, antara lain:

1) Faktor Biologis 1. Abnormalitas otak seperti : lesi pada areo frontal, temporal dan limbic dapat menyebabkan respon neurobiologist

2. Beberapa bahan kimia juga dikaitkan dapat menyebabkan respon yang neurbiologis misalnya: dopamine neurotransmiter berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine

neurotransmiter lain dan masalah-masalah pada sistem receptor dopamine.

2) Faktor sosial Budaya Stres yang menumpuk, kemiskinan, peperangan, dan

kerusuhan, dapat menunjang terjadinya respon neurobiologis yang maladaftive.

3) Faktor Psikologis Penolakan dan kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon neurobiologis yang

maladaftive

8

Stuart and sunden (1998: 310) juga mengemukakan faktor pencetus terjadinya halusinasi antara lain: 1. Faktor biologis Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan Stres ketidakmampuan ini dapat

menghadapi

rangsangan.

biologis

menyebabkan respon neurobiologis yang maladaftive. 2. Faktor Stres dan Lingkungan Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Klien berusaha menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi. 3. Faktor Pemicu Gejala a) Kesehatan

Gizi yang buruk, kurang tidur, kurang tidur, keletihan, ansietas sedang informasi. sampai berat, dan gangguan p