4 teori kepribadian-Hippocrates

of 31 /31
1. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya. 1) Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. 2) Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan bersikap optimistis. 3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang- orang seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah. 10 2. 4) Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif. 3. Kutipan Buku : 4 Pola Watak Teori Kepribadian Hippocrates 4. Kembali ke zaman para filsuf Yunani purba, Hipocrates, bapak kedokteran modern, mulai mengobservasi para pasiennya. Dia menemukan bahwa sementara tidak ada 2 orang yang tepat sama, banyak yang mempunyai ciri khas serupa. Satu kelompok sering berbagi pola perilaku tertentu yang konsisten. Pada segi lain, kelompok lainnya memperlihatkan rangkaian perilaku yang yang sangat berbeda, walaupun mereka bertindak secara konsisten di dalam kelompoknya. Begitu Hippocrates dan rekan- rekan sekerjanya memperhatikan ke dalam kelompok mana seseorang cocok, mereka bisa dengan akurat meramalkan aspek-aspek lain tentang tanggapan orang itu terhadap kehidupan. 5. Mereka menyebut orang-orang yang ciri khasnya jelas suka ribut dan terlambat, optimistis, dan menyukai kesenangan "Sanguinis". Mereka menyebut orang-orang yang suka menjadi pemimpin kelompok dan cenderung sok berkuasa "Koleris". Orang-orang yang perlu agar seluruh kehidupannya teratur dan lebih pemurung dari pada lain-lainnya diberi nama "Melankolis". Dan akhirnya, mereka menunjuk orang-orang yang mudah menuju arah mana saja selama orang lain membuat pilihan sebagai "Phlegmatis". Hippocrates tadinya merasa bahwa setiap kelompok berperilaku seperti itu karena adanya cairan tubuh tertentu. Kata "Sanguine" berarti darah serta berhubungan dengan energi tinggi dan optimisme. "Choleric" adalah empedu kuning yang berhubungan dengan kontrol dan kemarahan. "Melancholy" mewakili empedu hitam dan dipilih karena kedalaman intelegensi dan kecenderungan orang itu ke arah tekanan jiwa. "Phlegmatic" berasal dari phlegma (lendir) tubuh yang menjaga orang itu agar tetap damai, pasif,

Embed Size (px)

Transcript of 4 teori kepribadian-Hippocrates

Page 1: 4 teori kepribadian-Hippocrates

1. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya. 1) Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. 2) Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan bersikap optimistis. 3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang- orang seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah. 10

2. 4) Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.

3. Kutipan Buku : 4 Pola Watak Teori Kepribadian Hippocrates

4. Kembali ke zaman para filsuf Yunani purba, Hipocrates, bapak kedokteran modern, mulai mengobservasi para pasiennya. Dia menemukan bahwa sementara tidak ada 2 orang yang tepat sama, banyak yang mempunyai ciri khas serupa. Satu kelompok sering berbagi pola perilaku tertentu yang konsisten. Pada segi lain, kelompok lainnya memperlihatkan rangkaian perilaku yang yang sangat berbeda, walaupun mereka bertindak secara konsisten di dalam kelompoknya. Begitu Hippocrates dan rekan-rekan sekerjanya memperhatikan ke dalam kelompok mana seseorang cocok, mereka bisa dengan akurat meramalkan aspek-aspek lain tentang tanggapan orang itu terhadap kehidupan.

5. Mereka menyebut orang-orang yang ciri khasnya jelas suka ribut dan terlambat, optimistis, dan menyukai kesenangan "Sanguinis". Mereka menyebut orang-orang yang suka menjadi pemimpin kelompok dan cenderung sok berkuasa "Koleris". Orang-orang yang perlu agar seluruh kehidupannya teratur dan lebih pemurung dari pada lain-lainnya diberi nama "Melankolis". Dan akhirnya, mereka menunjuk orang-orang yang mudah menuju arah mana saja selama orang lain membuat pilihan sebagai "Phlegmatis".

Hippocrates tadinya merasa bahwa setiap kelompok berperilaku seperti itu karena adanya cairan tubuh tertentu. Kata "Sanguine" berarti darah serta berhubungan dengan energi tinggi dan optimisme. "Choleric" adalah empedu kuning yang berhubungan dengan kontrol dan kemarahan. "Melancholy" mewakili empedu hitam dan dipilih karena kedalaman intelegensi dan kecenderungan orang itu ke arah tekanan jiwa. "Phlegmatic" berasal dari phlegma (lendir) tubuh yang menjaga orang itu agar tetap damai, pasif, dan mantap. Lama berselang ilmu kedokteran sudah membuang aspek analisis Hippocrates tersebut. Tetapi observasi perilaku ini masih tetap kokoh selama bertahun-tahun sehingga mayoritas telaah kepribadian berakar dalam teori Hippocrates tentang empat pola watak walaupun mungkin mereka telah mengubah labelnya menjadi Sosialiser atau Lingsang.

BAB I

PENDAHULUAN

Page 2: 4 teori kepribadian-Hippocrates

A. Latar Belakang

Seandainya dalam semua segi, setiap orang sama seperti kebanyakan atau bahkan

semua orang lain, kita bisa tahu apa yang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu

berdasarkan pengalaman diri kita sendiri. Kenyataannya, dalam banyak segi, setiap

orang adalah unik, khas. Akibatnya yang lebih sering terjadi adalah kita mengalami

salah paham dengan teman di kampus, sejawat di kantor tetangga atau bahkan dengan

suami/istri dan anak-anak dirumah. Kita terkejut oleh tindakan di luar batas yang

dilakukan oleh seseorang yang biasa dikenal alim dan saleh, dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, kita membutuhkan sejenis kerangka acuan untuk memahami dan

menjelaskan tingkah laku diri sendiri dan orang lain.kita harus memahami defenisi dari

kepribadian itu, bagaimana kepribadan itu terbentuk. Selain itu kita membutuhkan

teori-teori tentang tingkah laku, teori tentang kepribadian agar tembentuk suatu

kepribadian yang baik. Sehingga gangguan-gangguan yang biasa muncul pada

kepribadian setiap individu dapat dihindari.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumsan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

1. Bagaimana konsep-konsep kepribadian?

2. Menjelaskan jenis-jenis gangguan kepribadian.

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah

1. Untuk memahami konsep-konsep kepribadian.

2. Untuk memahami jenis-jenis gangguan kepribadian.

D. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan makalah ini, yaitu:

1. Pendahuluan

2. Pembahasan

3. Penutup

Page 3: 4 teori kepribadian-Hippocrates

BAB II

PEMBAHASAN

A. Defenisi Kepribadian

Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya sesungguhnya berasal dari kata

latin: pesona. Pada mulanya kata personaini menunjuk pada topeng yang biasa

digunakan oleh pemain sandiwara di zaman romawi dalam memainkan perannya.

Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjai satu istilah yang mengacu

pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok masyarakat,

kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan

gambaran sosial yang diterimanya.

Kepribadian (Allport, 1971) adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem

psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam

menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran yang

umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal

seseorang dengan mengetahui struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat

diketahui melalui pemeriksaan terhadap sejarah hidup, cita-cita, dan persoalan-

persoalan yang dihadapi seseorang.

B. Pembentukan Kepribadian

Mengenai pengalaman-pengalaman yang ikut membentuk kepribadian, kita dapat

membedakannya dalam dua golongan :

1. Pengalaman yang umum, yaitu yang dialami oleh tiap-tiap individu dalam

kebudayaan tertentu. Pengalaman ini erat hubungannya dengan fungsi dan

peranan seseorang dalam masyarakat. Misalnya, sebagai laki-laki atau wanita

seseorang mempunyai hak dan kewajiban tertentu. Beberapa dari peran itu dipilih

sendiri oleh orang yang bersangkutan tetapi masih tetap terikat pada norma-norma

masyarakat, misalnya jabatan atau pekerjaan. Meskipun demikian, kepribadian

seseorang tidak dapat sepenuhnya diramalkan atau dikenali hanya berdasarkan

pengetahuan tentang struktur kebudayaan dimana orang itu hidup. Hal ini

disebabkan karena :

a. Pengaruh kebudayaan terhadap seseorang tidaklah sama karena medianya

(orang tua, saudara, media massa dan lain-lain) tidaklah sama pula pada setiap

orang. Setiap orang tua atau media massa mempunyai pandangan dan

Page 4: 4 teori kepribadian-Hippocrates

pendapatnya sendiri sehingga orang-orang yang menerima pandangan dan

pendapat yang berbeda-beda itu akan berbeda-beda pula pendiriannya.

b. Tiap individu mempunyai pengalaman-pengalaman yang khusus, yang terjadi

pada dirinya sendiri.

2. Pengalaman yang khusus, yaitu yang khusus dialami individu sendiri. Pengalaman

ini tidak tergantung pada status dan peran orang yang bersangkutan dalam

masyarakat.

Pengalaman-pengalaman yang umum maupun yang khusus di atas memberi

pengaruh yang berbeda-beda pada tiap individu-individu itu pun merencanakan

pengalaman-pengalaman tersebut secara berbeda-beda pula sampai akhirnya ia

membentuk dalam dirinya suatu stuktur kepribadian yang tetap (permanen). Proses

integrasi pengalaman-pengalaman ke dalam kepribadian yang makin lama makin

dewasa, disebut proses pembentukan identitas diri.

Proses pembentukan identitas diri harus melalui berbagai tingkatan. Salah satu

tingkat yang harus dilalui adalah identifikasi, yaitu dorongan untuk menjadi identik

(sama) dengan orang lain, misalnya dengan ayah, ibu, kakak, saudara, guru, dan

sebagainya. Pada masa remaja, tahap identifikasi ini dapat menyebabkan kebingungan

dan kekaburan akan peran sosial, karena remaja-remaja cenderung mengidentifikasikan

dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus, misalnya dengan ayahnya, bintang film

kesayangannya, tokoh politik favoritnya dan sebagainya. Kalau kekaburan akan

peranan sosial ini tidak dapat dihapuskan sampai remaja itu menjadi dewasa, maka

besar kemungkinannya ia akan menderita gangguan-gangguan kejiwaan pada masa

dewasanya. Karena itu penting sekali diusahakan agar remaja dapat menentukan

sendiri identitas dirinya dan berangsur-angsur melepaskan identifikasinya terhadap

orang-orang lain untuk akhirnya menjadi dirinya sendiri.

C. Teori-Teori Kepribadian

Ada empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu saja berbeda, yakni

teori kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori kepribadian behaviorisme,

dan teori psikoligi kognitif.

1. Teori Kepribadian Psikoanalisis

Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun

model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu

sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi

psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut

pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan superego.

Page 5: 4 teori kepribadian-Hippocrates

Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera impuls

biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai

dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani;suara hati)

memiliki standar moral pada individu. Jadi jelaslah bahwa dalam teori psikoanalisis

Freud, ego harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi naluri seksual dan

agresif yang selalu minta disalurkan) dan super ego (yang berisi larangan yang

menghambat naluri-naluri itu). Selanjutnya ego masih harus mempertimbangkan

realitas di dunia luar sebelum menampilkan perilaku tertentu.

Namun, dalam psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya menghadapi

konflik antara id dan superego, melainkan harus mengelola dorongan-dorongan yang

datang dari ketidak sadaran kolektif (yang berisi naluri-naluri yang diperoleh dari

pengalaman masa lalu dari masa generasi yang lalu) dan ketidaksadaran pribadi

yang berisi pengalaman pribadi yang diredam dalam ketidaksadaran. Berbeda

dengan Freud, Jung tidak mendasarkan teorinya pada dorongan seks.

Bagi erikson, misalnya meskipun ia mengakui adanya id, ego, dan superego,

menurutnya, yang terpenting bukannya dorongan seks dan bukan pula koflik antara

id dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional yang pikiran,

perasaan, dan perilakunya dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu aktif, bukan pasif

seperti pada teori freud, dan merupakan unsur utama dari kepribadian yang lebih

banyak dipengarihi oleh faktor sosial daripada dorongan seksual.

2. Teori-Teori Sifat (Trait Theories)

Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan

aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini

menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat-sifat tertentu, yakni pola

kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini

menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap dari situasi ke situasi.

Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan kecenderungan

pribadi (personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang dapat

membandingkan individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi dimaksudkan

sebagai pola atau konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri individu. Dua orang

mungkin sama-sama jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran berkaitan dengan

sifat lain. Orang pertama, karena peka terhadap perasaan orang lain, kadang-kadang

menceritakan “kebohongan putih” bagi orang ini, kepekaan sensitivitas adalah lebih

tinggi dari kejujuran. Adapun orang orang kedua menilai kejujuran lebih tinggi, dan

mengatakan apa adanya walaupun hal itu melukai orang lain. Orang mungkin pula

memilki sifat yang sama, tetapi dengan motif berbeda. Seseorang mungkin berhati-

Page 6: 4 teori kepribadian-Hippocrates

hati karena ia takut terhadap pendapat orang lain, dan orang lain mungkin hati-hati

karena mengekspresikan kebutuhannya untuk mempertahankan keteraturan hidup.

Termasuk dalam teori-teori sifat berikutnya adalah teori-teori dari Willim

Sheldom. Teori Sheldom sering digolongkan sebagai teori topologi. Meskipun

demikian ia sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini. Menurutnya,

manusia tidak dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan tetapi, setidak-

tidaknya seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda menurut derajat dan

tingkatannya masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini menimbulkan berbagai

kemungkinan tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe. Menurut Sheldom ada

tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai berikut :

a. Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki sifat-

sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran,

lamban, santai, pandai bergaul.

b. Somatotonia. Individu dengan sifat somatotonia yang tinggi memiliki sifat-sifat

seperti berpetualang dan berani mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan

aktivitas fisik yang menantang, agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain,

cenderung menguasai dan membuat gaduh.

c. Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat

tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada

orang lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang di rundung

masalah, Ia memiliki reaksi yang cepat dan sulit tidur.

3. Teori Kepribadian Behaviorisme

Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan

tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku,

melainkan tempat kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor lingkungan dan

bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang

khas pula pada individu tersebut.

Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola

yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai konsekuensi yang

diperkuatnya.

Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk

mengontrol perilaku. Tekhnik tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

1) Pengekangan fisik (psycal restraints)

Menurut skinner, kita mengntrol perilaku melalui pengekangan fisik.

Page 7: 4 teori kepribadian-Hippocrates

Misalnya, beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari

menertawakan kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan

bentuk lain, seperti berjalan menjauhi seseorang yang tealh menghina ita agar

tidak kehilangan kontrol dan menyerang orang tersebut secara fisik.

2) Bantuan fisik (physical aids)

Kadang-kadang orang menggunakan obat-obatan untuk mengontrol perilaku yang

tidak dinginkan. Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak

mengatuk saat menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan

untuk memudahkan perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki

masalah penglihatan dengan cara memakai kacamata.

3) Mengubah kondisi stimulus (changing the stimulus conditions)

Suatu tekhnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggunggung jawab.

Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari

hadapannya sehingga dapat mengekang diri sendiri.

4) Memanipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions)

Skinner menyatakan terkadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri

kita untuk mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan tekhnik

meditasi untuk mengatasi stess.

5) Melakukan respons-respons lain (performing alternativeresponses)

Menurut Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang

membawa hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri

agar tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan

tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.

6) Menguatkan diri secara positif (positif self-reinforcement)

Salah satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku menurut

Skinner, adalah positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas

perilaku yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri

karena telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan

menonton film yang bagus.

7) Menghukum diri sendiri (self punishment)

Akhirnya, seseorang mengkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai

tujuan diri sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri

karena gagal melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar

kembali dengan giat.

4. Teori Psikologi Kognitif

Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan berawal dari

pandangan psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa dalam memersepsi

Page 8: 4 teori kepribadian-Hippocrates

lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang diterima

dari penginderaannya, tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur, saling

dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan awal

dari suatu perilaku.

Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia

tidak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam

lapangan kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan

lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi manusia. Bahkan, dengan teori ini

dimungkinkan juga faktor-faktor diluar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan

psikologis atau lapangan kesadaran seseorang.

D. Tipe-Tipe Kepribadian

Pada dasarnya setisp orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain.

Penelitian tentang kepribadian manusia dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita

mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi

menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya.

1) Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya,

sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis

dan selalu menaruh rasa curiga.

2) Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga

orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu

gembira, dan bersikap optimistis.

3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang-orang

seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis,

pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.

4) Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini

bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri,

sifatnya garang dan agresif.

C.G. Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe manusia

dengan cara lain lagi. Ia menyatakan bahwa perhaian manusia tertuju pada dua arah,

yakni keluar dirinya yang disebut extrovert, dan kedalam dirinya yang disebut introvert.

Jadi, menurut jung tipe manusia bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu :

1) Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya,

kepada orang-orang lain dan kepada masyarakat.

2) Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah pada dirinya.

Orang yang tergolong tipe extrovert mempunyai sifat-sifat: berhati terbuka, lancar

dalam pergaulan, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka

Page 9: 4 teori kepribadian-Hippocrates

mudah memegaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya. Adapun orang-

orang yang tergolong introvert memiliki sifat-sifat : kurang pandai bergaul, pendiam,

sukar diselami batinnya, suka mnyendiri, bahkan sering takut kepada orang lain.

Kretschmer, ahli penyakit jiwa berkebangsaan Jerman, mengemukakan adanya

hubungan yang erat antara tipe tubuh dengan sifat dan wataknya. Ia memebagi

manusia dalam empat golongan menurut tipe atau bentuk tubuhnya masing-masing,

yaitu berikut ini :

1) Atletis, dengan ciri-ciri tubuh: besar, berotot kuat, kekar dan tegap, berdada lebar.

2) Astenis, dengan ciri-ciri: tinggi, kurus, tidak kuat, bahu sempit, lengan, dan kaki

kecil.

3) Piknis, dengan ciri-ciri: bulat, gemuk, pendek, muka bulat, leher pejal.

4) Displastis, merupakan bentuk tubuh campuran dari ketiga tipe diatas.

Tipe watak orang yang berbentuk atletis dan astenis adalah schizothim, yang

menurut Kretschmer mempunyai sifat-sifat, antara lain : sulit bergaul, mempunyai

kebiasaan yang tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi baru, kelihatan sombong,

egoistis dan bersifat ingin berkuasa, kadang-kadang optimis, kadang pula pesimis,

selalu berpikir terlebih dahulu masak-masak sebelum bertindak.

Lain halnya dengan orang yang memiliki bentuk tubuh piknis, atau tipe wataknya

sering disebut siklithim. Sifat orang-orang ini adalah mudah bergaul, suka humor,

mudah berubah-ubah stemming-nya, mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang

baru, lekas memaafkan kesalahan orang lain, tetapi kurang setia, dan tidak konsekuen.

Menurut teori Sheldon, manusia bisa digolongkan menjadi tiga macam tipe yaitu :

a. Tipe Endomorp

Menurut Sheldon, orang yang komponen endomorp-nya tinggi, sedangkan kedua

komponen lainnya rendah, ditandai oleh alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif

(yang berasal dari endoderm) memegang peranan penting. Sheldom menyebut tipe

endomorph dengan kecenderungan pada kebulatan, keluwesan, kehalusan, dan

gemuknya tubuh, serta tangan-kaki yang lembut dan kecil.

b. Tipe Mesomorph

Dalam pandangan Sheldon, orang yang bertipe mesomorph, komponen

mesomorphnya tinggi, sedangkan komponen lainnya lagi rendah. Karena itu, bagian-

bagian tubuhnya yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik

ketimbang yang lain-lain; misalnya: otot-ototnya dominan, pembuluh-pembuluh

darah kuat, jantung juga dominan. Orang tipe ini punya kecenderungan kokoh, keras,

otot tampak bersegi-segi, tahan sakit. Termasuk pada golongan tipe ini, misalnya,

para olahragawan, pengelana, dan tentara.

c. Tipe Ectomorph

Page 10: 4 teori kepribadian-Hippocrates

Orang-orang yang termasuk pada golongan tipe ectomorph ini adalah organ-organ

mereka berasal dari ectoderm yang terutama berkembang, yaitu kulit, sistem saraf.

Kecenderungan tipe entomorph adalah pada tangan dan kaki yang lurus, tubuhnya

tampak lemah dan langsing, jangkung, dada pipih, dan otot-otot hampir tidak tampak

berkembang.

E. Pengukuran-Pengukuran Kepribadian

Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan dari (self-

report)kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian

seutuhnya (personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah

sifat). Ada beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut

ini adalah beberapa diantaranya :

1. Observasi Direct

Observasi direk berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk mempunyai

sasaran yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku

subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan

munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan observasi biasa

mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu.

Observasi direct diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau dapat

dibuat replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan

sebagainya.Ada tiga tipe metode dalam observasi direk yaitu:

a. Time Sampling Method

Dalam time sampling method, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu

tertentu. Hal yang diobservasi mungkin sekadar muncul tidaknya respons, atau

aspek tertentu.

b. Incident Sampling Method

Dalam incident sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku

dalam berbagai situasi. Laporan observasinya mungkin berupa catatan-catatan

dari Ibu tentang anaknya, khusus pada waktu menangis, pada waktu mogok

makan, dan sebgainya. Dalam pencatatan tersebut hal-hal yang menjadi

perhatian adalah tentang intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek berikut

setelah respons.

c. Metode Buku Harian Terkontrol

Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah

laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan sendiri. Misalnya

mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat penggunaan

metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa yang cukup

Page 11: 4 teori kepribadian-Hippocrates

inteligen dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada

perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Wawancara (Interview)

Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakan tatap muka

dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai. Dalam psikologi

kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara, yakni:

a. Stress interview

Stress interview digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang dapat

bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan juga untuk

mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan

emosinya setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer ditugaskan untuk

mengerjakan sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang

lebih sukar.

b. Exhaustive Interview

Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama;

diselenggarakn non-stop. Cara ini biasa digunakan untuk meneliti para tersangka

dibidang kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga.

3. Tes proyektif

Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes

proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-

hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada

testee (orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang

disajikan; tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah.

Jika kepada subjek diberikan tugas yang menunut penggunaan imajinasi, kita dapat

menganalisis hasil fantasinya untuk menguur cara dia merasa dan berpikir. Jika

melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya,

memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif. Jenis

yang termasuk tes proyektif adalah:

a. Tes Rorschach

Tes yang dikembangkan oleh seorang dkter psikiatrik Swiss, Hermann

Rorschach, pada tahun 1920-an, terdiri atas sepuluh kartu yang masing-masing

menampilkan bercak tintan yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna;

sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut diperlihatkan kepada mereka

yang mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk

menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu.

Meskipun noda-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang

mereka berikan berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang

Page 12: 4 teori kepribadian-Hippocrates

mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu.

Analisis dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk

mengenai susunan kepribadiannya.

b. Tes Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT)

Tes apersepsi tematik atau Thematic Apperception Test (TAT), dikembangkan di

Harvard University oleh Hendry Murray pada tahun 1930-an. TAT

mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi

lukisan-lukisan, sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para

peserta diminta mengarang sebuah cerita mengena tiap-tiap gambar yang

diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta membuat sebuah cerita mengenai

latar belakang dari kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar,

mengenai pikiran dan perasaan yang dialami oleh orang-orang didalam gambar

itu, dan bagaimana episode itu akan berakhir. Dalam menganalisis respon

terhadap kartu TAT, ahli psikologi melihat tema yang berulang yang bisa

mengungkapkan kebutuhan, motif, atau karakteristik cara seseorang melakukan

hubungan antarpribadinya.

4. Inventori Kepribadian

Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan

reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara

terstruktur dan ia menanyakan pertanyaan yang sama untuk setiap orang, dan

jawaban biasanya diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai, seringkali dengan

bantuan komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan, investori kepribadian

mungkin dirancang untuk menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya, tingkat

kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian secara keseluruhan. Investori

kepribadian yang terkenal dan banyak digunakan untuk menilai kepribadian

seseorang ialah: (a) Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), (b) Rorced-

Choice Inventories, dan (c) Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W

Temperament Scale).

a. Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)

MMPI terdiri atas kira-kira 550 pernyataan tentag sikap, reaksi emosional, gejala

fisik dan psikologis, serta pengalaman masa lalu. Subjek menjawab tiap

pertanyaan dengan menjawab “benar”, “salah”, atau “tidak dapat mengatakan”.

Pada prinsipnya, jawaban mendapat nilai menurut kesesuaiannya dengan

jawaban yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki berbagai macam

masalah psikologi. MMPI dikembangkan guna membantu klinis dalam

mendiagnosis gangguan kepribadian. Para perancang tes tidak menentukan sifat

mengukurnya, tetapi memberikan ratusn pertanyaan tes untuk

Page 13: 4 teori kepribadian-Hippocrates

mengelompokkan individu. Tiap kelompok diketahui berbeda dari normalnya

menurut kriteria tertentu. Kelompok kriteria terdiri atas individu yang telah

dirawat dengan diagnosis gangguan paranoid. Kelompok kontrol terdiri atas

orang yang belum pernah didiagnosis menderita masalah psikiatrik, tetapi mirip

dengn kelompok kriteria dalah hal usia, jenis kelamin, status sosioekonomi, dan

variabel penting lain.

b. Rorced-Choice Inventories

Rorced-Choice Inventories atau Inventori Pilihan-Paksa termasuk klasifikasi tes

yang volunter. Suatu tes dikatakan volunter bila subjek dapat memilih pilihan

yang lebih disukai, dan tahu bahwa semua pilihan itu benar, tidak ada yang

salah (Muhadjir,1992). Subjek, dalam hal ini, diminta memilih pilihan yang lebih

disukai, lebih sesuai, lebih cocok dengan minatnya, sikapnya, atau pandangan

hidupnya.

c. Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale)

H-W Temperament Scale dikembangkan dari teori kepribadian Rosanoff

(Muhadjir, 1992). Menurut teori ini, kepribadian memiliki enam komponen, yang

lebih banyak bertolak dari keragaman abnomal, yaitu:

1) Schizoid Autistik, mempunyai tendensi tak konsisten, berpikirnya lebih

mengarah pada khayalan.

2) Schizoid Paranoid, mempunyai tendensi tak konsisten, dengan angan bahwa

dirinya penting.

3) Cycloid Manik, emosinya tidak stabil dengan semangat berkobar.

4) Cycloid Depress, emosinya tak stabil dengan retardasi dan pesimisme.

5) Hysteroid, ketunaan watak berbatasan dengan tendensi kriminal.

6) Epileptoid, dengan antusiasme dan aspirasi yang bergerak terus.

H-W Temperament Scale tersusun dalam sejumlah item yang berfungsi untuk

memilahkan kelompok yang patologik dari kelompok penderita hysteroid,

misalnya, diasumsikan memiliki mental kriminal.

F. Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan yang timbul pada masa

kanak-kanak, masa remaja, dan berlanjut pada masa dewasa. Keadaan ini merupakan pola

perilaku yang tertanam dalam dan berlangsung lama, muncul sebagai respon yang kaku

terhadap rentangan situasi pribadi dan sosial yang luas. Penggolongan atau klasifikasi

gangguan kepribadian bermacam-macam, yaitu:

a. Kepribadian Paranoid

Page 14: 4 teori kepribadian-Hippocrates

Kepribadian paranoid adalah gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang

menonjol. Orang lain selalu dilihat sebagai agressor, ingin merugikan, ingin

menyakiti, ingin mencelakai, membahayakan, dan sebagainya, sehingga ia bersikap

sebagai pemberontak untuk mempertahankan harga dirinya. Sering ia mengancam,

memberontak, menolak, membuat keterangan yang tak masuk akal tentang

kesalahan-kesalahannya. Sering ia bersikap apriori, memvonis sesuatu tanpa

melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tanpa dukungan data yang akurat,

melemparkan tanggung jawab dan kesalahannya pada orang lain. Penderita

umumnya ditinggalkan teman-temannya dan mendapatkan banyak musuh.

Gangguan kepribadian paranoid dibagi dua, yaitu:

- Kepribadian yang mudah tersinggung, bereaksi terhadap pengalaman sehari-hari

secara berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung

menyalahkan orang lain tentang pengalamannya itu.

- Kepribadian yang lebih agresif, kasar, serta sangat peka terhadap apa yang

dianggap haknya. Cepat tersinggun bila haknya dilanggar dan sangat gigih dalam

mempertahankan haknya tersebut.

Persamaan kedua kelompok tersebut adalah sifat curiga yang berlebihan, cepat

merasakan bahwa sesuatu itu tertuju pada dirinya dan adanya negatif, serta mudah

sekali tersinggung.

b. Kepribadian Afektif/Siklotim

Ciri utama dari kepribadian siklotim adalah keadaan perasaan dan emosinya yang

berubah-ubah antara depresi dan euforia. Penderita mungkin berhaasil menarik

banyak teman karena sifatnya yang ramah, gembira, semangat, hangat, tetapi

dikenal pula sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Dalam keadaan depresi,

penderita dapat menjadi sangat cemas, khawatir, pesimis, bahkan nihilistik.

c. Kepribadian Skizoid

Sifat-sifat kepribadian ini adalah pemalu, perasa, pendiam, suka menyendiri,

menghindari kontak sosial dengan orang lain. Ciri utamanya adalah cara

menyesuaikan diri dan mempertahankan diri ditempuh dengan menarik diri,

mengasingkan diri, dan juga sering berperilaku aneh (ekstrinsik). Pemikirannya

autistik (hidup dalam dunianya sendiri), melamun berlebihan, dan ketidamampuan

menyatakan rasa permusuhan.

d. Kepribadian Eksplosif

Ciri utama tipe ini adalah diperlihatkannya sifat tertentu yang lain dari perilakunya

sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas, sebagai reaksi terhadap

stres yang dialaminya (walaupun mungkin stresnya sangat kecil). Segera sesudah itu

biasanya ia menyesali perbuatannya.

Page 15: 4 teori kepribadian-Hippocrates

e. Kepribadian Anankastik

Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu,

disertai dengan pengawasan diri yang tinggi. Orangnya tdak kompromis serta sangat

patuh (bahkan berlebihan) pada nora-norma, etika, dan moral. Orang dengan

kepribadian ini sering terlambat unutk menikah, karena tuntutannya terlalu tinggi

dan takut/ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

f. Kepribadian Histerik

Ciri utama kepribadian ini adalah sombong, egosentrik, tidak sabilnya emosi, suka

menarik perhatian denga afek yang labil, sering berdusta dan menunjukkan

pseudologika fantastika (menceritakan secara luas, terperinci, dan kelihatan masuk

akal padahal tanpa dasar fakta atau data. Ia dapat menyatakan perasaannya secara

tepat dan sering disertai dengan gerakan badaniah dalam berkomunikasi.

g. Kepribadian Astenik

Ciri utamanya hidup tidak bergairah, lemas, lesu, letih, lemah, tak ada tenaga

sepanjang kehidupannya. Orangnya tidak tahan terhadap stres hidup yang normal

dalam kehidupan sehari-hari. Vitalitas dan emosionalitasnya sangat rendah. Terdapat

abulia atau kurang kemauan dan anhedonia (kurang mampu menikmati sesuatu).

h. Kepribadian Anti Sosial

Ciri utamanya ialah bahwa perilakunya selalu menimbulkan konflik dengan ornag lain

atau lingkungannya. Tidak loyal pada kelompok dan norma-norma sosial, tidak

toleran terhadap kekecewaan atau frustasi, selalu menyalahkan ornag lain dengan

rasionalisasi. Ia egosentris, idka bertangung jawab, impulsif, agrsif, kebal terhadap

rasa sakit, dan idak mampu belajar dari pengalaman ataupun hukuman yang

diberikan.

i. Kepribadian Pasif-Agresif

Tipe ini dibagi menjadi dua, yaitu:

- Kepribadian pasif dependen, orang dengan tipe kepribadian ini selalu berpikir,

merasa, dan bertindak bahwa kebutuhannya akan ketergantungannya itu dapat

dipenuhi scara menakjubkan.

- Kepribadian pasif agresif, orang dengan tipe ini merasa bahwa kebutuhan akan

ketergantungan tidak pernah terpenuhi. Ia menunjukkan penangguhan dan sikap

keras agar diterima dengan murah hati apa yang diharapkannya degan sangat.

Tipe kepribadian ini ditandai dengan sifat pasif dan agresif. Agresifitas dapat

dinyatakan secara pasif dengan cara bermuka masam, malas, menyabot, dan

keras kepala. Perilaku ini merupakan pencerminan dari rasa permusuhan yang

dinyatakan secara tertutup, atau rasa tidak puas terhadap seseorang/sesuatu

yang kepadanya ia sangat menggantungkan dirinya.

Page 16: 4 teori kepribadian-Hippocrates

j. Kepribadian Inadequat

Ciri utama tipe ini adalah ketidakmampuannya secara terus menerus atau berulang-

ulang untuk memenuhi harapan atau tuntutan teman atau sebayanya atau

kenalannya. Baik dalam respon emosional, intelektual, sosial, maupun fisik. Penderta

sendiri tidak merasakan sebagai bebean karena dianggapnya wajar dan harus

diterima sebagaimana adanya. Orang dengan tipe ini biasanya juga empunyai

kehidupan yang tak terprogram, tidak mampu melaksanakan tugas, serta tidak mau

dipaksa untuk melakukan sesuatu.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kepribadian setiap individu berbeda satu sama lain. Untuk mengetahui kepribadian

seseorang kita perlu mempelajari struktur kepribadiannya. Ada beberapa hal yang

mempengaruhi pembentukan kepribadian yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan

khusus. Sehingga terbentuklah beberapa jenis kepribadian unik dari setiap individu.

Penggolongan ini ada yang berdasarkan faktor eksternal dan internal.

Individu yang tidak dapat menghadapi masalah pribadi dan sosial yang timbul saat

ia masih kanak-kanak sampai dewasa dapat menimbulkan gangguan kepribadian. Oleh

kerena itu sejak dini kepribadian harus dibentuk dengan baik sehingga tidak mengalami

gangguan kepribadian pada masing-masing individu.

Page 17: 4 teori kepribadian-Hippocrates

DAFTAR PUSTAKA

Sobur, Alex, Drs, M.Si. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Sarwono, Sarlito Wirawan, Dr. 2000. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT Bulan

Bintang.

Baihaqi, MIF, Drs, M.Si, dkk. 2005. Psikiatri Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan.

Bandung: PT Refika Aditama.

d. Menurut Spranger

Berdasarkan kuat lemahnya nilai-nilai dalam diri seseorang, R. Spranger

membagi watak/kepribadian manusia menjadi 6 tipe, yaitu:

Page 18: 4 teori kepribadian-Hippocrates

1) Manusia teori

Orang-orang ini berpendapat ilmu pengetahuan paling penting, berada di atas

segala-galanya.

2) Manusia Ekonomi

Nilai yang paling penting bagi orang ini ialah uang (ekonomi)

3) Manusia sosial

Bagi orang ini, nilai-nilai sosial paling mempengaruhi jiwanya.

4) Manusia politik

Nilai yang terpenting bagi orang ini ialah politik

5) Manusia seni

Jiwa orang ini selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai kesenian

6) Manusia

e. saleh

Orang ini pecinta nilai-nilai agama

Berdasarkan studi atas arah kecenderungan perilaku afektif yang dominant terhadap jenis-

jenis objek tertentu, Edward Spranger (Loree,1975:467-468) mengidentifikasi enam jenis

kecenderungan manusia, yang akan berkembang menjadi karakteristik kepribadiannya,

ialah tipe-tipe manusia sebagai berikut:

1.teoretis, cenderung menggandrungi dan mencari nilai kebenaran.

2.ekonomis, cenderung selalu menilai dari segi kemanfaatan, kepraktisan dan

pertimbangan untung-rugi.

3.estetis, cenderung ke arah menilai dan menikmati keindahan musik,artistic,

kesusastraan, ekspresi naturalistic (keindahan alam),bentuk dan harmonis.

4.Sosial, mengabdikan diri dan sangat mencintai masyarakat sesamanya,

5.politis,cenderung untuk memperoleh kekuasaan,dan berkuasa.

6.Religious,cenderung selaluberusaha memahami rahasia alam

semestadanmengabdikan dirinya kepada Sang Maha Penciptanya

BAB I

PENDAHULUAN

Page 19: 4 teori kepribadian-Hippocrates

A. Latar Belakang Masalah

Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling accompanied by

characteristic motor and glandular activies” ( suatu keadaan perasaan yang kompleks yang

disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris ). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono

berpendapat bahwa emosi merupakan “setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai

warna afektif baik pada tingkat lemah ( dangkal ) maupun pada tingkat yang luas

( mendalam ).

Setiap anak memiliki emosi yang berbeda-beda dan biasanya hal itu tergantung dari

Susana hatinya dan kadang juga dipengaruhi dari situasi dilingkungannya. Perasaan emosi

anak ada yang negative ada pula yang positive. Perasaan marah dan takut merupakan

emosi negative pada anak sedangkan perasaan senang atau gembira merupakan emosi

positif pada anak.

Gejala- gejala emosional para anak seperti perasaan sayang, marah, takut, bangga

dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan

dipahami dengan baik. Sebagai pendidik mengetahui setiap aspek tersebut dan hal yang

lain merupakan sesuatu yang terbaik sehingga perkembangan remaja sebagai peserta didik

berjalan dengan normal dan mulus tanpa ada mengalami gangguan sedikitpun.

Emosi dapat juga didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang

menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya prilaku. Gejala-gejala seperti takut,

cemas, marah, dongkol, iri, cemburu, senang, kasih saying, simpati, dan sebagainya

merupakan proses manifestasi dari keadaan emosional pada diri seseorang.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pengaruh emosi anak terhadap kecenderungan prilaku afektif anak?

2. Bagaimana pengaruh emosi terhadap kepribadian anak?

Page 20: 4 teori kepribadian-Hippocrates

3. Bagaimana perkembangan prilaku social anak?

C. Prosedur Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah dalam makalah ini menggunakan prosedur sebagai berikut:

mengumpulkan data tertulis dari sumber-sumber dan pendapat para tokoh untuk menjawab

rumusan masalah, reduksi data dan menyimpulkan data.

D. Sistematika Uraian

Sistematika uraian makalah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu pertama, pendahuluan yang

meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, prosedur pemecahan masalah dan

sistematika uraian. Kedua, isi atau kajian teori dari lingkugan pendidikan berdasarkan buku

sumber. Ketiga, kesimpulan.

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Emosi

Emosi adalah sebagai sesuatu suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan

getaran jiwa ( a strid up state ) yang menyertai atau munculnya sebelum dan sesudah

terjadinya perilaku. (Syamsudin, 2005:114). Sedangkan menurut Crow & crow (1958) (dalam

Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies

generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual,

and that shows it self in his overt behavior.”

Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu

tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.

Menurut James & Lange, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan

jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena

Page 21: 4 teori kepribadian-Hippocrates

gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang

terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami

frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar

tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi.

B. Pengaruh Emosi terhadap Kecenderungan Prilaku Afektif Anak

Dibawah ini adalah beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku

afektif anak di antaranya sebagai berikut:

a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang

telah dicapai.

b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai

puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi)

c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami

ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap

dalam berbicara.

d. Terganggu penyesuaian social, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.

e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan

mempengarui sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun

terhadap orang lain. (Yusuf, 2004 : 115).

C. Pengaruh Emosi Terhadap Kepribadian Anak

Emosional dapat diidentifikasikan pengaruhnya ke dalam berbagai kecenderungan bentuk

perilaku seperti sikap-sikapnya untuk menolak-menerima,mendekati-menjauh, berbuat-tidak

berbuat (diam), menghargai-tidak menghargai, mempercayai-tidak mempercayai, bahkan

Page 22: 4 teori kepribadian-Hippocrates

lebih dalam lagi menyakiti-tidak menyakiti terhadap objek-objek (termasuk dirinya sendiri)

baik bersifat material maupun non material atau manusiawi dan non manusiawi.

Berdasarkan studi atas arah kecenderungan perilaku afektif yang dominant terhadap jenis-

jenis objek tertentu, Edward Spranger (Loree,1975:467-468) mengidentifikasi enam jenis

kecenderungan manusia, yang akan berkembang menjadi karakteristik kepribadiannya,

ialah tipe-tipe manusia sebagai berikut:

1.teoretis, cenderung menggandrungi dan mencari nilai kebenaran.

2.ekonomis, cenderung selalu menilai dari segi kemanfaatan, kepraktisan dan

pertimbangan untung-rugi.

3.estetis, cenderung ke arah menilai dan menikmati keindahan musik,artistic,

kesusastraan, ekspresi naturalistic (keindahan alam),bentuk dan harmonis.

4.Sosial, mengabdikan diri dan sangat mencintai masyarakat sesamanya,

5.politis,cenderung untuk memperoleh kekuasaan,dan berkuasa.

6.Religious,cenderung selaluberusaha memahami rahasia alam

semestadanmengabdikan dirinya kepada Sang Maha Penciptanya.

D. Perkembangan Prilaku Emosi Anak

Pada umumnya, ada empat kunci utama emosi pada anak yaitu :

1.perasaan marah

perasaan ini akan muncul ketika anak terkadang merasa tidak nyaman dengan

lingkungannya atau ada sesuatu yang mengganggunya. Kemarahan pun akan

dikeluarkan anak ketika merasa lelah atau dalam keadaan sakit. Begitu punketika

kemauannya tidak diturutioleh orangtuanya, terkadang timbulrasa marah pada

sianak.

2.perasaan takut

Page 23: 4 teori kepribadian-Hippocrates

rasa takutini di rasakan anak semenjak bayi. Ketika bayi merekatakut akan suara-

suara yang gaduh atau rebut. Ketika menginjak masa anak-anak, perasaan takut

mereka muncul apabila di sekelilingnya gelap. Mereka pu mulai berfantasi dengan

adanya hantu, monster dan mahluk-mahluk yang menyeramkan lainnya.

3.perasaan gembira

perasaan gembira ini tentu saja muncul ketika anak merasa senang akan sesuatu.

Contohnya ketika anakdiberi hadiaholeh orang tuanya, ketika anak juara dalam

mengikuti suatu lomba, atau ketika anak dapat melakukan apa yang diperintahkan

orang tuanya. Banyak hal yang dapat membuat anak merasa gembira.

4.rasa humor

Tertawa merupakan hal yang sangat universal. Anak lebih banyak tertawa di

bandingkan orang dewasa. Anak akan tertawa ketika melihat sesuatu yang lucu.

Keempat perasaan itu merupakan emosi negatifdan positif. Perasaan marah dan ketakutan

merupakan sikap emosi yang negative sedangkan perasaan gembira dan rasa lucu atau

humor merupakan sikap emosi yang positif.

BAB III

KESIMPULAN

A. Perkembangan Emosi Anak

. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik.

Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang

keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Jenis emosi yang

secara normal dialami antara lain: cinta, gembira, marah, takut, cemas, sedih dan

sebagainya.

Page 24: 4 teori kepribadian-Hippocrates

Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya, selalu melibatkan tiga variable,

yaitu : rangsangan yang menimbulkan emosi ( the stimulus variable ), perubahan-

perubahan fisiologis yang terjadi bila mengalami emosi ( the organismic variable ), dan pola

sambutan ekspresi atas terjadinya pengalaman emosional itu ( the response variable ). Yang

mingkindapatdiubah dan dipengaruhi atau diperbaiki ( oleh para pendidik atau guru ) adalah

variabelpertama dan ketiga ( the stimulus-response variable ), sedangkan variable kedua

tidak mungkin di perbaiki karena merupakan proses fisiologis yangterjadi pada organisme

secara mekanis.

B. implikasi dari perkembangan emosi anak terhadap pendidikan dasar

Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan, guru dapat melakukan beberapa upaya

dalam pengembangan emosi remaja misalnya: konsisten dalam pengelolaan kelas,

mendorong anak bersaing dengan diri sendiri, pengelolaan diskusi kelas yang baik,

mencoba memahami remaja, dan membantu siswa untuk berprestasi.

Pemberian tugas - tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar

menimbang, memilih dan mengambil keputusan yang tepat akan sangat menunjang bagi

pembinaan kepribadiannya. Cara yang paling strategis untuk ini adalah apabila para

pendidik terutama para orang tua dan guru dapat menampilkan pribadi-pribadinya yang

dapat merupakan objek identifikasi sebagai pribadi idola para remaja.

Semakin banyak kita mempelajari tentang perkembangan emosi anak, diperkirakan akan

semakin baik kita dalam membimbing dan mengembangkan emosi anak. Implikasi

perkembnagan emosi terhadap pendidikan dasar sangat berpengaruh sekali. Implikasinya

dari segi perkembangannya, apabila seorang anak dapat mengontrol emosinya, maka anak

tersebut akan melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Apabila emosinya baik atau stabil,

maka belajarnya atau pendidikannya pun akan baik.