4 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Kesehatan dan Keselamatan .Definisi menurut Keilmuan: ... Beberapa

download 4 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Kesehatan dan Keselamatan .Definisi menurut Keilmuan: ... Beberapa

of 19

  • date post

    04-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    216
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of 4 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Kesehatan dan Keselamatan .Definisi menurut Keilmuan: ... Beberapa

4

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Definisi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam Djatmiko

(2016) umumnya terbagi menjadi 3 (tiga) versi di antaranya ialah pengertian

K3 menurut Filosofi, Keilmua, serta menurut standar OHSAS 18001: 2007.

Definisi menurut Filosofi

a. Menurut Mangkunegara, keselamatan dan kesehatan kerja adalah

suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan

kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah tenaga kerja pada

khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk

menuju masyarakat adil dan makmur.

b. Menurut Sumamur (1981), keselamatan kerja merupakan rangkaian

usaha menciptakan suasana kerja aman dan tentram bagi para

karyawan yang bersangkutan.

c. Menurut Simanjuntak (1994), keselamatan kerja adalah kondisi

keselamatan yang bebas dari risiko kecelakaan dan kerusakan dimana

kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,

peralatan keselamatan dan kondisi pekerja.

d. Mathis dan Jacson, menyatakan bahwa keselamatan adalah merujuk

pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap

cidera yang terkait dengan pekerjaan, kesehatan adalah merujuk pada

kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.

Definisi menurut Keilmuan:

Suatu cabang ilmu pengetahuan dan penerapan yang mempelajari

tentang cara mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja

(PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

5

Definisi menurut standar OHSAS 18001:2007

Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampat pada keselamatan dan

kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pamasok,

pengunjung dan tamu) ditempat kerja.

2.2 Teori Kecelakaan Kerja

Menurut Wianjani (2010) terdapat sejumlah teori tantang kecelakaan.

Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan

menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan

atau memperkirakan dengan alasan-alasan yang akurat kemungkinan sebuah

kecelakaan akan terjadi. Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat

terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi

dan penyebabnya.

1. Teori Domino Heinrich

Dalam teori ini kecelakaan terdiri dari lima faktor yang saling

berhubungan: kondisi kerja, kelalaian manusia, tindakan tidak aman,

kecelakaan dan cidera. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan

pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan.

2. Teori Kecelakaan Pettersen

Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia

ada 3 kategori besar: beban yang berlebih, rangkap dan keputusan

yang keliru. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrel model.

Perbedaan yang utama adalah kategori ketiga yaitu keputusan yang

keliru. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan

kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar.

2.3 Tujuan dan Manfaat Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pemeliharaan keselamatan dan kesehatan karyawan merupakan hal

yang sangat penting untuk diperhatikan. Perusahaan memperhatikan hal ini

untuk mengurangi atau menghilangkan risiko kecelakaan kerja yang dialami

6

para karyawan untuk mencapai keamanan dan kenyamanan kerja dalam

mencapai tujuan perusahaan secara efisien dan efektif. Berdasarkan Peraturan

Menteri Tenaga Kerja Nomor Per.05/Men/1996 pasal 2 sebagai tujuan dan

sasaran dari sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah

menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja

dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, dan lingkungan kerja yang

terintegrasi dalam dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan

penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan

produktif.

Diciptakannya undang-undang dan peraturan-peraturan tentang sistem

manajemen keselamatan dan kesehatan kerja akan memiliki manfaat yang

besar bagi masyarakat umum, khususnya bagi para pekerja itu sendiri. Di sisi

lain penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja memiliki

berbagai manfaat bagi industri. Perusahaan tidak dirugikan dalam kegiatan

produksi atas hilangnya sebagian waktu, kerugian material, dan biaya

pengobatan akibat kecelakaan kerja. Secara moral, karyawan merasa aman

dan nyaman bekerja sehingga produktivitas kerja akan meningkat. Selain itu,

manfaat lain yang sama dengan itu adalah kesan masyarakat terhadap

perusahaan semakin lebih baik, terciptanya hubungan yang harmonis antara

karyawan dengan perusahaan, dan komitmen karyawan terhadap perusahaan

semakin tinggi.

Beberapa pendapat para ahli tentang tujuan dari keselamatan dan

kesehatan kerja menurut Gary (1993) dalam Harahap (2012) untuk sedapat

mungkin memberikan jaminan kondisi kerja yang aman dan sehat kepada

setiap pekerja dan untuk melindungi sumber daya manusia. Menurut

Sumamur (1981), dalam Hindarto (2012) tujuan dari keselamatan dan

kesehatan kerja adalah:

7

Melindungi tenaga kerja atas hak dan keselamatannya dalam

melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan

kinerja.

a. Menjamin keselamatan orang lain yang berada di tempat kerja.

b. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan

efisien.

Menurut Sumamur menyebutkan bahwa dalam aneka pendekatan

keselamatan dan kesehatan kerja antara lain akan diuraikan pentingnya

perencanaan yang tepat, pakaian kerja yang tepat, penggunaan alat alat

perlindungan diri, pengaturan warna, tanda-tanda petunjuk, label-label,

pengaturan pertukaran udara dan suhu serta usaha-usaha terhadap

kebisingan. Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep.

463/MEN/1993 tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah

mewujudkan masyarakat dan lingkungan kerja yang aman, sehat dan

sejahtera, sehingga akan tercapai suasana lingkungan kerja yang aman, sehat,

dan nyaman dengan keadaan tenaga kerja yang sehat fisik, mental, sosial, dan

bebas kecelakaan.

2.4 Definisi Human Error

Definisi menurut Yafis (2007) kelalaian manusia (Human Error)

merupakan salah satu penyebab penting dalam banyak kecelakaan. Beberapa

penelitian dilakukan mengenai kelalaian manusia (Human Error) oleh

beberapa pakar menghasilkan kesimpulan mengenai definisi Human Error,

diantaranya adalah:

a. Reason (1990): a generic tern of encompass all those occasions

in which a planned sequence of mental or physical activities fails

to achieve outcome, and when these failures cannot be attributed

to the intervention of some chance agency

8

b. Senders and Moray (1991): something (that) has been done

which was not intended by the actor. Not desired by a set of rules

or an external observer, or that led the task or system outside its

acceptable limits

c. Woods, Johannesen and Sarter (1994): a specific varety of

human performance that is so clearly and significantly

substandard and flawed viewed in retrospect that there is no doubt

that it should have been viewed by the practitioner as substandard

at the time the act was commitied or omitted.

Untuk menghindari kebingan karena adanya perbedaan defines, maka

diambil suatu kesimpulan berdasarkan ketiga defineisi human error di atas,

yaitu: suatu aksi atau keputusan manusia yang mengakibatkan satu atau lebih

hasil negative yang tidak dikehendaki.

2.5 Pendekatan Human Error

Menurut Reason (1990), jumlah keterlibatan human error yang tinggi

merupakan hal yang mengejutkan karena hampir semua sistem teknologi tidak

hanya dijalankan oleh manusia, tetapi juga didesain, dikonstruksi,

diorganisasi, dimanage, dipelihara, dan diatur oleh manusia. Rangkaian

kecelakaan dimulai dengan dampak keputusan dalam organisasi (keputusan

yang berhubungan dengan perencanaan, penjadwalan, ramalan, desain,

spesifikasi, komunikasi, prosedur, pemeliharaan, dan sebagainya). Keputusan

ini merupakan produk yang dipengaruhi oleh batasan keuangan dan politik di

mana perusahaan berjalan, dan ditentukan oleh faktor-faktor yang dapat

dikontrol oleh manajer (Reason, 1995).

Reason (1995) menggambarkan system approach to organizational

error. Tidak diragukan lagi bahwa kegagalan manusia tidak terbatas pada

sharp end, yaitu pada pengemudi, pilot, petugas kapal, operator ruang

9

kontrol dan lain-lain dalam kontrol langsung dari suatu sistem. Telah

ditemukan indikasi bahwa faktor manusia terdistribusi secara luas, meliputi

semua yang ada dalam sistem sebagai keseluruhan dan biasanya baru

bertahun-tahun kemudian menyebabkan peristiwa yang sebenarnya. Model ini

menampilkan orang pada sharp end sebagai penanggung akibat dan bukan

sebagai penyebab dari rangkaian cacat konstruksi. Sharp end tidak lagi

dipersalahkan, melainkan telah dialihkan ke sistem manajerial dalam

organisasi.

2.6 Sebab-sebab Human Error

Menurut Atkinson (1998)