4 ilana tan spring in london

download 4 ilana tan   spring in london

of 160

  • date post

    17-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    148
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of 4 ilana tan spring in london

  • Spring in London

    Ilana Tan

  • To the one who showed me Moonlight...

    thank you...

  • Prolog

    ADA sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulu. Sampai sekarang aku

    belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya

    adalah karena aku takut.

    Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan?

    Apakah kau akan menerima pengakuanku?

    Apakah kau akan percaya padaku?

    Apakah kau masih akan menatapku seperti ini?

    Tersenyum padaku seperti ini?

    Atau apakah justru kau akan menjauh dariku?

    Meninggalkanku?

    Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin

    menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah

    mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.

    Jangan pergi dariku.

    Tetaplah di sisiku.

  • Bab Satu

    Seoul, Korea Selatan

    AKHIRNYA kaujawab juga teleponmu. Aku sudah mencoba menghubungimu

    berkali-kali selama tiga hari terakhir.

    Kata-kata itu menerjang gendang telinga Danny Jo bahkan sebelum ia sempat

    berkata Halo. Ia bahkan juga belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya

    ke telinga. Mengenali suara sahabatnya di ujung sana, Danny tertawa dan berkata,

    Jung Tae-Woo, aku tahu kau rindu padaku, tapi tolong kecilkan sedikit suaramu.

    Aku tidak mau orang-orang yang ada di dekatmu berpikir kita pacaran atau

    semacamnya. Kau mungkin sudah terbiasa dengan gosip gay1, tapi aku tidak.

    Jung Tae-Woo tertawa hambar. Lucu sekali, katanya datar.

    Danny berdiri menghadap kaca jendela besar di kantor itu, menatap jalanan

    Apgujeong-dong di bawah sana. Jalanan cukup ramai, orang-orang dalam balutan

    jaket tebal beraneka warna berjalan di sepanjang trotoar dan mobil-mobil

    berseliweran di jalan raya. Pemandangan yang sangat biasa. Pemandangan sehari-

    hari yang sering kali diabaikan kebanyakan orang. Namun Danny menyukainya. Ia

    suka mengamati keadaan di sekitarnya, setiap pejalan kaki dan setiap mobil yang

    lewat.

    Sebenarnya aku tahu kau meneleponku, kata danny ringan, dan aku minta

    maaf karena tidak sempat membalas teleponmu. Kau sendiri penyanyi terkenal, jadi

    kau tentu tahu bagaimana rasanya saat jadwal kerjamu begitu padat sampai kau

    bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Aku harus berangkat ke

    London minggu depan, jadi semua pekerjaanku di sini harus selesai sebelum itu.

    Aku tahu kau mau pergi ke London, sela Tae-Woo. Karena itulah aku

    meneleponmu. Aku butuh bantuan.

    Tentu, sahut Danny tanpa ragu, katakan saja.

    Aku ingin kau tampil dalam video musikku.

    Video musikmu?

    1 Baca Summer In Seoul

  • Syutingnya akan dilakukan di London. Kau tahu siapa yang sudah setuju

    menjadi sutradaranya? Tanpa menunggu jawaban, Tae-Woo melanjutkan, Bobby

    Shin. Dan karena aku tahu kau akan pergi ke London untuk bekerja dengannya,

    kupikir kami tidak perlu mencari model pria lagi. Kau model pria yang sempurna.

    Bagaimana menurutmu?

    Danny mendesah, pura-pura pasrah. Apakah aku punya pilihan lain?

    Tidak, kata Tae-Woo sambil tertawa. Oke. Berarti kita sudah sepakat. Oh ya,

    Danny, asal kau tahu, wajahmu tidak akan terlihat sepanjang video musik itu.

    Hanya model wanitanya yang akan disorot.

    Alis Danny terangkat. Apa? Kenapa?

    Secara pribadi, menurutku kau terlalu tampan untuk video musikku, gurau

    Jung Tae-Woo. Tapi tenanglah, walaupun hanya punggungmu atau bagian

    belakang kepalamu yang terlihat, seluruh Korea akan tahu bahwa Danny Jo yang

    membintangi video musik Jung Tae-Woo. Kalau kau keberatan, silakan bicarakan

    dengan Sutradara Shin. Dia yan gmembuat konsep video musiknya.

    Danny kembali mendesah berlebihan, namun mulutnya tersenyum. Jung Tae-

    Woo, aku ini orang sibuk, baik di sini maupun di London nanti. Jadi katakan

    padaku, kenapa aku harus meluangkan waktuku yang berharga untuk tampil dalam

    video musikmu kalau wajahku tidak akan terlihat?

    Mengabaikan pertanyaan Danny, Jung Tae-Woo malah balas bertanya, Sibuk?

    Maksudmu sibuk pacaran? Lalu ia terkekeh. Kapan kau akan mengenalkan

    pacarmu kepadaku?

    Alis Danny terangkat heran. Apa maksudmu? Pacar apa?

    Gadis yang kulihat keluar dari restoran di Gangnam bersamamu kemarin

    malam. Apakah gaids itu yang membuatmu sibuk akhir-akhir ini?

    Mata Danny menyipit begitu teringat kejadian kemarin malam. Dan beberapa

    kejadian sebelum kejadian kemarin malam. Dia bukan pacarku.

    Oh, yang benar saja.

    Dia... bukan... pacarku, ulang Danny, menekankan seitap kata. Lagi pula

    apa-apaan ini? Kau sudah beralih profesi menjadi wartawan atau apa?

    Jung Tae-Woo tertawa. Hei, aku hanya bertanya.

    Saat itu pintu kantor terbuka dan Danny berbalik. Matanya terarah pada wanita

    bertubuh langsing dan berambut pendek yang berdiri di ambang pintu dan yang

    menatap Danny dengan alis terangkat. Danny yakin kakak perempuannya heran ia

    muncul di sini tanpa pemberitahuan. Ia mengangkat sebelah tangan, tanpa suara

    menyapa kakaknya, dan tersenyum singkat, senyum yang sudah membuat banyak

    gadis penggemarnya luluh lantak.

    Aku harus pergi sekarang. Nanti kita bicara lagi, kata Danny di ponsel. Tanpa

    menunggu jawaban Tae-Woo ia menutup ponsel, menjejalkan benda itu ke saku

  • celana jinsnya, lalu berpaling ke arah kakaknya. Nuna2 harus bicara dengan Ibu,

    katanya langsung tanpa basa-basi.

    Anna Jo, yang sedang melepaskan topi, menghentikan gerakannya dan menatap

    adiknya dengan heran, lalu tersenyum. Selamat pagi juga, adikku sayang, katanya

    sambil menyisir rambutnya yang berpotongan modis dengan jari. Dan apa yang

    harus kubicarakan dengan Ibu?

    Anna tiga tahun lebih tua daripada Danny. Wajah kedua kakak beradik itu tidak

    mirip, tetapi mereka sama-sama memiliki wajah menarik yang disukai para

    fotografer, sama-sama memiliki bentuk tubuh jangkung dan ramping yang disukai

    para perancang busana, sama-sama memiliki kepandaian berbicara yang membuat

    mereka disenangi orang-orang yang bekerja sama dengan mereka. Semua itulah

    yang menjadikan mereka model terkenal.

    Dulu Anna Jo adalah model fashion yang menghabiskan waktunya berjalan di

    atas catwalk di seluruh penjuru dunia. Namun sejak lima tahun lalu ia mulai dikenal

    sebagai perancang busana dan butik-butiknya kini tersebar di Seoul dan Tokyo.

    Danny mengerang dan menjatuhkan dirinya di kursi berlengan di depan meja

    kerja kakaknya. Nuna, aku benar-benar harus bicara dengan Ibu, katanya lagi, kali

    ini dengan suara yang terdengar tertekan. Ibu tidak bisa terus berusaha

    menjodohkan aku dengan anak perempuan sahabatnya, atau saudara perempuan

    kenalannya, atauseperti yang terjadi kemarin malamkeponakan perempuan

    orang yang baru dikenalnya di salon! Ini sudah kelewatan. Kenapa tiba-tiba saja Ibu

    begitu bersemangat ingin menjodohkan aku? Dan asal Nuna tahu, akhir-akhir aku

    sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk main-main.

    Kalau kakaknya lebih dikenal sebagai model catwalk, maka Danny lebih dikenal

    sebagai model iklan. Wajahnya sering terpampang di majalah-majalah dan iklan

    televisi. Menurut survei salah satu majalah remaja populer, Danny Jo adalah salah

    satu bintang iklan paling diminati di Korea Selatan, walaupun akhir-akhir ini ia

    mulai memfokuskan diri pada impiannya yang lain, yaitu menjadi sutradara video

    musik.

    Anna tersenyum lebar dan memeriksa surat-surat yang diletakkan sekretarisnya

    dengan rapi di atas meja kerja. Kurasa kencan buta yang diatur Ibu untukmu

    kemarin malam tidak berjalan mulus? Kau tidak suka gadis itu?

    Danny mencondongkan badan ke depan, wajahnya serius. Apakah Nuna

    percaya kalau kubilang gadis itu baru lulus SMA?

    Mata Anna melebar menatap adiknya, lalu tertawa terbahak-bahak. Astaga,

    Ibu benar-benar sudah kelewatan kali ini.

    Danny mendesah berat dan bersandar ke kursinya kembali. Apa yang Ibu

    rencanakan? Kenapa Ibu ingin aku segera menikah? Aku tidak mengerti. Nuna harus

    membantuku menyadarkan Ibu. Kalau tidak, aku bisa gila.

    Kenapa bukan kau sendiri yang bicara dengan Ibu?

  • Aku sudah mencobanya, tapi Ibu tidak mau mendengarkanku, sahut Danny.

    Ibu beralasan bahwa dia hanya ingin membantu, karena aku terlalu sibuk bekerja

    sampai tidak sempat bersosialisasi. Katanya siapa tahu di antara gadis-gadis yang

    dikenalkannya kepadaku itu ada yang cocok untukku. Katanya dia hanya

    bermaksud baik dan aku seharusnya menghargai usahanya. Danny terdiam, lalu

    menatap kakaknya dengan mata disipitkan. Jangan-jangan Nuna dulu menikah

    juga karena dijodohkan Ibu?

    Jo In-Ho, jangan sampai kakak iparmu mendengar itu, Anna Jo

    memperingatkan sambil tertawa. Dia sangat gencar mengejarku dulu.

    Danny tersenyum masam. Aku tahu.

    Anna Jo memandang adiknya yang sedang tertekan itu dengan perasaan geli

    bercampur kasihan. Setelah tiga kali mencoba dan gagal, kurasa Ibu akan

    menyerah.

    Danny menggeleng cepat. Oh, kurasa tidak. Kemarin Ibu bertanya padaku

    wanita seperti apa yang kusuka. Untuk memudahkannya mencari wanita yang tepat

    untukku, begitu katanya. Aku yakin dia masih belum menyerah.

    Lalu apa yang kaukatakan padanya?

    Kali ini Danny tersenyum kecil. Kukatakan padanya kami akan melanjutkan

    pembicaraan itu setelah aku kembali dari London.

    Anna mengangkat alis. Oh, kau j