4. ALIH TEKNOLOGI

of 41 /41
ALIH TEKNOLOGI KELOMPOK IV : 1. Wanedi H1C009062 2. Samuel August P H1C010008 3. Catur Arie N H1C010011 4. Irma Susanti H1C010017 5. Abdul Rozak R H1C010038 6. Raditya P.W.P H1C010050 7. Adi Dharmawan H1C010063 8. Walfathu N H1C010073 9. Handoyo Nur S H1C01100 10. Rezky Ianda H H1C01100

Embed Size (px)

Transcript of 4. ALIH TEKNOLOGI

ALIH TEKNOLOGI

ALIH TEKNOLOGIKELOMPOK IV :Wanedi H1C009062Samuel August P H1C010008Catur Arie N H1C010011Irma Susanti H1C010017Abdul Rozak R H1C010038Raditya P.W.P H1C010050Adi Dharmawan H1C010063Walfathu N H1C010073Handoyo Nur S H1C01100Rezky Ianda H H1C01100

Istilah alih atau pengalihan merupakan terjemahan dari kata transfer. Sedang kata transfer berasal dari bahasa latin transfere yang berarti jarak lintas (trans, accross) dan ferre yang berarti memuat (besar). Kata alih atau pengalihan banyak dipakai para ahli dalam berbagai tulisan, walaupun adapula yang menggunakan istilah lain seperti pemindahan yang diartikan sebagai pemindahan sesuatu dari satu tangan ke tangan yang lain, sama halnya dengan pengoperan atau penyerahan.Pendapat inilah yang menekankan makna harfiahnya, pendapat lain dengan istilah pelimpahan sedangkan para ahli menghendaki makna esensinya dengan memperhatikan unsur adaptasi, asimilasi, desiminasi atau difusikannya obyek yang ditransfer (teknologi).

PENGERTIAN ALIH TEKNOLOGIAlih teknologi akan terjadi bila sebuah kelompok individu (merupakan bagian sebuah organisasi) mempunyai kemampuan efektif untuk menerima (dalam kondisi baik) sebuah atau beberapa fungsi yang berhubungan dengan sebuah teknik tertentu (Seurat, 1979)Sekumpulan pertukaran informasi & energi antara dua unit kerja yang terpisah mengenai sistem atau sub sistem teknologi (pengetahuan, keterampilan teknik, produk & proses teknologi), yang dinyatakan dalam bentuk kontrak (Atamer, 1980)Menjual suatu teknologi (pada sebuah negara) yang akan digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Drouvot, Duran, 1978)

PENGERTIAN MENURUT PARA AHLIPENGERTIAN MENURUT PP NO 20 TAHUN 2005Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga, badan atau orang, baik yang berada dalam lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri atau sebaliknya.

Alih teknologi adalah pengalihan pengetahuan dan keterampilan teknologi, terutama pemindahan materialnya, dari suku cadang yg terkecil sampai ke pabrik yg paling lengkap,

PENGERTIAN MENURUT KAMUS BESAR BAHASA INDONESIAMenurut kelompok kami :Alih teknologi adalah suatu proses pengalihan atau pertukaran bentuk perkembangan teknologi dengan syarat dan ketentuan yang disepakati oleh pemberi dan penerima untuk memajukan suatu bidang kerja tertentu.Jadi apa itu alih teknologi?TUJUAN ALIH TEKNOLOGITujuan alih teknologi diadakan di negara berkembang seperti Indonesia adalah agar dapat memajukan di sektor tenaga kerja dan juga produk khususnya di era globalisasi ini.

ELEMEN ALIH TEKNOLOGI

Isi: material, non materialPeran: individu, kelompok individu (pemberi & penerima)Dukungan: pendekatan juridik (kontrak)Hasil: hasil alih teknologi harus dapat diukur dengan melakukan asesmen teknologiPRINSIP PROSES ALIH TEKNOLOGI3 prinsip (Boutat, 1991):Objek: pengetahuan, keterampilan, teknologi, teknikCara: informasi, sumber daya manusia, modal, atau cara yang lainnya yang membantuProses: konsep, organisasi, pelaksanaan, kontrol

PRINSIP PROSES ALIH TEKNOLOGI

CARA ALIH TEKNOLOGIAlih teknologi dari suatu negara kenegara lain, umumnya dari negara maju ke berkembang dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada macamnya bantuan teknologi yang dibutuhkan untuk suatu proyek. Teknologi dapat dipindahkan melalui 4 cara sebagai berikut, yaituMemperkerjakan tenaga-tenaga ahli aging perorangan.Dengan cara ini negara berkembang bisa dengan mudah mendapatkan teknologi, yang berupa teknik dan proses manufacturing yang tidak dipatenkan. Cara ini hanya cocok untuk industri kecil dan menengah.2. Menyelenggarakan suplai dari mesin-mesin dan alat equipment lainnya. Suplai ini dapat dilakukan dengan kontrak tersendiri.

3. Perjanjian lisensi. Dalam teknologi sipemilik teknologi dapat memudahkan teknologi dengan memeberikan hak kepada setiap orang/badan untuk melaksanakan teknologi dengan suatu lisensi.4. Expertisi dan bantuan teknologi.Keahlian dan bantuan dapat berupa:- Studi pre-investasi.- Basic pre-ingeenering.- Spesifikasi masin-mesin.- Pemasangan dan menja1ankan mesin-mesin.- Manajemen.KRITERIA PEMILIHAN TEKNOLOGISubjektifitas: hubungan baik, langganan, prestigeMinimasi Resiko: perusahaan terkenal (leader)Keuangan: pemberian kredit yang menarikKomersial: kebutuhan ekspor dari produk tertentuPenawaran Teknologi: kemampuan implementasi alih teknologi, pelatihan, kegiatan R&DSistem Produksi: kualitas, proses, teknologiOtonomi: kebijakan industri dalam mengembangkan teknologi (otonomi)

Ketentuan dan Syarat pada Alih TeknologiPenyerahan suatu atau beberapa hak teknologi (lisensi) dari lisencor kepada lisencee perlu ditundukkan pada sejumlah ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak karena dalam ketentuan dan syarat tersebut masing-masing menentukan bussiness expectation dari komitmen hukum yang diperjanjikan. Melalui ketentuan dan syarat tersebut hak (keuntungan yang diharapkan) dan kewajiban (pengorbanan) masing-masing pihak ditetapkan seimbang dan adil.Diantara berbagai ketentuan dan syarat tersebut yang perlu mendapat perhatian utama diantaranya:

1. Eksklusifitas atau non-eksklusifitasPemberian dan penerimaan lisensi dapat bersifat eksklusif dan non-eksklusif, dapat ditinjau dari segi lisencor atau lisencee dengan kepentingan yang berbeda-beda. Untuk kepentingan pemasaran yang luas, Licensor biasanya menghendaki pemberian lisensi yang non-ekslusif, sehingga lisensi itu dapat digunakan oleh lebih banyak lisencee.

2. Pembatasan jenis kegiatanBiasanya lisensi tidak diberikan tanpa batas, dan pembatasan tersebut dapat ditentukan dengan berbagai cara. Cara-cara tersebut diantaranya:Lisencee dapat menerima hak know how untuk memproduksi serta menggunakan merek dagang untuk menjual produk yang bersangkutan.Lisencee dapat menerima hak know how untuk memproduksi, tetapi hak menggunakan merek dagang diberikan kepada Licensee lain guna memasarkannya.Lisencee hanya mendapatkan hak untuk menggunakan merek perusahaan dalam menjalankan usahanya sendiri.Lisencee tergantung dari keadaan, bahkan dapat menerima hak know how, hak untuk mengembangkan, hak untuk memasarkan, termasuk mengekspor ke wilayah hukum lain.ALIH TEKNOLOGI DALAM STRATEGI PERUSAHAANModus penetrasi (internasional):Ekspor: menjual produk (kuatnya permintaan pasar domestik, keterbatasan kebutuhan pasar domestik, keterbatasan adaptasi dalam kualitas, peratura, persaingan)Perwakilan perusahaan: realisasi investasi langsung (agen penjualan sampai mendirikan usaha/pabrik)Strategi Alih Teknologi: realisasi strategi penjualan produk import (politik substitusi), strategi aliansi (kerjasama industri), kepemimpinan teknologi.

ALIH TEKNOLOGI DALAM STRATEGI PERUSAHAAN

Prinsip-prinsip alih teknologiLisensi, waralaba, investasi asing langsung,Penjualan turnkey pabrik, usaha bersama, subkontrak,Koperasi pengaturan penelitian & perjanjian co-produksi,Ekspor produk teknologi tinggi & barang modal,pertukaran personil ilmiah & teknis,Sains & Teknologi konferensi, pameran dagang & pameran,Pendidikan & pelatihan asing, kunjungan komersial,Buka literatur (jurnal, majalah, buku & artikel),Spionase industri, pengguna akhir atau pengalihan negara ketiga,program bantuan pemerintah, dll.KERANGKA (KEPUTUSAN) ALIH TEKNOLOGILangkah pengambilan keputusan alih teknologi (Madu, 1989):Identifikasi anggota partisipan aktif dalam pengambilan keputusanPerumusan tujuan alih teknologiIdentifikasi keterbatasan teknologi yang adaIdentifikasi ancaman dan kesempatan potensialEvaluasi (asesmen) teknologiPemilihan teknologi yang cocokProses alih teknologi dalam program pendidikan dan latihanImplementasi teknologi terhadap kebutuhan teknologiPerumusan sistem kontrol terhadap alih teknologi (succes & fail)Intoduksi program inovasi untuk modifikasi & meningkatkan kemampuan teknologi

FAKTOR KEBERHASILAN ALIH TEKNOLOGIBudaya Penerima (Kim, 1980):Budaya Dagang: pengambilan keputusan berdasarkanlingkup komersial produksiBudaya Perakitan: karakteristik budaya pada sebuah sub sistem industriBudaya Industri: isue strategi produk & pasar

Pengaturan Alih Teknologi secara Internasional dan NasionalPengaturan pada TRIPsMerujuk Pasal 7 dan Pasal 8, dapat ditafsirkan bahwa persoalan alih teknologi menjadi perhatian utama dalam TRIPs. Ketentuan pasal 7 secara tegas mengatakan pentingnya alih teknologi bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi dari negara peserta TRIPs. Pasal 8 lalu menekankan pada perlunya perlindungan pada kesejahteraan masyarakat dan gizi, serta untuk menggalakkan sektor-sektor yang vital untuk kepentingan publik, yang dilaksanakan dalam rangka pengembangan teknologi dan sosio ekonomis negara peserta TRIPs.

Pengaturan pada Ketentuan Hukum di IndonesiaKetentuan mengenai alih teknologi lebih jauh terdapat dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Undang-undang yang mulai berlaku sejak 29 Juli 2002 tersebut menyatakan bahwa alih teknologi merupakan pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga, badn, atau orang, baik yang berada di lingkungan dalam negeri, maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya.Terkait dengan alih teknologi dalam lingkup HKI, Pasal 17 menyebutkan bahwa kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. Ketentuan ini lantas dipertegas melalui pasal 23 yang menyatakan bahwa Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tidak secara eksplisit menyatakan perlunya alih teknologi. Meskipun begitu, keberadaan ketentuan mengenai lisensi paten dalam undang-undang ini secara tidak langsung telah mengamanatkan upaya alih teknologi melalui pemberian lisensi paten.

Pengaturan Hukum Tentang Alih Teknologi Dalam Rangka PMA (Penanaman Modal Asing).Sejak tahun 1970, di sadari bahwa penanaman modal asing perusahaan asing yang melakukan kontrol dengan berbagai negara berkembang dalam hal ini Indonesia, membangun modal teknologi dan berbagai keahlian ke Indonesia, memburu modal teknologi dan berbagai keahlian ke Indonesia. Konsiderans UU No. 1/67 tentang PMA pada konsiderans point a jo c. Bahwa kelemahan ekonomi potensial yang dengan karunia Tuhan Yang Maha Esa terdapat banyak diseluruh wilayah tanah air kita yang belum diolah untuk dijadikan kekuatan ekonomi riil yang antara lain yang disebabkan karena ketiadaan modal, pengalaman dan teknologi.Kebijakan itu dituangkan lebih lanjut pada pasal 12 UU No../67 tentang PMA. Perusahaan modal asing berkewajiban menyelenggarakan dan/atau menyediakan fasilitas latihan dan pendidikan di dalam dan di luar negeri secara teratur dan terarah bagi warga negara Indonesia agar berangsur-angsur warga negara asing dapat diganti oleh tenaga-tenaga warga negara Indonesia.Tenaga kerja Indonesia selama bekerja di perusahaan asing tersebut dapat menambah pengalaman keterampilan dan menerima sistim kerja, sistim pendayagunaan peralatan mutahir dipakai oleh perusahaan, sehingga pada akhirnya dapat menguasai teknologi tersebut untuk selanjutnya dimanfaatkan sendiri guna menunjang pembangunan Indonesia. Dengan kata lain tenaga kerja Indonesia dapat menggantikan tenaga kerja asing bilamana perusahaan asing tersebut tidak di Indonesianisasi. Jadi alih teknologi dalam kerangka PMA dibagi 2.1. Alih teknologi dalam pengertian penyerapan teknologi.2. Alih teknologi dalam pengertian mewarisi perusahaannya karena habis izin usahanya, karena perjanjian, konpensasi atau nasionalisasi dalam arti dijalankan sepenuhnya alih tenaga dan modal nasional.

Perjanijian Lisensi Dalam Alih Teknologi.Pada umumnya bagi negara-negara yang telah memiliki perundangan yang mengatur tentang perjanjian lisensi yaitu lisensi wajib, lisensi karena permupakatan dan lisensi karena berlakunya hukum. Lisensi wajib adalah lisensi yang didasarkan pada pengaturan pejabat pemerintah bentuk lisensi ini jarang dipergunakan. Lisensi karena permupakatan yaitu seorang atau badan hukum menerima lisensi boleh memberi suatu lisensi dibawah penemuan patennya kepada orang lain melalui suatu kontrak. Lisensi karena berlakunya semua hukum ialah lisensi yang diambil dari peraturan hukum yang berlaku UU No. 13 tahun 1997 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 6 tahun 1989 memuat aturan tentang lisensi sebagai berikut: pasal 82 UU paten tersebut berbunyi:

1. Setiap orang setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam) belum terhitung syah tinggal pemberian paten dapat mengajukan lisensi wajib kepada pengadilan negeri untuk melaksanakan paten yang bersangkutan.2. Permintaan lisensi wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya dapat dilakukan dengan alasan bahwa paten yang bersangkutan tidak dilaksanakan di Indonesia oleh pemegang paten. Pada hal kesempatan untuk melaksanakan secara komersial sepatutnya ditumpuk.3. Permintaan lisensi wajib dapat juga diajukan setiap saat setelah paten diberikan atas dasar alasan bahwa paten telah dilaksanakan oleh pemegang paten atau pemegang lisensinya dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat.4. Dengan memperhatikan kemampuan dan perkembangan keadaan, pemerintah awal pelaksanaan Undang-undang ini pada pengadilan tertentu.Berdasarkan ketentuan tersebut, seseorang atau badan hukum dapat menggunakan teknologi orang lain untuk diproduksi, asalkan teknologi itu sudah melewati jangka waktu tertentu dan belum dilaksanakan di Indonesia dimana paten tersebut didaftarkan. Lisensi wajib ini diberikan tidak lain karena keperluan. Pasar dan penerima lisensi wajib untuk membayar royalti kepada pemegang paten dengan harga yang mereka sepakati bersama.Syarat-Syarat Umum Perjanjian LisensiBagi sementara negara-negara berkembang yang belum memiliki perundangundangan yang mengatur tentang perjanjian lisensi ini, pada umumnya akan memperhatikan beberapa aspek dasar di dalam perjanjian lisensinya antara lain:a. Proses harus telah terbukti baik secara komersial (comercially proven).b. Licensor mempunyai paten dan atau know how proses yang masih berlakuc. Licensor akan menyediakan know how proses dalam bentuk paket desain engineering proses, dan akan membantu licensee, melalui review atau partisipasi dari detailed engineering konstruksi, commission sampai operasi pabrik.d. Licensee biasanya mendapatkan lisensi yang non-exclusive dan non-transfereable untuk memproduksi di negaranya dan untuk penjualan ke negara lain.

e. Licensee biasanya harus menunjuk kontraktor untuk melaksanakan detail engineering dan konstruksi pabrik yang terikat ketentuan licensor.f. Pembayaran kepada licensor dalam bentuk lump-sum fee untuk kapasitas tertentu dan royalty per ton produksi (ketentuan-ketentuan tersebut perlu negosiasi agar licensee dapat dibebaskan).g. Jasa-jasa tambahan untuk perluasan, penyesuaian proses teknologi, operasi pabrik dan pemasaran produk harus dih. Batasan izin yang akan diberikan kepada penerima lisensi akan membatasi pemberi lisensi untuk mempergunakan teknologinya atau memberikan lisensi lebih lanjut kepada orang lain.tuangkan dalam kontrak tersendiri.i. Lapangan penggunaan hak milik perindustrian yang dapat digunakan oleh penerima lisensi, juga ditetapkan dalam perjanjian lisensi. Misalnya saja hasil produksi farmasi hanya untuk binatang, bukan untuk manusia, atau sebaliknya.j. Daerah tempat teknologi itu dipergunakan serta batas waktu perjanjian lisensi itu juga disebutkan dalam perjanjian lisensi.k. Licensor akan menyediakan program latihan komrehendif bagi personnel license sesuai dengan operasi pabrik yang bersangkutan.l. Biasanya juga dilakukan pertukaran informasi terhadap kemajuan proses, dan umumnya tidak dipungut biaya paling tidak untuk jangka waktu 10 tahun.Berbicara tentang jaminan /guarantee yang harus diberikan oleh si suplaier dari teknologi, maka jaminan-jaminan ini supaya mengikat harus dicantumkan di dalam perjanjian lisensi. Jaminan-jaminan tersebut adalah sebagai berikut:a.Bahwa teknologi yang dipindahkan mempunyai kemampuan, untuk mencapai tingkat produksi dan standar dari kualitas sebagaimana diperinci di dalam perjanjian.b. Bahwa si penerima teknologi berhak mendapatkan semua perbaikan dan pembaharuan yang dilakukan dalam teknologi oleh si supplair selama jangka waktu transaksi berlaku, semua barang-barang modal, intermediate inputs, bahan- bahan baku. Dan ketentuan di atas, jika tidak diatur dengan jelas dalam perjanjian lisensi tersebut tentang jumlah barangnya wilayah jual dan larangan untuk ekspor suatu produk asing.Untuk masalah paten ini ada diatur dua model paten (lihat psl 17 ayat 1 UU paten No. 13/1977) dimana pemegang paten mempunyai hak khusus untuk melaksanakan patennya dan melarang orang lain tanpa persetujuannya.1. Dalam hal paten produk; membuat, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, memakai, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksinya yang diberi paten.2. Dalam hal paten proses, menggunakan proses produksi yang diberi paten untuk membuat barang.Pasal 21 UU paten No. 13/1997; Dalam suatu hal produk diimpor ke Indonesia dan proses untuk pemegang paten berhak untuk melindungi paten tersebut.Dengan demikian maka paten tidak dapat begitu saja ditiru dan dilisensi tanpa persetujuan pemegang paten asing pemegang paten asing masih dapat melakukan perlindungan hukum atas patennya di Indonesia. Untuk itu kalau terjadi pejanjian lisensi antara pihak asing dan Indonesia dapat didaftarkan perjanjian tersebut kepada kantor paten. Bagaimana kalau para pihak mamakai asas konsensualitas dalam berkontrak dan mereka tidak mendaftarkan kontrak mereka ke kontor paten. Untuk itu diminta kepada investor asing untuk mendaftarkan lisensi tersebut kepada kantor paten agar kepentingan dapat terlindungi.

KESIMPULAN

1. Pengalihan teknologi diperlukan bagi negara berkembang untuk memajukan produknya dalam era globalisasi.2. Pengaturan tentang alih teknologi diatur secara tegas agar orang/badan hukum tidak dengan mudah mengalihkan teknologi asing.3. Perlindungan teknologi asing sangat diperlukan dalam rangka penanaman modal asing.4. Lisensi suatu alternatif untuk melakukan alih teknologi, dalam rangka mengejar ketinggalan teknologi.