260110140034_ina Widia Uji Stabilitas

download 260110140034_ina Widia Uji Stabilitas

of 29

  • date post

    24-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    89
  • download

    19

Embed Size (px)

description

gc

Transcript of 260110140034_ina Widia Uji Stabilitas

  • LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA II

    UJI STABILITAS

    NAMA : INA WIDIA

    NPM : 260110140034

    HARI/TANGGAL PRAKTIKUM : SENIN, 30 MARET 2015

    ASISTEN : ANUGRAH RAHMAWAN

    FERSTY ANDINI

    LABORATORIUM FARMASI FISIKA II

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS PADJADJARAN

    JATINANGOR

    2015

  • I. ABSTRAK

    Kali ini praktikan melakukan percobaan mengenai uji stabilitas,

    dimana percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu

    dan waktu terhadap stabilitas suatu senyawa. Prinsip yang mendasari

    percobaan ini sendiri yaitu Hukum Arrhenius , Laju reaksi dan Titrasi.

    Uji stabilitas ini menggunakan metode titrasi asam basa, yaitu NaOH

    sebagai titran yang merupakan larutan baku sekunder yang dibakukan

    dengn asam oksalat yang merupakan larutan baku primer. Bahan

    utama yang diuji yaitu asetosal yang dilarutkan dalam larutan na-sitrat.

    Kadar asetosal dihitung dengan adanya pengaruh suhu dan waktu

    menggunakan rumus-rumus. Semakin tinggi suhu dan semakin lama

    waktu penguraian, maka kestabilan suatu zat akan menurun.

    Kata kunci:stabilitas, hukum Arrhenius, laju reaksi, titrasi, suhu,

    waktu.

    II. ABSTRACT

    This time practitioner conduct experiments on the stability test , where

    this experiment was to study the effect of temperature and time on the

    stability of a compound . The underlying principle of this experiment

    itself is the Arrhenius law , the reaction rate and titration . The stability

    test using acid-base titration method , NaOH as titrant which is a

    secondary standard solution with less standardized oxalic acid which is

    the primary standard solution . The main ingredients are tested ,

    namely aspirin dissolved in a solution na - citrate. Asetosal levels

    calculated by the influence of temperature and time using formulas .

    The higher the temperature and the longer the time of decomposition ,

    it will decrease the stability of a substance .

    Keywords : stability , Arrhenius law , the rate of reaction , titration ,

    temperature , time .

  • III. TUJUAN PERCOBAAN

    3.1. Membuat larutan yang mengandung 4% asetosal dan 10% natrium

    sitrat.

    3.2. Menentukan kadar asetosal dengan berbagai bervariasi suhu dan

    waktu tertentu dengan menggunakan titrasi asam basa.

    3.3.Memperlihatkan penguraian sediaan farmasi yang disebabkan oleh

    kenaikan suhu.

    3.4.Meramalkan kecepatan sediaan yang terurai pada suhu penyimpanan

    yang biasa (suhu kamar) dengan menggunakan persamaan Arrhenius

    dan ekstrapolasi grafik.

    IV. PRINSIP PERCOBAAN

    4.1.Hukum Arrhenius

    Persamaan Arrhenius menyatakan hubungan antara energi aktivasi dan

    laju reaksi (Ilmukimia, 2014).

    4.2.Raksi Netralisasi

    Reaksi yang terjadi anatar pembentukkan garam H2O netral (Ph=7)

    hasil reaksi antara H+ dari suatu asam dan OH

    - dari suatu basa

    (Sumardjo, 2006).

    4.3.Azas Le Chatelier

    Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka sistem akan

    mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu

    menjadi sekecil-kecilnya (Ratna, 2009).

    4.4.Laju Reaksi

    Laju reaksi dapat dikatakan sebagai penambahan atau pengurangan

    konsentrasi zat persatuan waktu (Sukardjo, 2002).

  • 4.5.Titrasi Asam Basa

    Titrasi merupakan salah satu metode untuk menentukan konsentrasi

    suatu larutan dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan

    tersebut terhadap sejumlah volume larutan yang konsentrasinya sudah

    diketahui. Titrasi yang melibatkan reaksi asam basa (Muchtaridi, 2007).

    4.6. Pengenceran

    Prosedur untuk penyiapan larutan yang kurang pekat dari larutan yang

    lebih pekat disebut pengenceran. Dalam melakukan proses

    pengenceran, perlu diingat bahwa penambahan lebih banyak pelarut ke

    dalam sejumlah tertentu larutan stock akan mengubah (mengurangi)

    konsentrasi larutan tanpa mengubah jumlah mol zat terlarut yang

    terdapat dalam larutan (Chang, 2005).

    4.7.Stoikiometri

    Stoikiometri reaksi merupakan pemutusan perbandingan massa unsur-

    unsur dalam senyawa pada pembentukan senyawanya (Alfian, 2009).

    V. REAKSI

    H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O (Svehla,1990)

    VI. TEORI DASAR

    Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi

    setiap orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian, mulai dari

    pengusaha obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus dengan jelas

    menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya

    cukup stabil sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup

    lama, dimana obat tidak berubah menjadi zat tidak berkhaziat atau

    racun; ahli farmasi harus mengetahui ketidakstabilan potensial dari

    obat yang dibuatnya. Dokter dan penderita harus diyakinkan bahwa

    obat yang ditulis atau yang digunakannya akan sampai pada tempat

  • pengobatan dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai efek

    pengobatan yang diinginkan. Beberapa prinsip dan proses laju yang

    berkaitan dimasukkan dalam rantai peristiwa ini:

    1. Kestabilan dan tak tercampurkan proses laju umumnya adalah sesuatu

    yang menyebabkan ketidakaktifan obat melalui penguraian obat, atau

    melalui hilangnya khasiat obat karena perubahan bentuk fisik dan

    kimia yang kurang diinginkan dari obat tersebut.

    2. Disolusi, di sini yang diperhatikan terutama kecepatan berubahnya

    obat dalam bentuk sediaan padat menjadi bentuk larutan molecular.

    3. Proses absorpsi, distribusi, dan eliminasi beberapa proses ini

    berkaitan dengan laju absorpsi obat ke dalam tubuh, laju distribusi

    obat dalam tubuh dan laju pengeluaran obat setelah proses distribusi

    dengan berbagai factor, seperti metabolisme, penyimpanan dalam

    organ tubuh lemak, dan melalui jalur-jalur pengelepasan.

    4. Kerja obat pada tingkat molecular obat dapat dibuat dalam bentuk

    yang tepat dengan menganggap timbulnya respons dari obat

    merupakan suatu proses laju. (Martin,dkk.2008)

    Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan

    dalam membuat formulasi suatu sedian farmasi. Hal ini penting

    mengingat suatu sedian biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan

    memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang

    membutuhkan.Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat

    mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien

    berkurang.Adakalanya hasil uraian zat tersebut bersifat toksik sehingga

    dapat membahayakan jiwa pasien.Oleh karena itu perlu diketahui

    faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat

    dipilih kondisi pembuatan sedian yang tepat sehingga kestabilan obat

    terjaga.

    Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu zat antara

    lain panas,cahaya,kelembaban,oksigen,pH,mikroorganisme dan bahan-

    bahan tambahan yang dipergunakan dalam formula sedian

  • obat.Sebagai contoh;senyawa-senyawa ester dan amil nitrat seperti

    anvil nitrat dan kloramfenikol merupakan zat yang mudah terhidrolisis

    dengan adanya lembab.Sedangkan vitamin C sangat mudah sekali

    mengalami oksidasi.Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat

    dapat dilakukan melalui perhitungan kinetika kimia.Cara ini tidak

    memerlukan waktu lama sehingga cukup praktis digunakan dalam

    bidang farmasi. (Tim Penyusun. 2009)

    Beberapa macam stabilitas sediaan formulasi (obat) :

    Stabilitas kimia : jaminan mutu zat aktif dalam sediaan memiliki

    sifat kimia dan potensi seduai dengan persyaratan (farmakope)

    Stabilitas fisik : jaminan mutu zat aktif dalam sediaan memiliki

    sifat fisik, kelarutan, warna dan lain-lain, tetap sampai waktu

    tertentu

    Stabilitas mikrobiologi : jaminan mutu bahwa sediaan obat

    menjamin sterilitas dan resistensi terhadap mikroorganisme masih

    memenuhi syarat, bahwa pengawet masih bekerja efektif dalam

    batas tertentu

    Stabilitas farmakologi : jaminan bahwa obat menunjukkan

    aktifitas terapi yang baik dan tidak menunjukkan efek toxik yang

    menonjol

    (Sukmadjaja, tanpa tahun)

    Tujuan utama dalam penggunaan uji stabilitas :

    Untuk memilih teknik formulasi dan sistem penutupan wadah yang

    sesuai (berdasarkan stabilitas)

    Untuk menentukan masa edar dan kondisi penyimpanan

    Untuk menegaskan masa edar yang telah ditetapkan

    Untuk membuktikan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi dalam

    formulasi atau proses pembuatan yang dapat memberikan efek

    merugikan pada stabilitas obat

    (Manurung dkk, 2007)

  • Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di

    dalam larutan. Titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan

    tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi ini

    dilakukan secara bertahap (tetes demi tetes) hingga tepat mencapai titik

    stoikiometri atau titik setara. Ada beberapa macam titrasi bergantung

    pada jenis reaksinya seperti titrasi asam basa, titrasi permanganometri,

    titrasi argenometri, dan titrasi iodometri. Dalam titrasi asam basa zat-zat

    yang bereaksi umumnya tidak berwarna sehingga tidak diketahui kapan

    titik stoikiometri diketahui. Oleh karena itu digunakanlah indikator

    asam basa sebagai penunjuk tentang perubahan pH dari suatu larutan

    asam atau basa. Indikator bekerja berdasarkan perubahan warna pada

    rentang pH tertentu. Terdapat beberapa indikator yang memiliki trayek

    peru