25010110141201 Maharani R.K Frambusia

of 31 /31
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit frambusia merupakan penyaki yang berkaitan dengan kemiskinan dan hampir bisa dikatakan hanya menyerang mereka yang berasal dari kaum miskin serta masyarakat kesukuan yang terdapat di daerah   daerah terpencil. Bila ditemukan sedini mungkin dan diobati dengan baik maka dapat mencegah penderita dari kecacatan tetap dan sembuh dalam waktu 6 bulan. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat penting dalam menemukan penderita dan melaporkan ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan. Paling tepat kalau dikatakan bahwa masih adanya frambusia di suatu wilayah sebagai resultan dari upaya pemberantasan yang kurang memadai dan tidak tersentuhnya daerah tersebut dengan pembangunan sarana dan prasarana wilayah, khususnya didaerah-daerah terpencil seperti di Propinsi Sulawesi Tenggara. Dari empat Kabupaten dan dua Kota, penyakit frambusia ditemukan pada tiga Kabupaten dengan prevalensi frambusia menular sebesar 20,27 per 10.000 penduduk dan prevalensi frambusia tidak menular sebesar 16,65 per 10.000 penduduk. Angka ini jauh lebih tinggi dari kebijakan Departemen Kesehatan yang telah ditetapkan. Frambusia termasuk penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena penyakit ini terkait dengan, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan diri, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai, apalagi di beberapa daerah, pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih kurang karena ada anggapan salah bahwa penyakit ini merupakan hal biasa dialami karena sifatnya yang tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita. Penyakit frambusia ditandai dengan munculnya lesi primer pada kulit berupa kutil (papiloma) pada muka dan anggota gerak, terutama kaki, lesi ini tidak sakit dan bertahan sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Embed Size (px)

description

juk

Transcript of 25010110141201 Maharani R.K Frambusia

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPenyakit frambusia merupakan penyaki yang berkaitan dengan kemiskinan dan hampir bisa dikatakan hanya menyerang mereka yang berasal dari kaum miskin serta masyarakat kesukuan yang terdapat di daerah daerah terpencil. Bila ditemukan sedini mungkin dan diobati dengan baik maka dapat mencegah penderita dari kecacatan tetap dan sembuh dalam waktu 6 bulan. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat penting dalam menemukan penderita dan melaporkan ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan.Paling tepat kalau dikatakan bahwa masih adanya frambusia di suatu wilayah sebagai resultan dari upaya pemberantasan yang kurang memadai dan tidak tersentuhnya daerah tersebut dengan pembangunan sarana dan prasarana wilayah, khususnya didaerah-daerah terpencil seperti di Propinsi Sulawesi Tenggara. Dari empat Kabupaten dan dua Kota, penyakit frambusia ditemukan pada tiga Kabupaten dengan prevalensi frambusia menular sebesar 20,27 per 10.000 penduduk dan prevalensi frambusia tidak menular sebesar 16,65 per 10.000 penduduk. Angka ini jauh lebih tinggi dari kebijakan Departemen Kesehatan yang telah ditetapkan.Frambusia termasuk penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena penyakit ini terkait dengan, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan diri, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai, apalagi di beberapa daerah, pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih kurang karena ada anggapan salah bahwa penyakit ini merupakan hal biasa dialami karena sifatnya yang tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita.Penyakit frambusia ditandai dengan munculnya lesi primer pada kulit berupa kutil (papiloma) pada muka dan anggota gerak, terutama kaki, lesi ini tidak sakit dan bertahan sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Lesi kemudian menyebar membentuk lesi yang khas berbentuk buah frambus (raspberry) dan terjadi ulkus (luka terbuka). Stadium lanjut dari penyakit ini berakhir dengan kerusakan kulit dan tulang di daerah yang terkena dan akan mengakibatkan disabilitas dimana sekitar 10-20 persen dari penderita yang tidak diobati akan cacat seumur hidup dan menimbulkan stigma social, yang tentunya akan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, hal inilah kemudian menjadi tantangan bagi seorang publich health dalam mencegah timbulnya penyakit tersebut dan memperpanjang masa hidup seseorang.

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Apa pengertian Frambusia ?1.2.2 Apa penyebab Frambusia ?1.2.3 Bagaimana patofisiologi Frambusia ?1.2.4 Bagaimana cara penularan Frambusia ?1.2.5 Berapakah klasifikasi Frambusia ?1.2.6 Berapa lama masa inkubasi Frambusia ?1.2.7 Bagaimana cara pencegahan dan pengendalian Frambusia ?1.2.8 Bagaimana pengobatan Frambusia ?

1.3 Tujuan1.3.1 Mengetahui pengertian Frambusia.1.3.2 Mengetahui penyebab Frambusia.1.3.3 Mengetahui patofisiologi Frambusia1.3.4 Mengetahui cara penularan Frambusia1.3.5 Mengetahui klasifikasi Frambusia1.3.6 Mengetahui lama masa inkubasi Frambusia1.3.7 Mengetahui cara pencegahan dan pengendalian Frambusia1.3.8 Mengetahui pengobatan Frambusia.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian FrambusiaFramboesia atau Patek ( kamus kedokteran ). Penyakit framboesia atau patek adalah suatu penyakit kronis, relaps (berulang). Dalam bahasa Inggris disebut Yaws, ada juga yang menyebut Frambesia tropica dan dalam bahasa Jawa disebut Pathek. Di zaman dulu penyakit ini amat populer karena penderitanya sangat mudah ditemukan di kalangan penduduk. Di Jawa saking populernya telah masuk dalam khasanah bahasa Jawa dengan istilah ora Patheken. Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema penyebab penyakit sifilis), penyebarannya tidak melalui hubungan seksual, yang dapat mudah tersebar melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit sehat. Penyakit ini tumbuh subur terutama didaerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas, banyak hujan, yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.Penyakit Frambusia (yaws) pertama kali ditemukan oleh Castellani, pada tahun 1905 yang berasal dari bakteri besar (spirocheta) bentuk spiral dan motil dari famili (spirochaetaceae) dari ordo spirochaetales yang terdiri dari 3 genus yang phatogen pada manusia (treponema, borelia dan leptospira). Spirohaeta mempunyai ciri yang sama dengan pallidum yaitu panjang, langsinghelically coiled, bentuk spiral seperti pembuka botol dan basil gram negatif. Treponema memiliki kulit luar yang disebut glikosaminoglikan, di dalam kulit memiliki peptidoglikan yang berperan mempertahankan integritas struktur organisme .Genus treponema terdiri dari Treponema pallidum sub spesies pallidum yang menyebabkan sifilis,Treponema pallidum sub species perteneu yang menyebabkan frambusia (yaws/puru/pian), treponema pallidum sub species endemicum yang menyebabkan sifilis (disebut bejel) dan treponema carateum yang menyebabkan pinta.2.2 penyebab FrambusiaFrambusia (Yaws) adalah penyakit tropis terabaikan dari kulit yang disebabkan oleh bakteri Treponema. Ini adalah infeksi kronis non-fatal yang disebabkan oleh T. pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema penyebab penyakit sifilis). Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit patek atau pian. Hal ini ditemukan terutama pada masyarakat miskin di hangat, lembab, daerah tropis Afrika, Asia, Amerika Latin dan Pasifik Barat.Frambusia ditularkan terutama melalui kontak kulit langsung dengan orang yang terinfeksi,penyebarannya tidak melalui hubungan seksual. Penyakit ini tumbuh subur terutama didaerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas, banyak hujan, yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.Sekitar 75% dari orang yang terkena adalah anak-anak di bawah 15 tahun (insiden puncak terjadi pada anak usia 6-10 tahun). Pria dan wanita sama-sama terpengaruh. Kepadatan penduduk, kebersihan pribadi yang buruk dan sanitasi yang buruk memudahkan penyebaran penyakit tersebut. Tanpa pengobatan infeksi dapat menyebabkan cacat kronis dan kecacatan.2.3 Patofisiologi FrambusiaPada awalnya, koreng yang penuh dengan organisme penyebab ditularkan melalui kontak dari kulit ke kulit, atau melalui luka di kulit yang didapat melalui benturan, gigitan, maupun pengelupasan. Pada mayoritas pasien, penyakit frambusia terbatas hanya pada kulit saja, namun dapat juga mempengaruhi tulang bagian atas dan sendi. Walaupun hampir seluruh lesi frambusia hilang dengan sendirinya, infeksi bakteri sekunder dan bekas luka merupakan komplikasi yang umum. Setelah 5 10 tahun, 10 % dari pasien yang tidak menerima pengobatan akan mengalami lesi yang merusak yang mampu mempengaruhi tulang, tulang rawan, kulit, serta jaringan halus, yang akan mengakibatkan disabilitas yang melumpuhkan serta stigma social.2.4 Cara penularan FrambusiaPenularan penyakit frambusia dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung (Depkes,2005), yaitu :1) Penularan secara langsung (direct contact) .Penularan penyakit frambusia banyak terjadi secara langsung dari penderita ke orang lain. Hal ini dapat terjadi jika jejas dengan gejala menular (mengandung Treponema pertenue) yang terdapat pada kulit seorang penderita bersentuhan dengan kulit orang lain yang ada lukanya. Penularan mungkin juga terjadi dalam persentuhan antara jejas dengan gejala menular dengan selaput lendir.

2) Penularan secara tidak langsung (indirect contact) .Penularan secara tidak langsung mungkin dapat terjadi dengan perantaraan benda atau serangga, tetapi hal ini sangat jarang. Dalam persentuhan antara jejas dengan gejala menular dengan kulit (selaput lendir) yang luka, Treponema pertenue yang terdapat pada jejas itu masuk ke dalam kulit melalui luka tersebut.

Terjadinya infeksi yang diakibatkan oleh masuknya Treponema partenue dapat mengalami 2 kemungkinan:a) Infeksi effectiveInfeksi ini terjadi jika Treponema pertenue yang masuk ke dalam kulit berkembang biak, menyebar di dalam tubuh dan menimbulkan gejala-gejala penyakit. Infeksi effective dapat terjadi jika Treponema pertenue yang masuk ke dalam kulit cukup virulen dan cukup banyaknya dan orang yang mendapat infeksi tidak kebal terhadap penyakit frambusia.

b) Infeksi ineffectiveInfeksi ini terjadi jika Treponema pertenue yang masuk ke dalam kulit tidak dapat berkembang biak dan kemudian mati tanpa dapat menimbulkan gejala-gejala penyakit. Infeksi effective dapat terjadi jika Treponema pertenue yang masuk ke dalam kulit tidak cukup virulen dan tidak cukup banyaknya dan orang yang mendapat infeksi mempunyai kekebalan terhadap penyakit frambusia (Depkes, 2005).Penularan penyakit frambusia pada umumnya terjadi secara langsung sedangkan penularan secara tidak langsung sangat jarang terjadi.2.5 Klasifikasi FrambusiaFrambusia dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain berdasarkan karakteristik Agen :a) Infektivitas dibuktikan dengan kemampuan sang Agen untuk berkembang biak di dalam jaringan penjamu.b) Patogenesitas dibuktikan dengan perubahan fisik tubuh yaitu terbentuknya benjolan-benjolan kecil di kulit yang tidak sakit dengan permukaan basah tanpa nanah.c) Virulensi penyakit ini bisa bersifat kronik apabila tidak diobati, dan akan menyerang dan merusak kulit, otot serta persendian sehingga menjadi cacat seumur hidup. Pada 10% kasus frambusia, tanda-tanda stadium lanjut ditandai dengan lesi yang merusak susunan kulit yang juga mengenai otot dan persendian.d) Toksisitas yaitu dibuktikan dengan kemampuan Agen untuk merusak jaringan kulit dalam tubuh penjamu.e) Invasitas dibuktikan dengan dapat menularnya penyakit antara penjamu yang satu dengan yang lainnya.f) Antigenisitas yaitu sebelum menimbulkan gejala awal Agen mampu merusak antibody yang ada di dalam sang penjamu.

2.6 Masa inkubasi FrambusiaGejala klinis terdiri atas 3 Stadium yaitu :a) Stadium I :Stadium ini dikenal juga stadium menular. Masa inkubasi rata-rata 3 minggu atau dalam kisaran 3-90 hari. Lesi initial berupa papiloma pada port d entre yang berbentuk seperti buah arbei, permukaan basah, lembab , tidak bernanah, sembuh spontan tanpa meninggalkan bekas, kadang-kadang disertai peningkatan suhu tubuh, sakit kepala, nyeri tulang dan persendian kemudian, papula-papula menyebar yang sembuh setelah 1-3 bulan. Lesi intinial berlangsung beberapa minggu dan beberapa bulan kemudian sembuh. Lesi ini sering ditemukan disekitar rongga mulut, di dubur dan vagina, dan mirip kandilomatalata pada sipilis. Gejala ini pun sembuh tanpa meninggalkan parut, walaupun terkadang dengan pigmentasi. selain itu terdapat semacam papiloma pada tapak tangan atau kaki, dan biasanya lembab. Gejala pada kulit dapat berupa macula, macula papulosa, papula, mikropapula, nodula, tanpa menunjukan kerusakan struktur pada lapisan epidermis serta tidak bereksudasi. Bentuk lesi primer ini adalah bentuk yang menular.b) Stadium II atau masa peralihan :Pada stadium ini, di tempat lesi ditemukan treponema palidum pertinue. Treponema positif ini terjadi setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah stadium I. Pada stadium ini frambusia tidak menular dengan bermacam-macam bentuk gambaran klinis, berupa hyperkeratosis. Kelainan pada tulang dan sendi sering mengenai jari-jari dan tulang ekstermitas, yang dapat mengakibatkan terjadi atrofi kuku dan deformasi ganggosa, yaitu suatu kelainan berbentuk nekrosis serta dapat menyebabkan kerusakan pada tulang hidung dan septum nasi dengan gambaran-gambaran hilangnya bentuk hidung, gondou ( suatu bentuk ostitis hipertofi ), meskipun jarang dijumpai. Kelainan sendi, hidrartosis, serta junksta artikular nodular ( nodula subkutan, mudah bergerak, kenyal, multiple), biasanya ditemukan di pergelangan kaki dekat kaput fibulae, daerah akral atau plantar dan palmar.c) Stadium III :Pada stadium ini , terjadi guma atau ulkus-ulkus indolen dengan tepi yang curam atau bergaung, bila sembuh, lesi ini meninggalkan jaringan parut, dapat membentuk keloid dan kontraktur. Bila terjadi infeksi pada tulang dapat mengakibatkan kecacatan dan kerusakan pada tulang. Kerusakan sering terjadi pada palatum, tulang hidung, tibia.Manifestasi klinis frambusia juga dibagi dalam beberapa tahap, antara lain :a) Tahap PrepatogenesisPada tahap ini penederita belum menunjukan gejala penyakit. Namun, tidak menutup kemungkinan si penyakit telah ada dalam tubuh si penderita.b) Tahap InkubasiTahap inkubasi Frambusia adalah dari 2 sampai 3 mingguc) Tahap DiniTerbentuknya benjolan-benjolan kecil di kulit yang tidak sakit dengan permukaan basah tanpa nanah.d) Tahap LanjutPada gejala lanjut dapat mengenai telapak tangan, telapak kaki, sendi dan tulang, sehingga mengalami kecacatan. Kelainan pada kulit ini biasanya kering, kecuali jika disertai infeksi (borok).e) Tahap Pasca PatogenesisPada tahap ini perjalanan akhir penyakit hanya mempunyai tiga kemungkinan, yaitu :1. Sembuh dengan cacat penyakit ini berakhir dengan kerusakan kulit dan tulang di daerah yang terkena dan dapat menimbulkan kecacatan 10-20 % dari penderita.2. Karier tubuh penderita pulih kembali, namun bibit penyakit masih tetap ada dalam tubuh.3. Penyakit tetap berlangsung secara kronik yang jika tidak diobati akan menimbulkan cacat kepada si penderita.2.7 Pencegahan dan pengendalian Frambusia1. Upaya Pencegahan (tahap Prepatogenesis)Walaupun penyebab infeksi sulit dibedakan dengan teknik yang ada pada saat ini. Begitu pula perbedaan gejala-gejala klinis dari penyakit tersebut sulit ditemukan. Dengan demikian membedakan penyakit treponematosisi satu sama lainnya hanya didasarkan pada gambaran epidemiologis dan faktor linkungan saja. Hal-hal yang diuraikan pada butir-butir berikut ini dapat dipergunakan untuk manangani penyakit frambusia dan penyakit golongan treponematosis non venereal lainnya.a) Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada factor penyebab, lingkungan serta factor penjamu.1) Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuan untuk mengurangi penyebab atau menurunkan pengaruh penyebab serendah mungkin dengan usaha antara lain : desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, yang bertujuan untuk menghilangkan mikro-organisme penyebab penyakit, penyemprotan/insektisida dalam rangka menurunkan dan menghilangkan sumebr penularan maupun memutuskan rantai penularan, disamping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka memutuskan rantai penularan. Selain itu usaha untuk mengurangi atau menghilangkan sumber penularan dapat dilakukan melalui pengobatan penderita serta pemusnahan sumber yang ada, serta mengurangi atau menghindari perilaku yang dapat meningkatkan resiko perorangan dan masyarakat.2) Mengatasi atau modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perumahan serta bentuk pemukiman lainnya, perbaikan dan peningkatan lingkungan biologis seperti pemberantasan serangga dan binatang pengerat, serta peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar individu dan kehidupan sosial masayarakat.3) Meningkatkan daya tahan pejamu yang meliputi perbaikan status gizi, status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya, peningkatan status psikologis, persiapan perkawinan serta usaha menghindari pengaruh factor keturunan, dan peningkatan ketahanan fisik melalui peningkatan kualitas gizi, serta olahraga kesehatan.

b) Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)Sasaran pencegahan ini terutama ditujukan kepada mereka yang menderita atau dianggap menderita (suspect) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan tingkat kedua ini yang meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta untuk segera mencegah proses penyakit untuk lebih lanjut serta mencegah terjadinya akibat samping atau komplikasi.1) Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha surveillance penyakit tertentu, pemeriksaan berjala serta pemeriksaan kelompok tertentu ( calon pegawai, ABRI, Mahasiswa, dan lain sebagainya), penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perawatan yang efektif.2) Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai berada pada proses prepatogenesis Framboesia.c) Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)Sasaran pencegahan tingkat ketiga adalah penderita penyakit Framboesia dengan tujuan mencegah jangan sampai cacat atau kelainan permanen, mencegah bertambah parahnya penyakit tersebut atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Berbagai usaha dalam mencegah proses penyakit lebih lanjut agar jangan terjadi komplikasi dan lain sebagainya.Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyembuhan penyakit Framboesia. Rehabilitasi adalah usaha pengembalian funsi fisik, psikologis, sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik atau medis, rehabilitasi mental atau psikologis serta rehabilitasi sosial.

2. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan Masyarakat (tahap Patogenesis).a) Laporan kepada instansi kesehatan yang berwenang: Di daerah endemis tertentu dibeberapa negara tidak sebagai penyakit yang harus dilaporkan, kelas 3B (lihat laporan tentang penularan penyakit) membedakan treponematosis venereal & non venereal dengan memberikan laporan yang tepat untuk setiap jenis, adalah hal yang penting untuk dilakukkan dalam upaya evaluasi terhadap kampanye pemberantasan di masyarakat dan penting untuk konsolidasi penanggulangan pada periode selanjutnya.b) Isolasi: Tidak perlu; hindari kontak dengan luka dan hindari kontaminasi lingkungan sampai luka sembuh.c)Disinfeksi serentak: bersihkan barang-barang yang terkontaminasi dengan discharge dan buanglah discharge sesuai dengan prosedur.d) Karantina: Tidak perlu.e) Imunisasi terhadap kontak: Tidak perlu.f) Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Seluruh orang yang kontak dengan penderita harus diberikan pengobatan, bagi yang tidak memperlihatkan gejala aktif diperlakukan sebagai penderita laten. Pada daerah dengan prevalensi rendah, obati semua penderita dengan gejala aktif dan semua anak-anak serta setiap orang yang kontak dengan sumber infeksi.g) Pengobatan spesifik: Penisilin, untuk penderita 10 tahun ke atas dengan gejala aktif dan terhadap kontak, diberikan injeksi dosis tunggal benzathine penicillin G (Bicillin) 1,2 juta unit IM; 0,6 juta unit untuk penderita usia dibawah 10 tahun.

3. Upaya Penanggulan Wabah (Tahap Pasca Patogenesis)Dengan melakukan program pengobatan aktif untuk masyarakat di daerah dengan prevalensi tinggi. Tujuan utama dari program ini adalah:a) Pemeriksaan terhadap sebagian besar penduduk dengan survei lapangan.b) Pengobatan terhadap kasus aktif yang diperluas pada keluarga dan kelompok masyarakat sekitarnya berdasarkan bukti adanya prevalensi frambusia aktif.c) Melakukan survei berkala dengan tenggang waktu antara 1 3 tahun sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan masyarakat pedesaan disuatu negara

4. Implikasi bencana: Tidak pernah terjadi penularan pada situasi bencana tetapi potensi ini tetap ada pada kelompok pengungsi didaerah endemis tanpa fasilitas sanitasi yang memadai.5. Tindakan Internasional: Untuk melindungi suatu negara dari risiko timbulnya reinfeksi yang sedang melakukan program pengobatan massal aktif untuk masyarakat, maka negara tetangga di dekat daerah endemis harus melakukan penelitian untuk menemukan cara penanganan yang cocok untuk penyakit frambusia. Terhadap penderita yang pindah melewati perbatasan negara, perlu dilakukan pengawasan manfaatkan pusat kerjasama WHO.

2.8 Pengobatan FrambusiaMenurut Departemen Kesehatan RI, bahwa pilihan pengobatan utama adalah benzatin penicilin dengan dosis yang sama, alternatif pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian tetrasiklin, doxicicline dan eritromisin. Anjuran pengobatan secara epidemiologi untuk frambusia adalah sebagai berikut :1) Bila sero positif >50% atau prevalensi penderita di suatu desa/ dusun >5% maka seluruh penduduk diberikan pengobatan.2) Bila sero positif 10%-50% atau prevalensi penderita di suatu desa 2%-5% maka penderita, kontak, dan seluruh usia 15 tahun atau kurang diberikan pengobatan3) Bila sero positif kurang 10% atau prevalensi penderita di suatu desa/ dusun < 2% maka penderita, kontak serumah dan kontak erat diberikan pengobatan 4) Untuk anak sekolah setiap penemuan kasus dilakukan pengobatan seluruh murid dalam kelas yang sama. Dosis dan cara pengobatan sbb: Tabel 1. Dosis dan cara pengobatan frambusia Pilihan utama Umur Nama obat Dosis Pemberian Lama pemberian < 10 thn Benz.penisilin 600.000 IU IM Dosis Tunggal 10 tahun Benz.penisilin 1.200.000 IU IM Dosis Tunggal Alternatif < 8 tahun Eritromisin 30mg/kgBB bagi 4 dosis Oral 15 hari 8-15 tahun Tetra atau erit. 250mg,4x1 hri Oral 15 hari >8 tahun Doxiciclin 2-5mg/kgBB bagi 4 dosis Oral 15 hariDewasa 100mg 2 x 1 hari Oral 15 hariKeterangan : Tetrasiklin atau eritromisin diberikan kepada penderita frambusia yang alergi terhadap penicillin. Tetrasiklin tidak diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui atau anak dibawah umur 8 tahun.

BAB III PEMBAHASANPenyakit frambusia ini merupakan penyakit yang berkaitan dengan kemiskinan dan hampir bisa dikatakan hanya menyerang mereka yang berasal dari kaum termiskin serta masyarakat kesukuan yang terdapat di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau. Pada awalnya, koreng yang penuh dengan organisme penyebab ditularkan melalui kontak dari kulit ke kulit, atau melalui luka di kulit yang didapat melalui benturan, gigitan, maupun pengelupasan. Pada mayoritas pasien, penyakit frambusia terbatas hanya pada kulit saja, namun dapat juga mempengaruhi tulang bagian atas dan sendi. Walaupun hampir seluruh lesi frambusia hilang dengan sendirinya, infeksi bakteri sekunder dan bekas luka merupakan komplikasi yang umum. Setelah 5 -10 tahun, 10% dari pasien yang tidak menerima pengobatan akan mengalami lesi yang merusak yang mampu mempengaruhi tulang rawan, kulit, serta jaringan halus yang akan mengakibatkan disabilitas yang melumpuhkan serta stigma sosial.Beban penyakit selama periode 1990an, frambusia merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang terdapat hanya di tiga negara di Asia Tenggara, yaitu India, Indonesia dan Timor Leste. Berkat usaha yang gencar dalam pemberantasan frambusia, tidak terdapat lagi laporan mengenai penyakit ini sejak tahun 2004. Sebelumnya, penyakit ini dilaporkan terdapat di 49 distrik di 10 negara bagian dan pada umumnya didapati pada suku-suku didalam masyarakat. India kini telah mendeklarasikan pemberantasan penyakit frambusia dengan sasaran tidak adanya lagi laporan mengenai kasus baru dan membebaskan India bebas dari penyakit ini sebelum tahun 2008.Di Indonesia, sebanyak 4.000 kasus tiap tahunnya dilaporkan 8 dari 30 provinsi 95% dari keseluruhan jumlah kasus yang dilaporkan tiap tahunnya dilaporkan dari empat provinsi, yaitu : Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Papua dan Maluku. Pelaksanaan program pemberantasan penyakit ini sempat tersendat pada tahun-tahun terakhir, terutama disebabkan oleh keterbatasan sumber daya. Upaya-upaya harus diarahkan pada dukungan kebijakan dan perhatian yang lebih besar sangat dibutuhkan demi pelaksanaan yang lebih efektif dan memperkuat program ini.WHO Representative to Indonesia Kanchit Limpakarnjanarat mengatakan meskipun penyakit ini statusnya terabaikan namun sangat penting karena berhubungan erat dengan kemiskinan, yaitu penderitanya kebanyakan adalah orang miskin. "Tingkat kematiannya mungkin kecil tapi tingkat kecacatannya tinggi sehingga bisa menjadi beban," ujarnya.Selain itu, karena terabaikan, penyakit-penyakit tersebut juga jarang "dilirik" oleh perusahaan farmasi sehingga jarang ada penemuan obat baru atau bahkan produksi obat yang lama juga seringkali terbatas. "Tapi kita (WHO) telah mengantisipasi hal ini dan memiliki cadangan obat yang cukup untuk lima tahun kedepan," ujar Limpakarnjanarat. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan pemerintah juga melakukan antisipasi cadangan obat termasuk bagi penyakit-penyakit tropis terabaikan itu. "Semua obat yang ada masih tersedia karena jumlah penderita yang tidak besar sehingga resistensi terhadap obatnya juga sedikit. Jadi masih belum diperlukan penemuan obat baru," kata Tjandra.Pemerintah dan WHO disebutnya bekerjasama untuk menjamin ketersediaan obat-obatan tersebut terutama untuk dapat menekan jumlah penderita untuk mendekati nol. "Isunya untuk penyakit ini bukanlah KLB (kejadian luar biasa/wabah) tapi bagaimana menurunkannya dari tingkat tinggi ke rendah, ini sudah terjadi sekarang dan menurunkannya lagi ke titik nol, ini yang belum tercapai," ujar Tjandra.Frambusia dapat diberantas karena penyakit ini dapat dideteksi dengan mudah oleh petugas kesehatan di klinik- klinik serta dapat disembuhkan dengan satu kali penyuntikan penisilin aksi lama. Secara geografis, penyakit ini hanya terbatas pada sebuah daerah yang terpencil dan terlokalisir di tempat tersebut. Memperkenalkan pemberantasan frambusia dapat menjadi pintu masuk untuk pemberian penanganan kesehatan primer ke dalam populasi yang termarjinalkan secara social dan terisolasi secara geografis.Secara histories, penggunaan strategi yang meliputi pendeteksian kasus secara aktif dan penanganan tepat waktu dari kedua kasus ini serta kontak dengan keluarga penderita terbukti dapat memberantas penyakit ini. Pada akhirnya, pemberantasan frambusia dapat menurunkan angka kemiskinan dan memberdayakan masyarakat tradisional sehingga Negara-negara mampu mencapai Millenium Development Goals (MDGs) atau paling tidak mampu menyediakan akses ke kondisi kesehatan dan sanitasi pada tingkat dasar. Berdasarkan argument-argument ini, WHO telah mendeklarasikan bahwa pemberantasan frambusia merupakan prioritas untuk daerah Asia Tenggara, dan hal ini dapat diwujudkan.Untuk menjalankan misi pemberantasan penyakit ini, WHO telah mempersiapkan kerangka kerja Regional Strategic Plan dan sebuah draft dokumen pendukung untuk mobilitas sumber daya. Regional Strategic Plan 2006 -2010 telah diselesaikan dalam sebuah pertemuan yang diadakan di Bali, Indonesia pada bulan Juli 2006 dan kerangka kerja National Strategic Plan untuk Indonesia dan Timor Leste telah dibuat.Dengan pendeklarasian pemberantasan frambusia di India, Indonesia dan Timor Leste diharapkan meningkatkan upaya-upaya untuk memberantas penyakit frambusia. Kedua negara ini akan membutuhkan dukungan sumber daya dan teknis untuk memberantas penyakit frambusia sebelum tahun 2010.Strategi-strategi untuk mencapai pemberantasan penyakit ini meliputi pendeteksian kasus secara aktif di daerah- daerah yang terjangkiti penyakit ini ; pengobatan yang tepat, serta pemberian penisilin dosis tunggal ; pelatihan tenaga medis di daerah - daerah yang terjangkiti mengenai diagnosa, penanganan, pencegahan, dan pengontrolan penyakit ini ; advokasi dan kampanye IEC guna menciptakan kesadaran masyarakat dan dukungan administrative, program pemantauan regular, dan peningkatan kerja sama. Guna mencapai tujuan pemberantasan ini, kedua negara ini membutuhkan komitmen politik dan dukungan kebijaksanaan, pengerahan sumber daya yang memadai, dan peningkatan dukungan teknis untuk memperkuat program ini, serta pelaksanaan strategi dan yang berkesinambungan dan dinamis

BAB IVPENUTUP

4.1 KesimpulanDari makalah yang saya buat, dapat ditarik kesimpulan bahwa penyakit Frambusia ini sangat berbahaya dan menakutkan,serta suatu penyakit kronis dan dapat relaps (berulang) terjadinya. Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema penyebab penyakit sifilis), penyebarannya tidak melalui hubungan seksual, yang dapat mudah tersebar melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit sehat.Banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit Frambusia. Penyakit ini tumbuh subur terutama didaerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas, banyak hujan, yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.Sekitar 75% dari orang yang terkena adalah anak-anak di bawah 15 tahun (insiden puncak terjadi pada anak usia 6-10 tahun). Pria dan wanita sama-sama terpengaruh. Kepadatan penduduk, kebersihan pribadi yang buruk dan sanitasi yang buruk memudahkan penyebaran penyakit tersebut. Tanpa pengobatan infeksi dapat menyebabkan cacat kronis dan kecacatan.

4.2 SaranAdapun saran bagi pembaca dari makalah ini adalah sebagai berikut.1. Selalu berhati hatilah dalam menjaga pola hidup, jagalah sanitasi lingkungan dan fasilitas air bersih serta fasilitas kesehatan umum. 2. Diharapkan bagi semua masyarakat untuk selalu memperhatinkan kondisi lingkungannya,dan menjaga kesehatan baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan tempat tinggal.

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO,Regional Strategy on Eradication of Yaws 2006-2010, World Health Organization,Geneva.2006.2. Depkes RI, Profil Kesehatan Indonesia, Depkes RI, Jakarta.2007.3. Depkes RI, Pedoman Pemberantasan Penyakit Frambusia, Direktur Jenderal PPM & PL, Jakarta.2005.4. SehgalVN, JainS,BhattacharyaSN,ThappaDM,Yaws Control / Eradication, International Journal of Dermatology, 1994.5. Gordis L. Epidemiology, 3rd Ed, Elsevier Saunders, Philadelphia.2004.6. Murti B. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.1997.7. Hastono SP. Analisis Data; Modul, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Jakarta.2001.8. Entjang I, Ilmu Kesehatan Masyarakat, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung.2000.9. Notoatmodjo S. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar, Penerbit Rhineka Cipta, Jakarta.2003.10. http://pisangkipas.wordpress.com/2010/03/21/yaws-frambosia-patek/ ,diakses pada tanggal 10 Juni 201411. Solution, Heroes.Penyakit Frambusia/Patek/Yaws. 2010.

LAMPIRAN

ANALISIS KONDISI RUMAH, SOSIAL EKONOMI DAN PERILAKU SEBAGAIFAKTOR RISIKO KEJADIAN FRAMBUSIA DI KOTA JAYAPURA TAHUN 2007ANALYSIS OF HOUSE CONDITION, SOCIAL ECONOMIC FACTOR AND BEHAVIOR ASRISK FACTOR OF THE PREVALENCE OF YAWS AT JAYAPURA MUNICIPALITY 2007

R. Indra Boedisusanto1, Fajar Waskito2, Haripurnomo Kushadiwijaya3 123 Dinas Kesehatan Kota JayapuraBagian Kulit Kelamin, FK UGM, YogyakartaBagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, FK UGM, Yogyakarta

ABSTRACT Background: Yaws is caused by spiral bacillus called treponema perteneu. It is a human infectious disease which commonly attacks skin and bones. The prevalence of yaws in Indonesia was less than 1 per 10,000people but there were places with high prevalence such as Provinces of W est Papua, Papua, South East ofSulawesi, Nusa Tenggara Timur and Maluku. The prevalence of yaws in Jayapura Municipality in 2007 was 5.4per 10,000 people.Objective: To identify risk factors of house condition, social economic factors and behavioral factors of theoccurence of yaws at Jayapura Municipality.Method: The study was observational with case control study design. Sample of the study consisted of 84cases and 84 control subjects. Data were analyzed using computer with 2 x 2 tables and multiple logisticregression tests at 95% significant level.Result: Multivariable analysis showed that three variables were significant risk factors for the occurence ofyaws: house condition (occupancy density, OR=2,5, availability of clean water, OR=5.9), and behavior (takinga bath, OR=3.8).Conclusion: Factors of house condition (occupancy density, availability of clean water), social economy(knowledge) and behavior (taking a bath) are dominant risk factors for the occurence hence prevalence ofyaws at Jayapura Municipality.

PENDAHULUANBadan kesehatan dunia (WHO) menyebutkanbahwa di regional Asia Tenggara terdapat tiga negarayang mempunyai masalah frambusia yaitu India,Indonesia dan Timor Leste.1Penyakit frambusia di Indonesia sampai saatini belum dapat dieliminasi dari seluruh wilayahwalaupun secara nasional angka prevalensi kurangdari 1 per 10.000 penduduk. Pada tahun 2006terdapat lima propinsi di Indonesia dengan angkaprevalensi yang cukup tinggi yaitu Papua Barat(15,00), Papua (10,01), Sulawesi Tenggara (7,92),Nusa Tenggara Timur (2,80), dan Maluku (1,08).2Prevalensi penyakit frambusia di Kota Jayapuraberfluktuasi dari tahun 2005 sampai 2007. Padatahun 2005 prevalensi frambusia 1,7 per 10.000penduduk sedangkan pada tahun 2006 menjadi 1,4per 10.000 penduduk namun pada tahun 2007,prevalensi penyakit frambusia di Kota Jayapurasebesar 5,4 per 10.000 penduduk.3 Angka ini lebihtinggi dari kebijakan Departemen Kesehatan yaitu< 1 per 10.000 penduduk. 4 Hasil survei yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Jayapurapada bulan Juni tahun 2007 terhadap 200 orangpenduduk diketahui bahwa 24% menderita frambusiadan 56% mempunyai kondisi rumah yang tidakmemenuhi syarat.Penyakit frambusia sangat terkait dengankondisi rumah, perilaku dan sosial-ekonomi.Penyakit frambusia sangat dipengaruhi oleh tingkatsosial- ekonomi rendah, kepadatan hunian dankebiasaan berganti pakaian.5Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalahdalam penelitian ini adalah berapa besar faktorkondisi rumah (kepadatan hunian, ventilasi,pencahayaan, ketersediaan air bersih), sosial-ekonomi (pendidikan, pengetahuan, pendapatan) danperilaku (mandi, ganti pakaian) berisikomenyebabkan kejadian frambusia di Kota Jayapura.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibesarnya risiko faktor kondisi, sosial-ekonomi danperilaku terhadap kejadian frambusia di Kota

BAHAN DAN CARA PENELITIANJenis penelitian ini adalah observasional denganrancangan studi kasus kontrol (Case Control Study),yang mengamati dua kelompok yaitu kelompok yangmengalami sakit (kasus) dibandingkan dengankelompok yang tidak mengalami sakit (kontrol).Selanjutnya kedua kelompok tersebut diamati ke

Penyakit frambusia lebih banyak diderita olehlaki-laki (67,86%), dan perempuan sebesar 32,14%.Kelompok umur yang banyak menderita frambusiaadalah kelompok umur 5 - 9 tahun (57,14%),sedangkan yang paling sedikit adalah kelompokumur < 5 tahun (14,29%). belakang berapa proporsi dari kelompok kasus dankontrol yang terpapar maupun yang tidak terpapar.6Kasus dalam penelitian adalah penduduk yangdinyatakan menderita frambusia dan berada diwilayah Kota Jayapura pada tahun 2007 (kasus).Kontrol adalah penduduk yang bertempat tinggaldekat dengan penderita/tetangga dan tidakmenderita frambusia. Subjek penelitian berjumlah168 orang, dan untuk kelompok kasus berjumlah 84 1. Analisis bivariatVariabel-variabel yang diteliti disajikansecara deskripsi dalam bentuk distribusifrekuensi, selanjutnya dilakukan analisistabulasi silang untuk menentukan apakahvariabel-variabel penelitian merupakan faktorrisiko yang berhubungan dengan kejadianframbusia di Kota Jayapura tahun 2007. orang, serta kelompok kontrol 84 orang. Variabel a. Hubungan kondisi rumah dengan terikat pada penelitian ini adalah kasus frambusiasedangkan variabel bebas adalah kondisi rumah(kepadatan hunian,v entilasi, pencahayaan,ketersediaan air bersih), sosial-ekonomi(pendidikan,pengetahuan,pendapatan), perilaku(perilaku mandi, perilaku ganti pakaian/handuk).Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakankuesioner, lux meter dan meteran. Responden adalahorang tua (bapak/ibu) dan orang yang menderitaframbusia (kasus) dan yang tidak menderitaframbusia (kontrol).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSubjek dalam penelitian ini tersebar pada 8kelurahan/ kampung di Kota Jayapura. Subjekpenelitian terbanyak terdapat di Kelurahan Numbaydan Kampung Waena yang berjumlah 16,67% danpaling sedikit terdapat di Kampung Koya Kososejumlah 4,76%. kejadian frambusiaHubungan antara kondisi rumah (kepadatanhunian, ventilasi, pencahayaan,ketersediaan airbersih) dengan kejadian frambusia di KotaJayapura dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1 menunjukkan bahwa rumah dengankepadatan hunian yang tidak memenuhi syaratdapat mengakibatkan penghuninya mempunyairisiko terkena frambusia sebesar 2,32 kali lebihbesar dibanding rumah dengan kepadatanhunian yang memenuhi syarat. Rumah denganluas ventilasi yang tidak memenuhi syaratmengakibatkan penghuninya mempunyai risiko1,33 kali lebih besar terkena frambusia dibandingrumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat,tetapi secara statistik tidak bermakna. Rumahdengan pencahayaan yang tidak memenuhisyarat dapat mengakibatkan penghuninyamemiliki risiko terkena frambusia 1,84 kali lebih

Jayapura.Tabel 1. Deskripsi hasil kai kuadrat kondisi rumah dengan kejadian frambusiadi Kota Jayapura tahun 2007

Variabel penelitian

Kasus(n=84)

Kontrol(n=84)

OR

95% CI

P value

Kepadatan hunian

Tidak memenuhi syarat

57

40

2,32

1,241 - 4,347

0,008*

Memenuhi syaratVentilasi

27

44

Tidak memenuhi syarat

41

35

1,33

0,726-2,455

0,352

Memenuhi syaratPencahayaan

43

49

Tidak memenuhi syarat

24

15

1,84

0,885 - 3,826

0,100

Memenuhi syaratKetersediaan air bersih

60

69

Kurangbesar dibanding rumah dengan pencahayaan

c.

Perilaku

yang memenuhi syarat, tetapi tidak bermaknasecara statistik. Rumah dengan ketersediaanair bersih yang kurang menyebabkanpenghuninya memiliki risiko terkena frambusia5,40 kali lebih besar dibandingkan rumahdengan ketersediaan air yang cukup.

Tabel 3 menunjukkan bahwa anak denganperilaku mandi yang kurang berisiko terkenaframbusia sebesar 3,69 kali lebih besardibanding anak dengan perilaku mandi yangbaik. Perilaku ganti pakaian/handuk yangkurang berisiko terkena frambusia sebesar 1,54kali lebih besar dibanding anak dengan perilaku

b.

Hubungan sosial-ekonomi dengankejadian frambusiaTabel 2 menunjukkan bahwa orang tua

ganti pakaian/handuk yang baik, tetapi tidakbermakna secara statistik.

dengan tingkat pendidikan yang rendahmempunyai anak yang berisiko terkenaframbusia sebesar 1,47 kali lebih besardibanding orang tua dengan tingkat pendidikan

4.

Analisis multivariatAnalisis multivariat digunakan untuk melihatkemaknaan hubungan antara v ariabelindependen dengan variabel dependen.

yang tinggi, tetapi secara statistik tidak

Pertimbangan

yang

dipakai

dalam

bermakna. Kurangnya pengetahuan orang tuatentang frambusia mempunyai anak yangberisiko terkena frambusia sebesar 2,17 kalilebih besar dibanding dengan orang tua yangmempunyai pengetahuan yang baik tentangframbusia. Pendapatan orang tua yang rendahmempunyai anak yang berisiko terkenaframbusia sebasar 1,29 kali lebih besardibanding dengan orang tua yang memilikipendapatan yang tinggi, tetapi tidak bermaknasecara statistik.

memasukkan variabel independen dalam ujianalisis multivariat adalah variabel-variabel yangdalam uji analisis bivariat memiliki nilaikemaknaan yang cukup tinggi (p