22 CMD (Tatalaksana Autisme)

Click here to load reader

  • date post

    10-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    15
  • download

    3

Embed Size (px)

description

dfghjk

Transcript of 22 CMD (Tatalaksana Autisme)

Slide 1

PENATALAKSANAAN AUTISME PADA ANAKOleh Kelompok 22 :Adel,Rizka,Diah,Maya,Syahadel dan Puji.Y.

1

Kasus childhood mental disorders and child psychiatry Seorang anak bernama Nurdiansyah,warga Tegal,Jawa Tengah sangat hiperaktif.Anak kedua dari pasangan Walidin dan Iswati ini merupakan pengidap autis. Setiap hari Nurdiansyah hampir tidak bisa diam. Pada saat siang hari,Nurdiansyah hampir tidak pernah tidur,sedangkan waktu tidur di malam hari hanya sebentar. Setiap tengah malam Nurdiansyah selalu terjaga,dan tidak pernah kembali tidur hingga siang harinya. Kebiasaan ini membuat repot kedua orang tuanya karena harus menjaganya. Namun hal yang paling merisaukan orang tuanya adalah kebiasaannya membanting dan merusak barang. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak perabot dan barang-barang rumah yang rusak,termasuk kaca-kaca jendela. Menurut Iswati,anaknya tumbuh sehat dan normal seperti bayi pada umumnya. Namun mulai usia 2,5 tahun,Nurdiansyah mulai menunjukkan kelainan,yaitu menjadi sangat hyperaktif. Nurdiansyah juga menjadi sulit diajak berkomunikasi dan enggan kontak mata dengan lawan bicaranya. Dirinya baru mengetahui bahwa anaknya mengidap autis setelah memeriksakan ke salah satu dokter saraf di Tegal. Hingga kini Nurdiansyah tidak bisa berbicara dan hanya dapat bersiul. Karena kelakuannya yang sangat hyperaktif,maka orangtuanya terpaksa mengurungnya di rumah dan memutuskan untuk tidak meletakkan perabotan di rumah.Sumber : Liputan 6 SCTV

3pendahuluanOrang tua memainkan peran yang sangat penting dalam membantu perkembangan anak. Misalnya orang tua mengajak anak mengitari kamarnya kemudian tuntun mereka ke ruang yang lain. Orang tua perlu memasuki dunia mereka untuk membantu mereka masuk ke dunia luar.

Temukan cara lain untuk mendorong perilaku baik dan untuk mengangkat harga dirinya. Misalnya berikan waktu lebih untuk bermain dengan mainan kesukaannya jika anak telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Anak autis belajar lebih baik jika informasi disampaikan secara visual (melalui gambar) dan verbal (melalui kata-kata).

Tujuan dari pengobatan adalah membuat anak autis berbicara tetapi sebagian anak autis tidak dapat bermain dengan baik4Yang akan dibahas :Intensitas PenatalaksanaanPenatalaksanaan MenyeluruhA. Terapi PsikofarmakaB. Terapi PerilakuC. Terapi BicaraD. Terapi OkupasionalE. Pendidikan KhususF. Terapi Alternatif 51. Intensitas penatalaksanaanIntensitas penatalaksanaan harus dipertimbangkan pada beberapa level, termasuk durasi (yaitu beberapa jam per minggu, atau beberapa bulan per tahun) dan rasio pegawai yang tersedia. Berkenaan dengan durasi program, ada beberapa penelitian untuk mendukung fakta bahwa hasil yang diperoleh anak-anak penderita autis cenderung berhubungan secara positif dengan jumlah jam dari terapi yang mereka terima setiap minggu.Anak-anak dengan autisme memerlukan metode pengajaran yang intensif, yaitu diberikan secara baik ketika siswa mempunyai seorang guru yang perhatiannya tidak terbagi. Seperti kemajuan siswa, sering perhatian terbaik mereka ada suatu rasio yang sebanding dengan yang diberikan dalam lingkungan pendidikan selanjutnya. (Giangreco dkk,1997).

62. Penatalaksanaan menyeluruh--7A. Terapi psikofarmakaKerusakan sel otak di sistem limbik, yaitu pusat emosi akan menimbulkan gangguan emosi dan perilaku temper tantrum, agresifitas.

Obat-obat yang digunakan adalah :HaloperidolFlenfuraminNaltrexoneClompraminLithiumRitalinRisperidon

8B. TERAPI perilaku1.Prinsip Dasar ABA (Applied Behavioral Analysis)Dasar metode ABA adalah semua tingkah laku dipelajari. Baik yang sederhana, seperti kontak mata atau duduk, sampai yang kompleks, misalnya interaksi sosial dan kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Tingkah laku kompleks ini dapat dipelajari dengan memecah menjadi komponen-komponen atau kemampuan-kemampuan persyarat yang lebih sederhana, yang kemudian diajarkan ke anak. Untuk membantu anak belajar, harus diketahui hal apa saja yang dapat meningkatkan kemungkinan anak untuk menunjukkan respon seperti yang diinginkan yang dikenal dengan sebutan reinforcer (penguat). Reinforce positif akan meningkatkan kemungkinan munculnya tingkah laku yang diinginkan (desirable behavioral). Sebaliknya, reinforcer negative meningkatkan kemungkinan tidak munculnya tingkah laku yang tidak diinginkan (undesirable behavioral). Reinforcer positif berupa akses ke barang atau hal-hal yang disukai anak, sedangakan reinforcer negative adalah penghilangan hal-hal yang menyenangkan dari didi anak (Lovass dkk,1987; Nakita,2001).92. Tujuan ABA (Applied Behavioral Analysis)Membuat kegiatan belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Mengajarkan kepada anak agar mampu membedakan atau mendiskriminasikan stimulus-stimulus yang berbeda. Tanpa kemampuan ini, anak tidak sanggup merespon secara tepat.

103. Metode Pengajaran ABA Metode pengajaran yang digunakan adalah DDT (Discrete Trial Training) yaitu metode yang berstruktur menuruti pola tertentu dan bisa ditentukan awal dan akhirnya.

DDT Terdiri :- InstruksiPromptKonsekuenInterval114. Enam Kemampuan Dasar

Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan menjadi enam kemampuan dasar, yaitu :1. Kemampuan memperhatikan (Attending Skill) 2. Kemampuan menirukan (Imitation Skill)3. Bahasa ekspresif4. Kemampuan praakademis5. Kemampuan mengurus diri sendiri (Self Help Skill)

125. Tehnik Pengajaran

Ada : 1. Tehnik Shapping 2. Tehnik Prompting

136. Tehnik Jembatan ( Shadowing)

Bila anak kesulitan di sekolah umum, biasanya akan dilakukan tehnik inklusi atau integrasi dan tehnik shadowing. Tehnik tersebut umumnya dilakukan di masa-masa awal anak mengikuti kegiatan di sekolah umum. Caranya, terapis (shadow) yang selama ini membantu anak di rumah, ikut hadir di kelas bersama anak. Ia berfungsi untuk menjembatani atau membantu anak mengerti instruksi-instruksi atau stimulus-stimulus dari lingkungan. Kalau perlu, shadow akan melakukan prompt terhadap anak. Namun penggunaan prompt oleh shadow memang dibatasi supaya anak belajar mandiri (Nakita,2002).

14c. Terapi bicaraGangguan bicara dan berbahasa di derita oleh hampir semua anak autisme. Tatalaksana melatih bicara dan berbahasa harus dilakukan oeh ahlinya karena merupakan gangguan yang spesifik pada anak autisme. Anak dipaksa untuk berbicara sekata demi sekata, cara ucapan harus diperhatikan, kemudian diajarkan berdialog setelah mampu berbicara. Anak dipaksa untuk memandang terapis, seperti diketahui anak austistik tidak mau adu pandang dengan orang lain. Dengan adanya kontak mata diharapkan anak dapat meniru gerakan bibir terapis (Soemarno,1992).

15

d. Terapi okupasionalMelatih anak untuk menghilangkan gangguan perkembangan motorik halusnya dengan memperkuat otot-otot jari supaya anak dapat menulis atau melakuakan ketrampilan lainnya.

17e. Pendidikan khususAnak autistik mudah sekali teralih perhatiannya.Karena itu,pada pendidikan khusus satu guru menghadapi satu anak dalam ruangan yang tidak luas dan tidak ada gambar-gambar di dinding atau benda-benda yang tidak perlu, yang dapat mengalihkan perhatian anak. Setelah ada perkembangan mulai dilibatkan dalam lingkungan kelompok kecil, kemudian baru kelompok yang lebih besar.Bila telah mampu bergaul dan berkomunikasi mulai dimasukkan pendidikan biasa di TK dan SD untuk anak normal (Soemarno,1992)

18

f. Terapi alternatif1. Terapi Detoksifikasi2. The Option Method3. Sensory Integration Therapy

20kesimpulan21Daftar pustakaM., 1997., Tatalaksana Terpadu Pada Autisme, dalam : SimposiumTatalaksana Autisme., Gangguan Perkembangan anak., Yayasan Autisme Indonesia., JakartaSutadi, R., 1997., Tatalaksana Perilaku Pada Penyandang Autisme., Yayasan Autisme Indonesia., JakartaSuzi., & Kaufman., 1998., Menangani Anak Autis., Panduan Tumbuh Kembang Balita., Nakita., 2002 Vol :30

22TERIMAKASIH23