2012_11_2 Efektivitas Pendidikan Agama Untuk Mengantisipasi Tawuran

download 2012_11_2 Efektivitas Pendidikan Agama Untuk Mengantisipasi Tawuran

of 4

  • date post

    15-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    22
  • download

    5

Embed Size (px)

description

Efektivitas Pendidikan Agama Untuk Mengantisipasi Tawuran

Transcript of 2012_11_2 Efektivitas Pendidikan Agama Untuk Mengantisipasi Tawuran

  • Efektivitas Pendidikan Agama untuk Mengantisipasi Tawuran

    Herlina Astri*)

    Abstrak

    Sejauh ini pihak sekolah didaulat sebagai pihak yang bertugas mengantisipasi tawuran mulai dari penegasan peraturan sekolah, penambahan ekstrakurikuler, kompetisi olahraga antarsekolah, hingga saran penghapusan seragam sekolah. Isu utama yang banyak dikemukakan untuk mengatasi tawuran antarpelajar adalah dengan menambah jam pelajaran agama. Namun, dikhawatirkan penambahan jam pelajaran agama hanya bersifat normatif dan tidak dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi adanya tawuran. Tiap sekolah seharusnya memberikan ruang bimbingan dan pembinaan akhlak bagi para siswa yang dilakukan secara khusus, rutin, bertahap, dan berkesinambungan.

    K E S E J A H T E R A A N S O S I A L

    A. Pendahuluan

    Akhirnya pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memfasilitasi SMA 6 dan SMA 70 untuk melakukan mediasi terkait aksi tawuran antara kedua siswa di sekolah tersebut yang menelan satu korban jiwa beberapa waktu lalu. Beberapa solusi, diantaranya:1. Penanganan jangka pendek (sampai 1

    bulan ke depan):(1) Menciptakan ketenangan dan

    kedamaian siswa dengan cara mengawal kegiatan siswa baik internal maupun eksternal sekolah dengan melibatkan aparat keamanan, alumni, dinas pendidikan, dan Kemendikbud, sebagai bentuk kepedulian agar siswa-siswa tidak ragu saat masuk sekolah;

    (2) Kegiatan yang sifatnya massal mohon dipikirkan kembali, dan direkomendasikan untuk diundur sampai kondisi kondusif;

    (3) Mengaktifkan pos terpadu, menyiapkan CCTV, piket, dan ikut patroli;

    (4) Melakukan kegiatan pembinaan untuk siswa-siswa yang berpotensi masalah, dengan kegiatan pembinaan seperti: ESQ, kegiatan khusus kerjasama yang melibatkan semua pihak, program pembela negara, perkuatan solidaritas;

    (5) Sekolah harus menerapkan disiplin internal masing-masing; dan

    (6) Meningkatkan peran POTK/WOTK kedua sekolah.

    b. Penanganan jangka menengah:

    (1) Penguatan kualitas pendidikan

    *) Peneliti bidang Kesejahteraan Sosial pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: herlina.astri@gmail.com

    - 9 -

    Vol. IV, No. 22/II/P3DI/November/2012

  • agama, agar dapat terimplementasi secara riil;

    (2) Kepala sekolah beserta jajaran melakukan penguatan pendidikan karakter yang ditugaskan kepada semua guru;

    (3) Perlu dilakukan pembinaan secara berjenjang mulai dari guru mata pelajaran, wali kelas, guru BK, wakil kepala sekolah, sehingga tidak ada pembiaran;

    (4) Penguatan kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana untuk mengekspresikan diri;

    (5) Program bersama, agar dilanjutkan dan diperkuat karena merupakan cara untuk menghilangkan sekat-sekat yang ada;

    (6) Walikota Jakarta Selatan diminta melakukan penataan lingkungan sekitar sekolah SMA 6 dan SMA 70;

    (7) Konsolidasi alumni, diharapkan ada komunikasi antara alumni senior dengan alumni junior, agar tidak terjadi intervensi kepada siswa-siswa yang lain; serta

    (8) Menciptakan budaya sekolah yang sehat, aman, nyaman, dan damai.

    Sesuai kesepatakan konsolidasi, wacana peningkatan efektivitas pelajaran agama menjadi isu yang dianggap penting sebagai solusi masalah tawuran. Di satu sisi, nilai-nilai afeksi yang ada dalam pelajaran agama dapat digunakan untuk meredam perilaku-perilaku menyimpang remaja, tapi di sisi lain, muncul pertanyaan, apakah cukup hanya dengan menambah pelajaran agama saja dalam penanganan masalah tawuran?

    B. Pendidikan Agama Sebagai Solusi Tawuran

    Pendidikan agama adalah suatu usaha penanaman nilai-nilai pada anak yang sedang tumbuh agar muncul sikap dan budi pekerti yang baik, agar dapat memelihara perkembangan jasmani dan rohani secara seimbang saat ini dan masa mendatang. Agama dalam hal ini lebih dimaksudkan pada moral, akhlak, etika, kesantunan, dan sebagainya.

    Menurut Paulo Freire, seharusnya pendidikan agama berorientasi pada proses pembelajaran secara critical thinking. Pembelajaran agama secara critical thinking memungkinkan peserta didik untuk menguak substansi agama, membedakan nilai partikular dan universal agama, dan tidak terjebak pada fanatisme semata. Critical thinking tidak hanya kritis terhadap teks dan pendapat orang lain, tapi juga kritis terhadap diri sendiri. Seringkali sikap kritis hanya terhadap pendapat orang atau agama lain, tapi tidak kepada diri sendiri atau agama sendiri. Hal tersebut menyebabkan banyak orang yang mengetahui nilai-nilai ajaran agama, tetapi perilakunya tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama yang diketahuinya.

    Materi pendidikan agama seharusnya masuk dalam seluruh mata pelajaran dan dicontohkan oleh orang dewasa. Materi agama bukan sebatas pengetahuan untuk menurunkan kekerasan dan tawuran pada anak. Kekuatan cinta dan ketulusan hati yang diajarkan dalam pendidikan agama jika dapat diaplikasikan akan menciptakan anak yang lembut, penyayang dan bertanggung jawab, sehingga tidak ada niat untuk menyakiti orang lain, apalagi terlibat dalam tawuran.

    Pendidikan Agama merupakan bagian dari pendidikan karakter. Berbicara tentang tawuran antarpelajar tidak lepas dari peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Beberapa kasus tawuran yang terjadi ditenggarai berasal dari motif balas dendam, rasa setia kawan, yang kemudian berujung pada penempatan rasa solidaritas yang keliru dalam diri remaja. Meskipun saat ini telah banyak dilakukan penanganan terhadap perilaku tawuran, namun belum terlihat dampak yang optimal dalam dunia pendidikan.

    C. Penanganan Tawuran yang Tidak Tepat Sasaran

    Pada umumnya pelaku tawuran berusia muda dan dikuasai emosi. Dalam pemahaman mereka, sebuah masalah yang dibicarakan secara baik-baik tidak akan memberikan jalan keluar apapun. Hal ini dikarenakan masing-masing pihak merasa pasti benar, lebih benar,

    - 10 -

  • - 11 -

    atau paling benar. Oleh karena itu, bagi mereka tawuran merupakan satu-satunya solusi terbaik dalam pemecahan masalah. Muncul sebuah kesalahan penempatan rasa solidaritas di kalangan remaja bahwa jika salah satu anggota mereka disakiti, maka komunitasnya juga merasa disakiti.

    Menurut Imadha, dalam diri manusia ada dua hal utama yang harus dikuasai agar tidak terlibat dalam peristiwa tawuran. Pertama, penguasaan harus dilakukan terhadap emosi yang berlebih. Sangat sulit seseorang berpikir (maupun belajar) dengan rasio ketika emosinya sedang berlebih. Dalam hal tawuran, ketika emosi menyebabkan tindakan irasional, maka maksud dari itikad menjadi rancu. Mungkin saja maksud sebenarnya adalah baik dan belum tentu buruk (sekadar ikut-ikutan). Jika meminjam istilah men sana in corpore sano, maka di dalam tubuh yang sehat akan terdapat jiwa yang kuat.

    Kedua, buruknya itikad yang dapat dipicu dari emosi berlebih dan mengacaukan pikiran rasional (kalap). Itikad buruk juga dapat disebabkan oleh rasio dan ketenangan emosi. Contoh, koruptor kelas kakap yang bermain cantik. Semua memerlukan ketenangan emosi dalam berpikir dan juga rasio untuk berstrategi. Diperkirakan hal tersebut bukan hanya mengenai emosi tetapi lebih ke masalah ego.

    Pemahaman tersebut dapat dipelajari sejak dini, dalam proses kehidupan, sampai dengan titik di mana seseorang berhenti untuk menerima pengetahuan. Pendidikan agama dan budi pekerti menjadi penting jika penyebab tawuran adalah karena emosi, itikad, dan ego. Belum dipahaminya akar masalah tawuran menyebabkan beberapa gagasan yang dimunculkan untuk menangani masalah tersebut menjadi keliru dan berjalan tidak efektif. Kedua gagasan tersebut perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan efektivitasnya dalam menangani tawuran. Perlu dipertimbangkan juga kondisi selama ini di mana perumusan kebijakan dan langkah-langkah penanganan tawuran tidak melibatkan pelaku tawuran sehingga gagasan pencegahan dan penanggulangan menjadi tidak tepat sasaran.

    Tawuran merupakan manifestasi

    perilaku (motorik) dan pikiran (kognisi). Oleh karena itu yang diperlukan adalah pencerahan-pencerahan psikologis tentang cara mengendalikan emosi yang baik dan cara berpikir tentang segi negatifnya tawuran. Mereka yang terlibat dalam sebuah tawuran cenderung memiliki pengendalian emosi yang lemah. Hal ini membutuhkan perhatian dari semua pihak terutama untuk memberikan bimbingan psikologis agar mereka memahami psikologi pribadi maupun psikologi sosial yang memadai. Sangat dibutuhkan perubahan pola pikir yang keliru ke arah pola pikir yang benar.

    D. Penyelesaian Tawuran Tidak Hanya Orientasi Afeksi

    Jika penambahan jam pelajaran agama menjadi pilihan penyelesaian masalah tawuran, maka sebaik pelajaran tersebut menekankan pada pembentukan karakter pribadi serta membuat sistem mentoring agama. Dalam hal ini diperlukan sistem pelajaran agama dengan bimbingan dari kakak-kakak kelas maupun alumni yang akan menyibukkan siswa dengan hal-hal positif, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

    Tiap sekolah seharusnya memberikan ruang bimbingan dan pembinaan akhlak secara khusus untuk para siswa yang dilakukan secara rutin, bertahap dan berkesinambungan. Jadi untuk mengatasi tawuran bukan hanya masalah penambahan jam, tapi lebih kepada bagaimana peraturan ditegakkan untuk memberikan efek jera pada setiap siswa.

    Sebelum menambah jam pelajaran pada sistem pendidikan sekarang, ada baiknya lebih fokus memikirkan bagaimana para pelajar tersebut dapat mengendalikan emosinya. Jika dikaitkan dengan mata pelajaran lain di sekolah sebenarnya dapat dilakukan kegiatan lain misalnya melakukan yoga saat pelajaran olahraga untuk menenangkan batin seseorang dibanding menyalurkan emosi, atau bermain catur yang lebih mengandalkan rasio dibanding emosi untuk memenangkan pertandingan.

    Mayoritas orang berpendapat

  • - 12 -

    pada penguatan afeksi peserta didik melalui pendalaman agamanya masing-masing. Padahal peserta didik ju