130925 Buku I Draf

download 130925 Buku I Draf

of 261

  • date post

    11-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    373
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of 130925 Buku I Draf

TTS KOMPAS

PENDIDIKKAN KEWARGANEGARAANSi Vis Pacem Para Bellum-Buku IBerian : Sugeng Berantas 2013KATA PENGANTAR

Pada bulan-bulan baik, khususnya di bulan suci Romadhon (Puasa) yang kehadirannya didambahkan dan dimuliakan oleh seluruh umat manusia (orang islam/beriman) untuk saling memaafkan, meningkatkan ketaqwaan maupun mendharmabaktikan keimanannya. Bahkan, bisa lebih dari itu. Diantaranya, dalam kerangka untuk meminati mulianya dunia menuju masuknya nikmat sorga. Kita, dalam berbagai penyesuaian dan pembaharuan perwujudan kini dan selanjutnya hendaknya senantiasa mampu membangun dan mengembangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Cerdas, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Pemaaf, Tuhan Yang Maha Sejahterah, dan Tuhan Yang Maha Damai serta berbagai sifat-sifat agung, mulia, maha-maha lainnya. Selain itu, rasa syukur menjadi semakin meningkat dan membara karena diharapkan mampu mendorong sekaligus menjadikan benih/cikal bakal yang dapat memberikan kontribusi karya sejenis Notions yakni, sebagai bagian seperangkat ide cerdas yang mampu melintas batas untuk mengentaskan masalah-masalah secara komprehensif intergral dalam bidang tertentu. Dalam kerangka itu, dengan kerendahan hati diantaranya diwujudkan berupa suatu tulisan hasil dari berbagai proses keberlanjutan sebelumnya yang akhirnya diberi judul PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Si Vis Pacem Para Bellum.

Judul ini, sengaja dicarikan secara khusus. Tidak tunggal, diantaranya memuat uraian singkat berbagai jabaran peraturan perundang-undangan dan berbagai kebijakan strategis yang terkait dengan pemaknaan dan tuntutan sebagian reformasi. Berupa esensi konteks sejarah Pendidikan Kewarganegaraan bagian dari upaya bela negara (UU 3/2002 ps 9), Wawasan Nusantara sebagai Landasan Visional, Ketahanan Nasional sebagai Landasan Konsepsional, dan RPJMN (Perpres 5/2010, bagian dari jabaran UU 17/2007) sebagai Landasan Operasional, serta berbagai Kajian-Kajian/muatan strategis. Dimana, judul maupun esensi tulisan ini sebenarnya diharapkan dapat memaknai pula sekaligus sikaptindak maupun peran fungsi tugas posisi kita, dalam memberikan kontribusi positif ada dimana dan/atau bagaimana memberi kontribusi bermakna dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (bebrayan). Selain itu, diorientasikan pula sebagai suatu sempurnanya upaya (mengkomunikasikan) bela negara, dengan memberikan konsepsi hal-hal terbaik sebagaimana diantaranya yang pernah dituliskan pendahulunya (Jas Merah-Jangan sekali-kali melupakan sejarah ????) bahwa, dunia kita adalah dunia usaha dan bukan minta-minta. Orang yang senantiasa meminta, apalagi dijadikan kebiasaan dalam hidupnya adalah orang yang belum tahu kewajibannya. Usaha, selama kita masih berjiwa dan berbudi. Diseberang kematian tidak ada apa apa. Dunia adalah kesempatan untuk berusaha. Apa yang kita usahakan nanti akan menentukan nilai jiwa kita pada waktu kematian (Tanpoaran, 1988).

Akhirnya, tanpa mengurangi rasa hormat karena singkatnya kata dan sifat manusia yang tidak selalu sempurna. Dalam individu hidup bebrayan (berkeluarga/masyarakat) yang juga menginginkan adanya aja dumeh, tepasarira, dan gotong royong. Jauh dari mapitu (madon-pencabulan, main-perjudian, madat-minum/narkotik, maido-mencela, maling-mencuri, mateni-membunuh, minum-minuman keras) atau wewalering bebrayan (larangan masyarakat) sebenarnya disadari tidaklah mudah. Hidup bebrayan itu, ada kalanya sengaja atau tidak dirasakan mengalami salah, kekurangan, dan kelemahan, serta hala-hal yang kemudian dipersepsikan kurang pantas (elok). Untuk itu, dengan kerendahan hati dan tulus mohon dibukakan maaf yang sebesar-besarnya. Sekaligus, sebaliknya. Dengan rasa bangga yang tak terhingga menyampaikan terima kasih jika sekiranya dalam berbagai keterbatasan dan kekinian yang cenderung dirasuki serba hitung namun lalai dengan nilai instrinsiknya/mendasarnya masih ada yang mau mengkritisinya. Mau memberi masukan membangunnya. Disengaja atau tidak, telah memberikan responya yang sangat bermakna. Percayalah, usaha-usaha yang telah dilakukan merupakan cerminan budi sekaligus dharma bakti hidup bebrayan. Semoga Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik, terrahmat, dan terhidayah kepada kita semua. Amin.Sugeng Berantas

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang 2. Dasar Kegiatan

3. Visi, Misi, dan Kompetensi4. Pengertian/PemaknaanKECENDERUNGAN LINGKUNGAN STRATEGIS

5. Global

6. Regional

7. Dalam Negeri

PROFIL DIKWAR DALAM KONTEKS KONSTITUSI NKRI

8. Heroik dan Nasionalisme

9. Kompetensi Dikwar

10. Bangsa, Negara, dan Kewajiban Hak

11. Hubungan Warga Negara dengan Negara

12. Demokrasi

13. Otonomi Daerah

WAWASAN NUSANTARA (WASANTARA SEBAGAI LANDASAN VISIONAL)

14. Selayang Wawasan Nusantara dan Wawasan Nasional

15. Latar Belakang Wasantara

16. Ajaran Wawasan Nasional Indonesia

17. Latar Belakang Filosofis Wasantara

18. Pengimplementasian Wasantara

19. Ajaran Wasantara

20. Unsur Dasar Konsepsi Wasantara

21. Hakekat Wasantara

22. Asas-Asas Wasantara

23. Arah Pandang Wasantara

24. Kedudukan, Fungsi, dan Tugas Wasantara

25. Sasaran Implementasi Wasantara

26. Pemasyarakatan/Sosialisasi Wasantara

27. Tantangan Implementasi Wasantara

28. Prospek Implementasi Wasantara

29. Keberhasilan Implementasi Wasantara

KETAHANAN NASIONAL (TANNAS SEBAGAI LANDASAN KONSEPSIONAL)

30. Keuletan dan Ketangguhan

31. Konsepsi Dasar Tannas

32. Konsepsi Astra Gatra

RPJMN (TAHAP II) 2010-2014 (PERPRES 5/2010 SEBAGAI LANDASAN OPERASIONAL)

33. Perundang-undangan yang Simetris

34. Menyoal Esensi UU 17/2007

35. Perpres RI 5/2010 Bagian Dari Jabaran UU 17/2007PENUTUP

36. Pengakhiran

CATATAN/LAIN-LAINPENDIDIKKAN KEWARGANEGARAAN

Si Vis Pacem Para BellumPENDAHULUAN

.....Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara.....keikutsertaan..... diselenggarakan melalui : (i) pendidikan kewarganegaraan (Dikwar-nonmiliter); (ii) pelatihan dasar kemiliteran secara wajib (Latsarmilwa); (iii) pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau secara wajib; (iv) pengabdian sesuai dengan profesi..... (UUD 1945, UU 3/2002, UU 20/2003, UU 39/1999.....)1.Latar Belakang.

Dalam perwujudan perundang-undangan. Misalnya, Undang-Undang-UU 3/2002-UU, 20/2003-UU, 17/2007, dan konteks sejarahnya. Pendidikan Kewarganegaraan (Dikwar), sebagai bagian yang tak terpisahkan dari upaya bela negara. Sebagaimana diamanahkan UU (UU 3/2002, ps 9 (2) a), yang UU-nya belum diterbitkan. Dulunya, diantaranya disebut dan dikenal sebagai Kewiraan-Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN)-Tahap Lanjutan/perguruan tinggi (UU 20/1982, ps 19 (2) b). Sesungguhnya, tidaklah lepas dari kepentingan Pertahanan Negara (Hanneg) bagian dari seluruhan konteks menuju terwujudanya Keamanan Nasional (Kamnas-UU 17/2011). Dimana, sifatnya selalu semesta (kerakyatan, kewilayahan, kesemestaan). Dibangun dan dikembangtingkatkan, untuk menjamin suatu kedaulatan/martabat/tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dari segala ancaman (jamak-multidimensional) yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Jaminan tersebut, selain untuk kepentingan/tujuan nasional yang ada dalam UUD negara RI 1945 maupun demi suksesnya pembangunan nasional. Tentunya, tidak akan lepas dari makna dan fungsi Hanneg sendiri (diulang-mencabut UU 29/1954, UU 20/1982-UU 1 dan 2/1988) yang dipahami dalam UU sebagai bagian totalitas segala usaha dan kegiatan cerdas untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. Akan tetapi, dengan adanya agenda/tuntutan visi reformasi (UU 17/2007). Termasuk, dibidang pertahanan dan keamanan (Hankam) yang disadari dan dipersepsikan masih belum tuntas. Jauhnya dari pemenuhan amanah dengan disertai masih maraknya berbagai ancaman dan gangguan serta berbagai pengaruh perekembangan lingkungan strategis yang serba berubah. Tidak selamanya kondusif. Adakalanya, beraspek negatif yang perlu ditolak dan antisipasi. Mengingat, beraspek negatif bisa saja dari perwujudan globalisasi dan terjadinya perembesan persoalan krisis-krisis dunia lainnya. Hal tersebut, akan berimplikasi terhadap tatanan kehidupan suatu negara. Perwujudan Hanneg. Misalnya, yang disegani, modern, efektif, dan tangguh (visi RPJP Hanneg-Skep Menhan 559/M/XI/2008 : terwujudnya hanneg yang tangguh, modern, dinamis, dan mandiri dan sejenisnya, Kep Menhan 268/M/XII/2009 : terwujudnya hanneg yang tanggu-terwujudnya TNI sebagai komponen utama yang tangguh) dengan efek penangkal sekaligus penggentar (deterrence)-Sivis Pacem Para Bellum- tinggi, tidaklah menjadikan solusi yang semakin mudah. Terlebih, dalam praktek pengelolaannya dan penyelenggaraannya banyak faktor-faktor yang mempengaruhi. Baik, pengaruh yang terkait dengan usahanya, sistemnya, hakekatnya, penyusunannya, maupun berbagai makna penjabarannya. Semuanya, tidaklah akan lepas dari salah satu fungsi pemerintahan negara yang berusaha untuk mewujudkan suatu kesatuan Hanneg guna mencapai tujuan nasional sebagaimana amanah dibentuknya pemerintahan.

Untuk mendukung hal itu, tak dipungkiri adanya pemilahan dan pembagian peran dalam sistem Hanneg. Dimana, dalam dinamikanya dan antisipasinya menghadapi ancaman militer (UU 3/2002) dan/atau bersenjata (UU 34/2004) menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai Komponen