04-Best Practices Amdal Di China Dan ASEAN-ADB

download 04-Best Practices Amdal Di China Dan ASEAN-ADB

of 44

  • date post

    09-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    53
  • download

    8

Embed Size (px)

description

AMDAL

Transcript of 04-Best Practices Amdal Di China Dan ASEAN-ADB

  • 1 | P a g e

    Best Practices

    Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) di

    China dan Beberapa Negara ASEAN serta ADB

    Oleh:

    Erik Teguh Primiantoro1

    A. Pendahuluan: Konsep Penyusunan Best Practices

    Sistem KDL

    Kebijakan perlindungan (Safeguard policies) secara umum dipahami

    sebagai kebijakan operasional untuk menghindari, mengurangi dan

    memitigasi dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial. Satu

    dari safeguard policies adalah safeguard policies di bidang

    perlindungan lingkungan (environment safeguard). Environmental

    Impact Assessment atau dikenal dengan nama Analisis Mengenai

    Dampak Lingkungan (Amdal) merupakan instrumen perlindungan

    lingkungan (environmental safeguard) Indonesia yang telah dibangun,

    dikembangkan dan diimplementasikan serta disempurnakan selama

    lebih kurang 28 tahun.

    Dalam rangka pengembangan Amdal ke depan, maka diperlukan

    data dan informasi terkait dengan pengalaman berbagai negara dan

    lembaga-lembaga internasional dalam mengembangkan dan

    menerapkan sistem Amdal di negaranya masing-masing. Disamping

    itu juga agar sistem Amdal dapat diterapkan dalam konteks yang

    lebih luas seperti lembaga keuangan, maka juga perlu digali

    pengalaman dari berbagai negara dan lembaga terkait dengan

    penggunaan sistem Amdal dalam transaksi-transaksi keuangan.

    Berdasarkan pengalaman tersebut kita dapat membandingkan

    sistem Amdal Indonesia dengan sistem Amdal di beberapa negara

    dan international best practices.

    Perbandingan sistem Amdal Indonesia dengan internasional best

    practices juga diperlukan dalam rangka pelaksanaan hasil Deklarasi

    1 Kabid Pengendalian Sistem Kajian Dampak Lingkungan pada Asisten Deputi Kajian Dampak Lingkungan, Deputi Bidang Tata Lingkungan, KLH-2014

  • 2 | P a g e

    Paris yang mendorong penggunaan country safeguard systems

    (CSS)untuk berbagai proyek yang didanai oleh pendanaan

    internasional. Sejalan dengan Deklarasi Paris ini, penggunaan

    penggunaan CSS akan menyederhanakan siklus proyek ADB

    sehingga lebih efektif dan efisien (menghemat biaya, waktu dan

    energi. Disamping itu juga penggunaan CSS akan mencegah terhadi

    kebinggungan dalam implementasi EMP dan penaatan (pengawasan

    dan penegakan hukum) serta proses pengembailana keputusan yang

    dilakukan oleh Indonesia dan ADB dilakukan berdasarkan informasi

    yang memliki tingkat kedalaman dan kerincian yang sama.

    Disamping itu juga pengalaman dari berbagai negara dan lembaga

    tersebut juga dapat digunakan untuk mengembangan penarapan

    sistem Amdal di Indonesia dalam terkait dengan lembaga keuangan

    dan perbankan. Kemitraan dengan dunia perbankan dalam rangka

    penerapan sistem Amdal sebagai instrumen perlindungan

    lingkungan (environmental safeguard) sangat penting. Hal ini

    mengingat bahwa sektor perbankan adalah satau sumber utama

    pembiayaan investasi untuk berbagai proyek komersial yang

    merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sangat penting untuk

    menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sektor perbankan

    dapat memainkan peranan penting dalam mewujudkan invetasi yang

    ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial

    (environmentally sustainable and socially responsible investment -

    SRI);

    Berdasarkan dasar pemikiran tersebut di atas, maka best practices

    penerapan sistem Amdal yang akan disusun mencakup tiga bidang

    atau aspek, yaitu:

    1) Penerapan sistem Amdal di beberapa negara;

    2) Kesetaraan (equivalancy) sistem Amdal Indonesia dan sistem

    Amdal lembaga internasional (international Best Practices);

    3) Penerapan sistem Amdal dalam lembaga keuangan dan

    perbankan;

    Berdasarkan ruang lingkup atau cakupan best practices yang akan

    disusun, maka strategi dan metode yang digunakan untuk

    penyusunan best practices tersebut adalah melalui:

    1) pertemuan dan diskusi internal untuk mentukan ruang lingkup

    best practices sistem Amdal;

  • 3 | P a g e

    2) Pertemuan dan diskusi dengan berbagai pakar dan praktisi Amdal

    dari berbagai negara dan lembaga. Strategi ini dilakukan melalui

    keikutsertaan dalam beberapa workshop Internasional di China

    dan Manila;

    3) Perumusan akhir konsep best parctices Amdal yang mencakup:

    a. Penerapan Sistem Amdal di berbagai negara;

    b. Kesetaraan sistem Amdal Indonesia dengan internasional

    best practices;

    c. Penerapan Sistem Amdal dalam lembaga keuangan dan

    perbankan;

    B. Pelaksanaan Pembahasan Konsep Best Practices

    Pelaksanaan penyusunan konsep best parctices dilakukan melalui:

    1) Keikutsertaan dalam China-ASEAN Workshop on Environmental

    Impact Assessment yang diselenggarakan oleh China-ASEAN

    Environmental Cooperation Center (CAECC) Ministry of

    Environmental Protection P.R. China pada tanggal 12-17 Mei 2014

    di Yixing, Jiangsu Province, P.R. China. Dalam workshop ini

    dibahas berbagai isu terkait dengan Amdal di China dan Beberapa

    Negara ASEAN antara pakar dan prakstisi Amdal dari Kemnetrian

    LH China dan pakar dan praktisi Amdal dari Kementerian

    Lingkungan Hidup dari negara-negara ASEAN. Topik yang

    menjadi pembahasan, yaitu:

    a. Pengembangan legislasi dan Sistem EIA di China;

    b. Prosedur EIA untuk proyek konstruksi di China;

    c. Persetujuan Administrasi lingkungan untuk proyek

    konstruksi di China;

    d. Sistem EIA di Brunai Darusalam, Kamboja, Indonesia dan

    Laos;

    e. Teknologi dan standar EIA;

    f. Sistem EIA Malaysia, Myanmar, dan Filipina;

    g. Studi Kasus SEA (KLHS)dan Proyek Konstruksi;

    h. EIA untuk Proyek Limbah B3;

    i. Sistem EIA di Singapura, Thailand dan Vietnam;

    j. Kunjungan ke kawasan industri untuk Perlindungan

    Lingkungan;

    k. Seminar Kerjasama Industri Lingkungan antara China dan

    ASEAN;

    2) Keikutsertaan dalam Second Regional Workshop on Strengthening

    Country Safeguard Systems: Toword Coomon Approaches for Better

  • 4 | P a g e

    Result yang diselenggarakan oleh ADB di Manila pada tanggal 7-9

    Oktober 2014 di Kantor Pusat ADB Manila. Peserta yang hadir

    dalam pembahasan ini adalah wakil-wakil dari Kementerian

    Lingkungan Hidup di negara-negara ASEAN dan Asia Selatan

    serta beberapa lembaga donor yang terkait dengan EIA atau

    Country Safeguard systems (CSS). Topik-topik yang menjadi

    agenda pembahasan antara lain adalah:

    a. Tantangan-tangangan kunci yang sedang dihadapi negara-

    negara Asia Pasifik. Beberapa pakar berbagai pengalaman

    dan juga memberikan arahan ke depan apa yang harus

    dilakukan dengan mengkritisi status qua, saran-saran

    terkait dengan berbagai kemungkinan untuk meningkatkan

    penggunaan CSS dan juga pendekatan dan benchmarking

    yang ada saat ini;

    b. Berbagai pengalaman praktis negara-negara berkembang

    dalam penerapan CSS termasuk mengali berbagai peluang

    untuk mengevaluasi pelaksanaaan CSS dan merumuskan

    langka ke depan untuk memperkuat pengunaan CSS. 4

    isu utama terkait dengan EIA yang dibahas, yaitu:

    i. Proses EIA secara umum;

    ii. Bagaimana menilai dokumen EIA;

    iii. Implementasi EMP;

    iv. Proses konsultasi publik dan keterbukaan informasi;

    c. Proses integrasi dimensi lingkungan dan sosial ke dalam

    proses pembangunan saat ini merupakan sesuatu yang

    sudah terbangun dengan baik, dimana negara-negara

    berkembang di Asia dan Pasifik telah membangun dan

    membuat berbagai kemajuan dalam peningkatan CSS.

    Disamping itu studi kasus juga dibahas oleh para pakar

    dari berbagai negara antara lain bagaimana KLHS (SEA)

    menjadi bagian dari proses perencanaan regional di China,

    mengapa Indonesia memutuskan untuk menggunakan CSS

    dalam proyek-proyek yang akan didanai oleh ADB dan

    bagaimana Indonesia akan melakukannya, Bagaimana

    Srilangka melakukan formalisasi kebijakan pengadaan

    lahan dan pemukiman kembali (land acquisition and

    resettlement policy), dan bagaimana China mengelola proses

    pemukiman kembali dalam skala besar untuk

    pembangunan waduk;

    d. Peningkatan kerjasama dan koordinasi dalam penerapan

    CSS yang koheren yang dapat mendukung terwujudnya

  • 5 | P a g e

    pembangunan berkelanjutan. Berbagai kemitraan yang

    telah dibangun selama beberapa tahun untuk

    meningkatkan CSS, berbagai alasan keberhasilan dan

    kegagalan serta bagaimana kemitaraan ini akan

    berkembang di masa depan;

    e. Pengalaman kerjasma antar negara yang dapat membawa

    manfaat bersama yang mencakup pengaturan CSS dengan

    international best practices di antara negara-negara

    berkembang dan AECEN;

    f. Pengalaman Organisasi masyarakat madani atau the civil

    society organizations (CSO) di negara-negara berkembang

    dalam memberikan kontribusi yang signifikat terhadap

    proses perkembangan CSS;

    g. Pengalaman berbagai badan usaha milik negara bermitra

    dengan berabagi sektor swasta dan lembaga keuangan

    swasta dalam mengintegrasikan resiko lingkungan ke dalam

    risko pengelolaan keuangan yang komplek dari perspektif

    CSS;

    h. Pelatihan terkait dengan perlindungan lingkungan:

    pedoman teknis penilaian dokumen lingkungan dengan

    fokus pada pada proyek pembangunan di bidang energi,

    Implementasi sistem perlindungan lingkungan: Pengalam