.Web viewHal ini menunjukkan bahwa “fatwa” memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap...

download .Web viewHal ini menunjukkan bahwa “fatwa” memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap keberagamaan

of 26

  • date post

    31-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of .Web viewHal ini menunjukkan bahwa “fatwa” memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap...

DINAMIKA FATWA DI TENGAH KEBERAGAMAN MASYARAKAT (Antara Progresivitas dan Regresivitas)

Dr. M. Usman, S.Ag, M.Ag

Dekan Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi dinamika pergumulan fatwa hukum dengan realitas sosial. Sebagai bentuk refleksi, setidaknya artikel ini mencoba memberikan gambaran atau potret eksistensi fatwa ditengah masyarakat dengan berbagai pro-kontranya, dengan harapan, hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk perbaikan kedepannya, sehingga melahirkan produk fatwa yang berpijak pada realitas masyarakat Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, maka kajian pokok yang akan dibahas melalui tulisan ini adalah, pertama, urgensi fatwa (keagamaan) ditengah masyarakat. Kedua, fenomena Fatwa dengan berbagai pro-kontranya yang melahirkan progresivitas dan regressivitas. Ketiga, potensi fatwa sebagai penyokong bingkai NKRI dan kebangsaan.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk menilai validitas sebuah fatwa maupun lembaga apapun yang mengeluarkan fatwa, karena itulah pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah social-historical approach (sosial historis), yang mencoba mengkaji kondisi sosial-politik yang mengelilingi lahirnya sebuah fatwa, serta implikasi atau dampak sosial yang berwujud reaksi masyarakat terhadap fatwa tersebut.

Kata Kunci: Fatwa, Keberagamaan dan Kebangsaan

A. Pendahuluan

Hukum Islam di Indonesia termanifestasikan dalam bentuk produk hukum. Setidaknya ada empat produk pemikiran hukum Islam yang berkembang dan dikenal dalam perjalanan sejarah Islam, yaitu, kitab-kitab fiqh, fatwa-fatwa ulama, keputusan-keputusan pengadilan agama dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. Keempat produk hukum tersebut memiliki ciri khas masing-masing.

Kitab-kitab fiqh lebih bersifat menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. Sedangkan fatwa ulama bersifat kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa. Pada dasarnya fatwa tidak mempunyai daya ikat/tidak mengikat apa lagi hak memaksa, dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. Biasanya fatwa bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat peminta fatwa.

Keputusan-keputusan pengadilan agama bersifat mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. Sampai tingkat tertentu keputusan pengadilan agama juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban sekaligus menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu waktu tertentu. Adapun peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim memiliki sifat yang lebih mengikat dengan wilayah yang lebih luas. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada fuqaha atau ulama, melainkan juga para politisi dan cendikiawan lainnya.

Paper ini mencoba memfokuskan kajiannya pada fatwa, dengan pertimbangan, pertama, fatwa lebih bersifat responsif terhadap permasalahan aktual yang terjadi di masyarakat. Kedua, sebuah fatwa tidak muncul dari ruang hampa, artinya banyak faktor yang mempengaruhinya baik yang bersifat internal maupun aksternal. Ketiga, diakui atau tidak belakangan ini fatwa menjadi isu sensitif yang banyak diperbincangkan, bahkan implikasi dari sebuah fatwa memunculkan kontroversial pada domain sosial dan politik, fatwa juga mampu memobilisasi masa menjadi kekuatan yang kokoh. Hal ini menunjukkan bahwa fatwa memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap keberagamaan masyarakat Indonesia khususnya.

B. Urgensi Fatwa di Tengah Masyarakat

Tidak diragukan lagi bahwa hukum Islam (fiqh) merupakan manifestasi konkrit dari syari>ah yang dianggap sebagai representasi kehendak Allah swt. Setiap orang muslim terlebih yang sudah terbebani taklif (mukallaf) akan senantiasa menyelaraskan segala aktifitas kehidupannya dengan hukum Islam, baik yang bersifat mahdah maupun muamalah. Seiring dengan perkembangan zaman persoalan yang dihadapi umat Islam menjadi semakin kompleks, tidak hanya persoalan yang berkaitan dengan ibadah murni (mahdah), melainkan juga persoalan-persoalan yang berdimensi sosial yang implikasinya tidak hanya melibatkan kaum muslimin tetapi juga umat-umat lain di luar Islam.

Perkembangan hukum Islam pada masa awal sesungguhnya amat dipengaruhi oleh perluasan kekuasaan Islam dan perkembangan sosial yang makin kompleks, sehingga produk hukum di masing masing distrik pusat kekuasaan Islam juga mengalami dinamika perubahan yang terakumulasi dalam bentuk madzhab-madzhab klasik. Pada masa tabiin, aktivitas hukum secara independen telah berlangsung di tiga devisi geografis dunia Islam, yaitu Iraq, Hijaz dan Syiria. Lebih jauh lagi Iraq terbagi menjadi dua (Bashrah dan Kuffah) yang masing masing mengembangkan tradisi hukum. Hijaz (Makkah dan Madinah). Sementara di Mesir, sebagian ulama mengikuti doktrin Iraq, sebagaian lain lagi mengikuti doktrin Madinah, Imam Ibn Layts bin Saad merupakan salah satu figur utama dalam perkembangan hukum di Mesir. Formulasi hukum Islam di tangan para tabiin ini menimbulkan beberapa perbedaan mencolok di masing masing distrik dan lebih diwarnai oleh faktor faktor lokal dan regional.

Terlebih lagi di masa sekarang ini, dimana transformasi sosial budaya terus berkembang menjadikan kebutuhan umat Islam terhadap status hukum dari berbagai persoalan yang secara eksplisit belum ditetapkan syara menjadi semakin meningkat. Disinilah letak urgensi fatwa sebagai jawaban bagi masyarakat muslim yang mempertanyakan status hukum sebuah persoalan. Kondisi ini juga yang menjadikan hukum Islam terus berkembang menjadi sumber inspirasi moral yang dapat digelar dan diaktualisasikan dalam pentas keragaman hidup pada setiap zaman dan kondisi sosial yang berbeda-beda.

Pelaksaan pemberian fatwa berjalan sejak masa agak dini, tercatat tokoh seperti Ibrahim al-Nakhai (w.96 H), Atha bin Abi Rabiah (w.115 H) dan Abdullah bin Abi Nujaih (w.132 H) dianggap sebagai tokoh-tokoh awal yang telah memberikan fatwa kepada masyarakat. Pekerjaan menghimpun fatwa belum dilakukan hingga abad ke-12. Dikalangan mazhab Hanafi kumpulan fatwa paling awal dilakukan oleh Burhanuddin bin Mazza (w.570 H/1174 M) dengan karyanya yang berjudul Zakhirat al-Burhaniyyah. Dalam mazhab Maliki penghimpunan kumpulan fatwa yang paling awal dilakukan oleh al-Wanyarisi (w. 914 H/1508 M) dengan kitabnya berjudul al-Miyar al-Maghrib. Sedangkan dalam mazhab Hambali terdapat Ibnu Tainiyah melalui kitabnya Kitab Majmu al-Fatawa.

Pada abad ke-19, sewaktu kekaisaran Turki Usmani mulai memasukan hukum Barat ke dalam dunia Islam yang mengakibatkan lahirnya dikotomi antara hukum umum dan hukum syariat, jangkauan fatwa-fatwa menjadi terbatas pada hukum perorangan (pribadi). Dalam dunia Islam kontemporer paling sedikit ada tiga jenis negeri yang menonjol dalam persoalan fatwa. Pertama, negeri-negeri yang masih menganggap syariat sebagai hukum dasar dan menerapkannya sedikit banyak dalam keseluruhannya, tipe ini diwakili oleh negeri Arab Saudi dimana praktik pemberian fatwa menjadi amat penting baik dalam masalah perorangan maupun sosial politik.

Kedua, negeri-negeri yang telah menghapuskan hukum syariat sama sekali dan menggantinya dengan hukum sekuler. Turki adalah negeri paling tepat sebagai contoh jenis ini, dimana praktik pemberian fatwa dianggap menjadi persoalan yang paling kurang menonjol, bahkan boleh dikatakan tidak ada. Ketiga, negeri-negeri yang mengkompromikan dua wilayah hukum tersebut, seperti Mesir, Tunisia, Iraq, Syiria, Indonesia. Indonesia termasuk dalam jenis ini karena di samping masih menerima tradisi hukum dari bangsa Belanda, masih pula mempertahankan peradilan agama untuk hukum keluarga. Di negeri-negeri jenis ketiga ini praktik pemberian fatwa dapat diharapkan berjalan terus serta merupakan gejala yang sngat penting bagi perkembangan pemikiran hukum Islam.

Di Indonesia tugas pemeberian fatwa sepenuhnya dilakukan oleh para ulama. Istilah fuqaha dan mufti tidak dipergunakan secara umum meskipun istilah tersebut tidak asing sama sekali bagi masyarakat Muslim Indonesia. Hingga permulaan abad ke-20, fatwa-fatwa di Indonesia telah diberikan oleh ulama secara perorangan. Pada kuartal kedua abad ke-20, beberapa fatwa telah mulai diberikan oleh ulama secara berkelompok. Hal ini ditandai dengan munculnya ormas-ormas Islam, diantaranya oleh tiga Ormas Islam yang memiliki anggota yang cukup besar, yaitu PERSIS, Muhammadiyyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

C. Istilah Fatwa dalam Jurisprudensi Islam

Munculnya fatwa dikarenakan adanya suatu perkara akibat perkembangan sosial yang dihadapi oleh umat. Fatwa merupakan sesuatu yang krusial karena merupakan respon internal terhadap pelbagai persoalan di mana anggota-anggota ummah sendiri memandangya sebagai hal yang sangat penting dalam rangka menunaikan kewajiban yang diberikan Tuhan dengan benar.

Fatwa berasal dari bahasa Arab yang berarti jawaban atau keputusan. Orang yang memberikan fatwa disebut mufti. Quraish Shihab mengartikan fatwa sebagai penjelasan hukum tentang persoalan yang musykil. Definisi yang lain menyebutkan:

Fatwa is a formal opinion or decision, treating a moral, legal or doctrinal question, issued by some one recognized as knowledgeable in the juridical sciences of islam. While it has no binding force, it is regarded as an authoritative interpretation

Pengertian fatwa menurut syarasebagaimana yang diungkapkan oleh Yusuf al-Qardawi ialah menerangkan hukum syara dalam suatu permasalahan sebagai jawaban dari suatu pertanyaan baik si penanya itu jelas identitasnya maupun tidak, baik perseorangan maupun kolektif. Sedangkan makna fatwa menurut MUI, fatwa adalah jawaban atau penjelasan dari ulama mengenai masalah keagamaan dan berlaku untuk umum.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa fatwa adalah menjelaskan hukum suatu per