· Web viewDalam rangka penyebarluasan informasi ilmiah dan teknologi telah dimanfaatkan berbagai...

of 81 /81
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, PENELITIAN DAN STATISTIK

Embed Size (px)

Transcript of  · Web viewDalam rangka penyebarluasan informasi ilmiah dan teknologi telah dimanfaatkan berbagai...

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, PENELITIANDAN STATISTIK

BAB XVII

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, PENELITIAN DAN STATISTIK

A. ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN PENELITIAN

1. Pendahuluan

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1983 mengarahkan bahwa pembangunan jangka panjang harus pula mampu membawa perubahan fundamental dalam struktur ekonomi Indonesia sehingga produksi nasional yang berasal dari sektor-sektor di luar pertanian akan merupakan bagian yang semakin besar, dan industri menjadi tulang punggung ekonomi.

Dalam hubungan ini, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi disesuaikan dengan prioritas pembangunan dan diarahkan pada pemilihan teknologi tepat yang dapat meningkatkan kemampuan dan produktivitas nasional, nilai tambah, pertumbuhan ekonomi, perluasan lapangan kerja, pemerataan hasil-hasil pembangunan dan penggunaan alat-alat produksi dalam negeri.

Selanjutnya GBHN 1983 secara khusus telah menetapkan pula kebijaksanaan dasar pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan penelitian dalam Repelita IV sebagai berikut :

a. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ditujukan pada peningkatan kemampuan nasional dalam ilmu dan teknologi yang diperlukan dalam pembangunan, sesuai dengan kebutuhan serta prioritas pembangunan.

b. Dalam rangka mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan serta hasil-hasil penelitian bagi pembangunan,

terus ditingkatkan iklim yang menggairahkan bagi tenaga peneliti, kegiatan penelitian dan pengembangan ilmunya. Cabang-cabang ilmu yang penting tetapi yang kurang peminatnya perlu diberi perhatian khusus dengan mengambil langkah-langkah nyata untuk mengembangkannya.

c. Lembaga-lembaga penelitian lebih ditingkatkan dayaguna dan partisipasinya dalam pembangunan dan pemecahan masalah-masalah yang mendesak, dengan meningkatkan pendekatan penelitian secara interdisiplin, terpadu dan operasional. Di samping itu lebih ditingkatkan jaringan informasi ilmiah termasuk kepustakaan, kearsipan dan kestatistikan, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemanfaatannya dalam pelaksanaan pembangunan.

d. Kemampuan lembaga penelitian di dalam maupun di luar lingkungan perguruan tinggi lebih ditingkatkan melalui peningkatan peralatan dan mutu maupun jumlah tenaga penelitinya. Selanjutnya perlu dikembangkan sistem penghargaan yang lebih sepadan bagi hasil karya ilmiah yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta berguna untuk pembangunan.

e. Dalam mendorong kegiatan pembangunan perlu dilanjutkan peningkatan efisiensi serta pemanfaatan teknologi yang tepat guna, termasuk teknologi tradisional, dengan meneliti secara seksama teknologi yang akan dipilih sehingga dapat menunjang usaha peningkatan produksi, perluasan kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan, serta pemeliharaan kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup.

2. Kebijaksanaan dan langkah-langkah

Selama lima tahun terakhir (1983/84-1987/88) kebijaksanaan nasional dalam bidang riset dan teknologi, merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan nasional riset dan teknologi yang telah ditempuh dalam tahun-tahun sebelumnya.

Melalui Program-Program Utama Nasional dalam bidang riset dan teknologi dalam kurun waktu 1983/84 - 1987/88 telah dilanjutkan penelitian-penelitian berdasarkan pengelompokan penelitian:

922

a. Penelitian dalam bidang Kebutuhan Dasar Manusia;

b. Penelitian dalam bidang Sumber Daya Alam dan Energi;

c. Penelitian dalam bidang Industrialisasi;

d. Penelitian dalam bidang Pertahanan dan Keamanan;

e. Penelitian dalam bidang Sosial-Ekonomi, Kelembagaan, Falsafah, Budaya, Hukum dan Perundang-undangan.

Usaha koordinasi kelembagaan riset dan teknologi lebih dimantapkan dengan dibentuknya Dewan Riset Nasional/DRN (Keppres No. 1 Tahun 1984) sebagai suatu lembaga nonstruktural yang membantu pelaksanaan tugas-tugas pokok dan fungsi-fungsi koordinasi bagi pembangunan dan pengembangan riset dan teknologi di Indonesia.

Kegiatan penelitian dalam lima tahun terakhir ini telah lebih diarahkan pada penunjangan dan pengembangan hasil-hasil pembangunan, terutama peningkatan pengetahuan ilmiah dan usaha penguasaan berbagai teknologi menjelang industrialisasi. Dalam proses pembangunan terutama dalam Repelita III dan Repelita IV, sektor Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Penelitian dan Statistik mengalami banyak kemajuan. Jumlah kegiatan penelitian bertambah dalam variasi dan diversifikasi serta peneli tian dasar. Kemampuan dan mutu ilmiah para peneliti dan teknisi yang melaksanakannya juga telah meningkat. Makin banyak hasil penelitian mulai dirasakan dan ikut dinikmati oleh masyarakat, seperti hasil penelitian/pemanfaatan kincir angin sebagai pembangkit tenaga listrik lokal dan pemanfaatan kekuatan listrik fotovoltaik.

3. Pelaksanaan Kegiatan

Berbagai kegiatan penunjang utama dalam pembangunan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mencakup peningkatan jumlah maupun mutu para peneliti dan teknisi ilmiah dan pengadaan sarana dan prasarana riset dan teknologi seperti pembangunan berbagai laboratorium serta peningkatan kemampuan sistem informasi ilmiah dalam kegiatan popularisasi ilmu pengetahuan, riset dan teknologi bagi masyarakat luas terutama kaum remaja.

Dalam lima tahun terakhir ini penambahan jumlah dan pe-923

ningkatan kualitas peneliti/ilmuwan telah diusahakan dengan memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian baik di dalam maupun di luar negeri bagi jenjang pendidikan sarjana maupun pasca sarjana. Hasil-hasil nyata yang dicapai dalam lima tahun terakhir ini, menunjukan peningkatan jumlah dan kualitas tenaga peneliti apalagi apabila dibandingkan dengan jumlah pada posisi lima tahun sebelumnya (1982/83) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel-tabel XVII-1, Tabel XVII-2, Tabel XVII-3, Tabel XVII-4 dan Tabel XVII-5.

Dari tabel-tabel tersebut antara lain tampak bahwa jumlah keseluruhan peserta pendidikan bagi peneliti ilmu pengetahuan dan teknologi bertambah pada berbagai tingkat dan jenis pendidikan, yaitu dari sebanyak 1.552 peserta pada tahun 1982/83 dengan 2556 peserta pada tahun 1983/84 menjadi 6.517 peserta pada tahun 1987/88 atau mengalami kenaikan rata-rata 990 peserta per tahun. Peningkatan jumlah peserta dari tahun 1982/83 sampai dengan tahun 1987/88 untuk tiap tingkat pendidikan adalah sebagai berikut: program doktor (S3) dari 37 peserta meningkat menjadi 167 peserta (peningkatan sebesar 351% atau rata-rata sebesar 87,75% per tahun); program Magis- ter dari 102 peserta bertambah menjadi 484 peserta (kenaikan sebesar 375% atau rata-rata sebesar 93,75% per tahun); pendidikan sarjana (S1) dari 241 menjadi 1.633 peserta (kenaikan sebesar 577% atau rata-rata sebesar 144,25% per tahun); kursus berbagai disiplin meningkat dari 1.003 menjadi 3.344 peserta dan untuk pendidikan pemetaan dari 62 peserta menjadi 889 peserta (Tabel XVII-1).

Selanjutnya untuk peserta pendidikan peneliti dan calon peneliti di luar negeri (LIPI, LAPAN, BATAN, BAKOSURTANAL dan BPPT), peningkatan dari tahun 1983/84 sampai dengan tahun 1987/88 untuk tiap tingkat pendidikan adalah: program doktor dari 23 peserta menjadi 103 peserta, program Magister dari 31 menjadi 664 peserta dan peserta kursus berbagai keahlian dari 184 menjadi 785 orang (Tabel XVII-2).

Sementara itu, sampai dengan tahun 1987/88 tenaga kerja IPTEK terdiri dari 25.059 peneliti, 4.604 teknisi, 323 pustakawan, 1.198 tenaga jasa ilmiah dan 9.188 tenaga administrasi, sehingga seluruhnya berjumlah 40.372 orang, yang secara rinci bertugas di sektor-sektor pertanian (19,72%), energi (7,91%), industri (8,56%), pertahanan dan keamanan (0,43%), transportasi (0,24%), pendidikan (49,70%), konstruksi (2,53%), kesehatan (2,66%), komunikasi (1,56%), dan sosial (6,69%) (Tabel XVII-3).

TABEL XVII - 1

PENDIDIKAN TENAGA PENELITI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI,1982/83 - 1987/88(orang)

Jenis Pendidikan

1982/83

1983/84

1984/85

1985/86

1986/87

1987/88*)

Program doktor

37

84

121

131

140

167

Program Magister/

Pasca Sarjana

102

103

150

303

349

484

Pendidikan Sarjana

241

1.022

1.412

1.506

1.542

1.633

Kursus berbagai

disiplin

1.003

1.274

1.962

2.582

3.269

3.344

Pendidikan Pemetaan

62

73

663

703

844

889

Jumlah :

1.552

2.556

4.309

5.225

6.144

6.517

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987).

TABEL XVII - 2

PENDIDIKAN TENAGA PENELITI LIPI, LAPAN, BATAN,BAKOSURTANAL DAN BPPT DI LUAR NEGERI,1982/83 - 1987/88(orang)

Jenis Pendidikan

1982/83

1984/85

1985/86

1986/87

1986/87

1987/88*)

Program doktor

12

23

31

51

79

103

Program Magister

MSc, MA

15

31

46

83

499

664

Kursus berbagai

disiplin

113

184

8496

713

750

785

Jumlah :

140

238

573

847

1.328

1.552

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987)

TABEL XVII 3

TENAGA KERJA IPTEK MENURUT SEKTOR

1982/83 1987/88

(orang)

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987)

927

(Lanjutan Tabel XVII 3)

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987)

928

TABEL XVII 4

TENAGA RISTEK MENURUT STATUS DAN PUNAS RISTEK

1982/83 1987/88

(orang)

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987)

929

TABEL XVII 5

SEBARAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TENAGA RISTEK

BERDASARKAN PUNAS RISTEK

1982/83 1987/88

(orang)

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987)

930

Perkembangan jumlah tenaga peneliti riset dan teknologi selama lima tahun terakhir ini dari tahun 1983/84 sampai dengan tahun 1987/88 menurut status dan program utama riset dan teknologi meningkat dari 18.533 melonjak menjadi 25.038 orang, dengan perincian sebagai berikut: bidang kebutuhan dasar manusia meningkat dari 7.865 menjadi 10.595 orang, bidang sumber daya alam dan energi dari 5.106 menjadi 6.781. orang, bidang industri dari 3.385 menjadi 4.604 orang, bidang pertahanan dan keamanan dari 8 menjadi 132 orang dan bidang sosial, ekonomi, budaya, falsafah, hukum dan perundang-undangan meningkat dari 2.169 menjadi 2.926 orang.

Demikian pula dengan tingkat pendidikan tenaga riset dan teknologi, peningkatan selama lima tahun terakhir (1983/84-1987/88) menunjukkan jumlah doktor meningkat dari 666 menjadi 898 orang, tingkat sarjana dari 18.204 menjadi 24.562 orang, tingkat sarjana muda dari 6.172 menjadi 8.326 sedangkan untuk tingkat di bawah sarjana muda dari 4.815 menjadi 6.588 orang (Tabel XVII-5).

Untuk mempersiapkan tenaga terampil dan ahli dalam bidang nuklir, sedang digalakkan program pendidikan dan latihan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir secara bertahap dan terencana. Pembentukan keahlian diselenggarakan baik melalui jenjang pendidikan formal di dalam dan di luar negeri maupun melalui jenjang pendidikan non-formal bagi tenaga instansi pemerintah dan swasta dalam rangka memasyarakatkan pemanfaatan energi nuklir. Usaha ini mencakup juga pendidikan S2 (Magister) dan S3 (Doktor) di dalam dan di luar negeri.

Kebutuhan penguasaan ilmu dan teknologi nuklir menjadi makin mendesak dengan telah diresmikannya Reaktor Serba Guna - G.A. Siwabessy berkapasitas 30 Mega Watt termal beserta sejumlah laboratorium penunjangnya di Serpong. Laboratorium pendukung tersebut meliputi Instalasi Reaktor Serba Guna MPR-30, Instalasi Radioisotop, Instalasi Produksi Elemen Bakar, Instalasi Elemen Baker Eksperimental, Instalasi Pengelolaan Limbah Radioaktif, Instalasi Mekano Elektronika Nuklir, Instalasi Radiometalurgi serta Instalasi Rekayasa dan Keselamatan Nuklir. Untuk itu diperlukan ahli-ahli nuklir terapan dalam bidang kesehatan, pertanian dan lainnya di sam-ping nuklir murni.

Selanjutnya, telah dilakukan kerjasama dengan berbagai universitas seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada untuk pelaksanaan program pendidikan S1 (Sarjana)

931

yang mencakup bidang teknik nuklir dengan keahlian di bidang Teknologi Reaktor, Teknologi Nuklir, Proteksi Radiasi dan Instrumentasi Nuklir.

Pelaksanaan pendidikan di dalam negeri untuk tenaga peneliti di bidang nuklir pada lima universitas (UI, UGM, ITB, Unpad dan IPB) sampai dengan tahun 1987 telah menghasilkan 129 lulusan pendidikan tingkat S1 (sarjana), 14 lulusan pendidikan tingkat S2 (Magister) dan 6 lulusan tingkat S3 (Doktor).

Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga peneliti kedirgantaraan telah ditingkatkan penerimaan sarjana baru lulusan perguruan tinggi dan penyediaan beasiswa/ikatan dinas kepada para calon sarjana dari berbagai perguruan tinggi, di samping kegiatan-kegiatan meningkatkan mutu pengetahuan dan keterampilan para tenaga peneliti kedirgantaraan dalam rangka kerjasama dengan perguruan tinggi negeri dan swasta. Sampai dengan tahun 1987 telah dihasilkan 466 baru tenaga peneliti kedirgantaraan di dalam negeri dan 99 peneliti baru melalui pendidikan di luar negeri.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga survai dan pemetaan sampai dengan tahun 1987 telah selesai pula dididik sebanyak 251 orang tenaga fotogrametri, 316 orang tenaga kartografi dan 229 orang tenaga ahli interpretasi citra penginderaan jauh.

Sebagai bagian dari usaha meningkatkan fasilitas prasarana penelitian, dalam lima tahun terakhir ini telah dilanjutkan pembangunan berbagai laboratorium dengan teknologi yang canggih dan mutakhir di kompleks laboratorium PUSPIPTEK (Serpong). Laboratorium yang telah beroperasi antara lain ialah Laboratorium Uji Konstruksi (LUK), Laboratorium Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi (KIM), Laboratorium Sumber Daya Energi (LSDE) dan Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy.

Untuk memungkinkan para peneliti bekerja dengan tenang di kawasan PUSPIPTEK tersebut, telah dibangun pula sebanyak 556 rumah dinas bagi para peneliti, termasuk penyediaan sarana pendidikan (SD, SMP dan SMA) serta saran sosial lainnya bagi keluarganya.

Selanjutnya telah dikembangkan pula Kebun Botani Serpong dengan mengutamakan tanaman-tanaman tradisional Indonesia

yang mulai langka. Kebun tersebut terletak di sekitar kompleks dan diantara berbagai laboratorium yang telah atau akan dibangun.

Selanjutnya sejak tahun 1984/85 hingga Desember 1987 telah dikembangkan beberapa sarana dan prasarana penelitian seperti Laboratorium Oseanologi seluas 1.402 m2 di Ancol/Ja- karta; Laboratorium Mikrobiologi seluas 573 m2 di Cibinong dan awal rehabilitasi Laboratorium Geologi seluas 600 m2 di Karangsambung/Jawa Tengah.

Untuk menunjang penelitian kelautan di Indonesia bagian Timur telah dibangun laboratorium kelautan seluas 930 m2, 15 rumah dinas seluas 1.050 m2 dan dermaga kapal penelitian seluas 500 m2 di Ambon. Juga telah selesai dibangun Stasiun Penelitian Oseanologi seluas 200 m2 dan 2 rumah singgah bagi peneliti masing-masing seluas 140 m2 di Tual/Maluku Tenggara. Kemudian telah selesai pula dibangun sarana pendidikan interpretasi peta satelit sumber alam di Cibinong, yang menunjang kerjasama dan koordinasi yang lebih mantap antar instansi.

Di samping itu, iklim yang menggairahkan penelitian dan ilmu pengetahuan terus dikembangkan antara lain melalui usaha peningkatan minat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan remaja. Hal ini terutama dilakukan dalam bentuk kerjasama antar instansi. Forum ilmiah bagi remaja telah dibina melalui kerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Kegiatan pembinaan kelompok ilmiah remaja mencakup pengenalan dasar metodologi penelitian dan peningkatan kemampuan berkomunikasi secara ilmiah, terutama melalui karya ilmiah bagi para remaja. Para peminat ilmu pengetahuan dan teknologi telah dibimbing pula dalam cara merumuskan suatu rancangan penelitian secara tepat, memilih dan mengumpulkan data lapangan yang relevan dan mengadakan klasifikasi data, serta mengembangkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi di kalangan generasi muda.

Dalam rangka penyebarluasan informasi ilmiah dan teknologi telah dimanfaatkan berbagai media, di samping buletin dan terbitan khusus ilmiah. Melalui televisi dan radio, dan juga melalui publikasi dalam berbagai surat kabar dan majalah, telah dibahas perkembangan ilmu dan teknologi secara populer. Sesuai dengan kemajuan dalam bidang komunikasi elektronika saat ini sedang dikembangkan suatu pusat videotek ilmiah.

Selain itu dalam rangka peningkatan mutu ilmu pengetahuan

933

dan teknologi serta pemasyarakatannya, telah diadakan berbagai kegiatan pengenalan jasa ilmiah di dalam dan di luar negeri, seperti di Expo Tsukuba (Jepang) dan ASEAN COST di Kuala Lumpur serta Pameran Kedirgantaraan di Jakarta. Khususnya yang diperagakan ialah hasil-hasil penelitian yang mempunyai dampak bagi peningkatan ekspor barang-barang yang sudah diproduksi di Indonesia.

4. Beberapa hasil penelitian

a. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi dalam bidang Kebutuhan Dasar Manusia (PUNAS - Ristek I)

1) Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Teknologi Pangan

Dalam lima tahun terakhir ini penelitian pertanian menca- kup penelitian terhadap komoditi tanaman pangan, tanaman perkebunan dan perikanan, peternakan serta kegiatan lintas sektoral seperti agro-ekonomi, sumber daya alam dan transmigrasi.

(a) Hasil Penelitian Tanaman Pangan

Sempai dengan Desember 1987/88, melalui penelitian tanaman pangan telah dihasilkan 61 varitas padi unggul, yang sebagian merupakan hasil persilangan di Indonesia. Penelitian dan pengembangan padi mengutamakan varitas baru yang memiliki potensi produksi yang tinggi, sifat-sifat yang menunjang untuk memecahkan masalah perubahan cara bercocok tanam dan serangan hama. Agar varitas-varitas padi baru tadi dapat diterima oleh petani dan bertahan cukup lama, varitas bare ini harus memiliki bentuk gabah dan rasa nasi yang disenangi oleh penduduk, tahan terhadap hama dan penyakit serta mudah menyesuaikan diri dengan berbagai jenis kondisi lahan dan ketinggian dilihat dari permukaan laut.

Dari hampir 10 juta hektar areal panen padi sekitar 85% ditanami dengan berbagai varitas unggul. Dewasa ini baru sekitar 600 ribu hektar dari perkiraan 2 juta yang ditanami padi, dengan hasil rata-rata sekitar 2-3 ton gabah kering per hektar yang sebelumnya hanya mencapai sekitar 1 ton saja.

Juga telah dihasilkan 6 varitas unggul kedele dengan hasil rata-rata 1,5-2 ton/hektar, 2 varitas kacang hijau dengan umur yang lebih pendek dengan hasil rata-rata 1-1,5

ton/hektar dan varitas kacang gude yang berdaya hasil di atas 1,5 ton/hektar.

Untuk mendukung peningkatan produksi ubi-ubian telah dilepas 2 varitas unggul ubi kayu dan 5 varitas ubi jalar yang berdaya hasil tinggi dan memiliki kadar tepung yang tinggi pula.

Penelitian pola tanam pada tanah podsolik merah kuning menunjukkan bahwa kombinasi padi gogo, jagung, ubi kayu, kacang tanah serta kacang uci dapat menghasilkan 12,2 ton ekivalen beras dalam bentuk kalori dan 7,4 ton ekivalen beras dalam bentuk protein per hektar, yang sangat membantu meningkatkan pendapatan petani dan merupakan optimasi pemanfaatan lahan.

(b) Penelitian Hortikultura

Penelitian hortikultura telah menghasilkan berbagai varitas unggul sayuran, seperti 3 (tiga) varitas tomat yang berpotensi produksi tinggi dan tahan terhadap penyakit layu bakteri, 2 (dua) varitas unggul kentang; 1 (satu) varitas unggul kubis, 4 (empat) varitas unggul bawang merah; 2 (dua) varitas unggul bayam, 3 (tiga) varitas unggul petsai dan 2 (dua) varitas unggul bawang putih.

Melalui pendekatan bioteknologi pembudidayaan jaringan telah dapat dipermudah proses perbanyakan varitas kentang yang bebas virus, dan mampu berproduksi di ketinggian kurang dari 500 m di atas permukaan laut. Selain itu juga telah dihasilkan bibit jeruk, kentang, anggur, pisang, anggrek dan tanaman bias lainnya melalui kultur jaringan yang bebas virus CVPD.

Percobaan enzim (NAA) pada bibit anggur dengan stek 2 mats yang direndam dalam larutan 2.000 ppm selama 5 detik berhasil meningkatkan kemampuan hidup bagi 50% bibit. Demikian pula penggunaan pemacu tumbuhan berhasil meningkatkan hasil beberapa jenis hortikultura seperti paprika, brokoli, dan bawang putih.

Penelitian teknik minigrafting bagi perbanyakan bibit mangga menghasilkan keberhasilan 95% dan memudahkan transportasi bibit.

Nilai tambah dan daya tarik Jeruk Mania dan Jeruk Siam

935

ditingkatkan secara komersil melalui kesegarannya dan memanfaatkan dengan gas asetilin 1000-2000 ppm pelapisan lilin tahan simpan.

Penyemprotan es dingin pada kacang sebelum pengepakan dan pengangkutan ke luar negeri dapat mengurangi penyusutan berat dengan 2,77% dan mengurangi kerusakan 2,21%. Pemakaian kertas koran dan lembaran plastik polythylene dapat digunakan sebagai pelapis untuk mencegah kehilangan air.

(c) Penelitian Tanaman Industri

Pemuliaan tanaman telah menghasilkan 4 (empat) varitas baru kelapa dalam dan 3 (tiga) varitas kelapa hibrida yang tahan terhadap penyakit gugur buah.

Telah dirancang pula alat pengering kopra bagi petani kecil. Pengering ini dibuat dari bahan yang murah dan mudah diperoleh di daerah terpencil dan menggunakan tempurung kelapa sendiri sebagai bahan baku. Dengan cara ini telah diperoleh kopra bermutu tinggi dan memungkinkan penghasilan petani meningkat menjadi Rp. 42 ribu setiap ton.

Demikian pula telah dilepas beberapa varitas kapas yang cukup unggul dan dengan mutu serat yang baik. Penelitian sistem tumpang sari kapas dengan kedelai ternyata menaikkan pendapatan petani sebesar 30-50%. Selain itu penggunaan sistem panduan dengan batas ambang 10 larva/50 tanaman dapat mengurangi pemakaian insektisida dengan sebanyak 35% dan menaikkan produksi dengan 20%. Atas dasar perhitungan tersebut terhadap 40.000 hektar tanaman kapas dapat dihemat biaya dan diperoleh keuntungan Rp. 7,3 Milyar.

Percobaan terhadap Terawas (Litsea Rubea Pers.) yang banyak terdapat di Indonesia telah menghasilkan kemungkinan pemanfaatan minyaknya, dengan perolehan setiap hektar senilai

US$ 5,760.

Juga telah dibuat alat pengering lads yang menggunakan energi surya yang mampu mengurangi dampak pencemaran dan mempersingkat waktu pengeringan.

(d) Penelitian Tanaman Perkebunan

Dalam masa 1984/85 hingga 1987/88 telah dihasilkan berbagai varitas/klon unggul, antara lain 6 (enam) varitas

unggul tebu; 14 calon klon berpotensi produksi 4.500 kg teh kering/tahun; 12 varitas kelapa sawit; 6 (enam) klon (anjuran) kopi robusta dan 9 (sembilan) klon (harapan) kopi arabika; 3 (tiga) klon (anjuran) kakao dan 9 (sembilan) klon (harapan) kakao bulk serta 3 (tiga) klon (anjuran) kakao bulk.

Untuk mengatasi hama/penyakit dan gulma di perkebunan seperti perkebunan karet telah dikembangkan klon tahan SALB. Juga telah ditemukan 4 (empat) varitas unggul tembakau yang resisten terhadap penyakit virus.

Penelitian agro-teknik menghasilkan antara lain integrasi usaha ternak domba pada kebun karet, cara penyadapan karet, sistem penjarangan naungan, dan pemupukan berimbang pada kopi yang meningkatkan produksi sebesar 30-40%.

(e) Penelitian Perikanan

Penelitian perikanan meliputi penelitian cara pembibitan ikan yang mampu berproduksi tinggi, mudah berkembang biak dan tahan penyakit; peningkatan teknologi budidaya ikan air tawar, air payau dan laut serta budidaya terpadu ikan dengan komoditi non-ikan; pengendalian hama dan penyakit ikan serta jasad akuatik non-ikan; penelitian potensi daerah-daerah penangkapan ikan; teknologi peningkatan penangkapan ikan dan teknologi pasca panen perikanan.

Usaha pemuliaan ikan darat telah menghasilkan ikan dengan pertumbuhan lebih cepat, rasio konversi pakan yang lebih efisien 4,5-30% dan peningkatan hasil panen per ha mencapai tambahan 5-15%.

Penemuan peluang baru bagi budidaya ikan di danau dengan produksi lebih efisien dari pada di kolam air deras ialah budidaya ikan dengan kantong jaring terapung dan kepadatan penebaran 245-300 kg/49 m2 disertai pemberian pakan buatan dengan produksi 720-2.631 kg/49 m2/4-6 bulan. Demikian pula penelitian menghasilkan perbaikan pakan buatan dengan kadar protein 27% serta kadar lemak 9% yang bila disertai kepadatan tebar yang tepat yaitu 6 (enam) ekor benih/m2 dengan kedalaman air lebih kurang satu meter, dapat mencapai produksi udang galah sampai 1.500 kg/ha/tahun.

Selanjutnya perawatan benur dengan teknik resirkulasi air

937

dapat menekan mortalitas benur hingga 21% pada padat penebaran 1.200 ekor benur/m2, Berbagai perhitungan menghasilkan data bahwa bagi penekanan mortalitas benur dengan 5% per tahun, dapat diselamatkan sekitar 264 juta ekor benur yang bernilai Rp. 7,92 milyar.

Penyediaan benih udang melalui pematangan gonad (alat reproduksi) induk udang dan pemakaian kolesterol diperkirakan akan mampu menyumbang 10% dari kekurangan benur yang dibutuhkan pada areal tambak udang di Indonesia, sehingga keuntungan yang dapat diperoleh meningkat dengan sebesar Rp. 11,4 mil- yar/tahun.

Penelitian budidaya terpadu ayam ras petelur dengan ikan bandeng di tambak telah meningkatkan pendapatan petani ikan sekitar 30-50% dibandingkan pendapatannya semula. Hal ini sekaligus memecahkan masalah pemupukan ikan tambak.

Dalam bidang penangkapan telah berhasil dibuat palka CSW di perahu motor purse seine dan gillnet, sehingga palka CSW ikut menjaga mutu ikan agar tetap segar serta memungkinkan perluasan daerah penangkapan.

(f) Penelitian di Bidang Peternakan

Penelitian di bidang peternakan meliputi: potensi dan pola pengembangan peternakan di berbagai wilayah; usaha peternakan tradisional dan komersial; pemanfaatan ternak berproduksi cepat (unggas, kelinci, domba dan kambing) untuk meningkatkan produksi telur dan daging; peningkatan produksi susu; ternak lokal dengan tingkat pemeliharaan dan kondisi wilayah; penggunaan ternak sebagai sumber tenaga kerja, pupuk dan energi; peningkatan pengawetan dan pengolahan hasil ternak; peningkatan mutu makanan ternak dan pemanfaatan limbah ternak dan industri bagi makanan ternak serta pencegahan penyakit ternak.

Sementara itu telah dikembangkan Antigen Rose Bengal untuk mengatasi penyakit keluron (Brucellosis) yang banyak menyerang sapi dan babi dan mengakibatkan sterilitas, keguguran dan mengurangi produksi susu. Demikian pula penyakit mastitis dapat ditanggulangi melalui pengobatan dengan ampicilin dan cloxacilin.

Penyakit parasit darah yang banyak menyerang hewan besar yaitu penyakit. Surra atau Trypanosomiasis yang ditularkan

lewat serangan lalat, kutu dan caplak sudah dapat ditanggulangi.

Penelitian alih janin memberikan dampak seperti mempercepat pelipatgandaan hewan-hewan langka, eksotik, unggul, mempercepat proses seleksi dan teknologi pengimporan janin secara lebih mudah, murah dan aman dibandingkan dengan impor ternak itu sendiri.

Penelitian terhadap pakan unggas menyimpulkan bahwa dari bungkil kedelai yang mengandung protein dapat diekstraksi protein sel tunggalnya sebagai penambah gizi pakan unggas.

(g) Penelitian Predator Hama Kutu Loncat Lamtoro

Dalam rangka penanggulangan jangka menengah hama kutu loncat lamtoro, pada tahun 1986 telah diimpor dari Hawaii predator Curinus Curiuleus sebanyak 8.000 ekor. Predator tersebut dibiakkan di Aceh, Medan, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara dan Irian Jaya.

Sebanyak 4.000 ekor (2.000 betina dan 2.000 jantan) predator Curiuleus telah dilepas di Nusa Tenggara Timur, Bali, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Java Timur.

(h) Penelitian Usaha Tani

Pembangunan pertanian menjadi semakin kompleks dan ber-variasi masalah-masalahnya sesuai dengan kondisi agro-ekologi. Oleh karena itu selama lima tahun terakhir ini penelitian terpadu dan terintegrasi antar disiplin ilmu mempunyai tujuan untuk menciptakan inovasi baru, mendukung upaya peningkatan pendapatan petani serta pembangunan wilayah dalam rangka pembangunan nasional.

Untuk mendorong penciptaan inovasi tadi telah diadakan penelitian usaha tani yang mencakup:

(1) Penanganan lahan pasang surut dan rawa di daerah Karang Agung (Sumatera Selatan) serta unggas Alabio di Tatas (Kalimantan Selatan). Hasil penelitian ini khususnya diarahkan untuk mendukung pengembangan program trans

939

migrasi di wilayah yang bersangkutan. Penelitian berbagai pola usaha tani dilakukan pula di daerah transmigrasi lahan kering dengan penelitian pola pekarangan (Jambi); pola lahan marjinal (Jambi); pengendalian alang-alang (Sumatera Selatan); tanaman karet sebagai komoditi utama (Kalimantan Timur) dan tanaman untuk pakan ternak (Batumarta/Sumatera Selatan). Penelitian usaha tani di daerah transmigrasi antara lain menghasilkan pula data kombinasi pola tanam dengan petak rumput dan petak kacang-kacangan serta mulsa secara berganti, demi pengurangan erosi di daerah transmigrasi.

(2) Penelitian usaha tani di wilayah DAB di samping diarahkan demi konservasi hulu juga diarahkan untuk mendukung peningkatan pendapatan petani di DAS Citanduy (Jawa Barat), DAS Jratunseluna (Jawa Tengah) dan DAS Brantas (Jawa Timur).

(3) Penelitian usaha tani yang sesuai dengan agro-ekologi semi arid di Nusa Tenggara, khususnya di Dili (Timor), Sandubaya (Lombok) dan Maumere (Flores), yang mewakili teknik tanam dengan pendekatan agroekologi utama.

(i) Penelitian Tanah

Dalam periode 1984/85 hingga Desember 1987, telah dilaksanakan pemetaan tanah tinjau di beberapa propinsi, seperti Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, seluruhnya seluas 1.300.000 ha. Pemetaan menunjukkan adanya potensi komoditi tanaman pangan yang cukup luas di Sumatera Barat, Bengkulu dan Sulawesi Tenggara, sedangkan potensi lahan perkebunan yang sangat luas terdapat pula di Sumatera Barat dan Bengkulu.

Selain itu telah dilakukan survai kemampuan tanah di wilayah transmigrasi dengan survai lahan seluas 4.078.469 ha di 247 lokasi. Seluas 26.492 ha lahan transmigrasi telah dipantau dan dievaluasi dan dinilai tak layak untuk lahan pertanian, sehingga memerlukan pemecahan alternatif berupa perbaikan lahan (soil conservation) atau pemindahan transmigran ke lokasi yang lebih baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekurangan unsur hara fosfor, kalsium, magnesium dan kalium, tinggi kemasaman tanah dan rendahnya kandungan bahan organik merupakan kendala utama kesuburan tanah untuk pertumbuhan tanaman pangan. Penelitian

mengenai usaha peningkatan produktivitas tanah Ultisols dan Oxisol yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya telah dilakukan dengan pemupukan P, pengapuran dan penggunaan bahan organik.

Hasil penelitian topsoils menghasilkan data bahwa: (1) Pengapuran diperlukan pada tanah-tanah masam untuk menca- pai kejenuhan (A1+H) di bawah 20% dengan sekitar 1/3 dari dosis kapur permulaan per tahun untuk memelihara taraf/tingkat kejenuhan asam yang diperlukan; dan (2) Pemupukan magnesium sangat berpengaruh pada tanaman jagung dan kedelai, sedangkan kebasaan (Ca, Mg dan K) berkorelasi sangat baik dengan perubahan pertumbuhan.

2) Penelitian Kesehatan.

Untuk menunjang pelaksanaan penelitian serta menyebarluaskan hasil-hasilnya telah dikembangkan sistem jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan (IPTEKKES). Dari tahun 1983/84 sampai dengan 1987/88 telah berhasil dihimpun 9.828 judul buku ilmiah, 725 judul majalah, 3.505 anotasi bidang kesehatan, 17.874 index medicus Indonesia, dan 1.696 abstrak penelitian kesehatan.

Untuk mendukung program-program pembangunan kesehatan, maka program penelitian dan pengembangan kesehatan tetap mendapat perhatian sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan.

Dalam periode tahun 1983/84-1987/88, telah dilaksanakan 152 penelitian yang meliputi 36 penelitian di bidang penyakit menular, 19 penelitian di bidang penyakit tidak menular, 35 penelitian di bidang ekologi kesehatan termasuk lingkungan hidup, 20 penelitian di bidang farmasi, 23 penelitian di bidang gizi, dan 19 penelitian di bidang pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dari jumlah tersebut, 38 diantaranya dilaksanakan bersama perguruan tinggi.

3) Penelitian Pemukiman

Penelitian pemukiman selama lima tahun terakhir ini ditujukan untuk menciptakan kualitas perumahan yang baik dan dapat terjangkau oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga penelitian pemukiman yang menunjang tujuan tersebut meliputi bahan, bentuk, tata ruang, konstruksi serta konsolidasi tanah di samping perundang-undangannya.

Penelitian bangunan meliputi pengembangan bahan bangunan daerah gempa dan daerah pemukiman transmigrasi serta pengembangan unit produksi bahan bangunan dan telah berhasil dikembangkan agregat buatan dari bahan baku lempung yang berguna untuk bangunan bertingkat. Juga telah berhasil dikembangkan teknologi adukan dan pasangan tembok yang mampu menekan biaya serta meningkatkan mutu kekuatan pasang dengan enam kali lipat.

Dalam penelitian perumahan rakyat juga telah dilakukan pengkajian pengembangan wilayah berdasarkan sumberdaya alam dengan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan memilih dan menerapkan teknologi tepat wilayah. Untuk itu telah dilakukan studi di desa-desa pertanian, nelayan, transmigrasi dan Daerah Aliran Sungai (DAS).

b.Program Utama Nasional Riset dan Teknologi dalam Bidang Sumber Daya Alam dan Energi (PUNAS - RISTEK II)

1) Penelitian Sumber Daya dan Energi

Dalam lima tahun terakhir ini penelitian dan pengembangan di bidang energi migas dan panas bumi meliputi peningkatan cadangan sumber energi, peningkatan produksi, peningkatan nilai hasil migas, konservasi sumberdaya migas, pencarian sumber energi, pengganti serta cara mengatasi dampak negatif industri migas dan panas bumi baik dalam arti fisik maupun sosial sehingga kelestarian daya dukung lingkungan hidup tetap terpelihara.

Selain itu juga telah diteliti potensi pengembangan sumber energi non konvensional yang meliputi energi surya, energi angin, energi hasil perbedaan suhu air halt dan bio-gas/biomas.

Melalui pemanfaatan energi surya telah berhasil dikembangkan sistem pompa air, penerangan dan refrigator di desa Picon ,(Serang), desa Cituis (Tangerang) dan di Sumba (Nusa Tenggara), yang telah membantu meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat di pedesaan yang belum terjangkau oleh fasilitas listrik.

Selanjutnya telah dilakukan pemanfaatan energi angin untuk kegiatan penyediaan air bersih di pedesaan dengan kincir angin yang berkapasitas 150 liter/menit, listrik

pedesaan dengan turbin angin berkapasitas 5 KW untuk daerah terpencil, serta usaha-usaha peningkatan produksi pangan melalui penyediaan air irigasi untuk pertanian, peternakan dan perikanan.

Mengingat jangka waktu persiapan suatu PLTN adalah cukup panjang, selama lima tahun terakhir ini telah diambil berbagai langkah ke arah perencanaan pembangunan PLTN pertama, khususnya yang mencakup kualifikasi tapak, pemutakhiran studi ekonomi serta analisa ekonomi dan lain-lainnya.

Penelitian potensi energi angin menunjukkan bahwa kondisi angin di Indonesia mempunyai kecepatan rata-rata di atas 3 m/ detik.

Untuk diversifikasi sumber energi telah dibuat rancangan prototip turbin angin berkapasitas 15 KW. Di samping itu telah dirancang dan dibuat prototip kincir angin untuk pemompaan air berkapasitas 90-150 liter/menit.

Untuk pemanfaatan energi surya di Indonesia secara bertahap telah berhasil dipetakan intensitas dan lamanya penyinaran pulau Jawa oleh matahari melalui stasiun pengamatan matahari di Tanjungsari (Jawa Barat). Juga telah dibuat peta radiasi matahari terhadap Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

2) Penelitian Sumber Mineral

Dalam periode 1983/84-1987/88 penelitian dan pengembangan sumber daya mineral diarahkan pada pengkajian teknologi penambangan yang meliputi antara lain efisiensi, optimasi dan keselamatan kerja penambangan; pengkajian pengolahan, pemurnian dan pemanfaatan; pengkajian penanggulangan dampak lingkungan; pengkajian tekno-ekonomi komoditi mineral serta pengumpulan dan penyajian data pemakai komoditi mineral.

Untuk itu telah dilakukan penyusunan gambaran yang lengkap tentang potensi beberapa jenis sumber mineral, air tanah, kualitas dan bentuk cekungan serta studi kelayakan pertambangan skala kecil.

Uranium merupakan salah satu jenis mineral yang dapat diolah menjadi bahan bakar bagi suatu instalasi pembangkit tenaga listrik, nuklir. Oleh sebab itu dalam lima tahun terakhir ini survai cadangan uranium dilanjutkan. Untuk itu

943

berbagai eksplorasi telah dilakukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Irian Jaya.

Juga telah dilakukan penelitian geofisika kelautan di wilayah perairan Indonesia Barat, dalam rangka pencarian endapan mineral timah dan mineral berat lainnya. Demikian pula telah dilakukan berbagai penelitian mineral yang mencakup tembaga, timah, seng, perak, emas, timbal, air raksa, besi, kromit dan manggan serta penelitian non mineral seperti batu gamping, serpih, batu pasir kuarsa, pasir sanidin, batuan vulkanik, marmer, koalin, sulfida, andesit, lempung, tufit, feldspar, bentonit piropilit, fosfat, tras dan batuan alkali. Penelitian geo-kimia dilakukan di daerah seluas 9.691 km2 di Sumatera dengan Skala pemetaan 1 : 50.000.

Demikian pula telah dilaksanakan pemetaan geofisik terhadap berbagai daerah untuk menetapkan penyebaran mineral logam seperti tembaga di Sangkaropi, timbal, seng dan tembaga di Sulawesi Selatan, tembaga dan emas di Sumatera, manggan di Jawa Tengah dan Kalimantan Barat.

Penelitian logam dasar mencakup Cu, Pb, Zn, yang pada umumnya terdapat dalam cebakan sulfida, dilakukan berupa inventarisasi di Jampang Kulon (Jawa Barat) dan Muara Soma (Sumatera Utara). Di Jampang Kulon (Cigarut) cebakan terdapat dalam urat-urat kuarsa dengan penampang beberapa puluh sentimeter sampai dua meter. Penambangan oleh rakyat telah memanfaatkan cebakan tersebut dengan hasil 6 - 10 gram per ton bijih. Hasil studi menunjukkan bahwa di beberapa tempat prospek eksploitasi emas cukup menguntungkan. Mineral Sulfida Cu, Pb, Zn di Muara Soma terdapat pada batuan tertier dan kandungan Cu sulfide cukup tinggi, yaitu 1.060 ppm.

3) Survai dan Pemetaan Sumber Alam

Kegiatan survai dan pemetaan sumber alam dalam lima tahun terakhir ini dilaksanakan untuk mengetahui dan mengevaluasi sumber/lokasi, jumlah, jenis dan sifat sumber daya alam Indonesia dengan tujuan mendapatkan data/informasi mengenai kekayaan alam, jenis, sebaran dan potensi pemanfaatan-nya.

Kegiatan survai dan pemetaan sumber alam mencakup kegiatan pengembangan usaha pemetaan dasar, agro-ekologi, geo-

logi, hidrogeologi dan kemampuan tanah serta data tentang situasi sumber alam dan kondisi lingkungan berbagai lahan di Indonesia. Selain itu, kegiatan inventarisasi sumber alam membantu perencanaan lahan secara lebih tepat bagi keperluan pembangunan di berbagai sektor dan daerah. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam program ini adalah pemetaan-pemetaan dasar wilayah darat dan wilayah laut, geologi dan hidrologi, agro-ekologi, vegetasi dan kawasan hutan, liputan lahan, geo-ekologi pantai, geomorfologi, kemampuan tanah, tataguna sumber daya alam seperti hutan, tanah dan air, inventarisasi dan pemetaan tipe ekosistem, penelitian dan pengembangan teknologi serta inventarisasi dan evaluasi sumber alam dan lingkungan hidup.

(a) Pemetaan Dasar

Dalam rangka kegiatan pemetaan dasar dalam lima tahun terakhir ini telah dilaksanakan survai penegasan batas internasional di darat. Penegasan batas dengan Malaysia dilakukan di Kalimantan dengan perbatasan sepanjang 1.740 Km, sedangkan antara Papua New Guinea dan Irian Jaya sepanjang 725 Km. Survai penegasan batas RI - Malaysia dibagi menjadi dua sektor yaitu sektor Barat dan sektor Timur.

Tercakup dalam kegiatan ini ialah pengukuran delineasi dengan mengadakan titik-titik kontrol pada punggung pemisah air dengan jarak antara sekitar 5 Km, ditandai dengan tugu batas tipe C, dan pengukuran garis demarkasi dengan tugu batas tipe C dengan jarak antara yang pendek dan jarak pandang (intervisibility) antar tugu, ditandai dengan tugu batas tipe D. Pengukuran titik La Place sebagai kerangka pengikat dasar, dengan jarak antara sekitar 33 Km pada punggung pemisah air, ditandai dengan tugu batas tipe A. Pengukuran dengan penentuan posisi Doppler yang ditandai tugu batas tipe B telah pula dilanjutkan.

Hasil yang dicapai sampai dengan akhir 1987 diperkirakan sebagai berikut: Sektor Barat prioritas delineasi sepanjang sekitar 120,9 Km (18,8%), dan kegiatan demarkasi sepanjang sekitar 438,7 Km (68,7%). Di daerah prioritas sektor Timur pematokan dilakukan sepanjang sekitar 333 Km (100%). Kegiatan demarkasi dengan patokan antar patok 5 Km sepanjang sekitar 231,5 Km (69,5%) dan dengan jarak antar patokan sekitar 50 Km sejauh sekitar 27 Km (100%) telah dilaksanakan dalam tahun 1986/87.

Hasil survai penegasan batas antara RI dengan Papua New Guinea hingga Desember 1987 adalah sebagai berikut: Survai Doppler sekitar 23 pilar Doppler dan sekitar 8 pilar batas, pengukuran Traverse dan pemasangan pilar batas sekitar 11 pilar batas. Pengujian kembali dilakukan oleh pihak Papua New Guinea terhadap 6 pilar batas. Survai penegasan batas internasional antara RI - PNG telah diselesaikan sekitar 60% atau sepanjang sekitar 435 Km.

Selain pemetaan dasar wilayah darat, dalam lima tahun terakhir ini berhasil dipetakan sekitar 5 sampai 6 lembar peta batimetri di daerah selat Makasar dengan skala 1:250.000. Di samping itu berhasil pula dipetakan 26 lembar peta Intensitas Magnetik di daerah Selat Makasar dan Selat Sunda dengan skala 1:250.000.

Peta batimetri adalah peta yang menunjukkan kedalaman suatu lautan atau rupa bumi dasar laut dan antara lain berguna untuk inventarisasi sumber daya laut, studi geologi laut dan geofisika. Sedangkan peta medan magnetik adalah peta kuat medan magnetik di lautan, berguna antara lain untuk menganalisa gempa, jebakan mineral, eksplorasi mineral dan lain sebagainya.

(b) Pemetaan Agroekologi, Vegetasi dan Kemampuan Tanah

Sampai dengan Desember 1987 telah diselesaikan pemetaan vegetasi dan kawasan hutan berskala 1:100.000 seluas sekitar 8 (delapan) juta ha dan pemetaan liputan lahan untuk seluruh daratan Sumatera dengan skala 1 : 250.000 sebanyak 54 lembar, yang sangat menunjang perencanaan wilayah.

Pemetaan liputan lahan adalah pemetaan untuk memperoleh sebanyak mungkin informasi tentang permukaan bumi, misalnya hutan, pemukiman, tanah kosong, belukar dan sebagainya. Pemetaan liputan lahan dilaksanakan dengan teknik penginderaan jauh dan dilengkapi dengan survai lapangan. Citra penginderaan jauh yang digunakan adalah foto udara dan citra satelit.

Di samping itu telah dilaksanakan pula pemetaan tanah tingkat tinjau di beberapa propinsi, seperti Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara seluas 1.300.000 hektar. Hasil pemetaan menunjukkan adanya potensi komoditi tanaman pangan yang cukup luas di

Sumatera Barat, Bengkulu dan Sulawesi Tenggara, sedangkan potensi lahan perkebunan yang sangat luas terdapat di Sumatera Barat dan Bengkulu.

(c) Pemetaan Geo-ekologi Pantai

Pemetaan geo-ekologi pantai dimaksudkan untuk mengetahui kondisi dan potensi daerah pantai. Mengingat pantai negara kita cukup panjang dan luas, maka sudah selayaknya kondisi dan potensi pantai khusus diperhatikan. Pemetaan geo-ekologi pantai dilakukan dengan teknik penginderaan jauh dan survai sosial-ekonomi wilayah pantai. Selanjutnya telah diselesaikan pemetaan geo-ekologi pantai di propinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Bengkulu dan sebagian propinsi Riau dengan skala 1:250.000.

(d) Pemetaan Geomorfologi

Pemetaan geomorfologi yang juga menggunakan teknik penginderaan jauh memberi informasi mengenai bentuk dan proses perubahan yang terjadi pada permukaan bumi. Informasi ini sangat bermanfaat bagi pengelolaan lingkungan dan kerekayasaan. Dengan pemetaan geomorfologi dapat diidentifikasi daerah yang rentan banjir, rentan longsor dan lain sebagainya. Sampai dengan Desember 1987 kegiatan diarahkan pada penyelesaian pemetaan geomorfologi propinsi Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Lampung dan sebagian Riau dengan skala 1:250.000.

4) Penelitian Kedirgantaraan

Dalam lima tahun terakhir ini program penelitian kedirgantaraan meliputi kegiatan: penelitian atmosfir untuk peningkatan mutu ramalan cuaca dan iklim; penelitian yang menunjang inventarisasi dan evaluasi sumber alam; penelitian sistem komunikasi dan satelit teledifusi; penelitian dan pengembangan energi; penelitian yang menunjang pembangunan industri dan teknologi dirgantara; penelitian dirgantara untuk pendataan fisika terestrial; pengkajian aspek kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan; pengembangan kemampuan personalia dan sarana penunjang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan.

(a) Peningkatan Pelayanan dan Penggunaan Data Satelit

Kegiatan ini memanfaatkan data satelit sumber alam untuk

947

penelitian dan aplikasi geologi, tata guna lahan, bidang pertanian, bidang kehutanan, penelitian struktur tanah, arkeologi dan pemantauan kebakaran hutan. Dari data satelit cuaca dan lingkungan ini telah dapat dihasilkan peta awan, peta angin, peta suhu variasi tahunan liputan awan, profil suhu permukaan laut untuk keperluan perikanan, prediksi rawan kekeringan dan rawan kebakaran hutan dalam jarak waktu 2-3 tahun.

Pemanfaatan Stasiun Bumi Satelit Cuaca di Pekayon/Jawa Barat dan Biak/Irian Jaya antara lain telah mengumpulkan informasi tentang profil suhu vertikal atmosfir di atas wilayah Indonesia berupa kontur suhu dan kontur kelembaban relatif pada berbagai lapisan tekanan antara 100 - 115 mb, halmana menentukan parameter meteorologi seperti suhu, kelembaban, arah angin dan sebagainya. Data tersebut juga dimanfaatkan untuk penelitian iklim jangka panjang guna prakiraan daerah-daerah rawan kekeringan.

Untuk melengkapi kebutuhan data meteo juga telah dilakukan penelitian atmosfir pada ketinggian 16 km sampai 80 km dengan wahana balun stratosfir, balun sonda dan roket. Dalam rangka penelitian polusi udara telah pula dilakukan penelitian mengenai profil ozon pada ketinggian 20-30 km. Sementara itu telah pula diteliti polusi udara khususnya terhadap CO2 dan kadar keasaman air hujan yang menunjukkan 4-5 pH, di daerah Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta yang menjelaskan bahwa polusi yang telah terjadi masih dalam batas ambang toleransi, namun data polusi CO2 di daerah permukaan bumi pada pengukuran sesaat dan setempat telah menunjukkan indikator polusi yang telah mendekati batas ambang 10.000 ppmv. Selain itu juga telah dilakukan penelitian udara lapisan ionosfir di atas wilayah Indonesia yang menguji kualitas komunikasi terestrial dan meteorologi.

Di samping itu dilakukan juga pemantauan debu vulkanik, kebakaran hutan, daerah yang mengalami kekeringan dengan mempelajari indeks vegetasi, penelitian suhu permukaan air laut dan kadar air di permukaan tanah untuk menunjang penentuan lahan pertanian.

Selanjutnya metodologi interpretasi citra satelit membantu memberi prediksi tentang perkembangan sumber alam bagi daerah-daerah (sejenis), sehingga mengurangi waktu, tenaga dan biaya pengecekan lapangan untuk bidang-bidang tata guna tanah, penyempurnaan peta dasar dan peta tematik, pantauan

lingkungan dan ekosistem, geologi, oseanografi, hidrologi, pengelolaan hutan dan daerah transmigrasi.

Penelitian metodologi interpretasi citra satelit sumber alam juga telah diterapkan terhadap tingkat kepadatan dan arah lalu lintas laut dan tempat sander kapal, pulau, garis pantai, tanggul pantai, air keruh, dan lain-lain di perairan Teluk Jakarta. Penelitian ini menunjang keamanan dan pengamanan laut di daerah pelabuhan.

Penelitian data citra satelit terhadap daerah Sukabumi/ Pelabuhan Ratu yang ditafsirkan dan diolah secara digital atas 12 jenis batuan, menunjukkan adanya gerakan tanah secara relatif dari Barat ke Timur, Utara ke Selatan dan Barat Daya ke Timur. Di daerah Lembang/Tangkuban Perahu terlihat jelas adanya patahan.

(b) Peningkatan Kemampuan Roket dan Satelit

Dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan, dalam lima tahun terakhir ini dilanjutkan penelitian penguasaan dan pemanfaatan teknologi peroketan.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar roket dengan bahan produksi dalam negeri, sejak tahun 1984/85 telah dikembangkan formula poliurethan yang diuji statik di laboratorium propelan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan bakar dalam negeri mampu memperkecil kecepatan awal roket dan memberi waktu pembakaran yang lebih lama. Selain itu juga telah diperoleh pelapis penahan panas yang lebih tipis dan lebih tahan panas dalam waktu yang relatif lebih lama. Di samping penelitian kedirgantaraan telah pula diteliti penyempurnaan konstruksi motor roket dan kemungkinan penyempurnaan sistem antena pendeteksi uji terbang.

Selanjutnya hingga Desember 1987 telah diluncurkan roket satu tingkat versi RX-250 yang merupakan pengembangan dari roket generasi sebelumnya dengan bahan bakar poliurethan dalam negeri. Selain untuk menguji. konstruksi dan stabilitasnya, uji terbang ini juga dilakukan untuk mengetahui keandalan sistem tracking (lintasan), telemetri dan lain-lain.

Usaha penguasaan teknologi satelit juga telah dimulai dengan meningkatkan kemampuan nasional untuk merancang sate-lit, yang mencakup studi teoritik, kaji laboratorium dan

949

eksperimentasi sistem dan subsistem satelit, baik melalui uji darat mock-up satelit maupun uji terbang melalui pengembangan muatan uji rekayasa roket yang dilengkapi dengan komponenkomponen dasar yang diperlukan.

(c) Peningkatan Kualitas Komunikasi Dirgantara

Untuk meningkatkan kelancaran pelayanan informasi melalui komunikasi radio dalam beberapa tahun terakhir ini telah diteliti sistem komunikasi dan teledifusi serta kualitas siaran komunikasi terestrial. Untuk itu telah diteliti pengaruh curah hujan terhadap perambatan gelombang mikro pada 6/4 GHz dan besaran berbagai parameter pengembangan sistem ruas bumi untuk keperluan penyiaran dan penerimaan gelombang komunikasi dalam bentuk suara dan gambar. Usaha ini meningkatkan kualitas data di Stasiun Bumi Komunikasi Satelit berupa isyarat audio dan video serta atenuasi curah hujan di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini dibantu oleh sistem trans penerima dengan kekuatan 10 GHz untuk pengukuran redaman hujan pada rambatan gelombang mikro arah mendatar, dan pengolahan sinyal beacon dari satelit Intelsat-V guna pengukuran redaman hujan pada 11 GHz.

Guna mengatasi gangguan frekuensi komunikasi terestrial HF, dimanfaatkan informasi tentang perilaku lapisan ionosfir sebagai media komunikasi terestrial, yaitu dari Stasiun Ionosonda di Pameungpeuk, Biak dan Pontianak, sehingga memungkinkan penyusunan prediksi frekuensi komunikasi terestrial HF tahun 1987 bagi seluruh Indonesia.

Di samping itu dengan peralatan Ionosonda yang mobil telah pula dilakukan penelitian frekuensi pada "daerah bisu" di Bangka (Riau) dan Kendari (Sulawesi Tenggara), yang menunjukkan kondisi gangguan tetap melalui komunikasi radio bagi frekuensi 6-7 MHz (di Bangka) dan frekuensi di bawah 2 MHz (di Kendari), sehingga untuk memperoleh mutu komunikasi radio disarankan penggunaan frekuensi di luar kedua jenis frekuensi tersebut di atas.

(d) Pengkajian Aspek Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedirgantaraan

Indonesia sebagai negara berkembang, berusaha pula menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi

kedirgantaraan. Hal ini dilakukan melalui berbagai pengkajian misalnya mengenai aspek kesejahteraan, aspek hukum flan politik sebagai bidang-bidang yang membahas pemanfaatan teknologi kedirgantaraan.

Dalam penanganan masalah keantariksaan internasional, antara lain di forum internasional telah berhasil dirumuskan "Rumusan Perjuangan Rejim Sui Generis Orbit Geostasioner (GSO) yang Sejalan dengan Kepentingan Nasional", yang telah didukung oleh negara-negara lain sepanjang khatulistiwa.

c.Program Utama Nasional Riset dan Teknologi dalam Bidang Industri (PUNAS - RISTEK III)

Program ini mencakup beberapa sub-program sebagai berikut:

1) Industri Penerbangan

Sejalan dengan usaha menunjang perkembangan industri, hingga Desember 1987 di PUSPIPTEK (Serpong) telah selesai dibangun Laboratorium Uji Konstruksi (LUK), Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran (LAGG) dan Laboratorium Terowongan Angin dengan Kecepatan Rendah (ILST) untuk penelitian aerodinamika pada konfigurasi pesawat terbang.

Tujuan pengadaan terowongan ini ialah untuk meneliti ciri-ciri lepas landas dan pendaratan suatu pesawat terbang, mengetahui prestasi jelajah dengan kecepatan sedang, pengembangan alat-alat angkat tinggi, integrasi rangka pesawat mesin pendorong dan interferensi komponen.

Pada LUK diadakan penelitian terhadap aplikasi bahan serat karbon (carbon fibre) yang dipergunakan khusus untuk pesawat terbang. Juga dilakukan uji kelelahan terhadap pesawat terbang CN-235 untuk membuktikan kemampuan sama dengan FAR-25 dengan kemampuan normal 60.000 penerbangan tanpa reparasi yang mahal, identifikasi titik lemah pada struktur primernya secara sempurna, serta sebagai usaha menyusun prosedur perawatan dan inspeksi di Indonesia.

2) Industri Maritim dan Perkapfl1an

Dalam rangka pengembangan Industri Maritim dan Perkapalan di Indonesia, dalam lima tahun terakhir ini telah dilakukan usaha penguasaan teknologi yang meliputi antara lain teknologi pembuatan kapal niaga, termasuk tanker; teknologi pembuat

an konstruksi-konstruksi maritim untuk menunjang industri minyak dan gas bumi lepas pantai; teknologi konstruksi baja besar yang berhubungan dengan industri rekayasa dan industri pembangkit listrik; teknologi maritim untuk pembuatan sarana-sarana khusus untuk keperluan oseanologi; dan teknologi yang diperlukan untuk peralatan dan reparasi besar dan kecil.

Selain itu telah dimulai pembangunan Laboratorium Hidrodinamika di Surabaya untuk menunjang industri maritim dalam bidang pengetesan rancang kapal dan alat apung lainnya, ran

cang bangunan lepas pantai serta riset dalam bidang maritim lainnya.

3) Industri Transportasi Darat

Dalam bidang industri transportasi darat selama lima tahun terakhir ini produksi dalam negeri ditingkatkan kemampuannya. Untuk itu telah dihasilkan sebanyak 1500 unit berbagai macam gerbong seperti gerbong batubara, gerbong tangki, gerbong barang untuk angkutan pupuk dan kereta penumpang.

Selain itu untuk mempercepat penguasaan teknologi industri kendaraan bermotor, telah dilakukan penelitian yang mencakup masalah: rasionalisasi merk/tipe kendaraan; restrukturisasi industri yang menjamin terciptanya iklim pengusahaan yang baik sehingga dapat menunjang program penguasaan teknologi; menggalakkan pemasaran ekspor dengan memperhatikan beberapa daerah tujuan ekspor, peningkatan mutu serta standar sesuai dengan negara tujuan dan penekanan harga.

4) Industri Elektronika dan telekomunikasi

Dalam bidang elektronika dan telekomunikasi dalam lima tahun terakhir ini telah diteliti sistem komunikasi telepon frekuensi division multi plexing (FDM) yang mencakup penelitian ekstraksi saluran bicara FDM untuk Spur Route, sehingga menggunakan prosesor mikro dengan mutu data dan mutu bicara yang makin baik; juga penelitian tentang modulasi isyarat (signal) satelit orbit kutub (polar). Mengingat bahwa sate-lit kutub ini 2 kali sehari melintasi daerah khatulistiwa se-lama 10 menit setiap kalinya dengan ketinggian rendah, maka kemampuan modulasi isyarat memungkinkan perekaman berbagai data tentang Indonesia dengan cara yang lebih murah, cepat dan membantu perancangan peralatan komunikasi untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.

Selain itu telah dirancang berbagai komponen elektronika seperti transistor berfrekuensi tinggi untuk penguat daya isyarat besar di samping isyarat kecil. Komponen-komponen konduktor semi ini karena kecil dan ringan dapat mendukung peralatan elektronika, seperti yang diperlukan oleh peralatan avionics dan lain-lain.

Telah dilakukan penelitian dan usaha produksi generator listrik dengan kapasitas 100 KVA , mengingat jumlah besar penduduk Indonesia maupun wilayah yang belum terjangkau listrik masih banyak. Penelitian ini juga untuk membantu pemancar-pemancar radio dan televisi, terutama di daerah-daerah terpencil.

5) Industri Energi

Dalam masa antara tahun 1983/84 hingga 1987/88 pengkajian industri energi diarahkan untuk penyediaan energi jangka panjang yang terbarukan dan energi nonmigas seperti sumber panas bumi, gelombang laut, perbedaan suhu lapisan-lapisan air laut, mikro hidro, energi surya, gambut dan lain-lain. Salah satu usaha yang telah dilakukan adalah pembangunan pabrik percobaan produksi etanol di Lampung untuk bahan bakar asal singkong. Pabrik percobaan ini diusahakan berkapasitas 15.000 liter/hari.

Selain itu selama lima tahun terakhir ini telah diusahakan pengadaan energi berdasarkan proses kimiawi dari berbagai tumbuh-tumbuhan, seperti eceng gondok maupun lamtoro untuk biogas. Juga sumber energi yang telah dikenal seperti batubara di Bangko/Jambi dikembangkan kembali melalui proses gasifikasi.

6) Industri Rekayasa

Selama lima tahun terakhir ini dalam bidang industri rekayasa telah dilakukan berbagai pengkajian yang mencakup bidang industri gula, kelapa sawit, semen, pengolahan kimia, pengolahan hasil pertanian, industri mesin dan peralatan pabrik. Di samping itu telah diteliti pengembangan teknologi untuk menunjang industri alat dan mesin pertanian, seperti traktor pertanian, alat-alat berat dan alat perlengkapannya.

Selanjutnya telah pula dikembangkan berbagai prototip peralatan untuk industri kecil dan pedesaan, seperti prototip pengering ikan, pengeringan hasil pertanian (cabai dan ba

953

wang), peralatan penunjang industri bahan bangunan asal tanah liat, mesin perontok padi serta peralatan pengupas singkong untuk daerah transmigrasi dan sebagainya.

Untuk keperluan berbagai pengukuran seperti tebal, berat, kerapatan dan tinggi permukaan, selama lima tahun terakhir ini teknik nuklir telah digunakan di berbagai pabrik seperti di pabrik kertas, plastik, rokok, semen, serta di instalasi perminyakan. Pemeriksaan mutu las dengan teknik radiasi semakin popular di kalangan usaha instalasi dan telah banyak muncul usaha swasta di bidang uji tak merusak (non-destructive-testing).

Instrumentasi nuklir berjalan semakin mantap dan meliputi pembuatan alat fisika kesehatan, alat cacah nuklir, sistem pengendalian, alat kedokteran nuklir, alat ukur radiasi bagi industri dan berbagai perlengkapan kerja dengan radiasi. Di samping itu juga telah dikembangkan kemampuan membuat akselerator berukuran sedang dan peralatan mekanik untuk laboratorium.

Penelitian dan pengembangan polimerisasi radiasi dalam kurun waktu 1983/84-1987/88 telah memberikan hasil yang siap untuk dimasyarakatkan. Vulkanisasi lateks alam dengan menggunakan radiasi sinar gamma, adalah salah satu metoda yang digunakan untuk menyediakan bahan baku untuk alat kontrasepsi dalam program keluarga berencana. Hasil-hasil penelitian memperlihatkan bahwa lateks yang diradiasi menghasilkan alat kontrasepsi bermutu tinggi dan tidak kalah mutu produksi dibandingkan dengan produksi asal luar negeri. Selanjutnya telah dirancang Irradiator Cobalt-60 yang dirancang untuk mampu meradiasi bahan lateks alam sekitar 1.000 ton tiap tahunnya.

Dalam bidang instrumentasi optik dalam lima tahun terakhir ini telah dilaksanakan penelitian optimasi zoom untuk merancang lensa zoom (lensa yang fokusnya berubah-ubah dengan spesifikasi tertentu), penelitian sistem pelacak obyek terbang, perancangan sistem optik pengukur suhu dan pengembangan perangkat penguji permukaan optik secara holografik.

Telah pula diteliti sistem pengukur kelembaban udara yang langsung dapat dibaca, langsung terekam dan dapat dikendalikan dari jarak jauh; juga telah diteliti karakteristik mesin pembangkit standar gaya 1 mega newton (MN). Selain itu telah

dirancang dan dibuat alat ukur tiga dimensi yang banyak digunakan dalam industri instrumen, konstruksi dan otomotif.

7) Industri Alat-alat dan Mesin Pertanian

Dalam bidang industri alat dan mesin pertanian, dalam lima tahun terakhir ini telah ditingkatkan produksi dalam negeri yang antara lain meliputi traktor tangan, traktor mini, penggiling padi, huller, mesin pengering di samping industri alat pengolah biji-bijian seperti pengupas kopi, jagung, teh dan sebagainya.

8) Industri Pertahanan dan Keamanan

Penelitian dan pengembangan bidang industri pertahanan dan keamanan dalam lima tahun terakhir ini diarahkan untuk mampu menangani dan memproduksi sebanyak mungkin bahan dalam negeri untuk keperluan pertahanan dan keamanan, terutama senjata ringan dengan pengecoran yang tepat. Selain itu telah diadakan penelitian dan pengkajian terpusat yang mencakup perangkat keras dan masalah-masalah perwilayahan, seperti pembuatan prototip dan uji coba rantai tank, sistem persenjataan, pengawasan wilayah, jalur logistik serta kemampuan wilayah. Selain itu juga telah diteliti kemungkinan pengembangan pangkalan Angkatan Laut di Teluk Ratai (Lampung).

d. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi Bidang Pertahanan dan Keamanan (PUMAS - RISTEK IV)

Hingga Desember 1987 program ini diarahkan untuk menunjang peningkatan kemampuan pertahanan keamanan negara, secara efisien dan efektif dan disesuaikan dengan kemampuan negara.

Dalam program pengkajian strategik telah dilakukan berbagai proyeksi dan perkiraan rumusan kebijaksanaan ilmu pengetahuan dan teknologi Pertahanan dan Keamanan serta perkiraan strategis kebutuhan material menjelang tahun 2000. Juga telah dilakukan berbagai pengkajian terhadap perkembangan lingkungan strategik demi kelancaran dan kelangsungan pembangunan nasional.

Selain itu dalam beberapa tahun terakhir ini telah dilakukan uji-coba dan diteliti perpanjangan usia pakai berbagai peralatan, dilakukan perekayasaan dan modifikasi terhadap peralatan lama, dirancang model dan prototip berbagai peralat

955

an dan alat perbekalan dalam rangka swasembada peralatan material; juga telah dilakukan penyusunan standar dan spesifikasi peralatan Pertahanan dan Keamanan; pemantapan sistem pendidikan dan latihan personil ABRI; pemantapan sistem pembinaan di bidang kesehatan dan mental ABRI dan peningkatan kemampuan pengawasan wilayah nasional.

e. Program Utama Rasional Riset dan Teknologi bidang Sosial-Ekonomi, Budaya, Falsafah, Hukum dan Perundang-undangan

Penelitian yang telah dilakukan lima tahun terakhir ini dapat dikelompokkan menjadi kegiatan-kegiatan sub-kelompok sebagai berikut:

1) Bidang Sosial Ekonomi

Penelitian bidang sosial-ekonomi dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang perkembangan masyarakat baik dalam jangka pendek, sedang maupun dalam jangka panjang.

Kegiatan penelitian agro ekonomi antara lain mencakup analisis komoditi pangan, perikanan, perkebunan dan tanaman industri, peternakan dan hortikultura; analisis sumber daya nasional yang meliputi masalah tenaga kerja dan irigasi serta sumber daya air; analisis kelembagaan yang mencakup aspek koperasi dan kredit pedesaan, hubungan penguasaan lahan, hubungan kerja, dan produktivitas riset dan analisis kebijaksanaan.

Beberapa hasil analisis ialah :

a. Pengembangan pola tanam di daerah transmigrasi perlu diarahkan secara lebih terpadu dengan usaha peternakan, dimana pola tanam tumpangsari di bawah tanaman perkebunan dapat menjamin ketersediaan pakan ternak.

b. Penelitian lembaga dana kredit pedesaan menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah dan jenis kredit pedesaan semakin berkembang bersamaan dengan meluasnya jangkauan lembaga dana dan kredit pedesaan pada berbagai sektor ekonomi. Lembaga dana dan kredit pedesaan yang melayani masyarakat kecil di pedesaan adalah lembaga kredit milik Pemerintah Daerah, Bank Desa dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Lembaga nonformal yang menonjol peranan-

nya dan telah banyak beroperasi di pedesaan adalah Koperasi Simpan Pinjam (KOSIPA).

c. Selanjutnya penelitian prospek komoditi ekspor Indonesia menjelang tahun 2000 menghasilkan data bahwa pasar internasional dewasa ini bercirikan komoditi primer yang kurang menguntungkan karena adanya surplus penawaran. Oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi ekspor, terobosan pasar secara aktif, peningkatan daya saing komoditi dan pemanfaatan terobosan teknologi baru.

d. Analisa sumber daya nasional memberikan informasi bahwa peranan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja nasional mengalami penurunan relatif. Hal ini disebabkan antara lain karena tenaga kerja pedesaan menganggap bahwa bekerja di sektor nonpertanian lebih dapat mengangkat harga dirinya daripada buruh tani.

2) Bidang Sosial-Budaya

Dalam bidang sosial-budaya dalam lima tahun terakhir ini dilakukan penelitian terhadap dinamika masyarakat untuk memperoleh gambaran tentang dinamika yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial, ekonomi, politik dan kependudukan serta peranan wanita dan anak-anak yang berkaitan dengan dinamika masyarakat.

Selanjutnya telah pula diteliti berbagai masalah, seperti stereotip etnik, orientasi sosial budaya, variasi orientasi nilai budaya golongan menengah di Indonesia serta pengaruh penerapan teknologi baru dan proses industrialisasi terhadap masyarakat, khususnya di pedesaan.

Dalam rangka memberikan masukan mengenai kondisi yang diperlukan dalam industrialisasi, telah dilakukan penelitian mengenai aspek sosial budaya pengembangan Pulau Batam. Juga telah dilakukan penelitian mengenai dampak sosial pengembangan industri baru di Kabupaten Asahan/Sumatera Utara dan Aceh Utara serta studi perubahan sosial dan perkembangan ekonomi di Surakarta.

Demikian pula telah dilakukan penelitian mengenai sejarah budaya politik Indonesia tentang perkembangan fungsi dewan perwakilan rakyat, pemikiran sosial politik, budaya politik, dan pendidikan politik. Juga diteliti kerjasama politik

ASEAN dan politik luar negeri Vietnam di wilayah Asia Pasifik.

3) Bidang Falsafah

Di bidang falsafah dalam beberapa tahun terakhir ini telah dilakukan penelitian mengenai dimensi sosial manusia Indonesia seutuhnya serta dasar-dasar, ideologi, falsafah dan nilai-nilai sistem dihadapkan dengan sistem pemilikan, penguasaan dan pengelolaan faktor-faktor produksi dalam perekonomian Pancasila. Selain itu juga telah diteliti dan disusun konsep pendidikan keluarga yang berorientasikan pada P.4.

Sedangkan penelitian bidang agama dititik beratkan pada usaha merangsang pengembangan pemikiran ilmiah dalam menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama, selain penelitian tentang kerukunan hidup antar agama, pengamalan agama, pelayanan ibadah haji dan lain-lain.

4) Bidang Hukum dan Perundang-undangan

Selama empat tahun terakhir telah dilakukan penelitian di bidang hukum tentang kelautan, yang mencakup: pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, dan aspek hukum pemanfaatan sumber daya hayati di laut teritorial dan landas kontinen dalam ZEE.

Dalam bidang hukum perhubungan udara telah diteliti : tanggung jawab produsen pesawat udara; masalah pengaturan usaha perantara angkutan udara, dan perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan.

Dalam bidang hukum pertanahan telah dilakukan penelitian dampak pelaksanaan landreform; penggunaan dan penguasaan tanah untuk kepentingan pembangunan, dan hak milik atas tanah.

Dalam bidang hukum industri dan perdagangan telah diteliti tentang: aspek-aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan untuk usaha pemborongan bangunan; kontrak nasional dan internasional; badan usaha milik negara; pasar modal; dan peranan usaha golongan ekonomi lemah dalam pelaksanaan KEPPRES No. 14A Tahun 1980 di DKI.

Juga telah diteliti tentang hukum adat dan lembaga-lembaga hukum adat di berbagai propinsi di Indonesia.

B. STATISTIK

Pembangunan nasional yang meningkat memerlukan sistem informasi yang semakin cepat dan tepat. Salah satu bentuk informasi yang diperlukan tersebut adalah informasi statistik. Informasi statistik yang baik dan yang tersedia merata untuk kepentingan masyarakat umum akan sangat membantu berkembangnya penelitian ilmiah, menyumbang bagi keberhasilan upaya peningkatan kecerdasan bangsa, memperlancar perencanaan usaha peningkatan kecerdasan bangsa, memperlancar perencanaan usaha serta merangsang partisipasi masyarakat dalam pemba ngunan. Data statistik yang cepat dan tepat juga merupakan unsur penting bagi perencanaan pembangunan serta perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang efektif. Upaya perkembangan di bidang statistik yang dimaksud ialah penyediaan, peningkatan dan penyempurnaan data statistik yang akurat, obyektif dan lengkap, menuju kepada terciptanya sistem perstatistikan nasional yang mendukung dan memenuhi kebutuhan pembangunan.

Oleh karena data dan informasi statistik merupakan pendukung kegiatan perkembangan, maka prioritas pembangunan perstatistikan selalu dikaitkan dengan prioritas pembangunan pada setiap tahap pembangunan.

Dalam lima tahun terakhir ini kegiatan pembangunan perstatistikan terarah pada peningkatan program yang telah dilakukan dalam tahun-tahun Repelita sebelumnya dengan sasaran jangka panjang berupa pengembangan sistem perstatistikan nasional yang terpadu.

Serangkaian hasil pelaksanaan program pembangunan perstatistikan dari tahun 1982/83 sampai dengan tahun 1987/88 yang dapat dicatat, antara lain :

1. Survai Sosial Ekonomi Nasional

Maksud usaha penyempurnaan Susenas sebagai dasar/indikator yang bisa dikembangkan adalah pemantauan hasil pemerataan pembangunan pada antara kelompok rumahtangga agar perkembangan kesejahteraan dari berbagai kelompok rumahtangga dapat diamati terus menerus. Dalam pelaksanaannya, sasaran yang hendak dikaji dicakup dalam sistem modul yang dijalankan secara periodik.

Dalam tahun 1982/83, pelaksanaan survai dilakukan dengan memakai modul angkatan kerja, kriminalitas dan industri/kera

959

jinan rumahtangga. Hasil-hasil pendataan yang diperoleh diantaranya adalah keterangan mengenai konsumsi penduduk di Jawa dan luar Jawa tahun 1979 dan tahun 1980, perkembangan distribusi pendapatan rumahtangga di Indonesia dari tahun 1976 hingga 1978, serta pengembangan suatu model ekonomi demografi.

Dalam tahun 1983/84, salah satu kegiatan survai ini yang terpenting adalah survai Tabungan Masyarakat 1982/83 yang pertama kalinya diadakan.

Pada tahun 1984/85, dilaksanakan modul perjalanan dan usaha rumahtangga, dan data yang dihasilkan diantaranya adalah keadaan sosial budaya dan kesehatan serta indikator kesejahteraan rumahtangga.

Dalam tahun 1985/86, jenis data yang dihasilkan antara lain berupa data pekerja sektor informasi di Indonesia, konsumsi penduduk Indonesia tahun 1984, dan indikator kesejahteraan rakyat untuk tahun 1985.

Pada tahun 1986/87 dan hingga akhir Desember tahun 1987 kegiatan proyek ini telah menghasilkan antara lain sejumlah publikasi penting, diantaranya adalah pengeluaran untuk konsumsi penduduk Indonesia serta konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia di setiap propinsi tahun 1984, serta jasa rumahtangga dan usaha rumahtangga perdagangan yang memperlihatkan keadaan pada tahun 1985.

2. Survai Penduduk Antar Sensus 1985

Kegiatan survai ini diusahakan untuk menghasilkan data kependudukan, diantara Sensus Penduduk tahun 1980 dan Sensus Penduduk tahun 1990, yang meliputi tingkat kelahiran, tingkat kematian, migrasi penduduk dan keadaan sosial ekonomi penduduk serta kaitannya dengan perilaku kependudukan lainnya. Dengan diawali kegiatan perencanaan survai dan pelaksanaan percobaan survai di lapangan, di Sumatera Barat, Bandung, Cianjur dan Nganjuk dalam tahun 1984/85, maka dalam tahun 1986/87 dan hingga Desember 1987 hasil pelaksanaannya telah dapat memberikan keterangan, dalam bentuk publikasi, yang merupakan sumber informasi mutakhir antara lain tentang migrasi penduduk dan perkembangan komposisi angkatan kerja untuk tahun 1985, perkembangan dan perbandingan angka kematian antar daerah, serta tingkat dan pola perkembangan fertilitas.

3.Survai Biaya Hidup 1989

Survai ini bertujuan menyusun diagram timbangan yang baru, karena perhitungan Indeks Harga Konsumen yang ada, sebagai alat pengukur laju perkembangan harga (inflasi) masih didasarkan pada pola konsumsi sepuluh tahun yang lampau (April 1977/Maret 1978). Untuk maksud itu perlu dikumpulkan data dasar pola konsumsi penduduk sebagai akibat perubahan harga, penawaran barang dan jasa, peningkatan kuantitas/kualitas komoditi di 27 ibukota propinsi.

Dalam tahun 1986/87, pelaksanaan survai ini dalam bentuk uji coba perencanaan survai dan kuesioner di 5 kota yaitu Jakarta, Yogyakarta, Padang, Balikpapan dan Kupang.

4. Sensus Penduduk 1980

Sensus Penduduk 1980 telah diselenggarakan dalam bulan Oktober 1980 yang dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu pencacahan wilayah secara lengkap dan sampel.

Dalam tahun 1983/84, penyempurnaan pengolahannya tetap dijalankan dan sejumlah publikasi turut diterbitkan pula, diantaranya adalah statistik penduduk Indonesia di setiap propinsi, kabupaten dan kotamadya di Indonesia maupun di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya dalam tahun 1980.

5. Sensus Pertanian 1983

Sensus ini bertujuan untuk memperoleh data yang mutakhir dan lebih terinci mengenai kegiatan di bidang pertanian, terutama pola usaha pertanian, pola pertanaman, penguasaan/pengusahaan/penggunaan tanah pertanian, partisipasi rumah tangga petani terhadap usaha intensifikasi/peralatan petani/pemeliharaan ternak dan ikan maupun penangkapannya.

Dalam tahun 1983/84, pelaksanaan sensus menempuh dua cara, cara pertama adalah melalui sensus lengkap yang meliputi KUD, perkebunan besar, perusahaan pertanian lainnya, rumah potong hewan, tempat pelelangan ikan dan potensi desa. Cara kedua ialah sensus sampel yang meliputi rumahtangganya, perikanan laut dan tambak, tanaman perkebunan rakyat, pendapatan petani dan evaluasi pasca sensus.

Hasil sensus ini, sampai dengan tahun 1986/87 antara lain berupa statistik sensus pertanian 1983 dalam 9 sari, koperasi

non KUD di Indonesia 1983, angka nasional pertanian tanaman pangan dan peternakan serta perikanan laut, penggunaan tanah pertanian dan masalah pertanahan serta kedudukan petani, dan angka serta keterangan pada usaha perkebunan rakyat seperti kopi, cengkeh, karet, tembakau, kelapa dan tebu.

6. Sensus Ekonomi 1986

Kegiatan sensus ini mencakup sektor-sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan (diantaranya listrik, gas dan air minum), konstruksi, perdagangan (besar, kecil maupun rumah makan dan hotel), pengangkutan (pergudangan dan komunikasi), keuangan dan asuransi (persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan), jasa kemasyarakatan (sosial dan perorangan) dan sub sektor kehutanan. Kegiatan ini bertujuan melaksanakan sensus terpadu dari semua sektor ekonomi yang ada, kecuali sektor pertanian.

Dalam tahun 1986/87 dan 1987/88, dengan didahului antara lain kegiatan percobaan di lapangan I (Surabaya, Sidoarjo, Medan, dan Deli Serdang) dan lapangan II ( Bandung dan Jakarta) diperoleh gambaran pola usaha setiap jenis kegiatan di bidang ekonomi dan dasar penyusunan statistik sektoral, di samping pelaksanaan pencacahan usaha rumahtangga. Beberapa hasil, di luar data dari 6 sektor usaha, antara lain adalah informasi keadaan perusahaan yang berbadan hukum tahun 1985 seperti pengangkutan, pelayaran niaga/rakyat, pergudangan dan akomodasi, perdagangan, rumah makan serta informasi sektor bangunan (terutama yang tergabung dalam AKI) dan industri karet remah.

7. Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik Pendapatan Nasional, Regional dan Tabel Input-Output

Upaya untuk memiliki suatu Sistem Neraca Nasional yang lengkap dan mewujudkannya secara bertahap merupakan tujuan pokok dari kegiatan ini.

Apabila dalam tahun 1982/83 dan 1983/84 telah dihasilkan serangkaian penyempurnaan statistik, seperti pendapatan regional per propinsi dari tahun 1975 hingga tahun 1981 (tidak termasuk Timor Timur), maka dalam tahun 1984/85 telah dihasilkan pula pengembangannya seperti sari perhitungan pendapatan nasional mempergunakan tahun dasar 1983 dan Tabel Input-output tahun 1980.

Sampai dengan tahun 1987/88, pengembangan statistik terus

962

dilakukan dan menghasilkan beberapa publikasi misalnya neraca sosial ekonomi Indonesia 1980 dan perkembangan tabungan masyarakat dari tahun 1970 hingga 1983 (diterbitkan dalam tahun 1985/86), studi penyusunan sistem dan model produk domestik bruto triwulanan Indonesia dari tahun 1978 hingga 1983 (baik seri tahun 1973 maupun tahun 1983), keadaan badan usaha milik negara dari tahun 1978 hingga tahun 1982, dan studi arus dana tahun 1980.

8.Peningkatan Data Statistik dan Perbaikan Statistik Pertanian

Kegiatan ini mencakup penyempurnaan statistik di sektorsektor tanaman pangan, konstruksi, industri, pertambangan besar, listrik, harga konsumen, harga perdagangan besar, harga produsen, keuangan, hotel dan wisatawan, perhubungan, upah serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya umpamanya analisis pengembangan metoda dan sistem informasi sektoral, dengan tujuan utama untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu statistik yang tercermin pada sejumlah publikasi yang disajikan secara berkala dan teratur.

Dalam tahun 1982/83 dan tahun 1983/84, penyediaan data berlaku untuk kepentingan umum cukup memadai dan meliputi berbagai sektor seperti neraca bahan makanan, peta konsumsi pangan di Indonesia, luas penggunaan tanah di Jawa-Madura, keuangan desa di Jawa-Madura, pertambangan bongkar-muat barang di pelabuhan, pantai sarana dan keadaan sosial ekonomi penyandang cacat, kompilasi data luas panen di Jawa, perikanan laut, energi, struktur ongkos usahatani dan palawija, struktur biaya bis dan truk umum serta hotel dan akomodasinya.

Sampai dengan tahun 1987/88, jenis data yang telah dihasilkan diantaranya yang cukup penting yaitu survai perjalanan penduduk /wisatawan domestik (1984), mesin dan peralatan pertanian di Indonesia (1986), survai pertambangan bahan galian/industri (pertambangan kecil) di 15 daerah/propinsi, indeks nilai tukar petani di Jawa-Madura dan di 14 propinsi tahun 1980 hingga tahun 1986, angkutan barang ekspor dan impor (1986), indikator perdagangan di DKI Jakarta, angkutan kereta api, serta distribusi dan pertambangan.

Adapun keseluruhan data dan informasi statistik yang dihasilkan melalui kegiatan survai sosial ekonomi nasional hingga kegiatan peningkatan data statistik dan perbaikan statistik ditinjau dari unit penghasil publikasi yang terdiri dari 20 bagian statistik mampu menyajikan 68 jenis publikasi

963

TABEL XVII 6

UNIT PENGHASIL DAN JUMLAH PUBLIKASI1982/83 - 1987/88(Jenis)

Bagian Statistik

1982/83

1983/84

1984/85

1985/86

1986/87

1987/88*)

1.

Pertanian Tanaman Pangan

8

8

13

13

11

10

2.

Pertanian Bukan Tanaman Pangan

1

1

3

18

3

3

3.

Industri Pengolahan

2

2

2

3

3

5

4.

Pertambangan, Energi dan Konstruksi

4

4

4

5

4

10

5.

Agro Industri

4

4

3

4

4

4

6.

Perdagangan Luar Negeri

6

6

6

6

6

6

7.

Niaga den Jasa

3

3

4

4

6

9

8.

Harga Konsumen dan Harga Perdagangan

-

-

-

-

-

-

Besar

5

5

5

12

8

7

9.

Keuangan den Harga Produsen

6

6

5

5

7

8

10.

Perhubungan

11

11

11

13

10

7

11.

Penduduk

2

2

-

5

4

6

12.

Tenaga Kerja

3

3

3

5

5

7

13.

Kesejahteraan Rakyat

6

6

5

8

8

8

14.

Desa, Rumah tangga dan Lingkungan Hidup

-

-

1

4

5

7

15.

Neraca Nasional

1

-

4

11

6

6

16.

Analisis Ekonomi

-

-

3

2

1

15

17.

Sosial

1

-

7

10

2

1

18.

Pengembangan Metoda

-

-

1

-

-

-

19.

Pemetaan

-

-

5

2

1

-

20.

Umum - Indonesia

5

5

6

6

5

5

Jumlah :

68

66

91

136

99

124

*) Angka sementara (sampai dengan Desember 1987).

dalam tahun 1982/83. Selanjutnya, dalam tahun 1987/88 penyajian publikasi mencapai 124 jenis (Tabel XVII-6). Khusus pada tahun 1985/86, publikasi statistik mampu mencapai 136 jenis.

921

924

925

926

932

934

936

938

940

941

942

944

945

946

948

950

951

952

954

956

957

958

960

961

964

965